Thursday, 16 July 2020

Hakikat Manusia


A.    Hakikat Manusia
Hakikat manusia merupakan inti dari kemanusiaan manusia. Dari awal penciptaannya, dalam kondisi keberadaannya diatas  bumi, sama dengan perjalanannya kembali ke sang maha pencipta.  Manusia memperoleh kehormatan dan kesempatan untuk mengaktualisasikan hakikat dirinya itu dalam keseluruhan proses kehidupannya di dunia dan di akhirat. Dengan berbekal hakikat yang selalu melekat pada dirinya, manusia mengembangkan hidupnya di atas bumi.  Dengan teraktualisasikan hakikat dirinya, manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu kehidupan yang mulia, bermartabat dan membahagiakan. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan kemanusiaan.

1.      Dimensi kemanusiaan
Dalam kerangka harkat dan martabat manusia secara menyeluruh, aktualisasi kehidupan manusia berdasarkan hakikatnya itu, tidaklah berlangsung dengan sendirinya dan pula tidak sekedar tampak seperti apa adanya.
Seorang individu yang sejak kelahirannya (dan dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia itu, untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang tidak lain adalah juga cakupan wilayah hak asasi manusia yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah:
a.       Dimensi kefitrahan
Kata kunci yang menjadi isi dimensi kefitrahan adalah kebenaran dan keluhuran. Kandungan dimensi kefitrahan ini dapat dibandingkan dengan makna teori tabularasa (jhon locker). Menyatakan bahwa individu ketika dilahrkan ibarat kertas putih, bersih dan belum tertulis apapun. Dengan kefitrahannya itu, individu memang pada dasarnya, sejak dilahirkan dalam keadaan bersih. Namun, kondisi belum tertuliskan apapun  sebagaimana dinyatakan dalam teori tabularasa  tidaklah menjadi ciri dimensi kefitrahan yang dimaksudkan itu. Didalam kefitrahan telah tertuliskan kaidah-kaidah kebenaran dan keluruhan yang justru menjadi cirri kandungan utama dimensi ini. Jadi dengan demikian dimensi kefitrahan tidak sama dengan tabularasa menurut jhon locke.
b.      Dimensi keindividualan
Kata kunci yang terkandung dalam dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Disini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potens, baik potensi fisik maupun mental psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Kenyataan keilmuan yang menampilkan isi dimensi keindividualan ini adalah apa yang sering digolongkan kedalam kaidah-kaidah perbedaan individu (individual difference) dan penampilan statistic berupa kurva (baik kurva normal ataupun kurva tidak normal).
c.       Dimensi kesosialan
Kata kunci dari dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahsa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalani komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Disamping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individual lain dalam berbagai bentuk.
d.      Dimensi kesusilaan
Kata kunci kandungan dimensi kessilaan adalah nilai dan moral. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi (misalnya dengan diberi label baik), seang (dengan label cukup), atau rendah (dengan label rendah). Rentang penilaian itu dapat dipersempit dapat pula diperlebar. Sedangkan ketentuan moral biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hokum ilmu dan kebiasaan.
e.       Dimensi keberagaman
Kata kunci kandungan dimensi keberagamaan adalah iman dan taqwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecendrungan dan kemampuan untuk mempercai adanya sang maha pencipta dan maha kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintahnya.

2.      Pancadaya.
Untuk memungkinkan perkembangan individu kearah yang dimaksud itu manusia dikaruniai oleh sang maha pencipta lima jenis bibit pengembangan yang dalam ini disebut pancadaya yaitu:
a.       Daya takwa.
Merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia (masing-masing individu) untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan tuhan yang maha esa.
b.      Daya cipta.
Bersangkut paut dengan kemampuan akal, pikiran, fungsi kecerdasan dan fungsi otak
c.       Daya rasa.
Mengacu kepada kekuatan yang mendorong individu atau emosi yang sering disebut sebagai unsur afektif. Hal-jal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk kedalam daya rasa.
d.      Daya karsa.
Merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu, secara dinamis bergerak dari satu posisi ke posisi lain, baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya, untuk berkembang, untuk berubah dan keluar dari kondisi status-quo.

e.       Daya karya
Mengarah pada yang dihasilkannya nyata yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri, orang lain atau lingkungan.
Pancaday yang merupakan potensi dasar kemanusiaan itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan.

DAFTAR PUSTAKA
 Jalaludin dan Abdullah, 2013. filsafat pendidikan (manusia, filsafat, dan pendidikan). Jakarta. Rajawali Pers

 Musthofa,Rembagy.2008. Pendidikan Transformatif .Yogyakarta.Teras

Prayitno, 2009.dasar teori dan praksis pendidikan. Jakarta. PT grasndo

Tirtahardja, Umar dan La Sulo,S.L, 2010. Pengantar pendidikan. Jakarta. PT. Rineka Cipta

0 comments:

Post a comment