Wednesday, 8 July 2020

2. Penyebab Obsession Compulsive Disorder (OCD)

2. Penyebab Obsession Compulsive Disorder (OCD)
Secara historis, OCD dianggap gangguan yang dihasilkan dari orangtua miskin, atau bentuk lain dari lingkungan stres. Saat ini, OCD dipahami sebagai gangguan neurobiologis. Beberapa penyebab OCD adalah sebagai berikut :


1.   Over-aktivitas dan kelainan struktural dalam beberapa daerah otak
Siswa dengan OCD sering memiliki penyimpangan neurologis lainnya, seperti tics dan masalah belajar non-verbal. Serotonin, neurotransmitter, adalah bahan kimia otak yang paling mungkin terlibat dalam OCD (Adams & Torchia, 1998; Chansky, 2000). Meskipun tidak diketahui apakah disregulasi serotonin adalah faktor penyebab utama dalam OCD, semua obat efektif dalam mengurangi gejala OCD efek jalur serotonin.
2.   Stres
Stres dapat menyebabkan semakin memperburuknya gejala OCD, tetapi siswa dengan OCD berada pada kerusakan otak. Cherry (2000) menyebut gejala OCD cegukan dalam otak. Obsesi dan dorongan yang disengaja dan mengganggu, siswa dengan OCD tidak merasa seperti mereka memiliki kemampuan untuk menghentikan obsesi atau mengganggu tidak mengikat kendala yang dihasilkan. Siswa dengan OCD secara harfiah terjebak dalam obsesi masing-masing dan ritual mental atau perilaku yang dihasilkannya. Informasi ini sangat penting untuk para orangtua yang sering merasa bertanggung jawab (dan mungkin benar-benar telah disalahkan!) Untuk membuat kondisi pada anak-anak mereka.
3.   Keturunan (hereditas)
Keturunan adalah faktor yang mungkin dalam pengembangan OCD. Siswa dapat mewarisi kerentanan terhadap OCD tetapi faktor keturunan saja tidak menjelaskan ungkapan sesungguhnya dari gangguan (Thomsen, 1998). Tingginya tingkat OCD telah diamati pada siswa yang didiagnosis memiliki anggota keluarga dengan OCD, depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan Tourette.
4.   Psikologis
Menurut Salkovskis, dkk; Steketee dan Barlow, klien-klien OCD menyetarakan pikiran dengan tindakan atau aktifitas tertentu yang dipresentasikan oleh pikiran tersebut. Ini disebut “thought-action fusion” (fusi pikiran dan tindakan). Fusi antara pikiran dan tindakan ini dapat disebabkan oleh sikap-sikap tanggung jawab yang berlebih-lebihan yang menyebabkan timbulnya rasa bersalah seperti yang berkembang selama masa kanak-kanak, dimana pikiran jahat diasosiasikan dengan niat jahat (Durand & Barlow, 2006).
5.   Faktor Psikososial
Menurut Sigmund Freud, gangguan obsesif-kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam perkembangannya. Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi pada gangguan obsesif-kompulsif. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alasan timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.
Daftar pustaka

Efford, T.2004. Professional School Counseling: a Hanbook of Theories, Programs, and Pracices, Texas : CAPS Press.
Mark Durand, 2007. Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

0 comments:

Post a comment