Thursday, 2 July 2020

Bimbingan dan Konseling Keberagamaan dan Bimbingan Konseling Pernikahan


Bimbingan dan Konseling Keberagamaan dan Bimbingan Konseling Pernikahan
2.1.1      Bimbingan Konseling Keberagamaan
2.1.2      Bimbingan Konseling Pernikahan
Di Amerika Serikat dekade belakanagan ini menunjukkan ribuan pasangan telah memutuskan kalau mereka tidak bisa lagi menunggu hingga salah satu pihak memasuki alam baka. Selain itu, ribuan pasangan lain juga menderita lewat berbagai fase penikahannya atau menganggap jauh lebih sulit melakukan penyesuaian diri di dalam pernikahan ketimbang berpisah atau bercerai saja (Gibson, 2011:178). Tidak hanya di amerika di Indonesia pun perceraian hampir dianggap hal yang biasa.Padahal kita tahu bahwa perceraian adalah masalah yang sangat besar bagi keluarga. Tidak hanya orang tua yang menjadi korban namun anak dan sanak keluarga yang lain ikut merasakan dampak negative dari perceraiaan tersebut. Problem psikologis juga mengikuti contohnya yang disebutkan oleh Gibson (2011:176) seperti perasaan gagal yang sering menyertai perceraian, dan juga emosi-emosi negatif lain seperti marah, menyesal, dan depresi. Masalah penyesuaian diri, trauma kedekatan, gambar diri yang rusak, rendahnya kepercayaan diri, dan hilangnya makna hidup biasanya semakin kronis pada anak-anak yang kemudian diasuh oleh salah satu orangtua,apalagi kalau tekanan ekonomi dan sosial juga tinggi.
Kebutuhan konseling pernikahan dirasa sangat perlu. Di Amerika, “Pusat bantuan pernikahan dan keluarga yang pertama sudah didirikan sejak 1930-an, namun hanya beberapa dekade belakangan terapi pernikahan dan keluarga muncul sebagai salah satu bidang spesialisasi konseling. Dengan lebih dari 40.000 konselor yang terlibat di dalam praktik khusus ini sekarang, American Association for Mariage and Family Therapy (AAMFT) dibentuk untuk mewadahi bidang khusuS ini sebagai divisi 43 dari American Psychological Association, sedangkan sebagai bagian dari American Counseling Association dinamai Internnaional Association of Marriage and Family Counselors (IAMFC)” (Gibson, 12011:179).
Perbedaan juga terlihat antara konseling individual juga konseling keluarga (Gibson, 2011:179) kalau konseling individual berfokus kepada pribadi individual dan problem yang dihadapinya, maka terapi keluarga berfokus kepada sistem keluarga. Bahkan jika hanya satu anggota keluarga saja yang diberikan konseling, namun kalau problem itu menyangkut sistem keluarga, maka bisa menjadi sebuah konseling keluarga. Para konselor keluarga cenderung mengonsepkan problem berdasarkan perspektif sistem atau konteks yang di dalamnya klien terlibat. Intervensi. Kalua begitu lebih terfokus kepada relasi dan komunikasi. Tujuan utama terapi keluarga yaitu membawa perubahan bagi struktur keluarga dan memodifikasi perilaku anggota-anggotanya. Kelancaran dan kejernihan arus komunikasi juga harus diperiksa agar keluarga tersebut dapat menyelesaikan problem di antara mereka sekaligus menjadikan sesi fondasi yang kuat bagi model-model komunikasi di antara mereka selanjutnya.
Gibson (2011:179) menerangkan bahwa “banyak program pendidikan konselor menawarkan studi tentang keluarga dan pernikahan. Kuliah yang tercakup di dalamnya meliputi konseling pernikahan, konseling keluarga, seksualitas manusia dan konseling pernikahan/keluarga.”
2.2  Konseling di Tempat Kerja
Disari dalam Gibson (2011:171)Konseling di tempat kerja ada dua yaitu konseling pekerjaan dan konseling bantuan pekerja.
a)    Konseling Bantuan Pekerja
Belakangan ini, semakin banyak konselor yang berpraktek di lingkup bisnis dan industri. Pengaruh penyalahgunaan obat di tempat kerja plus tingginya kesadaran kalau kesehatan mental umum pekerja mempengaruhi produktivitas menstimulasikan pengembangan banyak program. Tantangan ekonomi dan kesempatan yang diberikan legislasi juga turut menciptakan peluang ini. Namun begitu, ketika konselor membuktikan tingginya nilai mereka di sektor industri, banyak program meluaskan aktivitas mereka hingga mencakup bantuan karier, perencanaan pensiun, bimbingan pendidikan, dan konseling keluarga.
b)    Konseling Pekerjaan
    Di tahun 1993, Departemen Tenaga Kerja AS membangun kantor-kantor perlindungam Tenaga Kerja untuk menyediakan penempatan dan fungsi konseling dan nasihat bagi mereka yang belum mendapat pekerjaan. Di dalam Departemen Tenaga Kerja, seorang konselor pekerjaan didefinisikan sebagai seorang konselor yang mengemban kewajiban konseling dan yang memenuhi standar minimum klasifikasi konselor pekerjaan. Konselor pekerjaan juga disyaratkan sanggup memberikan tes kerja dan menginterpretasikan hasilnya di dalam sistem kompensasi untuk mereka yang masih belum bekerja.
    Fokus konselor pekerjaan dan para petugas di Pelayanan Kerja AS (dulu namanya US Employment service sekarang diubah menjadi US Job Service) adalah penempatan yang benar klien mereka, konselor diharapkan dalamprosesnya melakukan konseling problem pribadi dan membantu mengembangkan sikap, keterampilan, dan kemampuan yang tepat yang akan membantu mereka lulus wawancara kerja. Para konselor juga terlibat dalam pengumpulan data klien dan menginterpretasikan tes-tes standar.
Peran dan fungsi konselor pekerjaan bisa dilihat dari persyaratan kompetensi konseling pekerjaan nasional lewat lembaga profesional mereka yang resmi diterbitkan 17 maret 2001untuk pengembangan tenaga kerja, reformasi kesejahteraan, sekolah menuju kerja, one-stop, layanan pekerjaan, dan program konseling kerja lainnya. Kompetensi Konseling Pekerjaan Nasional antara lan sebagai berikut:
1)      Ketrampilan konseling: ketrampilan untuk membangun hubungan yang saling percaya, terbuak, dan berguna dengan setiap klien, menginterpretasikan secara akurat perasaan dan ekspresi verbal/non-verbal klien, dan menyampaikan informasi berupa apapu  yang dibutuhkan klien.
2)      Ketrampilan asessmen individu dan kelompok: ketrampilan untuk menyediakan assessment individu dan kelompok dengan metode formal dan informal dalam yang sesuai dengan atura Equal Employment Opportunities Commision (EEOC).
3)      Konseling Kelompok: kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar dinamika kelompok dan peran kepemimpinan dengan suatu cara yang berkesinambungan dan efektif untuk membantu anggota-anggota kelompok memahami problem mereka dan mengambil langkah positif menyelesaikannya.
4)      Pengembangan dan informasi teknik pekerjaan: kemampuan mengakses, memahami, dan menginterpretasikan informasi bursa kerja dan tren pekerjaan.
5)      Ketrampilan terkait komputer: kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip konseling lewat layanan internet dan hotline, begitu pula dengan hal pekerjaan.
6)      Pengembangan rencana pekerjaan, pengimplementasian, dan manajemen kasus: kemampuan membantu klien mengembangkan dan mengimplementasikan rencana kerja yang cocok yang membantu menggerakkan para pencari kerja dari status saar ini melalui layanan perbaikan kerja yang dibutuhkan.
7)      Ketrampilan penempatan: kemampuan untuk memastikan dan mengkomunikasikan sebuah pemahaman tentang kebutuhan dan pribadi pekerja, membuat kontak pengembangan kerja yang efektif dan membantu klien mempresentasikan kualifikasi mereka terkait kebutuhan kerja.
8)      Kemampuan menjalin hubungan dengan komunitas: kemampuan memabantu klien mendapatkan layanan yang dinuthkan untuk menghilangkan peluang bagi pekerjaan yang kemungkinan besare akan mengganggu kesuksesan mendapatkan kerja.
9)      Manajemen muatan kerja dan keterampilan hubungan intra lembaga: kemapuan mengkoordinasikan segaka aspek program konseling pekerjaan sebagai bagian dari tim , menghasilkan sebuah urutan pelayanan berkesinambungan dan efektif bagi klien, staf lembaga, pekerja,dan komunitas.
10)   Ketrampilan pengembangan profesi: kemampuan mengembangkan ketrampilan pribadi atau perannya di lembaga peofesi, dan menampilkan performa standar yang diharapkan sebagai konselor pekerjaan profesional.
11)   Isu-isu etis dan hukum: kemampuan menegakkan standar etis yang sudah ditetapkan oleh ASCA

2.3  Konseling untuk Lansia
Sebuah Ketua perhimpunan gerontologi medik Indonesia (PERGEMI) Siti Setiati mengatakan penduduk Indonesia dengan usia 60 tahun di indoneisa akan terus bertambah. Saat ini, jumlah orang lansia menduduki peringat ketiga teratas setelah India yang berjumlah 100 juta orang dan China 200 juta orang. (kamis, 21 Mei 2015 oleh Duwi Seriya Ariyanti). Dengan banyaknya jumlah pupulasi lansia tersebut akan banyak pula kebutuhan dalam bidang konseling.
Sebuah perubahan dramatis yang muncul di kebanyakan para lansia adalah krisis pensiun. Tidak banyak orang sanggup mengatasi peralihan tersebut, entah menurunnya kondisi fisik dan kemampuan mental (berpikir dan mengingat), maupun tercabutnya identitas mereka selama , maupun tercabutnya identitas mereka selama 30 tahun sebelumnya (Gibson, 2011:181). Hal tersebut yang membuat lansia mulai membuat persepsi-persepsi bahwa mereka tidak berharga. Mereka yang dahulunya memiliki perkejaan sebagai identitasnya sekarang mereka menggap hanya sebagai seseorang yang merepotkan di dalam keluarga ataupun masyarakat. Gibson juga menambahkan bahwa (2011:181) ketika mereka memasuki usia pensiun, bukan hanya jati diri seperti hilang, tetapi juga arah hidup dan relasi sosial terut menguap.
Masalah mulai banyak muncul dikarenakan kebanyakkan lansia merasa kesepian, karena kehilangan berbagai macam kegiatan yang biasanya meraka lakukan. Gibson (2011:181) menambahkan bahwa kesepian juga merupakan problem utama yang dihadapi para lansia, dan dari situ rasa kesepian makin menguatkan perasaan negatif lainnya seperti tidak berharga, tidak berdaya, frustasi, tidak bermakna, dan sebagainya. Selain itu, problem usia senja semakin diperburuk jika mengalami nasib kehilangan suami atau istri, anak yang meninggal atau sibuk denan hidup di luar kota, teman-teman, tetangga dan kerabat yang lain dan sebaginya. Meningkatnya pengakuan terhadap kebutuhan populasi ini juga tercermin lebuh jauh di dalam pertumbuhan sepat penanaman program di dalam pelatihan para konselor satu dekade belakangan untuk menangani secara profesional konseling individu-individu lansia tersebut.
Proses konseling lansia tentunya berbeda dengan konseling dengan seseorang yang mempunyai usia muda, perlu adanya pengetahuan khusus yang mendalami masalah lansia yaitu gerontologi. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari masalah lanjut usia. Bahkan oleh kalangan ahli filsafat ilmu ini dianggap sebagai ilmu yang sangat mulia karena justru mendalami hakikat kehidupan secara mendasar.ilmu ini akan mendalami proses kembalinya manusia sebagai ciptaan yang paling bermartabat (menyerupai citra Pencipta) yang akan kembali ke haribaan Ilahi (Hardywinoto, 2005:3). Namun pendekatan yang digunakan masih sama dengan konseling pada umumnya seperti konseling psikoanalisis atau humanistik.

DAFTAR PUSTAKA
Duwi Seriya Ariyanti: 21 Mei 2015. Jumlah lansia di Indonesia sentuh angka 25 juta orang. http://m.bisnis.com diakses pada hari sabtu, tanggal 31 oktober 2015

Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell.2011. Bimbingan dan Konseling.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Hardywinoto dan Toni Setiabudhi.2005.Panduan Gerontologi.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.


0 comments:

Post a comment