Tuesday, 16 June 2020

Terminasi Hubungan Konseling

Terminasi Hubungan Konseling
1.    Fungsi Terminasi
Menurut Ward (dalam Gladding, 2012: 208) terminasi secara tidak langsung harus dihindari karena beberapa alasan, antara lain :
a.    Teriminasi diasosiasikan dengan kata kalah, sebuah kata yang sejak dahulu tabu dalam lingkungan, khususnya dalam konseling yang berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan.
b.    Terminasi secara tidak langsung berhubungan dengan mikro yang memfasilitasi hubungan konseling.
Menurut Gladding (2012: 208) terminasi memiliki beberapa fungsi antara lain :
a.    Terminasi adalah pertanda bahwa hubungan telah selesai dilakukan.
b.    Terminasi berarti mempertahankan perubahan yang telah dicapai dan mengembangkan keahlian untuk memecahkan masalah yang telah didapat dari konseling
c.    Terminasi bertindak sebagai pengingat bahwa konseli adalah orang dewasa.

2.    Saat yang Tepat untuk Terminasi
Menurut Cormier & Hackney ada beberapa alasan pragmatis dalam menentukan saat terminasi yang tepat, antara lain:
a.    Apakah konseli telah mencapai tujuan perilaku, kognitif atau afektif?
b.    Dapatkah konseli menunjukkan secara konkret sampai dimana kemajuan yang diperolehnya dari tujuan yang ingin dicapainya?
c.    Apakah hubungan konseling dapat membantu?
d.   Apakah konteks awal konseling telah berubah?
e.    Terminasi kapan harus dilakukan, secara keseluruhan tidak ada kepastian kapan saatnya. Kata “saat” untuk melakukan terminasi harus dipikirkan secara masak-masak sesuai dengan keunikan situasi dan seluruh pedoman etika serta profesional .

3.    Isu Terminasi
a.    Terminasi sesi individual
Sesi konseling individu biasanya berlangsung selama 40 hingga 50 menit. Benjamin menyebutkan dua faktor penting dalam mengakhiri suatu wawancara, antara lain :
1)   Konselor dan konseli menyadari bahwa sesi konseling telah habis
2)   Jangan mendiskusikan materi baru di akhir sesi konseling.
Konselor dapat mengakhiri sebuah wawancara dengan efektif melalui beberapa cara, antara lain :
1)   Membuat pernyataan singkat yang menandakan bahwa sesi konseling berakhir
2)   Konselor menggunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan bahwa sesi telah berakhir.
Suatu bagian penting dalam terminasi sesi individu adalah menentukan jadwal perjanjian berikutnya. Akan lebih mudah dan lebih efisien jika mereka menentukan pertemuan berikutnya pada akhir sesi daripada melakukan melalui telepon.

b.    Terminasi hubungan konseling
Menurut Maholick dan Turner hal spesifik yang perlu diperhatikan saat memutuskan apakah akan menerminasi konseling atau tidak, antara lain :
1)   Memeriksa apakah permasalahan konseli telah berkurang
2)   Menentukan apakah perasaan yang menimbulkan stres sudah hilang
3)   Menilai kemampuan konseli menghadapi masalah dan tindakan pemahaman terhadap diri sendiri dan orang lain
4)   Menentukan apakah konseli mampu berhubungan lebih baik dengan orang lain dan mampu mengasihi dan dikasihi
5)   Memeriksa apakah konseli telah mendapatkan kemampuan untuk merencanakan dan bekerja dengan lebih produktif
6)   Mengevaluasi apakah konseli dapat berfungsi lebih  baik dan menikmati kehidupan

4.    Penolakan terhadap Terminasi
Penolakan terminasi ini dapat datang dari konseli maupun dari konselor. Welfel dan Patterson mencatat bahwa penolakan terminasi timbul karena hubungan konseling telah berlangsung lama atau melibatkan keintiman yang lebih dalam.
a.    Penolakan dari konseli
Ada beberapa ekspresi penolakan dari konseli, yaitu :
1)   Meminta lebih banyak waktu pada akhir sesi
2)   Meminta lebih banyak temu janji setelah tujuan konseling tercapai
3)   Berkembangnya masalah baru yang bukan merupakan kekhawatiran awal konseli.
Konselor dalam menghadapi konseli seperti ini dengan cara :
1)   dapat melakukan terminasi ini secara berlahan-lahan
2)   sesi semakin jarang seiring waktu dan kemampuan konseli
3)   Merekomendasikan jumlah pertemuan yang terbatas
Vickio mengembangakan cara unik dalam menerapkan strategi konkret bagi siswa yang berhadapan dengan rasa kehilangan dan terminasi. Dalam bukunya yang berjudul “The Goodbye Brochure ”, beliau menguraikan arti mengucapkan selamat tinggal dan mengapa selamat tinggal harus diucapkan. Kemudian beliau membahas untuk menghadapi kehilangan dengan sukses dan menghadapi kehilangan dengan tidak sukses.
Menghadapi kehilangan dengan sukses, meliputi :
1)   Menentukan cara untuk menjadikan transisi anda sebagai suatu proses yang bertahap
2)   Menemukan makna dari aktivitas-aktivitas lain dalam kehidupan Anda
3)   Menggambarkan poeran tersebut pada orang lain
4)   Menikmati apa yang telah Anda dapatkan dan apa yang ada dihadapan Anda
5)   Mendefinisikan bidang-bidang yang berkelanjutan dalam kehidupan Anda

Menghadapi kehilangan dengan tidak sukses, meliputi:
1)   Menyangkal kehilangan
2)   Membengkokkan pengalaman Anda dengan melebih-lebihkan keberhasilan di dalamnya 
3)   Menurunkan jumlah aktivitas dan hubungan Anda
4)   Mengalihkan perhatian dari memikirkan terminasi
5)   Melepaskan diri secara mendadak dari aktivitas dan hubungan Anda

b.    Penolakan dari konselor
Goodyear (dalam Gladding, 2012: 215) menyebutkan delapan kondisi dimana terminasi dirasa sangat sulit dilakukan oleh konselor :
1)   Ketika terminasi menjadi signal akan berakhirnya sebuah hubungan yang signifikan
2)   Ketika terminasi meningkatkan kegelisahan konselor atas kemampuan konselinya untuk berfungsi secara mandiri
3)   Ketika terminasi membangkitkan rasa bersalah konselor karena belum dapat bekerja lebih efektif untuk konselinya
4)   Ketika konsep profesional konselor terancam oleh konseli yang tiba-tiba pergi dan marah
5)   Ketika terminasi menjadi signal akan berakhirnya suatu pengalaman belajar bagi konselor
6)   Ketika terminasi manjadi signal akan berakhirnya suatu pengalaman hidup yang menyengkan yang dibayangkan melalui petualangan konseli
7)   Ketika terminasi menjadi simbol rekapitulasi selamat tinggal orang lain (khususnya yang tidak terpecahkan) dalam kehidupan konselor
8)   Ketika terminasi memunculkan konflik dalam konselor mengenai individualisasinya sendiri.
Konselor harus mampu memahami permasalah ini. Konselor dapat berkonsultasi dengan teman sejawatnya mengenai masalah ini.

5.    Terminasi Prematur
Menurut Ward, terminasi prematur tidak bisa diukur berdasarkan jumlah sesi yang telah diselesaikan konseli, melainkan lebih berhubungan dengan seberapa baik konseli telah mencapai tujuan pribadi yang telah ditetapkan pada awal proses konseling dan seberapa baik dia berfungsi secara umum.
Gejala konseli ingin mengadakan terminasi prematur, ditunjukkan dengan cara :
a.    Meminta konseling dihentikan setelah sesi pertama
b.    Datang terlambat pada sesi yang telah disepakati
c.    Tidak datang pada sesi yang telah disepakati

Hansen, Warner, dan Smith menyarankan agar topik terminasi prematur dibicarakan secara terbuka antara konseli dan konselor, jika konseli mengekspresikan keinginan untuk mengadakan terminasi prematur.
Jika konselor menemukan bahwa konseli ingin berhenti, wawancara keluar harus disiapkan. Ward menyebutkan 4 keuntungan yang bisa didapatkan dari wawancara ini, antara lain :
a.    Membantu konseli memecahkan perasaan negatif yang berasal dari pengalaman konseling
b.    Sebagai satu cara untuk mengundang konseli melanjutkan konseling jika konseli masih menginginkan
c.    Bentuk lain dari perawatan atau konselor lain dapat disertakan dalam wawancara keluar sebagai pertimbangan bagi konseli jika konseli menginginkannya
d.   Meningkatkan peluang bahwa dilain waktu ketika konseli membutuhkan bantuan, dia akan kembali untuk mencari bantuan konseling.

Terminasi prematur, sering kali membuat konselor kesalahan, yaitu menyalahkan diri sendiri maupun  konseli. Untuk menghindari kesalahan tersebut Cavanagh merekomendasikan agar konselor mencari tahu mengapa konseli mengakhiri konseling secara prematur. Alasan terminasi dapat mencakup sebagai berikut :
a.    Untuk melihat apakah konselor benar-benar peduli
b.    Mencoba untuk meningkatkan perasaan positif dari diri konselor
c.    Untuk menghukum atau menyakiti konselor
d.   Untuk menghilangkan ansietas
e.    Untuk menunjukkan kepada konselor bahwa konseli telah menemukan perawatan di tempat lain
f.     Untuk mengekspresikan epada konselor bahwa konseli merasa tidak dipahami.

Ada beberapa variabel sering kali efektif untuk mencegah terjadinya terminasi prematur, antara lain :
a.    Temu janji
b.    Orientasi pada konseling
c.    Konsisten konselor
d.   Pengingat untuk memotivasi kehadiran konseli

6.    Terminasi Inisiatif Konselor
Terminasi atas inisiatif konselor adalah lawan dari terminasi prematur. Beberapa alasan konselor mengakhiri proses konseling, diantaranya sakit, bekerja melalui countertransference, relokasi ke arah lain, menyadari kebutuhan konseli dapat dipenuhi oleh orang lain. Ada juga alasan buruk konselor untuk melakukan terminasi, diantaranya kemarahan, kebosanan atau ansietas. Jika konselor mengakhiri hubungan karena perasaan semacam ini, konseli akan merasa ditolak dan merasa lebih buruk lagi.
London (1982)  menyajikan model untuk membantu konseli dalam menghadapi ketidakhadiran konselornya untuk sementara. Beliau menegaskan bahwa konseli dan konselor seharusnya mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menghadapi terminasi sementara dengan mendiskusikan secara terbuka peristiwa yang akan terjadi dan mengatasi perasaan yang mendalam sehubungan dengan perpisahan tersebut.
Seligman (1984) merekomendasikan cara mempersiapkan konseli lebih tersetruktur dalam menghadapi terminasi yang diinisiatifkan konselor. Pada situasi semacam ini sangatlah penting memastikan bahwa konseli memiliki nama dan nomor telpon konselor lain untuk membantunya dalam keadaan darurat.
Ada juga terminasi permanen yang diinisiatifkan konselor. Dalam masyarakat yang semakin tinggi mobilitasnya, lebih sering daripada sebelumnya, bahwa konselor yang pergi, bisa dipastikan tidak akan kembali.

7.    Pengakhiran dengan Catatan Positif
Welfel dan Patterson (dalam Gladding, 2012: 221) menyajikan empat panduan yang dapat digunakan oleh konselor untuk mengakhiri suatu hubungan konseling yang intens dalam suatu cara yang positif, antara lain :
a.    Sadar akan kebutuhan dan keinginan konseli dan memberikan waktu pada konseli untuk mengekspresikannya
b.    Meninjau ulang peristiwa penting dalam konseling dan membawa hasil tindakan tersebut ke saat ini.
c.    Mengakui dan mendukung perubahan yang telah dilakukan oleh konseli
d.   Meminta kontak lanjutan.

8.    Masalah yang Berhubungan dengan Terminasi
a.       Tindak lanjut
Tindak lanjut melibatkan pengecekan untuk melihat bagaimana pekembangan konseli, dalam kaitannya dengan semua permasalahan yang ada, beberapa saat setelah terjadi terminasi. Inti dari tindak lanjut adalah proses pemantauan positif yang mendorong pertumbuhan konseli.
Ada empat cara tindak lanjut, antara lain :
1)   Mengundang konseli untuk sesi guna membicarakan kemajuan yang diperoleh dalam mencapai tujuan konseling
2)   Menghubungi konseli melalui telpon
3)   Mengirinkan surat kepada konseli untuk menanyakan keadaan konseli sekarang
4)   Hubungan lebih impersonal dengan mengirim surat yang berisi daftar pertanyaan tentang kondisi konseli
b.   Rujukan dan daur ulang
Rujukan adalah mengatur bantuan lain bagi konseli ketika perjanjian awal tidak berjalan lancar atau tidak membantu. Menurut Golstein (dalam Gladding, 2012: 223) ada banyak alasan untuk melakukan rujukan, termasuk yang disebut di bawah ini :
1)   Konseli mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh konselor
2)   Konselor belum berpengalaman pada bidang tertentu dan tidak mempunyai keahlian yang memadai untuk membantu konseli
3)   Knselor mengenal orang yang lebih ahli yang dapat lebih membantu konseli
4)   Konselor dan konseli mempunyai kepribadian yang tidak cocok
5)   Hubungan antara konseli dan konselor mengalami kebuntuan pada tahap awal konseling.

Rujukan melibatkan beberapa kata pertanyaaan, antara lain:
1)   Bagaimana, mencakup menghubungi sumber daya yang lebih membantu dan menangani konseli untuk memaksimalkan kesempatan yang akandia dapatkan dengan proses rujukan.
2)   Kapan merujuk melibatkan waktu yang tepat untuk dirujuk.
3)   Siapa, melibatkan orang kepada siapa Anda merujuk konseli

Daur ulang adalah suatu alternatif ketika konselor menganggap meski proses konseling belum berjalan dengan baik tetapi masih dapat diperbaiki. Hal tersebut berarti memeriksa ulang semua tahap proses terapi.

Referensi
Gladding, T Samuel. 2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta:PT. Indeks
Leod, Mc John. 2012. Pengantar Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Media

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...