Psikologi Keluarga: Mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga sangat jarang terjadi. Bahkan, satu dari tiga istri pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mitos lainnya, รข“Rumah tangga adalah urusan pribadi dan yang terjadi di dalamnya bukan urusan orang lain, dan mitos lainnya. Kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik juga akibat alkohol.

Alkohol adalah penyebab terbesar KDRT. Pada sekitar 50 persen kasus, pelaku dalam keadaan tenang saat melakukan penyerangan. Alkohol memang bisa menjadi pemicu penyerangan, tetapi anggapan bahwa alkohol menyebabkan kekerasan sama sekali salah. Penyebab KDRT sangat kompleks dan berkaitan dengan keyakinan bahwa laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan (dan anak-anak), dan dapat memperlakukan mereka dengan kasar jika mereka menginginkannya.

Dengan mengidentifikasi dan mengenali bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, termasuk mitos-mitos yang mendukung kekerasan dalam rumah tangga, maka menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, untuk berusaha memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik.


Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, Pasal 1). Yang termasuk dalam pertanggungan rumah tangga menurut Pasal 2 adalah:

  1. Suami, istri, dan anak-anak;
  2. Orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, menyusui, pengasuhan, dan perwalian, yang tinggal dalam rumah tangga tersebut; dan/atau
  3. Orang yang bekerja membantu dan tinggal dalam rumah tangga.

Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Bentuk kekerasan dalam rumah tangga mencakup beberapa hal. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Pasal 5 menjelaskan bahwa bentuk-bentuk KDRT meliputi:

  1. Kekerasan fisik, yaitu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
  2. Kekerasan Psikologis, yaitu tindakan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya kepercayaan diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, perasaan tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikologis yang berat pada seseorang.
  3. Kekerasan Seksual, yaitu setiap perbuatan yang mencerminkan:

  • Sebuah pemaksaan persetubuhan yang dilakukan terhadap orang yang hidup dalam lingkup rumah tangga;
  • pemaksaan hubungan seksual terhadap seseorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
4. Pengabaian rumah tangga, yaitu perbuatan menelantarkan seseorang dalam lingkup rumah tangga, padahal menurut undang-undang yang berlaku bagi yang bersangkutan atau karena suatu perjanjian atau kesepakatan wajib memberikan nafkah, pemeliharaan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

Penyebab KDRT

Zastrow & Browker (dalam Wahab, 2010) mengatakan bahwa ada 3 teori yang dapat menjelaskan terjadinya KDRT, yaitu teori biologis, teori kontrol, dan teori frustrasi-agresi.

1. Teori Biologi

Teori biologis memandang manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dengan naluri agresif. Pendiri psikodinamika, Sigmund Freud, menjelaskan bahwa manusia memiliki naluri kematian yang diwujudkan dengan melukai dan membunuh diri sendiri atau orang lain. Menurut Konrad Lorenz, kekerasan sangat berguna untuk kelangsungan hidup. Tindakan ini membantu seseorang untuk mendapatkan dominasi dalam kelompok. Beberapa ahli biologi, berpendapat bahwa pria memiliki lebih banyak hormon yang menyebabkan perilaku agresif daripada wanita. Teori ini seolah memberikan penjelasan mengapa kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.

2. Teori Kontrol

Teori kontrol menjelaskan bahwa orang yang tidak puas dalam hubungannya dengan orang lain akan mudah melakukan kekerasan. Dengan kata lain, orang yang memiliki hubungan baik dengan orang lain cenderung lebih mampu mengontrol dan mengontrol perilaku agresifnya. Travis Hirschi melalui temuannya mendukung teori ini. Disebutkan bahwa remaja laki-laki yang berperilaku agresif cenderung tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Hal yang sama terjadi pada mantan narapidana di Amerika yang juga terasing dari teman dan keluarganya.

3. Teori Frustrasi-Agresi

Teori frustrasi-agresi memandang kekerasan sebagai cara seseorang untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh situasi yang membuat frustrasi. Orang yang frustasi akan melakukan agresi (kekerasan) terhadap sumber frustasi atau kepada orang lain yang dapat dijadikan pelampiasan. Misalnya, seorang suami yang kekurangan pendapatan dan memiliki harga diri yang rendah, mengungkapkan rasa frustrasinya kepada istri dan anak-anaknya. Teori ini juga sedikit banyak dapat menjelaskan kasus yang kami angkat dalam makalah “Pemeriksaan Kasus KDRT” yang melibatkan Amir dan Susi sebagai pelaku dan korban KDRT.


Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Indonesia


Adanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) telah menjadikan KDRT sebagai isu nasional. Orang-orang berbondong-bondong melaporkan kekerasan yang mereka alami. Akibatnya, terjadi peningkatan jumlah kasus yang dilaporkan. Sebelum berlakunya UU PKDRT pada rentang 2001-2004, jumlah yang dilaporkan sebanyak 9.662 kasus. Sejak berlakunya UU KDRT, yakni pada rentang 2005-2007, telah terkumpul 53.704 kasus.

Komnas Perempuan (2011) menyatakan bahwa jumlah kasus kekerasan pada tahun 2010 meningkat 5 kali lipat dibandingkan tahun 2006. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan kasus yang dominan dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlahnya mencapai 96% pada tahun 2010. Sebagian besar korban adalah perempuan dalam rentang usia produktif antara 25-40 tahun. Dua tahun kemudian, Komnas Perempuan (2013) kembali merilis data yang menunjukkan bahwa pada tahun 2012 saja terdapat 8.315 kasus kekerasan terhadap istri. 66 persen di antaranya dapat diobati. Berdasarkan jenis kekerasannya, dari total kasus tersebut, 46 persen merupakan kekerasan psikis, 28 persen kekerasan fisik, 17 persen kekerasan seksual, dan 8 persen kekerasan ekonomi. Bentuk lain dari KDRT yang menjamur ternyata dilakukan oleh pejabat publik, yaitu berupa tindak pidana perkawinan (misalnya perkawinan di luar nikah).

Penelitian Tentang KDRT di Indonesia

Penelitian tentang kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan psikologi. Salah satunya dilakukan oleh Veralia (2010) yang mengambil judul Persepsi Istri KDRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istri mempersepsikan kekerasan dalam rumah tangga sebagai tindakan negatif. Hal ini sesuai dengan pengalamannya sebagai korban KDRT. Bagi istri, kekerasan yang mereka alami merupakan pengalaman buruk dalam hidup mereka, sehingga mereka berharap tidak mengalami perlakuan yang sama di kehidupan selanjutnya. Akar permasalahan mengenai persepsi istri terhadap KDRT didorong oleh kondisi ekonomi, pendidikan, campur tangan pihak ketiga, kekuasaan suami, dan perselingkuhan. Hasil penelitian menemukan bahwa ketiga subjek yang mengalami kekerasan fisik, psikis, ekonomi, dan seksual didominasi oleh kondisi ekonomi dan perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.

Penelitian kuantitatif dilakukan oleh Afandi, Rosa, Suyanto, Khodijah, dan Widyaningsih (2012) terhadap semua kasus KDRT yang diperiksa di RS Bhayangkara Tk. IV Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2011, ditemukan 237 korban KDRT. Wanita dalam usia produktif (19-40) adalah jenis kelamin dan kelompok usia yang paling umum. Sebanyak 79,3% adalah ibu rumah tangga. Jenis luka yang paling umum adalah memar (79,3%). Bagian tubuh yang paling sering mengalami cedera adalah kepala dan leher (73,8%). Mayoritas korban mengalami kekerasan tumpul (91,6%) dengan luka ringan (92,4%).

Penelitian tentang KDRT juga dilakukan oleh Margaretha, Nuringtyas, dan Rachim (2013). Penelitian ini berjudul Trauma Kekerasan Anak dan Kekerasan dalam Hubungan Intim. Penelitian ini terdiri dari dua penelitian. Studi 1 melibatkan 62 laki-laki pelaku KDRT dengan rentang usia 20 hingga 65 tahun (rata-rata 43 tahun). Sedangkan penelitian 2 melibatkan 21 wanita berusia 15 hingga 31 tahun (rata-rata 19 tahun). Studi ini menemukan bahwa baik korban maupun pelaku KDRT mengalami trauma KDRT di masa lalu. Korban dan pelaku KDRT terjerat dalam rantai kekerasan karena mengalami trauma KDRT di masa kecilnya, sehingga berkembang persepsi yang salah tentang kekerasan dan pada akhirnya berdampak pada ketidakmampuannya mengatasi masalah pribadinya di kemudian hari.

Secara khusus, hasil Studi 1 menunjukkan bahwa ada efek negatif jangka panjang dari trauma menyaksikan dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga masa kanak-kanak terhadap kekerasan dalam hubungan intim orang dewasa. Hasil penelitian 2 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara trauma menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga dan pengalaman kekerasan dalam hubungan intim orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ini dapat terjadi secara kompleks, atau dengan kata lain perlu ditelusuri berbagai kemungkinan hubungan tidak langsung antara trauma KDRT dengan pengalaman korban.

Referensi

  • Afandi, D., Rosa, W.Y., Suyanto, Khodijah, Widyaningsih, C. (2012). Karakteristik kasus kekerasan dalam rumah tangga. Jurnal Ikatan Dokter Indonesia, 62 (11), 435 – 438.
  • Komisi Nasional Perempuan. (2007). Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan tahun 2007. Jakarta: Komnas Perempuan.
  • Komisi Nasional Perempuan. (2011). Teror dan kekerasan terhadap perempuan: Hilangnya kontrol negara, catatan KTP 2010. Jakarta: Komnas Perempuan.
  • Margaretha, Nuringtyas, R., Rachim, R. (2013). Trauma kekerasan masa kecil dan kekerasan dalam hubungan intim. Jadi Seri Sosial Humaniora, 17(1), 33-42. DOI: 10.7454/mssh.v17i1.1800
  • Pemerintah. (2004). Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Indonesia: Republik Indonesia
  • Veralia, M.B. (2011). Persepsi istri tentang kekerasan dalam rumah tangga: Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Psikologi Keluarga: Mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel