Wednesday, 15 July 2020

Logoterapi


  Latar Belakang Logoterapi
Logoterapi kadang-kadang disebut mazhab ketiga psikoterapi Wina, sedangkan dua lainnya adalah psikoanalisa Frued dan psikologi individual Adler. Cara lain untuk melihat psikoterapi adalah sebagai pelengkap, bukan pengganti untuk psikoterapi (Frankl, 1975a). Logos adalah kata Yunani yang memiliki konotasi “makna” dan “jiwa”, kata yang disebut terakhir itu tanpa konotasi religius primer. Manusia adalah makhluk pencari makna dan pencarian makna itu tidak pedalogis. Eksistensi menghadapkan orang pada kebutuhan untuk menemukan makna dalam hidupnya. Maksud utama logoterapi adalah untuk membantu klien dalam mencari makna.

1.      Viktor frankl (1905-1997)
Viktori E. Frankl, yang lahir 26 maret 1905 di Wina, Austria, adalah putra dari orang tua yang berkebangsaan Yahudi. Ibunya adalah keturunan dari keluarga bangsawan Praha tua yang mapan. Ayahnya adalah putra penjilid buku miskin menjadi pegawai negeri yang kemudian menjadi direktur departemen kesejahteraan pemuda pemerintah Astria. Diantara tiga bersaudara, Frank tumbuh di lingkungan yang terjamin, yang menggambarkan ibunya sebagai perempuan yang baik hati dan saleh serta ayahnya adalah laki-laki spartan, tabah, religius, dan memiliki sense of duty yang kuat. Frank melihat dirinya memiliki ketegangan antara rasionalitas ayahnya dan emosi mendalam ibunya. Frank adalah murid yang sangat berbakat secara intelektual di sekolah dan lebih matang dibandingkan usianya, yang berkorespondensi dengan freud. Frankl muda menerbitkan artikel pertamanya atas undangan Freud dalam international journal of psychoanalisis.
Frankl melontarkan istilah logoterapi pada 1920-an dan pada 1930-an menggunakan kata existenzanalyse, analisis eksistensial, sebagai kata alternatif untuk logoterapi. Untuk menghindari kerancuan, ia nyaris tidak pernah menggunakan istilah analisis eksistensial dalam publikasi-publikasi bahasa inggrisnya. Pada 1928, Frankl mendirikan Youth Counseling Centres di Wina, dan mengepalainya sampai 1938. Pada 1930, ia menerima MD dari Universitas of Vienna. Antara tahun 1938 sampai 1942 ia menjadi spesialis di bidang Neurologi dan Psikiatri, dan kemudian Kepala Bagian Neurologi di Jewish Hospital di Wina. Selama periode ini, ia menulis draf pertama buku pertamanya.
Tidak lama sebelum Amerika memasuki Perang Dunia kedua, Frankl diberi kesempatan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat, namun ia menolaknya. Ibunya, saudara laki-laki dan istri pertamanya, Tilly, meninggal di kamp konsentrasi yang berbeda-beda. Namun saudara perempuannya yang saat itu telah berimigrasi ke Australia selamat.
Dari tahun 1942 sampai 1945 Frankl memiliki pengalaman mengerikan selama menjadi tahanan di empat kamp konsentrasi yakni Theresienstadt, Auschwitz-Birkenau, Kaufering 111 dan Turkheim. Saat tiba di Auschwitz, rambut di sekujur tubuh Frankl dicukur gundul. Naskah buku pertamanya disita. Selama tiga tahun berikutnya, ia selamat dari seleksi siapa yang harus hidup atau mati, kerja paksa, Capos (penjaga) yang brutal, pemukulan, gizi buruk, penyakit, lika-liku nasib dan tantangan eksistensial untuk menemukan makna dalam penderitaannya. Di sebagian besar waktunya, ia bekerja menggali dan menyiapkan jalur kereta api. Hanya dalam waktu beberapa minggu selama penahanannya ia bekerja sebagai dokter.
Selama periode ini, Frankl berkesempatan untuk mengamati sifat manusia dalam kondisi ekstrem. Banyak tahanan yang menyerah dan sebagian bahkan untuk tidak berbuat apa-apa. Akan tetapi, sebagian tahanan lain menjadi lebih dalam secara spiritualitas dan mengganggap kesulitan sebagai ujian bagi kekuatan batinnya. Mereka bangkit menghadapi tantangan menemukan makna dalam hidupnya. Frankl mengutip Nietzsche, ‘He who has a why to live for can bear almost any how’ (Dia yang memiliki cara untuk hidup dapat menanggung hamper semua cara) (1963: 121, penekanan sesuai aslinya), terlepas dari penderitaan mereka, para tahanan ini mempertahankan kebebasannya untuk memilih dalam kehidupan batinnya dan dalam cara mereka berprilaku terhadap orang lain. Mereka mengubah tragedinya menjadi kemenangan. Ketika kembali ke Wina setelah perang, di tengah sedu-sedannya, ia mendiktekan draf ketiga dan yang akhir dari The Doctor and the Soul (1955). Setelah itu, selama Sembilan hari ia mendiktekan Man’s Search for Meaning (1963), ia berpikir bahwa ia akan mempublikasikan secara anonym, dan buku itu diterbitkan pada tahun 2005 serta terjual hamper 10 juta eksamplar.
Pada 1946, Frankl menjadi Kepala Department of Neurology di Poliklinik Hospital di Wina tempat ia bekerja sampai 1970. Pada 1946 ia juga bertemu dengan istri keduanya, Elly, yang dinikahinya pada tahun berikutnya. Pada 1947, ia diangkat sebagai Assisstant Professor of Psychiatry and Neurologi di University of Vienna dan setelah itu pada 1955 sebagai University Professor. Frankl adalah mantan presiden Austrian Medical Society of Psychotherapy. Di samping itu, ia menjadi Distinguished Professor of Logotherapy di US International University di California dan juga Visiting Professor antara lain di Universitas Stanford, Harvard, dan Duquesne. Lebih dari 200 universitas di seluruh dunia pernah mengundangnya untuk memberikan kuliah. Selain di Amerika Serikat, ia banyak memberik kuliah di Eropa, Australia, Amerika Selatan, Asia dan Afrika.
I.                   Teori

A.    Konsep-konsep Dasar
1.      Kebebasan Berkehendak
Frankl menggunakan istilah eksistensial dengan tiga cara. Pertama, istilah eksistensial mengacu pada existence (eksistensi) itu, yang merupakan mode of being spesifik manusia. Kedua, eksistensial mengacu pada meaning (makna) eksistensi. Ketiga, eksistensial mengacu pada upaya untuk menemukan makna dalam eksistensi personal atau, dengan kata lain, mengacu pada the will to meaning (keinginan akan makna). Manusia perlu menyadari berbagai kemungkinan transitorik. Mereka secara konstan memilih mana diantara massa potensialitas transitorik yang akan diaktualisasikan dan mana yang akan diaktualisasikan dan mana yang akan dukutuk menjadi non-being.
Manusia memiliki kebebasan berkehendak. Manusia bebas membentuk karakternya dan bertanggung jawab untuk apa yang mereka ciptakan dari dirinya. Jika orang melampaui dimensi somatik dan fisik eksistensinya, ia memasuki sebuah dimensi baru yang diistilahkan sebagai “dimensi noologis” oleh frankl. Dalam dimensi noologi inilah terletak fungsi-fungsi khas manusia, misalnya refleksi, kapasitas untuk menjadikan dirinya objek, humor, dan kehati-hatian.


2.      Will to meaning (kehendak untuk menemukan makna)
            Will to meaning (kehendak untuk menemukan makna) adalah kekuatan motivational fundamental pada diri manusia. Frankl menulis, “pencarian manusia akan makna adalah kekuatan utama dalam hidupnya. Makna ini unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh dirinya saja; hanya dengan begitu makna itu mencapai signifikansi yang akan memuaskan will to meaningnya” (1963: 154).
            Logoterapi memfokuskan pada will to meaning sementara psikoanalisis memfokuskan pada will to pleasure (kehendak untuk mencapai kesenangan) dan psikologi individual memfokuskan pada will to power (kehendak untuk meraih kekuasaan). Frankl mengakui bahwa freud dan adler tidak menggunakan istilah “will to pleasure” dan “will to power”. Akan tetapi, kesenangan maupun kekuasaan adalah produk-sampingan atau derivatif dari will to meaning.

3.      Kesadaran dan Ketidaksadaran
Kesadaran
Manusia adalah makhluk spiritual dan logoterapi memfokuskan pada eksistensi spritual mereka. Fenomena spiritual pada diri manusia bisa berupa sesuatu yang didasari atau tidak disadari. Logoterapi bermaksud meningkatkan kesadaran klien tentang self spiritualnya. Manusia perlu sadar akan tanggung jawabnya untuk mendeteksi dan bertindak dalam kaitannya dengan makna unik kehidupannya di berbagai situasi spesifik dimana mereka terlibat di dalamnya.
Ketidaksadaran Spiritual
            Setiap manusia memiliki inti spiritual personal eksistensial. Meskipun batas anatara kesadaran dan ketidaksadaran itu ‘cair’, Frankl menganggap dasar spiritual eksistensi manusia pada dasarnya tidak sadar. Frankl menulis: ‘Eksistensi ada dalam tindakan bukan refleksi’ (1975a: 30)
Kata Hati
            Asal muasal conscience (kata hati atau hati nurani) terdapat dalam ketidaksadaran spiritual. Logos lebih dalam disbanding logika. Frankl menulis, ‘tugas kata hati untuk mengungkapkan kepada manusia unum necesse, the one thing that is required (satu hal yang diperlukan)’ (1975a: 35).
            Melalui kata hati, agen trans manusia ‘sounding through adalah per-sonare dalam bahasa Latin yang terkait dengan konsep ‘person’ manusia. Kata hati memiliki posisi kunci, yaitu mengungkapkan transendensi manusia.
Ketidaksadaran Religius
            Religiositas yang tidak disadari atau ketidaksadaran religious ada di dalam ketidaksadaran spiritual. Manusia selalu berdiri di dalam hubungan intensional dengan transendensi, bahkan meskipun hanya di tingkat ketidaksadaran. ‘Tuhan yang tidak disadari’ ini tersembunyi dengan dua cara. Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan itu tersembunyi. Kedua, Tuhan itu tersembunyi. Bahkan pada orang-orang yang sangat tidak religiositas itu ada secara laten.
            Ketidaksadaran religius adalah sebuah agen eksistensia, bukan sebuah faktor instingtual. Frankl menyebutnya ‘sebuah deciding being yang tak sadar, dan bukan sebuah being yang digerakkan oleh ketidaksadaran’ (1975a: 65). Eksistensialitas religiositas perlu bersifat spontan. Religiositas sejati harus terbentang menurut kecepatannya.

4.      Makna Hidup dan Kematian
Makna Hidup
            Frankl menulis bahwa “menjadi manusia berarti bertanggung jawab untuk memenuhi potensi makna yang melekat pada sebuah situasi kehidupan tertentu’ (1975a: 125). Tidak ada satu tahap kehidupan pun yang manusia bisa ‘menghindari amanat untuk memilih di antara berbagai kemungkinan”. (Frankl , 1955: 85).
Setiap saat orang dipertanyakan oleh kehidupan. Cara meresponnya adalah dengan bertanggung jawab atas kehidupannya. Meskipun senantiasa dikelilingi oleh berbagai keterbatasan biologis, sosiologis dan psikologis, manusia mampu menaklukkan dan membentuknya atau secara sengaja memilih tunduk kepadanya.
Makna Kematian
            Ajal tidak merampas makna kehidupan. Ajal merupakan bagian dari kehidupan dan memberinya makna. Tanggung jawab orang timbul dari keterbatasannya. Konsekuensinya, mereka perlu menyadari seluruh bobot tanggung jawab yang dipikulnya di setiap saat di dalam kehidupannya. Kesempatan dan kesengsaraan yang dihadapi manusia unik. Bagaimanapu orang masih dapat menggunakan kebebasan batinnya untuk mengambil sikap terhadap takdirnya.
Transendensi Diri
Transendensi diri adalah salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berusaha meraih lebih jauh di luar dirinya sendiri. Frankl melihat kebutuhan dasar manusia adalah mencari makna, bukan mencari self. Identitas hanya dapat dicapai dengan bertanggung jawab atas terpenuhinya makna. Kualitas transendensi diri kehidupan manusia paling tampak jelas saat orang melupakan dirinya sendiri. Frankl meyakini bahwa pelajaran utamanya yang dipetiknya dari kamp konsentrasi Nazi adalah bertahan hidup tidak aka nada tujuannya, tidak akan ada artinya, dan akan mustahil, kecuali jika kehidupan itu menuju ke sesuatu yang lebih jauh dari kehidupan itu.
Menderita masalah neurotic yang merefleksi kesulitan dalam transendensi diri adalah kebalikan dari orang-orang yang menemukan makna dengan mentransendensi dirinya. Hiper-refleksi dan hiper-intensi adalah dua cara utama dimana orang memilih untuk tidak mentransendensikan dirinya. Hiper-refleksi adalah kecenderungan untuk melakukan refleksi diri secara eksesif. Hiper-intensi adalah kecenderungan untuk memberikan perhatian eksesif pada upaya mencapai keinginan
Sumber Pengertian
Frank (1963) mengatakan bahwa transendensi diri dapat dicapai dengan menemukan atau mendeteksi makna denga tiga cara: dengan mengamalkan, dengan mengalami sebuah nilai dan dengan menderita. Di tempat lain, Frankl (1967, 1988) berbicara tentang tiga cara utama dapat digunakan orang untuk menemukan makna dalam hidupnya.
1.      Melalui apa yang mereka berikan kepada kehidupan (nilai-nilai kreatif)
2.      Melalui apa yang mereka ambil dari kehidupan (nilai-nilai eksperensial), dan
3.      Melalui sikap yang mereka ambil terhadap takdir yang tidak dapat lagi diubahnya, misalnya kanker yang tidak dapat dioperasi (nilai-nilai atitudinal)
Di samping itu, pengalaman yang lalu dan agama adalah dua bidang lain yang orang dapat menemukan makna.


Makna dalam Pekerjaan
            Pekerjaan adalah salah satu bidang utama orang dapat meraih lebih jauh sesuatu di luar dirinya. Makna pekerjaan lebih jauh dari sekedar okupasi tertentu dan mencakup bagaimana orang membawa kualitas-kualitas manusia uniknya ke pekerjaan. Sebagai contoh, seorang perawat mungkin mengambil langkah lebih jauh dari tugasnya dengan mengucapkan kata-kata yang manis kepada seorang pasien yang kritis. Frankl melihat semua pekerjaan memungkinkan menjadi semacam itu, meskipun mengakui bahwa sebagian pekerjaan sangat rutin. Kasus semacam ini, makna kreaktif mungkin perlu ditemukan dalam kegiatan waktu luang.
            Bekerja juga bisa berarti baik atau buruk. Sebagian orang melarikan diri dari kekosongan eksistensinya dengan berlindung dalam pekerjaan atau profesinya. Mencapai makna kreatif dalam hidup tidak sama artinya dengan kepuasan kerja semata.
Makna dalam Cinta
Dalam logo terapi, cinta cinta tidak dianggap sebagai fenomena sekunder setelah seks. Meskipun seks bisa merupakan ekspresi cinta yang matang, ia bukan bentuk cinta itu sendiri. Cinta sebagai salah satu bentuk trandensi diri memiliki beragam karakteristik. Cinta melibatkan berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk spiritual. Dengan demikian cinta melibatkan pemahaman atau menangkap inti batin kepribadian orang lain. Orang digerakkan ke kedalaman spiritual being-nya oleh inti spiritual pasangannya. Birahi jarang berlangsung lama. Ketika terpuaskan dorongan cinta pun serta merta lenyap. Akan tetapi cinta memiliki kualitas permanensi dalam arti bahwa inti spiritual orang lain itu unik dan tidak tergantikan.
Ciri lain cinta adalah karena cinta diarahkan pada orang lain sebagaimana adanya dan bukan orang lain sebagai miliknya, maka cinta menghasilkan monogamis. Ciri cinta selanjutnya adalah melibatkan potensi pada orang yang dicintai dan membantunya mencapai potensi tersebut.
            Frankl (1967) berusaha menegaskan bahwa cinta bukan cara satu-satunya dan bahkan bukan cara terbaik untuk mengisi hidup dengan makna. Di samping itu, ia membedakan antara kegagalan neurotic dan kegagalan untuk meraih cinta ditakdirkan.

Makna dalam Penderitaan
Frankl mengutip Goethe, ‘There is no predicament that we cannot ennoble either by doing or enduring’ (tidak ada kesulitan yang tidak dapat kita muliakan dengan berbuat atau bertahan) (Frankl, 1955: 115). Sebagian orang bisa tetap tegak melawan tantangan penderitaan dan tumbuh lebih kaya dan lebih kuat karenanya. Meskipun orang-orang mungkin adalah korban takdir yang tanpa daya, tetapi mereka tetap dapat menggunakan kebebasan batinnya untuk mengubah kesulitannya menjadi accomplishment (prestasi) di tingkat manusia.
Makna dari Rasa Malu
            Frankl mengalami pencarian jiwa tentang makna penderitaan ketika naskah buku pertamanya di sita. Namun demikian, ia kemudian menyadari bahwa tidak ada yang hilang dari masa lalunya, ia hanya tersimpan dan tidak dapat ditarik kembali. Makna hidupnya tidak tergantung pada apakah naskahnya dicetak atau tidak. Pengalaman masa lalunya adalah lumbung yang padat baginya. Sering kali ketika menderita, meskipun tidak selalu, pencarian makna dapat melibatkan mengakui dan mengidentifikasi sumber-sumber makna di masa lalu yang relevan dengan penciptaan makna di masa kini. Selain itu, bahkan hidup yang singkat sekalipun masih bisa memiliki masa lalu yang sarat makna. Bahkan, bagi mereka yang menjalani kehidupan steril sekalipun, keyakinan tanpa syaratnya akan makna tanpa syarat dapat mengubah kegagalannya menjadi kemenangan. (Frankl, 1988).
Makna Tertinggi
            Frankl (1963, 1988) menggunakan istilah supra-meaning untuk menyebut makna tertinggi penderitaan dan kehidupan. Supra-meaning hanya dapat dipahami oleh keimanan dan tidak melalui sarana-sarana intelektual. Berbeda dengan filsafat eksistensial sekuler, tugas manusia bukan untuk menjalani ketidakbermakanaan hidup.
Tren dalam kehidupan modern tidak jauh dari agama, tetapi jauh dari penekanan pada perbedaan di antara denominasi-denominasi individual. Frankl (1988) tidak menganjurkan sebuah bentuk agama universal. Alih-alih, ia melihat tren ke arah agama yang sangat terpersonalisasi dimana orang mengarahkan dirinya pada ultimate being (yang tertinggi) dengan bahasa dan kata-katanya masing-masing.

5.      Kevakuman eksistensial
Kevakuman eksistensial mendeskribsikan keadaan dimana orang mengeluhkan tentang kehampaan batin. Mereka mengalami perasaan tanpa arti, kosong dan hampa. Kevakuman eksistensial adalah sebuah ‘jurang pengalaman yang sangat dalam’ yang berlawanan dengan pengalaman puncak yang dideskribsikan oleh Maslow.
Frankl menyebutkan tiga penyebab kevakuman eksistensial:
1.      Manusia tidak lagi deprogram oleh dorongan dan insting dalam hal apa yang akan dilakukan
2.      Mereka melakukan apa yang diinginkan orang lain untuk mereka lakukan
3.      Terjadinya reduksionisme yakni menempatkan posisi manusia sebagai dorongan, insting, creatures of conditioning (makhluk pengondisian), dari pada deciding agents (agen yang memutuskan)

6.      Frustasi Eksistensial
Frustasi eksistensia terjadi ketika will to meaning terhalangi. Apati dan kebosanan adalah ciri-ciri utama frustasi eksistensial. Frustasi eksistensial itu tidak patologis dan tidak patogenik. Kekhawatiran atau bahkan keputusasaan orang atas makna hidupnya adalah sebuah distress sosial bukan penyakit.

7.      Neurosis Noogenik
Kevakuman eksistensial dapat menghasilkan neurotisisme. Neurosis noogenik mengacu pada kasus-kasu kevakuman eksistensialnya menghasilkan simtomatologi klinis.

8.      Mass Neurotic Triad
Frankl menggunakan istilah ‘mass neurotic triad’ (1975: 96) untuk ketiga efek utamanya yaitu depresi, adiksi dan agresi.

9.      Akuisisi (Proses Perkembangan)
Perasaan tanpa makna belum tentu didapat melalui belajar dan indoktrinasi. Ia bisa menjadi bagiandari respons manusia terhadap kehidupan, dan jika diselesaikan dengan memuaskan seperti dalam kasus Frankl, bisa menjadi pengalaman pertumbuhan.
10.  Pemeliharaan
Mempertahankan kevakuman eksistensial
Bagaimana orang mempertahankan perasaan tanpa maknanya? Beberapa pendapat dapat disimpulkan dari tulisan-tulisan Frankl:
·         Represi
·         Menghindari tanggung jawab
·         Erosi tradisi dan nilai-nilai
·         Reduksionisme
·         Penekanan yang kurang pada trandensi diri
·         Neurotisasi umat manusia

B.     Terapi
1.      Tujuan Terapi
Frankl membagi apa yang diistilahkan sebagai mental illness (sakit mental) menjadi tiga kategori: (neurosis) noogenik, (neurosis) psikogenik, (psikosis) somatogenik. Kevakuman eksistensial merupakan neurosis atau psikosis. Tujuan terapinya serupa apakah kevakuman eksistensial itu sebagai masalah tunggal atau sebagai bagian dari neurosis noogenik.
Logoterapi adalah penangangan pilihan untuk mengatasi kevakuman eksistensial. Makna logo terapi dalam membantu klien menemukan makna dalam hidupnya. Terapis berusaha menghadapkan dan mengorientasikan klien kearah tugas-tugas hidupnya. Logo terapi adalah sebuah pendidikan tanggung jawab yang berusaha membuka penghalang pada will of meaning klien. Dengan terbukanya penghalang pada will to meaning mereka, klien akan lebih mungkin menemukan cara-cara transendensi diri melalui nilai-nilai kreatif, eksperensial dan atitudinal. Klien perlu menjadi sadar akan tanggung jawab eksistensialnya untuk menemukan makna hidupnya melalui kata hatinya. Akan tetapi, menjadikan ketidaksadaran spiritual sesuatu yang disadari hanya sebuah fase transisi dalam proses terapi.
Pengatasan gejala-gejala frustasi eksistensia, seperti apati dan kebosanan, adalah produk sampingan dari pencarian dan penemuan makna. Selain itu, ketika klien menemukan lebih banyak makna dalam hidupnya, semua gejala yang dimilikinya dari mass neurotic triad depresi, adiksi dan agresi, kemungkinan besar akan membaik atau bahkan menghilang.
Neurosis psikogenik termasuk obsesif dan fobia yang tujuan terapinya adalah untuk mengatasi kecenderungan hiper-intensi atau usaha terlalu keras klien. Neurosis psikogenik juga termasuk berbagai masalah seksual dan tidur dimana tujuan terapinya adalah untuk mengatasi kecenderungan hiper-refleksi atau kesadaran diri eksesif klien.
Pada psikosis, seperti depresi endogen dan skizofrenia, logo terapi dapat digunakan bersama pengobatan yang mengarah pada aspek somatic yang telah menjadi penyakit. Logoterapi itu sendiri menangani bagian kepribadian sehat dan sering kali tujuannya adalah membantu klien menemukan makna dalam penderitaannya.
Tujuan yang lebih luas dari logoterapi Frankl adalah rehumanisasi psikiatri. Terapis seharusnya tidak melihat pikiran sebagai sebuah mekanisme dan penanganan sakit mental hanya dalam pengertian teknik. Dalam batas-batas lingkungan dan anugrah yang dimilikinya, manusia pada dasarnya self-determining.

2.      Proses Terapi
Dalam mendiagnosis kevakuman eksistensial, logo terapis mewaspadai dua tanda terbuka, missal klien mengatakan ‘Hidup saya tidak memiliki makna’ dan tanda-tanda tersembunyi, misalnya apati dan kebosanan, yang mengindikasi bahwa klien merasakan kehampaan batin.
Frankl menekankan bahwa makna adalah sebuah masalah individual. Terapis harus mengindividualisasikan bagaimana mereka bekerja dan berimprovisasi. Logoterapi bukan pengajaran, khotbah atau wejangan moral. Peran terapis adalah memperlebar dan memperluas medan penglihatan klien sehingga seluruh spectrum makna dan nilai-nilai menjadi terlihat oleh klien. Bagi klien yang sedang mengalami kevakuman eksistensial, Frankl menerapkan berbagai intervensi untuk membantu klien dalam menemukan makna dalam hidupnya. Bagi klien dengan hiper-intensi dan hiper-refleksi, Frankl masing-masing menggunakan intensi paradoksal dan derefleksi.


3.      Relasi terapeutik
Terapi adalah seorang pendidik tanggungjawab, hal itu dilakukan dalam konteks hubungan berkomitmen dan penuh perhatian, yang menghormati keunikan setiap klien. Frankl menghargai manusia yang manusiawi dan menaruh perhatian pada rehumanisasi psikiatri. Hasil karyanya menunjukkan banyak welas asih dan kearifan. Dengan menawarkan hubungan yang manusiawi, terapis menyediakan konteks untuk membantu klien menemukan maknanya. Bila perlu, Frankl meyakinkan klien bahwa keinginan mereka untuk mencari makna adalah sebuah prestasi bukan kemunduran. Lebih jau, Frankl bisa bersikap terus terang dalam berbagai pendapatnya tentang cara mencari makna.

4.      Intervensi Terapeutik
Logoterapi untuk kevakuman eksistensial
Berikut ini adalah beberapa metode yang digunakan Frankl untuk memfokuskan pada isu-isu makna:
·         Mengajarkan pentingnya bertanggung jawab atas makna
·         Membantu klien untuk mendengarkan kata hatinya
·         Menanyai klien tentang makna
·         Memperluas wawasan tentang sumber makna
·         Memunculkan makna melalui pertanyaan sokratik
·         Memunculkan makna melalui logodrama
·         Menawarkan makna, dan
·         Menafsirkan mimpi
Teknik-teknik Logoterapi
Intensi paradoksal dan derefleksi adalah dua teknik logoterapi utama untuk neurosis-neurosis psikogenik (Frankl, 1955, 1975b). kedua teknik tersebut menyandarkan diri pada kualitas esensial manusia yaitu self-trancendence (transendensi-diri) dan self-detachment (pelepasan-diri)
Intensi Paradoksal
Dalam intensi paradoksal, klien diminta untuk mengintensikan denga tepat apa yang ditakutinya. Ketakutannya digantikan oleh keinginan paradoksal ‘memberikan kejutan yang tidak menyenangkan kepada si fobia’ (Frankl, 1995: 208). Selain itu, intensi paradoksal memasukkan perasaan humor klien sebagai sarana untuk meningkatkan sense of detachment (perasaan terlepas) daru neurosisnya dengan menertawakannya.
Meskipun penderita obsesif-kompulsif juga menunjukkan ketakutan, ketakutannya lebih berupa ketakutan terhadap dirinya daripada ‘fear of fear’. Mereka menakutkan efek potensial dari pikiran anehnya. Akan tetapi, semakin keras klien memerangi pikirannya, semakin kuat pula gejalanya. Jika terapis berhasil membantu klien melalui intensi paradoksal untuk berhenti memerangi obsesi dan kompulsinya gejalanya akan segera berkurang dan mungkin akhirnya hilang.
Derefleksi
Intensi paradoksal berusaha membantu klien untuk menertawakan gejalanya, sementara derefleksi membantu klien untuk mengabaikannya. Neurosis seksual, seperti frigiditas dan impotensi, adalah bidang untuk derefleksi. Klien harus diderefleksi dari gangguannya pada tugas yang dihadapi.
Pelayanan medis untuk psikosis somatogeni
Frankl menganggap bahwa tanggung jawab profesi medislah untuk menenangkan dan menghibur si sakit. Medical ministry tidak boleh dikacaukan oleh pastoral ministry (pelayanan pastoral). Jika memungkinkan, penanganan logoterapeutik terhadap klien-klien dengan depresi endogen dan psikosis dimaksud untuk menangani bagian tidak sakit untuk membantu klien menemukan makna dalam sikap yang diambilnya terhadap pendeitaannya.
Daftar Pustaka
Nelson, Richard&Jones. 2011. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Terjemahan Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

0 comments:

Post a comment