Tuesday, 23 June 2020

Testing dan Asesmen dalam Konseling


A.    Testing dan Asesmen dalam Konseling
Asesmen adalah proses yang melibatkan berbagai prosedur evaluasi yang menghasilkan informasi tentang seseorang. Asesment melibatkan, antara lain:
1.      Wawancara klinis (clinical interview) untuk menentukan peran (fungsi) seseorang.
2.      Uji kepribadian (personality test) untuk menguji sifat temperamen, pengaruh dan kebiasaan seseorang.
3.      Test kemampuan administering untuk menguji fungsi kognitif dan kemampuan belajar seseorang, dan
4.      Teknik asesment informal (non-tes) untuk menguji karakter seseorang.
Sedangkan Testing adalah sebuah rangkaian kegiatan teknik pengumpulan data skor yang didasarkan pada teknik pengumpulan data yang digunakan.  Testing adalah bagian dari asesmen yang selanjutnya data dari testing ini bisa diinterpretasikan dengan analisis-analisis tertentu.
Berbeda dengan psikolog atau guru spesialis untuk murid berkebutuhan khusus, konselor selalu akan melibatkan testing dan asesmen dalam pekerjaannya (Naugle, 2010). Fungsi konselor sekolah dalam asesmen akan melibatkan proses antara lain:
a.      Mengkomunikasikan hasil asesmen ke murid atau orang tuanya.
b.      Membantu guru atau petugas admisnitrasi untuk memahami hasil asesmen.
c.       Menggunakan hasil asesmen untuk program evaluasi dan penelitian.
d.     Memberikan workshop atau konsultasi pribadi untuk guru tentang testing dan intrpetasi data test.
e.      Menggunakan hasil tes dan asesmen lainnya untuk pengembangan rencana pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
f.        Secara berkala, juga akan menerima dan memahami laporan tes yang dilakukan oleh agen konselor lainnya.
Sedangkan untuk yang bekerja di agen atau untuk pendidikan tinggi, konselor akan:
1.      Mengintepretasi hasil test pendidikan atau psikis client-nya.
2.      Menganalis, memahami dan mereview laporan assessment yang dilakukan oleh konselor lainnya terhadap client-nya.
3.      Mengevaluasi efikasi suatu program klinis.
Meskipun testing dikritik karena kelemahan metode dan bias datanya, tetapi dengan peningkatan kualitas metodologi test dan ketersediaan analisis statistika yang lebih maju, testing memberikan cara yang lebih baik dalam memahami kemampuan dan kepribadian seseorang. Testing akan berguna dalam membantu menentukan tujuan penanganan client dan merencanakan jenis penanganan.
Testing dan asesmen mempunyai sejarah yang panjang dengan fungsi yang berbeda-beda.  Diawali ketika nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih nabi Ismail, pada awal penyelenggaraan Olimpiade digunakan menguji kemampuan atlit terhadap atlit lainnya, dan pada 2200 sebelum masehi, testing dan asesmen sudah diterapkan untuk seleksi pegawai pemerintahan.
Pada zaman modern, diilhami oleh teori Charles Darwin tentang perbedaan karakter fisik dan perilaku dalam suatu spesies, Psikolog menggunakan dasar-dasar teori tersebut untuk menguji perbedaan karakter dari manusia (Juve, 2008, Kerr, 2008).  Teknik test dan asesmen modern diawali oleh Binet (Ryan, 2008; Watson, 1968) yang menggunakan instrumen berskala yang dapat membedakan seseorang mampu atau tidak mampu di dalam kelas. Saat ini, test sudah ber-revolusi baik dalam pencatatan, penyekoran maupun interpretasi-nya.
Asesmen memiliki beberapa tipe teknis, diantaranya adalah:
1.      Asesmen Kemampuan (Assessment of Ability)
Test ini mengukur kemampuan kognitif. Di dalam melibatkan test capaian (achievement test), untuk mengukur apa yang sudah dipelajari dan test bakat (aptitude test) untuk mengukur siapa saja yang mampu untuk belajar. Test ini melibatkan “survey battery”, diagnosis, test kesigapan (readiness test).  Test bakat melibatkan test kemampuan kognitif, test IQ, test neuropsikis, test bakat tertentu, dan test berbagai bakat (multiple aptitude test).
a.       Test capaian (achievement test)
-          Survey battery: uji ini berguna untuk mengukur pemahaman isi suatu pelajaran (misalnya uji untuk pelajaran matematika kelas 5) dan umumnya diterapkan pada semua murid (kelompok besar mudrid) dalam kelas. Kegunaan dari test ini adalah untuk menguji kemampuan individu murid dan kemampuan kelas (seluruh murid) dalam menyerap pelajaran dan menguji keefektifan proses belajar mengajar.
-          Test capaian diagnosis : uji ini berguna untuk menggali lebih dalam terhadap hal masalah tertentu, misalnya ketidak-mampuan siswa untuk  memahami pelajaran tertentu. Uji ini biasanya dilakukan dengan metode one-to-one.  Uji ini biasanya dilakukan berdasarkan rekomendasi hasil “survey battery”.
-          Test kesigapan (readiness test): test ini berguna untuk menguji kesiapan (kemampuan) siswa untuk belajar di level kelas yang lebih tinggi. Uji ini umumnya diterapkan pada anak-anak yang mau masuk ke kelas 1.
b.      Test bakat (Aptitude test)
-          Tes IQ individual: tes ini umumnya dilakukan oleh psikolog, diterapkan secara one-to-one untuk mengukur kemampuan IQ. Test ini mempunyai kegunaan yang luas, antara lain mengidentifikasi seseorang yang mempunyai masalah dengan pelajaran, perkembangan mental yang terlambat, cacat intelektual yang sebelumnya disebut cacat mental, bakat seseorang. 
-          Asesmen neuropsikis: uji ini berguna untuk mengukur perilaku secara umum yang berhubungan dengan fungsi otak. Uji ini digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan otak, untuk mengukur perubahan fungsi kognitif, untuk membandingkan fungsi kognitif seseorang terhadap kelompoknya, dan memberikan perlakuan rehabilitasi dan memberikan panduan khusus untuk rencana pembelajaran di sekolahnya.
-          Tes bakat khusus: uji ini berguna untuk mengukur bakat khusus seseorang misalnya kemampuan spasial, koordinasi tangan dan mata, dan kemampuan mekanis.  Test ini dapat digunakan untuk memprediksi potensi keberhasilan seseorang pada bidang atau cabang tertentu.
-          Tes multiple bakat: tes ini berguna untuk menguji berbagai kemampuan bakat dalam spektrum yang luas. Test ini dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam suatu pekerjaan. Contoh metode test ini adalah Differential Aptitude Test (DAT) yang sering digunakan oleh konselor SMA, atau Armed Services Vocational Aptitude Battery (ASVAB), yang dikembangkan oleh agen militer.


2.      Asesmen Kepribadian (Personality Assessment)
a.       Tes Kepribadian Objektif
Tes ini adalah kuesioner yang membutuhkan jawaban benar atau salah, iya atau tidak, atau pilihan ganda atau jawaban yang berhubungan dengan kepribadian. Dalam tes ini, dapat menguji kecemasan, depresi, psikosis, bunuh diri Tenden-badan, gangguan makan, ekstroversi-introversi kecenderungan, kepuasan pernikahan, dan sebagainya.
b.      Teknik Proyeksi
Tes ini mencoba untuk menilai karakter individu dalam menanggapi rangsangan terstruktur. Rangsangan diberikan untuk berbagai tanggapan yang mewakili tanggap sadar dan bawah sadar, keinginan, kesukaan, dan perjuangan pribadi. Tes ini meliputi tes melengkapi kalimat (sentence completion tests) dimana klien diminta untuk melengkapi kalimat dengan kata yang pertama muncul di kepalanya, dan tes menggambar (drawing) dimana klien diminta untuk menggambar tertentu dan menginterpretasikan.
c.       Interest Inventorist
Tes ini digunakan untuk menguji kesukaan atau ketidaksukaan seseorang dalam pekerjaannya. Tes ini khusus digunakan untuk uji karir dan kecocokan pekerjaan.
3.      Asesmen Informal
Prosedur asesmen informal adalah metode uji ini lebih mudah walaupun kadang dianggap kurang valid.
a.       Observasi: dilakukan oleh professional, dengan mengamati perilaku seseorang.
b.      Skala Prioritas: metode ini memungkinkan seseorang untuk memberikan nilai subjektif skala prioritas prilakunya. Metode test yang popular diantaranya: Likert-type scales, semantic differential scales, rank order scales, dan numerical scales.
c.       Metode klasifikasi: kebalikan dengan skala prioritas, uji ini lebih menidentifikasi kepribadian apa yang tidak dimiliki.
d.      Asesmen lingkungan: test ini mencoba mengumpulkan data seseorang dari lingkungan rumahnya, sekolahnya atau tempat kerjanya melalui laporan pribadi baik yang berupa laporan atau pengamatan langsung oleh konselornya.
e.       Dokumen laporan dan pribadi: Biasanya pada uji ini, klien diminta untuk menulis biografi, mengkoleksi informasi pribadi, menguji capaian-capaian di sekolah, dll.
f.       Asesmen berdasarkan performance: Test ini mengevaluasi individu dengan menggunakan informasi informal yang didasarkan pada tanggung jawabnya.
4.      Wawancara Klinis
Ada dua jenis wawancara klinis, yaitu wawancara tersruktur yaitu wawancara dengan pertanyaan yang sudah tertulis dan wawancara tidak terstruktur yaitu pertanyaan yang belum tertulis, berkembang sesuai keadaan.








           
            Selain adanya tipe-tipe dari Asesmen di atas, Asesmen juga memiliki kategorisasi prosedur pembuatan tertentu yang akan dijelaskan secara singkat dalam table berikut ini:

Perbandingan Standardize, Non-Standardized, Norm-Referenced, dan Criterion-Referenced

Standarisasi
Non-Standarisasi
Norm-referenced
Penilaian instrumen ini diberikan dengan cara yang sama dan dalam kondisi yang sama setiap kali mereka diberikan. Seringkali, mereka disusun dengan sangat objektif dari lembaga penyusun. Biasanya, ada standar kelompok norma besar sehingga dapat dibandingkan hasil instrument seorang individu dengan standar yang kelompok yang lebih besar.
Instrumen penilaian dapat bervariasi dalam bagaimana mereka dikelola dan umumnya tidak kaku diteliti sebagai tes standar. Namun, karena sifat informal mereka, mereka mungkin lebih praktis untuk tujuan yang mereka sedang digunakan. Skor yang kemudian dibandingkan dengan kelompok norma harus dipandang lebih tentatif dari tes standar.
Criterion-referenced
instrumen ini diberikan dengan cara yang standar dan memiliki tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan yang didasarkan pada tujuan pribadi seseorang pendidikan. Dalam tes ini, sering dibuat oleh perusahaan penerbitan besar, individu memiliki kemampuan untuk mengatasi gorls thetr belajar individualiied dan memiliki hasil mereka dibandingkan dengan kelompok norma nasional
Instrumen ini dibuat informal, sering oleh guru, dan didasarkan pada pengetahuan dari para guru dari murid-muridnya dan daerah konten sedang diuji. Guru dapat mengembangkan tes individual yang memiliki tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan untuk setiap siswa. Sifat informal instrumen ini berarti bahwa kelompok norma jarang tersedia untuk perbandingan

Jika berbicara tentang tes, maka kita tidak bisa lepas dengan pembahasan tentang statistik. Karena pada dasarnya statistik diperlukan untuk menginterpretasikan hasil tes tersebut secara kuantitatif. Berikut ini adalah beberapa kajian tentang Uji Statistik Dasar yang perlu dikuasai oleh konselor:
1.      Relativitas dan Kebermaknaan Nilai Tes
Dalam bukunya, Neukrug (2012) memberikan contoh seperti ini: jika Jermiah mendapatkan nilai 47, dan Elise mendapatkan nilai 95 di test yang lain, siapakah yang lebih baik? Jika Jeremiah mendapatkan nilai 47 dari maksimal 52, dia sudah melakukan test dengan sangat baik. Tapi jika ada 1000 orang yang mengikuti test, dan sebagian besar mendapatkan nilai lebih tinggi dibandingkan Jeremiah, mungkin kita akan melihat nilai tersebut berbeda.  Dan untuk membuat lebih rumit, bagaimana jika nilai dikategorikan bukan angka (misalnya sinisme, depresi, schizophrenia)? Nilai akan dikategorikan bagus ketika lebih tinggi dibandingkan nilai umum yang didapat kelompoknya, begitu pula sebaliknya.
Bagaimana dengan nilai Elise? Apakah nilai 95 itu bagus? Bagaimana nilai tersebut didalam kelompok nilai dengan kemungkinan nilai ang didapatkan adalah 200, atau 550 atau 992? Kalau 1000 orang mengikuti test dan Elisa mendapatkan nilai tertinggi sesuai dengan harapan, kita bisa katakan bahwa Elisa sudah melakukan test dengan baik.
Dengan membandingkan nilai seseorang (Jeremiah atau Elise) terhadap nilai di kelompokknya, kita dapat memaknai nilai tersebut. Ini disebabkan pembandingan norm-groups:
1.      Memungkingkan setiap individu untuk membandingkan nilainya dengan nilai di groupnya atau peernya.
2.      Memungkinkan individu yang ikut ujian yang sama tapi groupnya berbeda untuk membandingkan nilainya.
3.      Memungkinkan untuk setiap individu membandingkan nilai dari dua test yang berbeda.


2.       Ukuran Sebaran Tengah
Ukuran nilai tengah menggambarkan kisaran umum tentang nilai yang diperoleh dalam suatu kelompok. Tiga ukuran dalam sebaran tengah adalah:
·         mode yaitu nilai yang banyak didapatkan,
·         median (nilai tengah)  yaitu nilai tengah (50% nilai ada di bawah dan di atas nilai median tersebut)
·         mean (rataan) yaitu rata-rata dari semua nilai.
3.      Ukuran Keberagaman (Variabilitas)
Ukuran ini menggambarkan sejauh mana variasi sebarannya nilai-nilai yang didapatkan dalam suatu kelompok. Ukuran-ukuran variasi antara lain:
·         kisaran (range) yaitu jarak dari nilai terendah sampai nilai tertinggi.
·         kisaran interkuartil yaitu mengukur sejauh mana 50% nilai di sekitaran median
·         Simpangan baku (standart deviation) yaitu rata-rata jarak penyimpangan titik-titik data diukur dari nilai rata-rata data tersebut.
4.      Skor Turunan (Derived Score)
Berikut adalah beberapa skor turunan khusus yang digunakan:
a.       PERSENTIL rank. Sebuah skor yang diperoleh yang menggambarkan persentase skor yang jatuh pada atau di bawah skor tertentu. Persentil t kembali digunakan dengan berbagai jenis tes.
b.      T-skor. Sebuah skor yang diperoleh memiliki rata-rata 50 dan deviasi standar 10 dan umumnya digunakan dengan tes kepribadian.
c.       Deviasi IQ. Sebuah skor yang diperoleh rata-rata 100 dan deviasi standar 15 dan umumnya digunakan dengan tes kecerdasan.
d.      SAT / GRE-jenis nilai. Sebuah skor yang diperoleh memiliki rata-rata 500 dan deviasi standar dari 100. Digunakan terutama untuk melaporkan nilai SAT dan GRE.
e.       ACT Scores. Sebuah skor yang diperoleh memiliki rata-rata deviasi 21 dan standar 5. Digunakan dengan ACT, ujian masuk perguruan tinggi yang paling banyak digunakan. Normal Curve Setara (NCE)
f.       Stanines. Sebuah skor yang diperoleh memiliki rata-rata 5 dan deviasi standar 2. Umumnya digunakan dengan tes prestasi. Berkisar dari 1 sampai 9
g.      Sten Skor. Sebuah skor yang diperoleh memiliki rata-rata deviasi 5,5 dan standar 2. Umumnya digunakan dengan persediaan kepribadian dan kuesioner. Berkisar antara 1 sampai 10
h.      Grade Equivalent Score. Sebuah skor yang diperoleh umumnya digunakan dengan tes prestasi untuk menentukan posisi seseorang relatif terhadap tingkat kelas nya. Tingkat kelas siswa merupakan mean dari setara kelas
i.        Idiosyncatrik Publisher Derived Score. Pada beberapa tes, khususnya survei tes prestasi baterai, penerbit membuat skor berasal unik untuk tes itu. Oleh karena itu, tes prestasi tertentu mungkin memiliki rata-rata 150 dan deviasi standar 20, atau rata-rata 200 dan deviasi standar 25, dan standar deviasi apapun yang digunakan oleh penerbit.
5.      Koefisien Korelasi
Nilai yang menunjukkan hubungan antara dua kelompok nilai. Nilai koefisien korelasi berkisar dari +1 sampai -1, dan umumnya diwujudkan dalam decimal. Korelasi positif menunjukkan bahwa kedua kelompok nilai mempunyai keterkaitan satu sama lainnya dalam satu arah, sedangkan korelasi negatif menujukkan hubungan kebalikan antara dua kelompok nilai. Nilai korelasi yang mendekati +1 atau -1 menunjukkan keterkaitan yang kuat antar dua kemlompok nilai tersebut.
6.      Uji Kelayakan
Test yang baik harus memenuhi 3 kaidah: (1) validitas yaitu jaminan apakah tes sudah mengukur yang seharusnya diukur, (2) keandalan (reliabilitas) yaitu kemampuan test untuk mengukur secara akurat, (3) kepraktisan yaitu sejauh mana test dapat dengan mudah diterapkan baik secara administrasi maupun ketika mengintepretasikan hasilnya, (4) keadilan lintas budaya (cross-cultural fairness) yaitu kemampuan test tersebut untuk meminimalisasi bias dari isu-isu budaya.

Terakhir, proses asesmen yang menyeluruh kepada klien dalam konseling yang paling efektif adalah ketika terjadi secara terus menerus, tentatif, teruji. Karena proses asesmen menembus dan meliputi seluruh proses konseling, maka proses asesmen adalah proses yang berkelanjutan terus-menerus modifikasi pelayanan dan informasi konselor dan persepsi klien. Maka terdapat perbedaan yang bermacam-macam, seperti halnya tes, instrument asesment informal, diagnosis, dan wawancara klinis.
Asesmen juga menggunakan proses yang terus menerus, dengan saat kejadian diawal ketika konselor dan klien bertemu. Sehingga kita semua terlibat dalam hubungan dengan orang lain, konselor harus terus-menerus ingat bahwa kesan kita selamanya tentatif (sementara) dan harus tetap terbuka untuk revisi dan penambahan lahir dari pengamatan dan kesimpulan baru yang lebih kredibel dan memperdalam diri dalam proses assessment secara menyeluruh dalam hidupnya.

0 comments:

Post a comment