BIMBINGAN DAN KONSELING JALUR PENDIDIKAN FORMAL


A.  PERAN PENTING BIMBINGAN DAN KONSELING JALUR PENDIDIKAN FORMAL
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiah istilah “guidance” berasal dari akar kata “guide” yang berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer) sedangkan ”counseling” menurut Shertzer dan Stone (1980) disimpulkan “Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior” (Syamsu Yusuf, 2006)
Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung,  berdasarkan norma-norma yang berlaku. Definisi tersebut dipertegas dalam Panduan Pengembangan Diri (2006) yang menyebutkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir.
Pelayanan bimbingan dan konseling  memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan bimbingan dan konseling ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.
Dasar pemikiran penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal bukan semata-mata terletak adanya hukum (perundang-undangan) yang berlaku, tetapi yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek fisik, emosi, sosial, intelektual, dan moral spiritual. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses berkembang yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut individu memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling karena mereka masih kurang memiliki pemahaman dan wawasan tentang diri dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat keniscayaan bahwa proses perkembangan tidak selalu berjalan mulus dan bebas dari masalah. 
Bimbingan dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal penting, mengingat bahwa perkembangan peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, misalnya perkembangan di TK/RA akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, dimana perkembangan di SD/MI-SMP/MTs-SMA/MA/SMK, dan PT sangat ditentukan oleh bagaimana keberhasilan anak melampaui masa sekolahnya di TK/RA. Perkembangan di SD/MI dipengaruhi oleh perkembangan di TK/RA dan mempengaruhi perkembangan di SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan PT, dan seterusnya.

B.  PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING JALUR PENDIDIKAN FORMAL
Pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal telah dipetakan secara tepat dalam kurikulum 1975, meskipun ketika itu masih dinamakan layanan bimbingan dan penyuluhan pendidikan, dan layanan di bidang pembelajaran yang dibingkai dalam kurikulum. Akan tetapi, dalam Permen Diknas No, 22/2006 tentang standar isi, pelayanan bimbingan dan konseling diletakkan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan lokal, (c) materi pengembangan diri, yang harus “disiapkan” oleh konselor kepada peserta didik.
Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, perbedaan rentang usia peserta didik pada setia jenjang memicu tampilnya kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan. Batas ragam kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lainnya tidak terbedakan sangat tajam. Dengan kata lain, batas perbedaan antar jenjang tersebut lebih merupakan suatu wilayah. Di pihak lain perbedaan yang lebih signifikan, juga tampak pada sisi lain pengaturan birokratik, seperti misalnya di Taman Kanak-Kanak sebagian besar tugas konselor di tangani langsung oleh guru kelas taman kanak-kanak. Sedangkan di jenjeng sekolah dasar, meskipun memang ada permasalahan yang memerlukan penanganan oleh konselor, namun cakupan pelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya konselor di setiap sekolah dasar sebagaimana yang diperlukan di jenjang sekolah menengah.
Berikut ini digambarkan secara umum kinerja konselor dalam setiap jenjang pendidikan:
1.    Jenjang Taman Kanak-Kanak
Dalam jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak di tanah air tidak ditemukan posisi struktural bagi konselor. Pada jenjang ini fungsi bimbingan dan konseling lebih bersifat preventif dan developmental. Secara pragmatik, komponen kurikulum pelaksanaan dalam bimbingan dan konseling yang perlu dikembangkan oleh konselor jenjang taman kanak-kanak membutuhkan alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2.    Jenjang Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan lembaga sosialisasi terkuat di dalam perkembangan manusia. Di lingkup ini, siswa – siswi diharapkan mencapai sebuah keterampilan dasar menguasai pengetahuan yang semakin sulit dan belajar memenuhi perilaku sekolah dan harapan sosial. Karakteristik siswa dan sekolah di tingkatan dasar ini memerlukan pengorganisasian program yang berbeda dari program konseling di sekolah menengah dan lebih tinggi. Karena itu, peran konselor sekolah dasar dan fungsinya juga mencerminkan perbedaan-perbedaan ini, meskipun perbedaan tersebut tidak tidak terletak kepada apa yang dikerjakan, melainkan bagaimana mengerjakannya.
Sebagai tambahan bagi fungsi konseling, konsultasi dan koordinasi, konselor sekolah dasar juga bertanggung jawab bagi pengorientasian siswa, penilaian dan pengembangan karier, selain juga diharapkan dapat memberikan perhatian besar kepada upaya pencegahan kebiasaan dan perilaku yang tidak diinginkan.
a.    Konselor
Meskipun konseling satu-satu (bertemu-muka) di jenjang sekolah dasar kurang begitu banyak menghabiskan waktu ketimbang konseling di jenjang sekolah menengah, namun konselor SD dapat bertemu secara individual atau kelompok dengan anak-anak berdasarkan rujukan guru, orang tua, atau penolong profesional lainnya.
Selain itu, para konselor di sekolah dasar mesti siap memberikan konseling kepada siswa secara individual yang datang untuk meminta pertolongan, dan dukungan. Konselor juga harus peka dan siap menolong anak-anak yang mengalami penganiayaan dan tindak kekerasan, pengaruh dari penyebaran obat terlarang, perceraian orang tua dan diskriminasi di ling-kungannya.
b.    Konsultan
Sebagai konsultan, konselor bisa berunding langsung dengan guru-guru, orang tua, administrator dan profesional penolong lainnya untuk membantu pihak ketiga. Di dalam peran ini, konselor menolong siswa agar dapat memenuhi secara lebih efektif kebutuhan perkembangan atau penyesuaian dirinya.
c.    Koordinator
Para konselor sekolah dasar bertanggung jawab bagi pengoordinasian sebagai aktivitas bimbingan di sekolah. Mengkoor-dinasikan hal-hal ini dengan aktivitas kelas dan sekolah juga banyak dilakukan. Sebagai satu-satunya profesional penolong, konselor sekolah dasar bisa diminta mengoordinasikan konstribusi para psikolog, pekerja sosial dan lain-lain bagi sekolah. Aktivitas koordinasi yang lain mencakup perujukan intra sekolah dan antar-lembaga.
d.   Agen orientasi
Sebagai fasilitator perkembangan manusia, konselor sekolah dasar mengakui pentingnya mengorientasikan anak terhadap tujuan dan lingkungan sekolah dasar. Karena itu, konselor dapat merencanakan aktivitas-aktivitas kelompok dan berkonsultasi dengan para guru untuk membangun mereka belajar dan mempraktikkan keahlian menjalin hubungan yang dibutuhkan di lingkup sekolah.


e.    Agen Asesmen
Konselor di sekolah dasar dapat bersiap-siap untuk diminta menginterprestasikan anak secara keseluruhan sehingga sering kali harus memadukan data tes dan bukan tes. Selain data tradisional yang digunakan untuk memahami siswa, konselor juga harus mengerti pengaruh budaya, sosiologi sekolah, dan pengaruh-pengaruh lingkungan yang lain bagi perilaku siswa.
f.     Pengembang Karier
Pentingnya tahun-tahun sekolah dasar sebagai fondasi bagi keputusan penting berikutnya melandasi naiknya atensi terencana kepada perkembangan karier siswa sekolah dasar. Meskipun tanggung jawab bagi perencanaan pendidikan karier terletak di tangan guru wali kelas, namun konselor sekolah dasar dapat juga memberikan konstribusi penting sebagai koordinator dan konsultan dalam pengembangan sebuah program yang berkelanjutan dan terintegrasi.
g.    Agen Pencegahan
Di jenjang sekolah dasar, para konselor harus bisa mencermati tanda-tanda peringatan dini mengenai permasalahan yang kemungkinan besar dapat menyulitkan anak-anak di masa depan seperti : kesulitan belajar, suasana hati buruk (tidak bahagia dan depresi), dan perilaku ugal-ugalan (berkelahi, bertengkar, tidak tenang, impulsif dan bandel).
Akumulasi bukti memperlihatkan kalau anak-anak yang tidak bisa menyesuaikan diri di tahun-tahun sekolah dasar mereka berisiko besar menimbulkan banyak problem di kemudian hari. Lebih jauh lagi, problem yang muncul pada anak-anak SD seperti penyalahgunaan obat, perkelahian dan vandalisme juga mendorong publik memberikan perhatian lebih besar kepada upaya-upaya pencegahan.

3.    Jenjang Sekolah Menengah Pertama
Dalam sistem pendidikan indonesia, konselor di sekolah menengah mendapat peran dan posisi/tempat yang jelas.
a.    Orientasi siswa
Ini mencakup orientasi awal siswa dan orang tuanya bagi program, fasilitas kebijakan dan aktivitas-aktivitas konseling di sekolah baru, dan kemudian orientasi pra-masuk sekolah menengah atas yang akan dituju oleh siswa-siswa setelah lulus nantinya.
b.    Aktivitas Penaksiran atau Asesmen
Sebagai tambahan bagi rekaman sekolah yang tipikal dan data tes standar, para konselor bisa juga meningkatkan keberanian menggunakan pengobservasian dan teknik-teknik lain untuk mengidentifikasikan sifat-sifat yang muncul dari siswa-siswa individual selama periode perkembangan kritis ini.
c.    Konseling
Baik konseling individu maupun kelompok mestinya di gunakan oleh para konselor sekolah secara maksimal untuk usia siswa di jenjang pendidikan ini. Dan kebanyakan praktik menunjukkan kalau konseling kelompok lebih sering di gunakan ketimbang konseling pribadi.
d.   Konsultasi
Para konselor dapat menyediakan konsultasi kepada sekolah yang dilayaninya, orang tua dan sesekali para administrator terkait kebutuhan perkembangan dan penyesuaian diri siswa setiap individu. Para konselor juga dapat berkonsultasi dengan para penolongprofesional lainnya yang masih berkaitan dengan sistem sekolah dan jaringannya.

e.    Penempatan
Para konselor biasanya terlibat dalam pelajaran dan penempatan kelas yang tepat bagi siswa-siswa, bukan hanya di sekolahnya sendiri, tetapi juga di sekolah lain yang setara. Kadang penempatan dilakukan sesuai kebutuhan siswa, kadang didasarkan kemampuan siswa.
f.     Perkembangan Siswa
Dari banyak tulisan mengenai peran sekolah menengah pertama, tampak sangat jelas kalau perkembangan siswa mesti mendapat perhatian khusus dari para konselor sekolah, guru-guru dan para penolong profesional lainnya (seperti pekerja sosial, psikolog, dan lain-lain). Artinya, kita harus memahami betul karakteristik kelompok usia ini dan tugas perkembangan dan program perencanaan yang merespons dengan tepat kebutuhan mereka.
4.    Jenjang Sekolah Menengah Atas
   Meskipun peran dan fungsi konselor sekolah menengah atas semakin meluas beberapa waktu ini, namun inilah yang paling mudah dikenali dan masih kuat mencerminkan tradisi kendati sebenarnya mereka lebih sering dan serius mendapat tantangan ketimbang para konselor di sekolah dasar atau akademi. Namun, tanpa tantangan-tantangan ini, perubahan-perubahan drastis justru tidak mungkin terjadi. 
Seperti para konselor sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, para konselor sekolah menengah atas juga terlibat di dalam aktivitas-aktivitas konseling. Yang paling mencolok adalah mengawasi aula dan ruang kantin. Peran dan fungsi konselor sekolah menengah hampir mirip dengan peran dan fungsi konselor sekolah di jenjang sekolah dasar dan menengah pertama. Perbedaan muncul di dalam cara konselor di sekolah menengah atas memuat peran dan fungsinya, dan di berbagai penitikberatan yang tepat bagi lingkup sekolah menengah atas.
Contohnya, penekanan jenjang sekolah menengah atas bergeser dari preventif menjadi perbaikan saat terkait dengan isu-isu umum konseling. Bukan lain karena penyebaran obat terlarang dan alkohol yang sudah tidak bisa lagi dihentikan., gaya hidup seks bebas yang semakin tak terkendali, banyaknya hubungan orang tua yang rusak dan cerai, dan problem-problem penyesuaian diri yang semakin sulit dilakukan. Lebih jauh lagi, semakin banyak siswa yang tidak lagi mempersiapkan pengambilan keputusan terbaik bagi arah pendidikan dan karier mereka ke depan.
5.    Jenjang Perguruan Tinggi
   Meskipun secara struktural posisi konselor perguruan tinggi belum tercantum dalam sistem pendidikan di tanah air, namun bimbingan dan konseling dalam rangka men-support perkembangan personal, sosial akademik, dan karier mahasiswa di butuhkan. Sama dengan konselor pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan konselor Perguruan Tinggi juga harus mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum pelayanan dasar bimbingan dan konseling, individual student planning, responsive service, serta system support.

No comments