Sejarah Awal Mula Perkembangan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah

Sejarah Konseling di Sekolah

Sampai pada awal abad ke-20 belum ada konselor di sekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh guru, seperti dalam memberikan layanan informasi, layanan bimbingan  pribadi, sosial, akademik, dan karir. Dalam pembahasan ini, sejarah konseling sekolah akan dibagi menjadi dua kategori, yaitu sejarah konseling sekolah di Amerika dan sejarah konseling sekolah di Indonesia.

1. Sejarah Konseling Sekolah di Amerika

Gerakan bimbingan dan konseling di sekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang pada siswa yang masuk ke sekolah-sekolah negeri. Pada permulaan abad ke-20 konselor sekolah yang pertama dilatih untuk menambah pemandu kerja.

Pada waktu yang hampir bersamaan, para ahli lainnya juga mengembangkan program bimbingan ini karena permasalahan menjadi lebih kompleks dan setiap orang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan untuk mengubah dunia dan kehidupannya secara cepat. Pengakuan kebutuhan akan latihan keahlian dalam pemandu kerja, Frank Parson mendirikan biro kerja Boston (Boston Vocational Bureau) pada tahun 1908 yang melatih guru-guru dan lain-lain dalam pemandu kerja. Parsons, yang mengembangkan pendekatan kepada panduan kerja, mempercayai bahwa pilihan kerja yang sesuai berdasarkan pada (1) Pemahaman jati diri, (2) Pengetahuan mengenai prinsip-prinsip sesuai dan informasi pekerjaan, dan (3) Kesanggupan untuk membuat suatu pekerjaan yang sesuai dengan pilihan yang berdasarkan pada pemahaman jati diri seseorang dan pengetahuan akan dunia kerja.

Dikenal sebagai “Founder Of Vacational Guidance” Parsons membantu menggolongkan dan membentuk suatu profesi baru, yaitu bimbingan dan konseling. Dia berhasil mempengaruhi pendidikan Amerika walaupun parsons meninggal diusia yang relative muda pada tahun 1908, akan tetapi usahanya dipertanggungjawabkan sebagai rujukan konseling sekolah yang pertama.

Sebagai ilmu baru  bimbingan kejuruan tersebar di seluruh Amerika Serikat, individu mulai menggunakannya untuk pendekatan yang lebih luas melalui konseling sekolah yang hadir untuk berbagai macam kebutuhan siswa secara psikologis maupun kebutuhan pendidikan.  Pada tahun 1932, para pendukung seperti John Brewer menyarankan bahwa bimbingan harus dilihat dalam konteks pendidikan total dan pembimbing terlibat dalam berbagai fungsi di sekolah, termasuk konseling penyesuaian, bantuan dengan perencanaan kurikulum, manajemen kelas, dan, tentu saja, bimbingan kerja.

Selama tahun 1930-an sampai tahun 1940-an bimbingan sekolah dibentuk oleh salah satu pendekatan komprehensif pertama untuk konseling, yang kemudian dikenal sebagai Point of View of Minnesota Williamson EG. Pendekatan direktif  ini terutama dipromosikan untuk menetapkan tujuan, mengatasi hambatan, dan mencapai gaya hidup yang memuaskan.

Selama tahun 1940-an pendekatan direktif dari EG Williamson adalah untuk, berorientasi pada hubungan, pendekatan humanistik Carl R. Rogers dan lain-lain.Upaya memperkuat identitas profesi konseling di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1952 setelah lahirnya asosioasi konselor yang disebut American School Counselor Association (ASCA), melalui upaya-upaya pengembangan professional, riset, dan advokasi promosi identitas konselor. Untuk menyiapkan konselor professional dimulai melalui pendidikan khusus, penekanan ketrampilan konseling perorangan dan  layanan bimbingan dan konseling yang mencakup: pengumpulan data, informasi, penempatan, tindak lanjut, dan evaluasi (Neukrug, 2007).

2. Sejarah Konseling Sekolah di Indonesia

Layanan bimbingan dan konseling di Indonesia mulai dibicarakan secara terbuka sejak tahun 1962. Ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA, yaitu terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas 1 menjadi di kelas 2. Program penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Pemikiran ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960.

Perumusan rencana pelajaran SMA ini disusul dengan berbagai kegiatan pengembangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti rapat kerja, penataran, dan lokakarya. Puncaknya adalah didirikannya jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di dua IKIP Negeri di Indonesia. Perguruan tinggi yang membuka jurusan Bimbingan dan Penyuluhan adalah IKIP Bandung dan IKIP Malang pada tahun 1963. IKIP Bandung ini sekarang dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan IKIP Malang dikenal sebagai Universitas Negeri Malang (UM).

Secara formal, bimbingan dan konseling diberlakukan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan sekolah. Dan pada tahun ini pulalah berdiri Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang yang memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.

Dalam dekade 80-an bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Upaya-upaya dalam dekade ini lebih mengarah kepada profesionalisasi yang lebih mantap. Beberapa upayanya antara lain adalah penyempurnaan kurikulum menjadi Kurikulum 1984. Dalam kurikulum ini telah dimasukkan bimbingan karir di dalamnya.

Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU no. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan nagi peranannya di masa yang akan datang.” Meskipun sudah ada peraturan perundang-undangan yang menegaskan peranan bimbingan dan konseling di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah. Pada periode ini kebanyakan konselor di sekolah masih bersifat reaktif hanya bilamana ada kasus siswa.

Undang-Undang tersebut kemudian diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Bab X Pasal 25 tahun 1990 dan PP No. 29 Bab X Pasal 27 tahun 1990 yang menyatakan bahwa “bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.”

Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84 tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.

Perkembangan bimbingan dan konseling Indonesia terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan Nomor. 84 tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru serta Angka Kreditnya. Dalam pasal 3 disebutkan tugas pokok guru merupakan menyusun program BK, melakukan program bimbingan, penilaian penerapan tutorial, analisis hasil penerapan tutorial serta tindak lanjut dalam program tutorial terhadap partisipan didik yang jadi tanggung jawabnya. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Awal Mula Perkembangan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel