Sunday, 5 July 2020

Memahami Klien Pengidap Hiperaktifitas


Memahami Klien Pengidap Hiperaktifitas
Depdikbud (1995:353) hiperaktif berarti sifat yang sangat aktif. Hiperaktif berasal dari kata hiper dan aktif. Hiper berarti diluar  atau terlampau melampaui batas, sedangkan aktif berarti giat beraksi.
Hasil semiloka (1998:15) menjelaskan anak hiperaktif adalah istilah yang saat ini digunakan untuk menggambarkan anak yang memiliki pola perilaku yang berhubungan dengan kekurangan dalam keberhasilan anak dalam mempertahankan perhatian, mengontrol dorongan, dan mengatur aktivitas gerak dalam merespon atau menanggapi tuntutan-tuntutan situasional.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hiperaktif adalah  suatu tindakan atau perilaku seseorang yang sangat berlebihan dan melampaui batas kewajaran karena adanya kekurangan dalam keberhasilan mempertahankan perhatian, mengontrol dorongan dan mengatur aktivitas gerak dalam merespon atau menanggapi sekitarnya dengan harapan dapat menarik perhatian orang lain di sekitarnya.
Ketika berbicara tentang hiperaktivitas, maka kita juga perlu membicarakan tentang AD/HD. AD/HD (Attention Deficits and Hyper-activity Disorder) adalah gangguan yang berupa kurangnya perhatian dan hiperaktivitas (aktivitas yang berlebihan). Gangguan ini juga dikenal sebagai gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (GPPH). Manifestasi gangguan ini dapat kita temui dalam banyak bentuk dan perilaku yang tampak.
AD/HD sendiri sebenarnya adalah kondisi neurologis (terkait dengan syaraf) yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktifitas-impulsivitas, yang tidak sejalan dengan perkembangan usia anak. Jadi ADHD lebih pada kegagalan perkembangan fungsi sirkuit/jaringan otak yang bekerja menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini. Hilangnya regulasi diri ini menganggu fungsi otak yang lain dalam memelihara perhatian, termasuk kemampuan membedakan antara imbalan yang segera diterima dengan keuntungan yang akan diperoleh di waktu yang akan datang. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti gegar otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
Umumnya seseorang yang memiliki ADHD memiliki 3 gangguan serupa meskipun kadang disertai dengan gejala yang berbeda, yaitu tidak perhatian (inattentiveness), hiperaktif (hyperactivity) dan impulsif (impulsiveness). Berikut adalah penjelasan mengenai tiga tipe kurang perhatian dan hiperaktif:
1.      Tipe Kurang Perhatian
Tanda yang paling jelas terlihat adalah anak sering mengalami kegagalan dalam memperhatikan sesuatu yang detail atau melakukan kesalahan yang sama setiap melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Serta sering memiliki tatapan kosong seperti tidak mendengarkan apa yang orang lain bicarakan dengannya dan mudah lupa
2.      Tipe Hiperaktif-Impulsif
Anak akan terlihat gelisah atau menggeliat terus menerus tanpa melihat lingkungan sekitarnya, ini umumnya dianggap sebagai gejala klasik dari ADHD. Tanda lain yang perlu diperhatikan sebagai gejala ADHD adalah anak tidak bisa duduk dengan tenang untuk beberapa saat atau cenderung bicara secara berlebihan
3.      Tipe Kombinasi
Tipe ini merupakan gabungan dari tipe pertama dan kedua.
Gangguan hiperaktif pada anak atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) umumnya baru diketahui ketika anak sudah bersekolah. Tapi ada ciri-ciri ADHD yang muncul sebelum ia masuk sekolah. Komorbiditas biasanya juga terjadi dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders). Szatmari, Offord, dan Boyle (dalam Grainger 2003) menyebutkan sebanyak 20-40% anak penderita ADHD juga didiagnosis mengalami gangguan perilaku. Sejalan hal ini, Stewart, Cummings, Singer, dan DeBlois (dalam Grainger, 2003) menemukan bahwa 3 dari 4 anak dengan gangguan perilaku agresif ternyata juga hiperaktif, dan 2 dari 3 anak hiperaktif juga mengalami gangguan perilaku.
Secara akademis, anak yang mengalami masalah dengan perilaku biasanya mengalami kesulitan untuk dididik di lingkungan kelas yang “tradisional” sehingga prestasi akademiknya rendah dan mereka seringkali didiagnosis mengalami kesulitan belajar. Riset juga menunjukkan gangguan perilaku berhubungan dengan tingkat membolos dan drop out (DO) dari sekolah (Jimerson, et.al., 2002). Berikut ini gejala AD/HD berdasarkan riwayatnya:
1.    Masa bayi.
Memiliki gejala seperti (1) Anak serba sulit, (2) Menjengkelkan, (3) Serakah, (4) Sulit tenang, (5) Sulit tidur dan (6)Tidak ada nafsu makan
2.      Masa prasekolah.
Pada masa prasekolah dapat diketahui melalui gejala sebagai berikut: (1) terlalu aktif, (2) keras kepala, (3) tidak pernah merasa puas, (4) suka menjengkelkan, (5) tidak bisa diam, dan (6) sulit beradaptasi dengan lingkungan.
3.      Usia sekolah
Pada usia sekolah gejala AD/HD dapat diketahui melalui (1) sulit berkonsentrasi, (2) Sulit memfokuskan perhatian dan (3) Impulsif.
4.      Remaja
Pada usia remaja dapat diketahui gejala bagi anak yang mengalami gangguang AD/HD adalah (1) tidak dapat tenang, (2) sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat, (3) tidak konsisten dalam sikap dan penampilan.
Di bawah ini ada beberapa ciri khusus yang dapat orang tua deteksi perilaku hiperaktif anak pada setiap fase perkembangannya.
1.      Akhir tahun pertama sebelum masuk sekolah (pada saat Balita) perilaku Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) yang ada pada anak belum bisa terdeteksi secara nyata, tetapi bila mereka menunjukkan tingkah laku gelisah dalam melakukan suatu aktifitas tertentu maka orang tua sebenarnya harus bisa memberikan perhatian serius.
2.      Pada masa pra sekolah, gejala ADHD-nya mulai nampak. Misalnya tidak mampu mengerjakan suatu tugas yang ringan, tidak mampu bergaul dengan teman atau cuek terhadap lingkungan sekitarnya.
3.      Pada masa sekolah jika tidak mendapatkan perhatian serius maka defisiensi yang di derita anak akan bertambah sehingga kondisinya bisa lebih parah dari masa sebelumnya. Langkah terbaik untuk masa ini adalah anak perlu diperhatikan kondisi emosinya seawal mungkin oleh orang tua sebelum masuk sekolah.
4.      Jika pada tiga fase sebelumnya tidak diperhatikan secara serius, maka pada masa remaja awal (SLTP) anak yang menderita ADHD tidak dapat berhasil dalam belajar. Kondisi ini yang menyebabkan seorang remaja tidak dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi nantinya.Alasan yang sangat nyata adalah karena prestasi belajar anak hiperaktif yang sangat rendah. Kondisi ini lebihdisebabkan karena anak hiperaktif mengalmi deficit dalam perhatian.
5.      Pada masa dewasa seorang yang masih menderita ADHD mengalami masalah dalam hubungan interpersonal seperti, kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain (minder) tidak percaya diri, tidak mempunyai konsep diri yang jelas, selalu tampak depresi atau stress, memiliki perilaku anti sosial, dan selalu merasa tidak mantap dengan tugasnya atau pekerjaannya. Jadi ADHD yang tidak teratasi akan terbawa sampai masa dewasa.
Sedangkan Erford dalam bukunya “Professional School Counseling a Handbook of theories, Program and Practices” (2004: 487)  menjelaskan bahwa gejala atau kriteria anak yang mengalami gangguan AD/HD terbagi menjadi dua jenis, yaitu jenis kurang perhatian dan hiperaktif. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1.      AD/HD Jenis Kurang Perhatian
a.       Sering gagal untuk memberikan perhatian dekat dengan rincian atau membuat kesalahan ceroboh dalam kegiatan sekolah, sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian dalam tugas atau kegiatan bermain
b.      Sering tampaknya tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung
c.       Sering tidak menindaklanjuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, tugas, atau tugas-tugas di tempat kerja (bukan karena perilaku oposisi atau kegagalan untuk memahami instruksi)
d.      Sering mengalami kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas
e.       Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan untuk terlibat dalam tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental terus menerus (seperti sekolah atau pekerjaan rumah)
f.       Sering kehilangan hal yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan (misalnya, mainan, tugas sekolah, pensil, buku atau alat)
g.      Sering mudah terganggu oleh rangsangan asing
h.      Sering pelupa dalam kegiatan sehari-hari
2.      AD/HD Jenis Hiperaktif-Impulsif
a.       Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau menggeliat di kursi
b.      Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau dalam situasi lain di mana duduk tersisa diharapkan
c.       Sering berjalan sekitar atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja atau orang dewasa, mungkin terbatas pada perasaan kegelisahan secara subjektif)
d.      Sering memiliki kesulitan bermain atau terlibat dalam kegiatan rekreasi santai
e.       Sering "di perjalanan" atau sering bertindak seolah-olah "digerakkan oleh mesin"
f.       Sering berbicara berlebihan
g.      Sering menyela jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan
h.      Sering mengalami kesulitan menunggu giliran
i.        Sering menyela (dalam percakapan atau permainan)

Brock E Stephen, Shane R Jimerson dan Robin L Hansen (2009: 10) menjelaskan mengenai faktor penyebab anak mengalami gangguan kurang perhatian dan hiperaktif, yaitu:
1.      Faktor neurologic
a.       Insiden hiperaktif
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
b.      Terjadinya perkembangan otak yang lambat.
Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan
2.      Faktor Toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
3.      Faktor Genetic
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
4.      Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.
Berdasarkan beberapa penjelasan mengenai faktor penyebab anak mengalami gangguan kurang perhatian dan hiperaktif dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan anak mengalami gangguan kurang perhatian dan hiperaktif ada empat yaitu faktor neurologic, genetic, lingkungan / psikososial dan toksik

0 comments:

Post a comment