Saturday, 18 July 2020

Hakikat manusia dan pengembangannya


A.    Hakikat manusia dan pengembangannya.
Sasaran pendidikan adalah manusia. Penidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki cirri khas yang secara perinsipil berbeda dari hewan. Cirri khas manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu (integrated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia.
1.      Sifat hakikat manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Beberapa filosof seperti Socrates menamakan manusia itu zoon politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit). (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 3) yang selalu gelisah dan bermasalah.
Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan. Charles Darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera, tetapi ternyata gagal. Tidak ditemukannya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera melalui proses evolusi yang besifat gradual.
2.      Wujud sifat hakikat manusia
Dalam hal ini Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010 memaparkan wujud sifat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan yaitu:
a.       Kemampuan menyadari diri.
Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya memiliki ciri khas atau karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan orang lain ataupun hewan disekitarnya. Bahkan bukan hanya bisa membedakan, namun juga bias membuat jarak (distansi) dengan lingkungan baik yang berupa pribadi maupun non pribadi (benda).

b.      Kemampuan bereksistensi
Karena manusia memiliki kemampuan bereksistensi maka pada manusia terdapat unsur kebebasan. Dengan kata lain, adanya manusia bukan “ber-ada” seperti hewan didalam kandang dan tumbuh-tumbuhan didalam kebun, melainkan “meng-ada” di muka bumi. (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 6).
Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan, peserta didik akan diajar agar belajar dari pengalaman, belajar mengantisipasi waktu keadaan dan peristiwa, belajar melihat prospek masa depan Serta mengembangkan daya imajinasi kretif sejak dari masa kanak-kanak.

c.       Kata hati (conscience of man)
Manusia memiliki pemahaman yang menyertai tentang apa yang akan, yang sedang, dan yang telah dibuatnya, bahkan mengerti juga akibatnya (baik atau buruk) bagi manusia sebagai manusia.
Dengan sebutan “pelita hati” atau “hati murni” menunjukkan bahwa kata hati itu adalah kemampuan pada diri manusia yang memberi penerapan tentang baik buruknya perbuatannya sebagai manusia. Dengan kata lain dapat disimpulkan juga bahwa kata hati itu adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang buruk/salah bagi manusia sebagai manusia.

d.      Moral
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan, maka yang dimaksud dengan moral (yang sering juga disebut etika) adalah perbuatan itu sendiri. Seseorang dikatan bermoral tinggi karena ia menyatukn diri dengan nilai-nilai yang tinggi, serta segenap perbuatannya merupakan pergerakan dari nilai-nilai yang tinggi tersebut.

e.       Tanggung jawab.
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab, merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab. Wujud orang bertanggung jawab bermacam-macam, ada tanggung jawab pada diri sendiri, tanggung jawab kepada masyarakat, dan tanggung jawab kepada tuhan.
Disini tanpak betapa eratnya hubungan antara kata hati, moral dan tanggung jawab. Kata hati memberi pedoman, moral melakukan, dan tanggung jawab merupakan kesedian menerima konsekuensi dari perbuatan.

f.       Rasa kebebasan
Merdeka adalah rasa bebas, tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Dalam pernyataan ini ada dua hal yang kelihatannya saling bertentangan yaitu “rasa bebas” dan “sesuai dengan tuntutan kodrat manusia” yang berarti ada ikatan.
Orang yang hanya mungkin merasakan adanya kebebasan batin apabila ikatan-ikatan yang ada telah menyatu dengan dirinya, dan menjiwai segenap perbuatannya. Dengan kata lain, ikatan luar (yang membelenggu) telah berubah menjadi ikatan dalam (yang menggerakkan).

g.      Kewajiban dan hak
Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai menifestasi dari manusia sebagai makhluk sosial. Dalam realitas hidup sehari-sehari, umumnya hak diasosiasikan dengan sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dipandang sebagai suatu beban. Benarkah kewajiban dianggap beban oleh manusia? Ternyata bukan beban melainkan suatu keniscayaan. (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 10). Artinya selama seseorang menyebut dirinya manusia dan mau dipandang sebagai manusia, maka kewajiban itu menjadi keniscayaan baginya. Sebab jika mengelakkan maka ia berarti mengingkari kemanusiaannya (yaitu sebagai kenyataan makhluk social).

h.      Kemampuan menghayati kebahagiaan
Kebahagiaan itu dapat diusahakan peningkatannya. Ada dua hal yang dapat dikembangkan, yaitu: kemampuan berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalam kaitannya dengan takdir. Dengan demikian pendidikan mempunya peranan penting sebagai wahana untuk mencapai kebahagiaan, utamanya pendidikan keagamaan.
Pandangan Max Scheler tentang manusia “Manusia yang menghargai kebahagiaan adalah pribadi manusia yang menghayati segenap keadaan dan kemampuannya. Manusia menghayati  kebahagiaannya apabila jiwanya bersih dan stabil, jujur, bertanggung jawab, mempunyai pandangan hidup dan keyakinaan hidup yang kukuh dan bertekat untuk merealisasikan dengan cara yang realistis.” (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 16).
DAFTAR PUSTAKA
 Jalaludin dan Abdullah, 2013. filsafat pendidikan (manusia, filsafat, dan pendidikan). Jakarta. Rajawali Pers

 Musthofa,Rembagy.2008. Pendidikan Transformatif .Yogyakarta.Teras

Prayitno, 2009.dasar teori dan praksis pendidikan. Jakarta. PT grasndo

Tirtahardja, Umar dan La Sulo,S.L, 2010. Pengantar pendidikan. Jakarta. PT. Rineka Cipta

0 comments:

Post a comment