Kompetensi Akademik Konselor


Kompetensi Akademik Konselor
Pengampu Pelayanan di bidang bimbingan dan konseling,tidak dikenal adanya pendidikan profesional konsekutif sebagaimana yang berlaku di bidang pendidikan profesional guru. Kompetensi akademik seorang konselor profesional terdiri atas kemampuan :
a.         Mengenal secara mendalam konseli-konseli yang hendak dilayani. Sosok kepribadian serta dunia konseli yang perlu didalami oleh konselor meliputi bukan saja kemampuan akademik yang selama ini dikenal sebagai inteligensi yang hanya mencakup kemampuan kebahasaan dan kemampuan numerikal.
b.         Menguasai khasanah teoretik dan prosedural termasuk reknologi dalam bimbingan dan konseling. Penguasaan khasanah teoretik dan prosedural serta teknologik dalam bimbingan dan konseling (Van Zandt, Z dan J. Hayslip, 2010 dalam Departemen Pendidikan Nasional) mencakup kemampuan :
1.      Menguasai secara akademik teori, prinsip, teknik dan prosedur dan sarana yang digunakan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling.
2.      Mengemas teori, prinsip, dan prosedur serta sarana bimbingan dan konseling sebagai pendekatan, prinsip, teknik dan prosedur dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.
3.      Menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan.
B.     Asesmen Penguasaan Kompetensi Akademik Bimbingan dan Konseling
Asesmen ulang penguasaan kompetensi akademik Bimbingan dan Konseling dalam penguasaan Kompetensi akademik dapat ditagih dalam bentuk ujian tulis baik berupa tes pilihan untuk melakukan survey kemampuan yang dimiliki oleh calon konselor. Sarana uji kompetensi ini dikembangkan secara terpusat dan divalidasi secara berkala dengan memanfaatkanteknologi yang relevan di bidang asesmen.
Bagi yang berhasil akan diberikan ijazah S-1 Bimbingan dan Konseling yang merupakan persyaratan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Konselor berupa PPL selama dua semester. Dalam pemagangan, semua kegiatan diawasi oleh konselor pamong dan dosen pembimbing. Di negara tertentu latihan mandiri dilakukan dalam bentuk pemagangan dengan imbalan sebagai guru magang.
Kriteria utama keberhasilan dalam keterlibatan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Konselor yang berupa PPL itu adalah kemampuan calon konselor dalam menggunakan rentetan  panjang keputusan-keputusan kecil yang dikemas dalam bingkai kearifan dalam menggunakan layanan demi tercapainya kemandirian konseli. Maka dari itu, untuk penguasaan keprofesionalan seorang konselor, pelayanan yang diberikan oleh konselor kepada konseli membutuhkan kemampuan dalam pencapaian penyelesaian masalah konseli. Penyelenggaraan tersebut akan berdampak untuk menumbuhkan sosok utuh profesionalan konselor sebagai praktisi yang aman untuk konseli.
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.
Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal. Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.
Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari kiat pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan.
Unjuk kerja konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat komptensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

C.    Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan Kompetensi Profesional konselor terbentuk melalui latihan dalam menerapkan Kompetensi Akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu dalam konteks otentik di sekolah atau arena terapan layanan ahli yang relevan melalui Program Pendidikan Profesi berupa Program Lapangan (PPL) yang sisstematis dan sungguh-sungguh (rigorous), yang terentang mulai dari observasi dalam rangka pengenalan lapangan, latihan keterampilan, dasar penyelenggaraan konseling, latihan terbimbing (supervised practice) yang kemudian terus meningkat menjadi latihan melalui penugasaan terstruktur (self-managed practice) sampai dengan latihan mandiri (self-initiated practice) dalam program pemagangan, kesemuannya di bawah pengawasan Dosen Pembimbing dan Konselor Pamong (Faiver, Eisengart, dan Colonna dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2008:140).

D.    Asesmen Ulang Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor
Penguasaan kompetensi hanya dapat diverifikasi melalui pengamatan ahli yang dalam pelaksanaanya mempersyaratkan penggunaan sarana asesmen untuk memberikan ruang gerak bagi diambilnya pertimbangan ahli secara langsung. Asesmen kemampuan konselor tidaklah cukup dengan pemotretan sesaat, melainkan harus melalui pengamatan berulang, karena sasaran asesmen tidak hanya pada tingkatan kemampuan, tapi juga kualitas keseharian kinerja konselor.
Untuk transparasi, asesmen penguasaan kompetensi profesional calon konselor menggunakan penguji luar baik dosen Bimbingan dan Konseling Indonesia maupun konselor pamong yang berasal dari sekolah lain. Bagi yang berhasil menguasai kompetensi profesional yang telah mengikuti Pendidikan Profesi konselor akan diberi gelar profesi “Kons” di belakang nama.
Rumusan Standar Kompetensi Konselor telah dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun bila ditata ke dalam empat kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP 19/2005, maka rumusan kompetensi akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagai berikut.
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI

A. KOMPETENSI PEDAGOGIK

1.                  Menguasai teori dan praksis
     pendidikkan
1.1Menguasai ilmu pendidikan dan   landasan keilmuannya

1.2Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran

1.3Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
2.                  Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli
2.1Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

1.2              Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individualitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.3Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.4kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.5Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan
3.Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan
3.1 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal
3.2 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus
3.3 Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah, serta tinggi.


B. KOMPETENSI KEPRIBADIAN

4. Beriman dan bertakwa kepada
   Tuhan Yang Maha Esa
4.1 Menampilkan kepribadian yang
      beriman dan bertakwa kepada   
      Tuhan Yang Maha Esa
4.2 Konsisten dalam menjalankan    
      kehidupan beragama dan
     toleran
      terhadap pemeluk agama lain
      4.3 Berakhlak mulia dan berbudi  
            pekerti luhur
5. Menghargai dan menjunjung   tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan kebebasan memilih
5.1 Mengaplikasikan pandangan   
      positif dan dinamis tentang  
      manusia sebagai makhluk
      spiritual, bermoral, sosial,  
      individual, dan berpotensi
5.2Menghargai dan
     mengembangkan
     potensi positif individu pada
     umumnya dan konseli pada
     khususnya
5.3 Peduli terhadap kemaslahatan
      manusia pada umumnya dan   
      konseli pada khususnya
5.4Menjunjung tinggi harkat dan
     martabat manusia sesuai dengan  
     hak asasinya.
5.5 Toleran terhadap permasalahan
      konseli
5.6 Bersikap demokratis.
6. Menunjukkan integritasdan stabilitas kepribadian yang kuat
6.1 Menampilkan kepribadian dan
      perilaku yang terpuji (seperti
      berwibawa, jujur, sabar, ramah,    
     dan konsisten )
1.2              Menampilkan emosi yang stabil.
6.3 Peka, bersikap empati, serta
      menghormati keragaman dan
      perubahan
6.4Menampilkan toleransi tinggi
     terhadap konseli yang  
     menghadapi
     stres dan frustasi
7. Menampilkan kinerja berkualitas  tinggi
7.1 7.1 Menampilkan tindakan yang
           cerdas, kreatif, inovatif, dan  
           produktif
7.2 Bersemangat, berdisiplin, dan
      mandiri
7.3 Berpenampilan menarik dan
      menyenangkan
7.4 Berkomunikasi secara efektif





C. KOMPETENSI SOSIAL

8. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja
8.1 Memahami dasar, tujuan,
      organisasi, dan peran pihak-pihak
      lain (guru, wali kelas, pimpinan
      sekolah/madrasah, komite
      sekolah/madrasah) di tempat
      bekerja
8.2 Mengkomunikasikan dasar, tujuan,
      dan kegiatan pelayanan bimbingan
      dan konseling kepada pihak-pihak
      lain di tempat bekerja
8.3 Bekerja sama dengan pihak-pihak
       terkait di dalam tempat bekerja  
      (seperti guru, orang tua, tenaga
      administrasi)
9. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling
9.1 Memahami dasar, tujuan, dan
      AD/ART organisasi profesi
      bimbingan dan konseling untuk
      pengembangan diri dan profesi
9.2 Menaati Kode Etik profesi
      bimbingan dan konseling
9.3 Aktif dalam organisasi profesi
      bimbingan dan konseling untuk
      pengembangan diri dan profesi
10. Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi
10.1 Mengkomunikasikan aspek-aspek
         profesional bimbingan dan
         konseling kepada organisasi
         profesi lain
10.2 Memahami peran organisasi
         profesi lain dan
         memanfaatkannya untuk
         suksesnya pelayanan bimbingan
         dan konseling
10.3 Bekerja dalam tim bersama tenaga
         paraprofesional dan profesional
         profesi lain.
10.4 Melaksanakan referal kepada ahli
         profesi lain sesuai dengan
         keperluan

D. KOMPETENSI PROFESIONAL

11. Menguasai konsep dan
       praksis asesmen untuk
       memahami kondisi,
       kebutuhan, dan masalah    
       konseli
11.1 Menguasai hakikat asesmen
11.2Memilih teknik asesmen, sesuai dengan
        kebutuhan pelayanan bimbingan dan
        konseling
 11.3Menyusun dan mengembangkan
        instrumen asesmen untuk keperluan
        bimbingan dan konseling
 11.4Mengadministrasikan asesmen untuk
         mengungkapkan masalah-masalah  
         konseli.
11.5 Memilih dan mengadministrasikan
         teknik asesmen pengungkapan
         kemampuan dasar dan kecenderungan
         pribadi konseli.
11.6 Memilih dan mengadministrasikan
         instrumen untuk mengungkapkan
         kondisi aktual konseli berkaitan dengan
         lingkungan
11.7 Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling
11.8 Menggunakan hasil asesmen dalam
        pelayanan bimbingan dan konseling
        dengan tepat
11.9 Menampilkan tanggung jawab
        profesional dalam praktik asesmen
12. Menguasai kerangka teoretik
      dan praksis bimbingan dan  
      konseling
12.1 Mengaplikasikan hakikat pelayanan
         bimbingan dan konseling.
12.2 Mengaplikasikan arah profesi
         bimbingan dan konseling.
12.3 Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan
         bimbingan dan konseling.
12.4 Mengaplikasikan pelayanan bimbingan
        dan konseling sesuai kondisi dan
        tuntutan wilayah kerja.
12.5 Mengaplikasikan pendekatan
         /model/jenis pelayanan dan kegiatan
         pendukung bimbingan dan konseling.
12.6 Mengaplikasikan dalam praktik format
         pelayanan bimbingan dan konseling.
13. Merancang program
      Bimbingan dan Konseling
13.1 Menganalisis kebutuhan konseli
13.2 Menyusun program bimbingan dan
         konseling yang berkelanjutan berdasar
         kebutuhan peserta didik secara
         komprehensif dengan pendekatan
         perkembangan
13.3 Menyusun rencana pelaksanaan
         program bimbingan dan konseling
13.4 Merencanakan sarana dan biaya
         penyelenggaraan program bimbingan
         dan konseling
14. Mengimplementasikan
      program Bimbingan dan
      Konseling yang
      komprehensif

14.1 Melaksanakan program bimbingan dan    
         konseling.
14.2 Melaksanakan pendekatan kolaboratif
         dalam pelayanan bimbingan dan   
         konseling.
14.3 Memfasilitasi perkembangan akademik,
         karier, personal, dan sosial konseli
14.4 Mengelola sarana dan biaya program
         bimbingan dan konseling
15. Menilai proses dan hasil
       kegiatan Bimbingan dan
       Konseling.
15.1 Melakukan evaluasi hasil, proses, dan
         program bimbingan dan konseling
15.2 Melakukan penyesuaian proses
         pelayanan bimbingan dan konseling. 15.3 Menginformasikan hasil pelaksanaan
         evaluasi pelayanan bimbingan dan
         konseling kepada pihak terkait
15.4 Menggunakan hasil pelaksanaan
         evaluasi untuk merevisi dan
         mengembangkan program bimbingan
         dan konseling
16. Memiliki kesadaran dan
       komitmen terhadap etika
       profesional
16.1 Memahami dan mengelola kekuatan dan
         keterbatasan pribadi dan profesional.
16.2 Menyelenggarakan pelayanan sesuai
         dengan kewenangan dan kode etik
         profesional konselor
16.3 Mempertahankan objektivitas dan
         menjaga agar tidak larut dengan
         masalah konseli.
16.4 Melaksanakan referal sesuai dengan
         keperluan
16.5 Peduli terhadap identitas profesional dan
         pengembangan profesi
16.6 Mendahulukan kepentingan konseli
         daripada kepentingan pribadi konselor
16.7 Menjaga kerahasiaan konseli
17. Menguasai konsep dan
       praksis penelitian dalam
       bimbingan dan konseling
17.1 Memahami berbagai jenis dan metode
         penelitian
17.2 Mampu merancang penelitian bimbingan
         dan konseling
17.3 Melaksaanakan penelitian bimbingan
        dan konseling
17.4 Memanfaatkan hasil penelitian dalam
         bimbingan dan konseling dengan
         mengakses jurnal pendidikan dan
         bimbingan dan konseling

Dengan pengaplikasian assessment sebagai berikut :
Format 1(A) 5 : Pernyataan kompetensi, indikator, dan proses penilaian kinerja Guru Bimbingan dan Konseling (BK)/Konselor
Sumber :
a.              Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 27/2008 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Konselor.
b.             BSNP versi 6.0. 11/2008 tentang Kerangka Indikator untuk Pelaporan Pencapaian Standar Nasional Pendidikan: Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
c.              Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Kompetensi
Cara menilai
Pedagogik

1.         Menguasai teori dan praksis pendidikan.

Pemantauan
2.         Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli.


Pengamatan
3.         Menguasai esensi layanan BK dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.


Pemantauan
Kepribadian

4.         Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Pemantauan

5.         Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, individualitas dan kebebasan memilih.


Pemantauan

6.         Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat.


Pemantauan

7.         Menampilkan kinerja berkualitas tinggi.




Pengamatan
Sosial

8.         Mengimplementasikan kolaborasi internal di tempat bekerja.


Pemantauan

9.         Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi BK.


Pemantauan

10.     Mengimplementasi kolaborasi antar profesi.


Pemantauan

Profesional

11.     Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan dan masalah konseli.


Pemantauan

12.      Menguasai kerangka teoritik dan praksis BK.


Pengamatan dan Pemantauan

13.      Merancang program BK.


Pengamatan

14.      Mengimplementasikan program BK yang   komprehensif.


Pengamatan

15.       Menilai proses dan hasil kegiatan BK.


Pemantauan

16.       Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika professional.


Pemantauan

17.      Menguasai konsep dan praksis penelitian dalam BK.


Pemantauan






Keterangan :
1.      Pengamatan adalah kegiatan yang dinilai melalui pengamatan kinerja guru dalam pelaksanaan layanan BK (secara klasikal, layanan bimbingan kelompok, dan/atau layanan konseling kelompok tidak termasuk layanan konseling individu).
2.      Pemantauan adalah kegiatan yang dinilai melalui pemeriksaan dokumen, wawancara dengan guru BK/konselor selama satu semester, yang tidak dilakukan melalui pengamatan. Khusus untuk layanan individu, Pemantauan melalui transkrip pelaporan layanan.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2008. Penataan Pendidikan Professional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: Jurusan BK UPI

Permendiknas, 2008. Format 1(A) 5 : Pernyataan kompetensi, indikator, dan proses penilaian kinerja Guru Bimbingan dan Konseling (BK)/Konselor.Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

PP 19 Tahun 2005 Tentang Rumusan Kompetensi Akademik dan Profesional Konselor. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta:   Departemen Pendidikan Nasional

No comments