Monday, 13 July 2020

Etiologi / Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)


 Etiologi / Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
a.   Faktor-faktor resiko
Terdapat beberapa faktor resiko PTSD. Memiliki kejadian traumatis yang dialami, prediktor PTSD mencakup ancaman yang dirasakan terhadap nyawa, berjenis kelamin perempuan, pemisahan dari orang tua dimasa kecil, riwayat gangguan dalam keluarga, berbagai pengalaman traumatis sebelumnya dan gangguan yang dialami sebelumnya ( suatu gagguan anxietas atau depresi ).( Breslau dkk, 1997,1999).
Memiliki intelegensi tinggi tampaknya menjadi faktor protektif, mungkin karena hal itu diasosiasikan dengan keterampilan coping yang lebih baik ( macklin dkk,1998). Prevalensi PTSD juga meningkat sejalan dengan parahnya kejadian traumatik: sebagai contoh, semakin tinggi pengalaman dalam pertempuran, semakin besar resikonya. Diantara mereka yang memiliki riwayat gangguan dalam keluarga, bahkan sedikit pengalaman pertempuran menyebabkan tingkat kejadian PTSD yang tinggi ( Foy dkk, 1987 ).
Simtom-simtom disosiatif pada saat trauma juga meningkatkan kemungkinan terjadinya PTSD ( Ehlers dkk, 1998 ). Disosiasi dapat memiliki peran dalam menetapnya gangguan karena mencegah pasien menghadapi ingatan tentang trauma tersebut.
Menurut keane dan koleganya ( 2006 ) mengelompokan faktor resiko PTSD kedalam 3 kategori, yaitu:
·         Faktor yang sudah ada dan unik bagi setiap individu,
Faktor yang sudah ada, seperti kontribusi genetis, jenis kelamin seperti; para pria lebih berpeluang mengalami trauma ( seperti pertarungan ) sedangkan para wanita lebih berpeluang mengalami PTSD.
·         Faktor yang terkait dengan kejadian traumatis
Berasal dari penyebab terjadinya kejadian taumatis. Salah satu contohnya yaitu: pengalaman cedera tubuh. Dalam suatu penelitian, tentara yang terluka lebih berpeluang menggalami PTSD mereka yang terlibat dalam pertempuran yang sama, namun tidak terluka ( Koren dkk, 2005 ).

·         Kejadian-kejadian yang mengikuti pengalaman traumatis.
Faktor ketiga, yaitu berfokus pada  apa yang terjadi setelah mengalami trauma. 
b.   Faktor psikologis
Para teoris belajar berasumsi bahwa PTSD terjadi karena pengondisian klasik terhadap rasa takut ( Fairbank & Brown , 1987 ). Seorang wanita yang pernah diperkosa, contohnya, dapat merasa takut untuk berjalan di lingkungan tertentu ( CS ) karena diperkosa di sana (UCS). Berdasarkan rasa takut yang dikondisikan secara klasik tersebut, terjadi penghindaran yang secara negatif dikuatkan oleh berkurangnya rasa takut yang dihasilkan oleh ketidakberadaan dalam CS.
Suatu teori psikodinamika yang diajukan oleh Horowitz ( 1986, 1990 ) menyataka bahwa ingatan tentang kejadian traumatik muncul secara konstan dalam pikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga secara sadar mereka mensupresikanya atau merepresinya.
c.   Faktor biologis
Sejarah kecemasan keluarga menunjukan adanya kerentanan biologis menyeluruh untuk PTSD. True dan kawan-kawan (1993) melaporkan bahwa, dengan adanya paparan pertempuran yang sama banyaknya dan dengan memiliki kembaran yang mengalami PTSD, seorang pasangan kembar monozigot (identik) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengembangkan PTSD dibanding pasangan kembar dizigot. Ini menunjukan adanya pengaruh genetik tertentu dalam perkembangan PTSD.
d.   Faktor sosial dan kultural
Faktor sosial dan kultural berperan penting dalam pengem-bangan PTSD ( misalnya, Carroll Dkk, 1985 ). Hasil-hasil dari sejumlah studi dengan sangat konsisten menunjukan bila kita memiliki sekelompok orang yang kuat dan suportif, maka kemungkinan kita untuk mengembangkan PTSD setelah mengalami trauma akan jauh lebih kecil. Semakin luas dan mendalam jaringan dukungan sosial, semakin kecil peluang untuk mengembangkan PTSD.

Contoh peristiwa traumatis yang dapat menyebabkan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) meliputi:
§  Perang
§  Bencana alam
§  Mobil atau pesawat crash
§  Serangan teroris
§  Mendadak kematian orang yang dicintai
§  Perkosaan
§  Penculikan
§  Penyerangan
§  Seksual atau pelecehan fisik

2.   Dampak / Reaksi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
a.   Dampak Emosional
·         Kaget
·         Marah
·         Sedih
·         Mati rasa
·         Merasa dihantui
·         Bersalah
·         Duka yang mendalam
·         Terlalu perasa
·         Merasa tidak berdaya
·          ‘Tumpul’ dan tak lagi mampu merasa senang serta bahagia dengan aktifitas sehari-harinya
·         Disosiasi, berupa keberulangan dalam pikiran tentang bencana yang telah terjadi, merasa terpaku dan dikendalikan oleh kejadian-kejadian, atau keterpakuan pada bencana.
b.   Dampak fisik
·         Kelelahan fisik yang sangat
·         Sulit atau bahkan tidak bisa tidur
·         Gangguan tidur
·         Sangat mudah tersentuh perasaan dan ingatannya
·         Keluhan-keluhan yang mengarah pada gangguan syaraf
·         Sakit kepala
·         Reaksi-reaksi yang menggambarkan kegagalan sistem kekebalan tubuh
·         Selera makan terganggu
·         Libido meningkat atau justru menurun drastic
c.   Dampak kognitif
·         Sulit atau tak bisa lagi berkonsentrasi
·         Tidak mampu membuat keputusan-keputusan
·         Gangguan mengingat
·         Sulit mempercayai informasi-informasi
·         Kebingungan
·         Mudah teralihkan atau perhatian mudah terpecah
·         Menurunnya penilaian terhadap keadaan diri
·         Menurunnya penilaian terhadap kemampuan diri
·         Menyalahkan diri sendiri
·         Merasa mudah diganggu oleh pikiran ataupun ingatan  
·         Khawatir atau cemas
d.   Dampak Interpersonal
·         Membatasi dan menarik diri
·         Menghindar dari relasi-relasi sosial yang ada
·         Meningkatnya konflik dalam berhubungan dengan orang lain
·         Keterlibatan dan prestasi kerja menurun
·         Keterlibatan dan prestasi di sekolah menurun


REFERENSI



Durand dan Barlow. 2007. Intisari Psikologi Abnormal (Essentials Of Abnormal Psychology). Yogyakarta: Pustaka Belajar
Erford, T. 2004. Professional School Counseling: a Handbook of Theories, Programs & Practices. Texas: CAPS Press.
Rusmana, Nandang, dkk. (2007), Konseling Pasca Trauma Melalui Terapi Permainan Kelompok : Laporan Penelitian Hibang Bersaing, Bandung : FIP UPI. Tidak diterbitkan.



Schiraldi, Glenn R. 2000. The Post Traumatic Stress Disorder, Sourcebook, Guide to Healing, Recovery, and Growth. Boston: Lowell House.

0 comments:

Post a comment