Friday, 3 July 2020

Memahami Klien Penderita Keterbelakangan Mental

   Memahami Klien Penderita Keterbelakangan Mental
Menurut International Classification of Disease (ICD-10) RM adalah suatu kondisi terhentinya atau tidak lengkapnya perkembangan pikiran, yang terutama ditandai oleh gangguan keterampilan yang dimanifestasikan selama periode perkembangan, yang mempengaruhi keseluruhan tingkat kecerdasan, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Istilah pikiran (feeble-mindedness) yakni kecacatan mantal (mentally handicap). Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.
American Psychiatric Accociation tahun 2000 (dalam Rathus, 2005, h.149-153) menyatakan penyebab dari retardasi mental dapat disebabkan oleh:
1.        Sindrom down dan abnormalitas kromosom lainnya
Wade pada tahun 2000 menyatakan abnormalitas kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down yang ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47. 
Anak dengan sindrom down dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah bulat, lebar, hidung datar, dan adanya lipatan kecil yang mengarah kebawah pada kulit dibagian ujung mata yang memberikan kesan sipit. Lidah yang menonjol, tangan yang kecil, dan berbentuk segi empat dengan jari-jari pendek, jari kelima yang melengkung, dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak proporsional dibandingkan keseluruhan tubuh juga merupakan ciri-ciri anak dengan sindrom down. Hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara mereka mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan kesulitan pernafasan.
2.        Sindrom Fragile X dan Abnormalitas genetik lainnya
Sindrom fragile X merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. Gen yang rusak berada pada area kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut sindrom fragile X. sindrom ini menyebabkan retardasi mental pada 1000-1500 pria dan hambatan mental pada setiap 2000-2500 perempuan. Efek dari sindrom fragile X berkisar antara gangguan belajar ringan sampai retardasi parah yang dapat menyebabkan gangguan bicara dan fungsi yang berat.
Phenylketonuria (PKU) merupakan gangguan genetik yang terjadi pada satu diantara 10000 kelahiran. Gangguan ini disebabkan adanya satu gen resesif yang menghambat anak untuk melakukan metabolisme. Konsekuensinya, phenilalanin dan turunannya asam phenilpyruvic, menumpuk dalam tubuh, menyebabkan kerusakan pada system saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional. 
3.        Faktor Pra-natal
Penyebab retardasi mental adalah infeksi dan penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya terjadi adalah Rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ibu juga dapat menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Obat-obatan yang digunakan ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi melalui plasenta. Sebagian dapat menyebabkan cacat fisik dan retardasi mental yang parah.
Anak-anak yang ibunya minum alkohol selama kehamilan sering lahir dengan sindrom fetal fetal, dan merupakan kasus paling nyata sebagai penyebab retardasi mental. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen atau cedera kepala, infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis, terkena racun, seperti cat yang mengandung timah sangat berpotensi menyebabkan retardasi mental.
4.        Faktor-faktor Psikososial
Penyebab retardasi mental pada sebagian kasus disebabkan faktor psikososial, seperti lingkungan rumah, atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental.

Pengklasifikasian/penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut:
1.    Educable
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
2.    Trainable
Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik.
3.    Custodial
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
Sedangkan penggolongan Retardasi Mental untuk keperluan berdasar kemampuan pendidikan sebagai berikut:
1.      Anak Slow learners, anak ini setingkat dengan retardasi sekolah, dengan borderline ringan, setingkat dengan dull average dan IQ sekitar 70/75-90. Anak dapat berfikir sedikit abstrak, di masyarakat dapat mepertahankan diri, bertingkah laku seperti anak normal, sehingga jarang yang mengetahui bahwa dirinya slow leamers,  kurang perhatian jika mempelajari mata pelajaran disekolah, kurang dapat mengadakan kritik terhadap dirinya sendiri, perkembangan motorik lebih lamban jika disbanding anak normal, lebih senang berceritera dan membicarakan hal-hal yang konkrit daripada pelajaran.
2.      Anak mampu didik (the educable and trainable mentally retarded), anak setingkat dengan mild, borderline berat, moron, dan debil, IQ sekitar 50/55-70/75. Anak mengalami kesukaran dalam beberapa mata pelajaran, kesukarannya disebabkan karena: tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, rendah diri dan sakit-sakitan kurang perhatian dan kasih sayang dll. Kepribadiannya: sukar berfikir abstrak dan sngat terikat pada lingkungan, kurang dapat berfikir logis dan daya analisis kurang, kurang dapat membedakan hal-hal yang penting, daya fantasi lemah, kurang dapat mengendalikan perasaan, suggestible (mudah terpengaruh), kepribadian kurang harmonis, suka berbohong dan suka mencuri, sukar menilai baik dan buruk, senang melakukan onani.
            Beberapa variasi debilitas:
a.       Idiots Savants. Mereka adalah anak debil yang mempunyai ingatan kuat, tetapi terbatas pada beberapa hal saja.
b.      Pseudo debil. Mereka bertingkah laku seperti anak debil tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan mereka tidak debil IQ lebih dari 75, disebabkan karena tekanan lingkungan sehingga tidak ada kesempatan untuk berkembang.
c.       Debilitas yang harmonis. Perasaan baik, kemauan normal, penurut tetapi menunjukkan hambatan dalam belajar.
d.      Debilitas yang disharmonie. Mereka anak debil yang terganggu kepribadiannya, misalnya: inferioritary complex, mudah frustasi karena konflik dengan lingkungan, keras kepala dan agressif, selaluingin menguasai lingkungan dan mempertontonkan heroisme semu, suka mengasingkan diri, kerena merasa tidak ada kemungkinan mengatasi kesulitan yang dideritanya.
3.      Anak mampu latih (the trainable mentally retarded) anak ini setingkat dengan moderate, imbisil, IQ sekitar 20/25-50/55.
4.      Anak tidak mampu didik dan tidak mampu latih (the totally dependent of profoundly mentally retarded), anak ini setingkat dengan severe yang kuat atau idocy IQ antara 0-20/25 (Uneducable and untrainable).
Penggolongan Retardasi mental secara Medis-Biologis menurut Roan, 1979, adalah sebagai berikut:
1.                  Retardasi mental taraf perbatasan (IQ: 68 – 85).
2.                  Retardasi mental ringan (IQ: 52 – 67).
3.                  Retardasi mental sedang (IQ: 36 – 51).
4.                  Retardasi mental berat (IQ: 20 – 35).
5.                  Retardasi mental sangat berat (IQ: kurang dari 20); dan
6.                  Retardasi mental tak tergolongkan.
Adapun penggolongan Retardasi mental secara Sosial-Psikogis terbagi 2 (dua) kriteria yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif.
Ada 4 (empat) taraf Retardasi mentyal berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala inteligensi Wechsler (Kirk dan Gallagher, 1979, dalam B3PTKSM, p. 26), yaitu:
1.    Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69.
2.    Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40 –54.
3.    Retardasi mental berat (severe mental tetardation) dengan IQ: 20 – 39.
4.    Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah.
5.    Penggolongan Anak Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf inteligensi, tetapi berdasarkan kematangan sosial. Hal ini juga mempunyai 4 (empat) taraf, yaitu:
a.       Ringan;
b.      Sedang;
c.       Berat; dan
d.      Sangat Berat

0 comments:

Post a comment