Friday, 3 July 2020

Penanganan Klien Penderita Keterbelakangan Mental


Penanganan Klien Penderita Keterbelakangan Mental
1.      Occuppasional Therapy (Terapi Gerak)
Terapi ini diberikan kepada anak retardasi mental untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh (gerak kasar dan halus).
2.      Play therapy (Terapi bermain)
Terapi yang diberikan kepada anak retardasi mental dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.
3.      Activity Daily Living (ADL) atau Kemampuan Merawat Diri.
Untuk memandirikan anak retardasi mental, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
4.      Life Skill (Keterampilan hidup)
Anak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator. Bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.
4.      Vocational Therapy (Terapi Bekerja)
Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.


B.     Memahami Karakteristik Anak Sulit Belajar
Anak sulit belajar atau sering juga disebut sebagai anak pengidap Learning Disabilities adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
Anak lamban belajar memiliki kriteria sebagai berikut:
1.      Adanya ”academic retardation” atau ketidak sesuaian antara umur mental dengan kemampuan sekolah
2.      Terjadinya pola perkembangan yang agak lain dari biasanya
3.      Terdapat atau tidak terdapat disfungsi system neurologist
4.      Adanya lingkungan yang tidak menguntungkan
Gangguan spesifik yang masuk dalam kelompok gangguan belajar khas (”sulit belajar”) adalah:
1.      Gangguan membaca ditandai dengan gangguan kemampuan untuk mengenali kata, membaca yang lambat, pemahaman yang buruk, sering banyak ditemukan pada anak laki-laki. Gangguan membaca sering menyertai gangguan emosional dan gangguan perilaku lainnya terutama pemusatan perhatian dengan hyperaktivitas, gangguan sifat menentang dan depressif.
2.      Gangguan matematis dimana pencapaian nilai matematika dibawah tingkat usia kronologis, kondisi akan nampak setelah anak berusia sekitar 8 tahun. Gangguan matematis sering menyertai gangguan yang memungkinkan komplikasi kesulitan akademis, konsep diri yang buruk depresi dan frustasi, enggan masuk sekolah, suka membolos dan menentang.
3.      Gangguan ekspresi tulisan dibawah tingkat usia kronologis, sering lupa menulis huruf, mulai nampak ketika belajar mengeja kata sesuai tingkat usia, prestasi akademik yang buruk, sikap menentang dan sukar untuk diatur, tidak memiliki tanggungjawab terhadap pekrerjaan sekolah, suka membolos.
                        Karakteristik hasil anak yang lamban belajar
1.    Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
2.    Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
3.    Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
Pernah tidak naik kelas.

0 comments:

Post a comment