Latar Belakang Pendidikan, Hakekat Dan Keberadaan Landasan Kependidikan Dalam Teori Dan Praksis Pendidikan

Latar Belakang Praksis Pendidikan

Kompleksitas masyarakat global yang di tandai dengan perubahan-perubahan yang begitu pesat memberikan implikasi terhadap pelaksanaan pendidikan. Salah satu implikasi penerapan pembelajaran merupakan kalau proses pendidikan wajib pula berikan tempat kepada proses inside out, yaitu suatu proses pemberdayaan diri sendiri, mulai dari diri sendiri, atas dasar paradigma, karakter dan motif sendiri. 

Sementara impilkasi lain dari pelaksana pendidikan menuntut adanya keserasian pribadi/lingkungan menjadi dinamika sentral dari keberfungsian individu di dalam sistem pendidikan. Hal ini dapat dimaknai bahwa dalam transaksi individu dengan lingkungan terjadi proses perkembangan, perubahan, revisi, serta penyesuaian sikap yang terencana kepada pengembangan keahlian mengatur proses sistem yang lumayan lingkungan. Kemampuan dan kesiapan individu untuk melakukan pengarahan diri (Self-direction), pengaturan diri ( self- Regulation), dan update diri( self- Renewal), merupakan sikap yang wajib dibesarkan lewat pembelajaran buat memelihara keserasian individu/ area secara dinamis.

Hal penting dalam konteks penyelengaraan pendidikan di Indonesia adalah bahwa pendidikan di harapkan melahirkan sosok manusia sebagai mana dirumuskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sisten pendidikan Nasional pasal 3, yaitu 

Pendidikan berfungsi mengembangan kemampuan dan membentu watak serta peradapan bangsa yang bermaratabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta jadi masyarakat Negeri yang demokratis dan bertanggung jawab. Pembelajaran di selenggarakan secara demokratis serta berkeadilan dan tidak diskriminatif dengan menjunjung besar hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai Kultural, serta kemajemukan bangsa.  

Menurut Frankl (1985 ) bahwa pencarian makna pada diri manusia merupakan motivasi primer di dalam kehidupannya dan bukan rasionalisasi sekunder dari dorongan intstintif. Makna ini unik dan spesifik yang harus dan hanya bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri, dan terjadi pada semua kehidupan. ( Zohar& Marshall, 2000) tercantum kehidupan pendidik yang handal dalam mewujudkan pembelajaran yang bermutu. 

Kualitas pembelajaran secara kontekstual serta utuh, cocok dengan kebutuhan partisipan didik serta perkara bangsa merupakan sangat dibutuhkan pada dikala ini dalam konteks pembangunan nasional. Pendidikan adalah suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan manusia yang sedang berkembang menuju kepribadian mandiri untuk dapat membangun dirinya sendiri dan masyarakat. Konsekuensi nya adalah proses pendidikan itu harus mampu menyentuh dan mengendalikan berbagai aspek perkembangan manusia. 

Terkandung makna bahwa melalui proses pendidikan diharapkan manusia berkembang kearah bagaimana dia harus menjadi dan berada. Jika pendidikan di pandang sebagai suatu upaya untuk membantu manusia menjadi apa yang bisa diperbuat. Maka pendidikan harus bertolak dari pemahaman tentang hakekat manusia. pendidik perlu memahami manusia dalam segala hal aktualisasi nya, kemungkinannya,dan pemikirannya bahkan memahami perubahan yang dapat diharapkan terjadi pada diri manusia.

Di dalam undang-undang nomor 20 tahun2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 butir 6 bahwa Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widya iswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususnya, serta berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Khusus terkain dengan profesi konselor tugas dan fungsi seorang konselor adalah melakukan proses pembelajaran melalui kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. 

Adapun dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dana konseling Crow & Crow, 1960 menyatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah menyediaakan unsur-unsur di luar individu yang dapat di pergunakan untuk mengembangkan diri. Dalam arti luas bimbingan dan konseling dapat di anggap sebagai bentuk upaya pendidikan, dalam arti sempit bimbingan dan konseling sebagai tehnik yang memungkinkan individu dapat menolong diri sendiri. 

Secara fungsional, konseling sangat signifikan sebagai salah satu upaya pendidikan untuk membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. konseling merupakan proses yang menunjang pelaksanaan program pendidikan di sekolah, karena itu program-program meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, dan hasil konseling menunjang kependidikan umumnya. Oleh karena itu guru bimbingan konseling atau konselor untuk menjalankan tugas profesional nya harus di dukung atas dasar keilmuan pendidikan. 

Sumber

Mantja, W. 2001. Bahan Ajar; Landasan-Landasan Kependidikan. Malang. Universitan Negeri Malang

Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta : Grasindo


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Latar Belakang Pendidikan, Hakekat Dan Keberadaan Landasan Kependidikan Dalam Teori Dan Praksis Pendidikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel