Wednesday, 15 July 2020

Konseling Post Taraumatic



Konseling Post Taraumatic
Post-traumatic stress disorder (PTSD) merupakan keadaan seseorang yang telah mengalami, menyaksikan, atau telah dihadapkan dengan suatu peristiwa yang melibatkan kematian yang sebenarnya atau terancam atau cedera serius, atau ancaman terhadap integritas fisik diri sendiri atau orang lain. Tanggapan orang yang terlibat harus memiliki rasa takut, tidak berdaya atau horor dan ini mungkin telah diungkapkan oleh perilaku tidak teratur atau gelisah dapat mempengaruhi orang-orang yang pengalaman pribadi bencana, mereka yang menyaksikannya, dan mereka yang mengambil bagian sesudahnya.
PTSD berkembang secara berbeda dari orang ke orang. Sedangkan gejala PTSD paling sering berkembang dalam jam atau hari setelah peristiwa traumatis, kadang  - kadang  dapat mengambil minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun sebelum mereka muncul.
 Kategorisasi PTSD Gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a.    Merasakan kembali peristiwa (Re-Experiencing Symptoms)
·         Secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Frequently having upsetting thoughts or memories about a traumatic event). Terulangnya bayangan mental akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami,
·         Mengalami mimpi buruk yang terus menerus berulang (Having recurrent nightmares).
·         Bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali, terkadang ini disebut sebagai "flashback" (Acting or feeling as though the traumatic event were happening again, sometimes called a "flashback").
                                             
·         Memiliki perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut (Having very strong feelings of distress when reminded of the traumatic event).
·         Terjadi respon fisikal, seperti jantung berdetak kencang  atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut (Being physically responsive, such as experiencing a surge in your heart rate or sweating, to reminders of the traumatic event).
b.    Menghindar (Avoidance Symptoms)
·         Berusaha keras untuk menghindari pikiran, perasaan atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid thoughts, feelings, or conversations about the traumatic event).
·         Berusaha keras untuk menghindari tempat atau orang-orang yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa traumatik tersebut (Making an effort to avoid places or people that remind you of the traumatic event).
·         Sulit untuk mengingat kembali bagian penting dari peristiwa traumatik tersebut (Having a difficult time remembering important parts of the traumatic event).
·         Kehilangan ketertarikan atas aktivitas positif yang penting (A loss of interest in important, once positive, activities).
·         Merasa "jauh" atau seperti ada jarak dengan orang lain (Feeling distant from others).
·         Mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif, seperti kesenangan / kebahagiaan atau cinta / kasih sayang ( Experiencing difficulties having positive feelings, such as happiness or love).
·         Ketakberdayaan / ke’tumpul’an emosional dan ‘menarik diri’
·         Merasakan seakan-akan hidup anda seperti terputus ditengah-tengah - anda tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal, menikah dan memiliki karir.
·         Terjadi gangguan yang menyebabkan kegagalan untuk berfungsi secara efektif dalam kehidupan sosial (pekerjaan, rumah tangga, pendidikan, dll)

c.    Hyperarousal Symptoms
·         Sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan gelisah (Having a difficult time falling or staying asleep).
·         Mudah / lekas marah atau meledak-ledak (Feeling more irritable or having outbursts of anger).
·         Memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi (Having difficulty concentrating).
·         Selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut "Feeling constantly "on guard" or like danger is lurking around every corner".
·         Menjadi gelisah, tidak tenang, atau mudah "terpicu" / sangat "waspada" (Being "jumpy" or easily startled).
·         Terlalu siaga / waspada  yang disertai ketergugahan / keterbangkit-an secara kronis.
Jika PSTD tidak ditangani dengan benar, maka akan mempenga-ruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila.
Adapun gejala PTSD pada anak-anak dan remaja. Pada anak-anak terutama mereka yang sangat muda, gejala PTSD dapat berbeda dari gejala pada orang dewasa. Gejala PTSD pada anak-anak, antara lain :
a.   Takut terpisah dari orang tua,
b.   Kehilangan keterampilan yang diterima sebelumnya (seperti toilet training),
c.   Masalah tidur dan mimpi buruk
d.   Muram saat bermain,
e.   Fobia dan kecemasan yang tampaknya tidak berhubungan dengan trauma (seperti takut monster),
f.    Nyeri dan sakit tanpa penyebab yang jelas,
g.   Lekas ​​marah dan agresi



REFERENSI



Durand dan Barlow. 2007. Intisari Psikologi Abnormal (Essentials Of Abnormal Psychology). Yogyakarta: Pustaka Belajar
Erford, T. 2004. Professional School Counseling: a Handbook of Theories, Programs & Practices. Texas: CAPS Press.
Rusmana, Nandang, dkk. (2007), Konseling Pasca Trauma Melalui Terapi Permainan Kelompok : Laporan Penelitian Hibang Bersaing, Bandung : FIP UPI. Tidak diterbitkan.



Schiraldi, Glenn R. 2000. The Post Traumatic Stress Disorder, Sourcebook, Guide to Healing, Recovery, and Growth. Boston: Lowell House.

0 comments:

Post a comment