Tuesday, 21 July 2020

Paradigma Sosial Kognitif Dalam Pendidikan


1.      Paradigma Sosial Kognitif Dalam Pendidikan
Bredo (1997) mengembangkan paradigma ini dengan memanfaat kan psikologi fungsional dan filsafat pragmatisme dari karya James, Deway dan Mead. Ia juga mengaitka dengan nilai-nilai demokratik serta pemikiran behavioristik. Asumsi dasarnya dibangun berdasarkan prinsip bahwa individu selalu berdialog dengan lingkungannya.
Dalam paradigma social kognitif, pembelajaran disetting sedemian rupa sehingga siswa bisa menggunakan sistem pengetahuan yang dimlikinya dan digunakan untuk berdialog dengan lingkungan. Pembelajaran atau pemikiran dilakukan melalui tindakan yang bisa mengubah situasi. Situasi yang berubah mengubah cara pembelajaran yang dilakukan siswa. Gagasan yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran adalah aktifitas yang difasilitasi yang didalamnya terdapat bentuk – bentuk ragam budaya yang ada menjadi faktor penting.
Dengan demikian pembelajaran dalam perspektif ini dapat diartikan sebagai aktifitas sosial dan kolaborasi. Didalamnya siswa mengembangkan pemikirannya bersama – sama. Kelompok kerja bukan soal pilihan tambahan. Pembelajaran dilakukan secara parsipatoris. Apa yang dipelajari bukan hanya yang dimiliki individu namun sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain, dan oleh karena itu paradigma ini disebut dengan ‘distributed cognition’ pemikiran yang terbagikan.
Selebihnya, paradigma sosial kognitif dirinci dengan baik oleh Mclnerney dan Mclnerney sebagai berikut :
a.       Alat penyampaian materi
1)      Melakukan display model
2)      Berfokus pada siswa
b.      Aktivitas/metodologi
1)      Metode rinci, tahap demi tahap mengikuti model
2)      Penjelasan dan pemberian informasi verbal
3)      Bahan instruksional disusun secara teratur dan menarik
4)      Memberikan kesempatan siswa untuk memahami dan menyajikan kembali materi pembelajaran
c.       Motivasi dan tujuan
1)      Membuat instrumen reinforcement
2)      Menekan dorongan instrinsik maupun reinforcement
3)      Menguasai perilaku yang ditentukan dan mentransformasikannya dalam situasi baru
d.      Evaluasi
1)      Melakukan evaluasi formative secara terus menerus dan memberi respon terhadap umpan balik secara langsung
2)      Mereproduksi pendorong kepuasan yang diperlukan untuk membentuk perilaku
3)      Menggunakan skill yang diperlukan dalam situasi yang sama maupun yang baru melalui transformasi



0 comments:

Post a comment