TEORI KONSELING

Teori Konseling

Teori Konseling: Tingkah Laku, Kognitif, Sistemik, Singkat, dan Krisis

A.      Terapi Tingkah Laku

Orang pertama yang mempopulerkan metode perawatan tingkah laku ini adalah B.F Skinner (1904-1990), dan ada beberapa tokoh yang ikut mengembangkan teori tingkah laku ini diantaranya adalah, Ivan Pavlov, John B. Watson, dan Mary Cover Jones. Sosok kontemporer, seperti Albert Bandura, John Krumboltz, Neil Jacobson, Steven Heyes, dan Marsha Linehan juga banyak memberi kontribusi pada acara konseling ini. Sudut pandang tentang sifat manusia para penganut perilaku ini mempunyai gagasan tentang sifat manusia seperti di bawah ini: (Rimm & Cunningham 1985; Seligman, 2006)

-          Berkonsentrasi pada proses tungkah laku.

-           Berfokus kepada tingkah laku sekarang dan kini.

-           Mengasumsikan bahwa semua tingkah laku dipelajari baik itu adaptif maupun mal-adaftif.

-           Memiliki keyakinan bahwa belajar efektif dalam mengubah tingkah laku mal-adaptif.

-           Berfokus pada penetapan tujuan terapi yang tepat bersama klien.

-           Menolak gagasan bahwa kepribadian manusia adalah gabungan  watak.

Peranan konselor pada teori ini yakni seseorang konselor dapat mengambil beberapa peranan, bergantung pada orientasi tingkah lakunya dan tujuan klien. Bagaimanapun juga, umumnya konselor yang memakai teknik tingkah laku aktif di dalam sesi konseling. Dalam proses itu, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasehat, Fasilitator, dan pendukung (James & Gilliland, 2003). Konselor tingkah laku yang efektif bekerja dari suatu perspektif yang luas, dan melibatkan klien di dalam setiap tahapan konseling. Tujuan dari teori tingkah laku yakni pada dasarnya, konselor tingkah laku ingin membantu klien untuk menyesuaikan diri dengan baik terhadap kondisi kehidupannya, damn mencapai tujuan pribadi dan profesionalnya. Jadi, fokusnya adalah mengubah atau menghapuskan tingkah laku mal-adaptif yang ditunjukan klien sambil membantunya mendapatkan cara bertindak yang sehat dan kontsruktif.

Teknik yang digunakan pada teori tingkah laku ini memiliki beberapa teknik konseling yang paling efektif dan sudah diriset dengan baik yakni:

-      Teknik tingkah laku umum, yakni teknik yang dapat diterapkan dalam semua teori tingkah laku.

-    Penggunaan penguat, yakni penguat adalah peristiwa yang ketika mengikuti semua tingkah laku, meningkatkan kemungkinan tingkah laku itu diulangi lagi. Penguatan bisa positif atau negatif.

-    Jadwal penguatan, yakni ketika sebuah tingkah laku dipelajari pertama kali tingkah laku tersebut harus diperkuat setiap kali hal itu terjadi. Dengan kata lain diberikan penguatan.

-      Pembentukan yakni konselor dapat membantu memecah tingkah laku menjadi unit-unit yang mudah dikelola.

-       Generalisasi yakni menunjukan tingkah laku tersebut pada lingkungan di luar tempat tingkah laku itu dipelajari.

-    Pemeliharaan yakni sebagai konsistensi dalam melakukan tindakan yang diinginkan tanpa bergantung pada dukungan orang lain. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah melalui pengawasan diri sendiri, saat klien belajar untuk mengubah tingkah lakunya.

-     Pemusnahan yakni berarti penghapusan suatu tingkah laku dikarenakan ditariknya penguat, hanya sedikit individu yang akan terus menerus melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat.

-     Hukuman disini yakni mencangkup memberikan stimulus yang sangat tidak diinginkan terhadap suatu situasi untuk menekankan atau menghapus sebuah tingkah laku.

-      Teknik tingkah laku spesifik yakni metode tingkah laku yang diperhalus, yang mengombinasikan teknik-teknik umum dengan cara yang tepat.

-      Latihan tingkah laku ini terdiri atas mempraktikkan tingkah laku yang diinginkan sampai tingkah laku tersebut dapat dilakukan sesuai cara yang diharapkan klien.

-     Perencanaan lingkungan yakni klien membuat suatu lingkungan untuk meningkatkan atau membatasi tingkah laku tertentu.

-    Desensitisasi sistemik yakni bertujuan untuk membantu klien mengatasi ansietas pada situasi tertentu.

-    Latihan asertif yakni bahwa orng harus dapat mengekspresikan perasaa dan pikiran seacara bebas dan tepat. Kepada klien diajarkan pada semua orang mempunyai hak (bukan kewajiban) untuk mengekspresikan diri.

-    Kontrak kemungkinan yakni menyebutkan tingkah laku yang akan dilakukan, diubah, atau diahiri, imbalan yang berhubungan dengan dicapainya tujuan tersebut.

-   Implosif dan flooding yakni teknik lanjutan yang mencangkup mendesensitisasi klien terhadap suatu situasi dengan cara membuatnya membayangkan situasi yang menimbulkan ansietas dan mempunyai konsekuensi serius.

-    Time out adalah teknik penolakan ringan dimana klien tidak diberi kesempatan untuk menerima penguatan positif.

-       Overkoreksi yakni teknik dimana klien pertama-tama mengembalikan lingkungan ke kondisi yang alami dan membuatnya menjadi lebih baik.

-  Sensitisasi penutup adalah teknik mengahpus tingkah laku yang tidak diinginkan, dengan menghubungkan dengan ketidaksenangan.

Kekuatan dan kontribusi, beberapa aspek unik dan kuat dari pendekatan tingkah laku adalah sebagai berikut:

-          Pendekatan ini berhadapan langsung dengan simtom. Karena sebagian besar klien mencari bantuan untuk permasalahan tertentu.

-    Pendekatan ini berfokus pada kini dan sekarang, klien tidak harus memeriksa masa lalu untuk mendapatkan bantuan di masa kini.

-          Pendekatan in menawarkan banyak teknik untuk digunakan oleh konselor.

-     Pendekatan ini berdasarkan kepada teori pembelajaran, yang merupakan cara pendokumentasian yang dirumuskan dengan baik.

-    Pendekatan ini diperkuat oleh ABCT (Association for Behavioral and Kognitif Therapies) yakni asosiasi untuk terapi perilaku dan kognitif, yang meningkatkan praktik metode konseling tingkah laku.

-    Pendekatan ini didukung oleh penelitian yang sangat baik, mengenai bagaimana teknik tingkah laku dapat mempengaruhi proses konseling.

-    Pendekatan ini obyektif dalam mendefinisikan dan menghadapi permasalahan serta mempermudah pemahaman akan proses konseling.

-          Keterbatasan pendekatan behavioral atau pendekatan tingkah laku diantaranya yakni:

-          Pendekatan ini tidak menangani klien secara keseluruhan, hanya perilaku eksplisit saja.

-          Pendekatan ini terkadang diterapkan secara mekanik.

-          Pendekatan ini tanpak paling baik pada kondisi terkontrol yang mungkin sulit diulangi pada situasi konseling normal.

-          Pendekatan ini mengabaikan masa lalu klien dan kekuatan tidak sadarnya.

-          Pendekatan ini tidak mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan.

-          Pendekatan ini memrogramkan klien kearah tingkat berperilaku minimal atau dapat ditoleransi dan sebagainya.

B.      Konseling Kognitif Dan Tingkah Laku Kognitif

Kognisi adalah pikiran, keyakinan, dan gambaran internal yang dimiliki manusia mengenai peristiwa-peristiwa di dalam kehidupannya. (Holden, 1993, 200). Teori konseling kognitif berfokus kepada proses mental dan berpengaruhnya kepada kesehatan mental dan tingkah laku. Landasan umum dari semua pendekatan kognitif adalah apa yang dipikirkan manusia sangat menentukan bagaimana mereka berperilaku dan merasakan (Back & Weishaar, 2008). Sebagai pedoman, teori kognitif cukup sukses pada klien mempunyai karakteristik berikut ini (Cormier & Hackney, 2008):

-          Klien mempunyai intelegensi rata-rata hingga diatas rata-rata.

-          Klien mempunyai tingkat distres fungsional menengah hingga tinggi.

-          Klien dapat mengidentifikasi fikiran dan perasaan.

-          Klien tidak psikotik atau dilumpuhkan oleh permasalahan saat ini.

-          Klien mau dan mampu menyelesaikan pekerjaan rumah yang sistematik.

-          Klien memiliki keahlian tingka laku dan memberikan tanggapan yang berulang.

-          Klien memproses informasi pada tingkat visual dan audio.

-          Klien sering mengalami tekanan fungsi mental seperti depresi.

C.      Rational Emotive Behavior Therapy (Rebt)

Penemu REBT adalah Albert Ellis (1913-2007). Sudut pandang tentang sifat manusia menurut Ellis (2008) bahwa manusia mempunyai kepedulian diri dan kepedulian sosial. Bagaimanapun juga REBT juga menganggap manusia “rasional da irasional, masuk akal sekaligus gila” (Weinrach, 1980, p. 154). Menurut Ellis (2008), dualitas tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara berfikir yang baru dipelajari (Driden, 1994). Meskipun Ellis tidak membahas tahap perkembangan individu, dia berpendapat bahwa anak-anak lebih gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara berfikir yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya, dia meyakini bahwa manusia itu naif, mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan orang memiliki kemampuan di dalam dirinya sendiri untuk mengontrol fikiran, perasaan, dan tindakan tetapi pertama-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri untuk mendapatkan komando atau kehidupan (Ellis, 1962; Weinrach et al., 2001).

Pada pendekatan REBT, konselor harus aktif dan langsung. Mereka adalah instruktur yang mengajarkan dan membetulkan kondisi kliennya. Oleh karena itu konselor harus menyimak dengan cermat untuk menemukan pernyataan tidak logis atau salah dari kliennya dan keyakinan yang bertentangan (Ellis 1980) dan Walen dan Dryden (1992) telah mengidentifisakan beberapa karakteristik yang cocok untuk konselor REBT. Konselor harus cerdas, berwawasan, empatik, respek, tulus, konkrit, bertekat kuat, ilmiah dan membantu orang lain. Tujuan utama dari REBT berfokus pada membantu orang untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup lebih rasional dan produktif. REBT membantu klien agar berhenti membuat tuntutan dan merasa kesal melalui “kekacauan” klien dalam REBT dapat mengekspresikan beberapa perasaan negatif. Tetapi tujuan utamanya adalah membantu klien agar tidak memberikan tanggapan emosional melebihi yang selayaknya terhadap suatu peristiwa (Weinrach at al, 2001).

Tujuan lain dari ERBT adalah membantu orang mengubah kebiasaan berfikir atau bertingkah laku yang menghancurkan diri sendiri. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengajarkan medel A-B-C-D-E dari REBT kepada klien:

-          Berarti mengaktifkan pengalaman

-          Mewakili pendapat orang mengenai pengalaman tertentu

-          Adalah reaksi emosional terhadap B;

-  Adalah menjauhkan pemikiran irasional, biasanya dengan bantuan konselor REBT, dan menggantikannya dengan

-      Pemikiran yang efektif dan filosofi pribadi baru yang akan membantu klien mencapai kepuasaan hidup yang lebih besar (Ellis, 2008).

REBT   juga mendorong klien untuk lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain, serta mengajak mereka untuk mencapai tujuan pribadi. Tujuan tersebut dicapai dengan mengajak orang belajar berfikir secara rasional untuk mengubah tingkah laku menghancurkan diri dan dengan membantunya mempelajari cara bertindak yang baru. Teknik REBT mencangkup sejumlah teknik yang beragam. Dua teknik yang paling penting adalah pengajaran dan pertentangan. Pengajaran melibatkan tindakan meminta klien mempelajari gagasan dasar dari REBT, dan memahami bagaimana pikiran terhubung dengan emosi. Pertentangan pikiran dan keyakinan mengambil salah satu dari tiga bentuk: kognitif, imajinasi, dan tingkah laku. Proses tersebut akan sangat efektif jika semua bentuk tadi digunakan (Walenetal. 1992). Dua teknik REBT lain yang sama kuatnya adalah konfrontasi dan dorongan konselor REBT mendorong klien secara eksplistik untuk meninggalkan proses berfikir yang tidak berguna dan mencoba REBT. Kekuatan dan Kontribusi. REBT mempunyai sejumlah dimensi unik dan penekanan khusus yakni:

-          Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari, dan efektif.

-           Pendekatan ini dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klien mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi.

-          Pendekatan ini relatif singkat dan klien dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu.

-          Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk klien dan konselor.

-          Pendekatan ini berevolusi terus menerus selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya yang telah diperbaiki.

-          Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental yang parah seperti depresi dan ansietas (Puterbaugh, 2006).

Keterbatasan pendekatan REBT hanya sedikit tetapi signifikan:

-          Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia,  dan mereka yang mempunai kelainan pemikiran yang berat.

-          Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya Albert Ellis.

-          Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat klien seideal dan semestinya (James & Gilliland, 2003).

-          Pendekatan yang menekankan pada pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu klien mengubah emosinya.

D.      Terapi Realitas (RT)

Penemu terapi realitas adalah William Glasser (1925). Mengembangkan terapi realitas pada pertengahan tahun 1960-an. Robert Wubbolding meningkatkan pendekatan ini melalui penjelasan dan penelitiannya terhadap pendekatan tersebut. Sudut Pandang Tentang Manusia Terapi realitas tidak melibatkan penjelasan komprehensif mengenai perkembangan manusia, seperti sistem Freud. Namun pendekatan ini menawarkan kepada para praktisinya suatu fokus pandangan mengenai beberapa aspek penting dari kehidupan manusia dan sifat manusia. Prinsip dasar paling penting dari terapi realitas adalah fokusnya pada kekuatan tidak sadar atau naluri (Glasser, 1965, 1988, 2005).

Keyakinan keduanya mengenai sifat manusia adalah bahwa semua orang mempunyai kekuatan kesehatan/pertumbuhan (Glasser & Wubbolding, 1965). Yang diwujudkan dalam dua tingkatan yakni fisik dan psikologi. Secara fisik ada kebutuhan untuk mendapatkan dan menggunakan keperluan guna bertahan hidup seperti makanan, air dan tempat tinggal, menurut Glasser tingkah laku manusia dikendalikan oleh kebutuhan fisik untuk bertahan hidup. Di zaman modern, tingkah laku yang paling penting diasosiakan dengan kebutuhan psikologis atau otak baru. Empat kebutuhan psikologis adalah:

-          Keanggotaan yakni kebutuhan untuk memiliki teman, keluarga dan cinta

-          Kekuasaan yakni kebutuhan akan kepercayaan diri, pengakuan dan kompetensi

-          Kebebasan yakni kebutuhan untuk membuat keputusan dan pilihan

-          Kesenangan yakni kebutuhan untuk bermain, canda tawa, belajar dan rekreasi

Di dalam terapi realita disebutkan bahwa pembelajaran manusia adalah proses seumur hidup yang berdasarkan pilihan. Jika individu tidak belajar sesuatu di awal kehidupan, seperti bagaimana cara berhubungan dengan orang lain, dia dapat memilih untuk mempelajarinya nanti, pada prosesnya dia dapat mengubah identitas dan caranya berperilaku (Glasser, 2000, 2005; Glasser & Wubbolding, 1995). Konselor bertindak khususnya sebagai guru dan model, menerima klien dengan hangat dan penuh keterlibatan serta menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan terjadinya konseling. Konselor akan segera berupaya membangun hubungan dengan klien dengan mengembangkan kepercayaan melalui keramahan, ketegasan, kejujuran (Wubbolding, 1998). Interaksi klien konselor difokuskan kepada pada tingkah laku yang ingin diubah klien dan cara untuk membuat keinginan tersebut menjadi kenyataan. Tindakan ini menekankan tindakan konstruktif dan positif (Glasser, 1988, 2005).

Tujuan utama dari terapi realitas adalah membantu klien menjadi rasional dan memiliki mental yang kuat, serta menyadari bahwa dia mempunyai pilihan dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Tujuan kedua yakni untuk membantu klien mengklarifikasikan apa yang diinginkannya di dalam kehidupannya sendri. Menyadari cita-cita hidup sangatlah penting agar manusia dapat bertindak secara bertanggung jawab. Tujuan tambahan dari terapi realitas yakni membuat konselor terlibat dengan klien dalam hubungan yang penuh makna (Glasser, 1980, 1981, 2000). Hubungan ini didasarkan kepada pemahaman, penerimaan, emapati, dan kemauan konselor untuk mengekspresikan keyakinannya. Tujuan dari kelima terapi realitas difokuskan kepada perilaku dan masa sekarang. Terakhir terapi realitas bertujuan untuk menghapus hukuman dan dalih dari kehidupan klien. Sering kali, klien berdalih bahwa dia tidak dapat menjalankan rencana karna takut terkena hukuman jika gagal, baik dari konselor maupun orang-orang dilingkungan luar. Terapi realitas membantu klien memformulasikan suatu rencana baru, jika rencana yang lama tidak tidak berjalan dengan baik.

Pada dasarnya, terapi realitas menggunakan teknik berorientasi tindakan yang membantu klien menyadari bahwa dia mempunyai pilihan, mengenai cara mereka menanggapi berbagai  peristiwa dan orang dan bahwa orang lain tidak lagi mengendalikan dirinya sebesar  dia mengendalikan mereka.(Glasser, 1998; Onedera& Greenwalt, 2007) . Terapi realitas  tidak memasukan psikologi kendali eksternal dan apa yang disebut oleh Glasser (2000) sebagai tujuh kebiasaan yang mematikan (antara lain, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, menganggu, mengancam, menghukum, dan menyuap. Beberapa teknik terapi realitas yang lebih efektif dan aktif adalah mengajar, humor, konfrontasi, model peran, menawarkan umpan balik, merumuskan rencana spesifik, dan membuat kontrak.

Terapi realitas menggunakan sistem WDEP sebagai cara untuk membantu konselor dank lien membuat kemajuan dan menerapkan teknik.

W= wants (keinginan); pada awal proses konseling, konselor mencari apa yang diinginkan oleh klien dan apa yang telah klien lakukan.

D = Direction (arah) ; mengeksplorasi arah kehidupan mereka lebih jauh.

E = Evulation (evaluasi) ; merupakan fondasi dari terapi realitas. Klien dibantu untuk mengevaluasi tingkah lakunya dan seberapa tanggung-jawabnya tingkah laku tersebut.

P = Plan (rencana) ; klien berkosentrasi membuat rencana untuk mengubah tingkah laku.

Kekuatan dan kontribusi. Terapi realitas mempunyai sejumlah kekuatan dan telah memberikan kontribusi pada konseling seperti di bawah ini:

Pendekatan ini fleksibel dan dapat diterapkan pada banyak populasi. Khususnya tepat diterapkan dalam perawatan penyimpangan perilaku, penyalahgunaan obat, penyimpangan pengendalian impuls, penyimpangan kepribadian, dan tingkah laku anti social. Terapi ini dapat diterapkan dalam konseling individual untuk anak-anak, remaja, dewasa dan lansia dan juga dalam konseling kelompok, perkawinan, dan keluarga.

Pendekatan ini konkret. Baik konselor maupun klien dapat dinilai untuk mengetahui seberapa besar kemajuan yang telah dibuat dan pada bidang apa saja, khususnya jika dibuat kontrak tujuan tertentu.

Pendekatan ini menekankan pada perawatan jangka pendek. Terapi realitas biasanya terbatas hanya beberapa sesi yang berfokus pada tingkah laku masa sekarang.

Pendekatan ini mempunyai pusat latihan nasional dan diajarkan secara internasional.

Pendekatan ini meningkatkan tanggungjawab dan kebebasan dalam diri individu, tanpa menyalahkan atau mengkritik atau merestruktur seluruh kepribadiannya.

Pendekatan ini telah terbukti sukses menantang model perawatan klien secara medis. Penekanannya yang rasional dan positif merupakan alternative bagi terapi medis, yang membawa angin segar.

Pendekatan ini membahas resolusi konflik.

Pendekatan ini menekankan pada masa kini karena tingkah laku masa kini adalah yang paling responsive terhadap pengendalian klien. Seperti penganut teori tingkah laku, Gestalt, dan REBT, terapi realitas tidak tertarik pada masa lalu. (Wubbolding, 2000)

Keterbatasan. Terapi realitas juga mempunyai keterbatasan, diantaranya adalah:

Pendekatan ini terlalu menekankan pada tingkah laku masa ini sehingga terkadang mengabaikan konsep lain, seperti alam bawah sadar dan riwayat pribadi.(Glasser,1984)

Pendekatan ini meyakini bahwa semua bentuk gangguan mental adalah upaya untuk menghadapi peristiwa eksternal.

Pendekatan ini hanya mempunyai sedikit teori, meskipun sekarang dikaitkan dengan teori pilihan, yang berarti bahwa pendekatan ini sudah semakin canggih.

Pendekatan ini tidak menangani kompleksitas kehidupan manusia secara penuh dan malah tidak mengindahkan tahap perkembangkan.

Pendekatan ini rentan menjadi terlalu moralistik.

Pendekatan ini bergantung pada terciptanya suatu hubungan yang baik antara konselor dank lien.

Pendekatan ini beragantung pada interaksi verbal dan komunikasi dua arah. Pendekatan ini mempunyai keterbatasan dalam membantu klien yang dengan alas an apa pun, tidak dapat mengekspresikan kebutuhan, pilihan, dan rencana mereka dengan cukup baik. (James&Gililand, 2003)

Pendekatan ini terus mengubah fokusnya. (Corey, 2005)

E.       Terapi Kognitif (CT)

Penemu/Pengembang. Aaron Beck (1921-), seorang psikiater, diakui sebagai penemu terapi kognitif (CT). Pekerjaan pertamanya dimulai kira-kira pada masa yang bersamaan dengan Ellis. Seperti Ellis, pada awalnya dia dilatih untuk menjadi psikoanalitis dan baru merumuskan gagasan mengenai CT setelah melakukan penelitian tentang keefektifan teori psikoanalisis yang digunakan dalam perawatan depresi, yang menurutnya masih belum cukup baik. Beck mengatakan bahwa persepsi dan pengalaman adalah “proses aktif melibatkan data inspektif dan introspektif”(Tursi&Cochran, 2006,p.388). Oleh karena itu, tingkah laku yang tidak fungsional. Jika keyakinan tidak diubah, tidak ada kemajuan dalam tingkah laku atau simtom seseorang. Jika keyakinan berubah, simtom dan tingkah laku juga akan berubah.

Konselor CT aktif di dalam sesi konseling. Dia bekerja dengan kllien untuk membuat pikiran yang terselubung menjadi lebih terbuka. Proses ini sangat penting dalam memeriksa kognisi yang sudah bersifat otomatis, seperti misalnya “Semua orang menganggap saya membosankan”. Pusat tujuan CT adalah memeriksa dan mengubah pikiran yang belum teramati dan negative. Konselor CT khususnya berfokus pada distorsi kognitif yang berlebihan, seperti pola piker semua atau tidak sama sekali, prediksi negative, generalisasi berlebihan, melabeli diri sendiri, mengkritik diri sendiri, dan personalisasi (misalnya, mengambil peristiwa yang tidak berhubungan dengan individu tersebut dan membuatnya menjadi berarti ; “Selalu saja hujan kalau saya ingin bermain tenis”)

Bersama-sama konselor bekerja dengan klien untuk mengatasi kurangnya motivasi yang sering kali berhubungan dengan kecenderungan, bahwa klien memandang permasalahannya sebagai sesuatu yang terlalu besar untuk dipecahkan. Teknik. Ada beberapa teknik yang berhubungan CT:

Menantang cara individu memproses informasi.

Memukul balik sistem keyakinan yang salah (misalnya, alasan kemampuan).

Melakukan latihan memonitor diri sendiri yang bertujuan untuk menghentikan”pikiran otomatis” yang negative.

Memperbaiki kemampuan berkomunikasi.

Meningkatkan pernyataan diri yang positif dan latihan.

Melakukan pekerjaan rumah, termasuk menghilangkan pikiran tak-rasional.

Kekuatan dan kontribusi yakni:

CT telah diadaptasikan pada berbagai macam penyimpangan, termasuk depresi dan ansietas (Puterbaugh, 2006)

CT telah menelurkan, dalam hubungan dengan terapi tingkah laku-kognitif, terapi tingkah laku dialektikal, suatu perawatan psikososial untuk individu yang berisiko menyakiti diri sendiri seperti, misalnya orang yang didiagnosis memiliki penyimpangan kepribadian borderline(BDP-borderline personality disorder).Tujuannya adalah untuk membantu klien agar lebih peduli dan menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dengan mudah, dan menjalani hidup dengan layak. (Day, 2008)

CT dapat diterapkan pada berbagai lingkungan budaya. Misalnya, model terapi kognitif Beck diperkenalkan di Cina pada tahun 1989, dan variannya telah menjadi popular di sana sejak saat itu. (Chang, Tong, Shi&Zeng 2005)

CT adalah terapi yang berdasarkan pada bukti, telah diteliti dengan baik, terbukti efektif bagi klien dari berbagai latar belakang.

CT telah menelurkan sejumlah instrument klien yang penting dan berguna termasuk Beck Anxiety Inventory, Beck Hopelessness Scale, dan Beck Depression Scale (Beck&Weishaar, 2008)

CT mempunyai sejumlah pusat latihan di Amerika Serikat dan Eropa termasuk Beck Institute di Bala Cynwyd, Pennsylvania (Beck&Weishaar, 2008)

Keterbatasan.Pendekatan CT mempunyai beberapa keterbatasan, diantaranya adalah:

CT adalah pendekatan yang terstruktur dan menuntut klien untuk aktif, yang sering kali artinya klien harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan konselor.

CT bukanlah terapi yang tepat untuk orang yang mencari pendekatan yang tidak terstruktur, berorientasi pada pencerahan, yang tidak membutuhkan partisipasi penuh dari klien. (Seligman, 2006)

CT pada dasarnya bersifat kognitif dan biasanya bukanlah pendekatan yang tepat bagi orang yang urang cerdas, atau tidak mempunyai motivasi untuk berubah.

CT menuntut konselor dank lien, aktif dan inovatif. Pendekatan ini lebih kompleks daripada yang tampak dari luar.

F.       Terapi Gestalt

Terapi gestalt adalah sebuah aliran atau pemikiran yang menekankan presepsi kesatuan dan keutuhan, terapi gestalt menekankan kepada bagaimana manusia berfungsi secara totalitas. (Frederick Perls 1893-1970). Sudut pandang tentang sifat manusia, penganut gestalt percaya bahwa manusia bekerja untuk kesehatan dan keutuhan di dalam kehidupan. Setiap orang mempunyai kecendrungan aktualisasi diri yang muncul melalui interaksi pribadi dengan linbgkungan dan awal mula kesadaran diri, aktualisasi diri berpusat pada masa kini. Sudut pandang gestalt bersifat antideterministik yang berarti bahwa setiao orang dapat berubah dan bertanggung jawab .

Peran konselor gestalt yakni untuk menciptakan atmosfer yang meningkatkan eksplorasi klien mengenai apa yang dibutuhkan untuk bertumbuh. Konselor harus bersikap menyenangkan, penuh energi dan manusiawi (polster 1973). Tujuan dari terapi gestalt didefinisikan dengan baik termasuk penekanan pada di sini dan sekarang serta pengenalan imediasi pengalaman (bankart, 1997). Gestalt berkonsentrasi pada membantu klien memecahkan masa lalu sehingga menjadi terintegrasi, tujuan ini termasuk selesainya pertumbuhan mental. Teknik terapi gestalt ini yakni beberapa teknik konseling yang inovatif yang pernah dikembangkan , teknik ini menggunakan dua bentuk yakni latihan dan eksperimen. Teknik yang efektif adalah kursi kosong, pada prosedur ini klien berbicara pada kepada berbagai bagian kepribadiannya, seperti bagian yang paling dominan dan bagian yang pasif. Salah satu latihan gestalt yang paling kuat adalah konfrontasi yakni konselor menunjukan kepada klien perilaku yang tidak cocok dengan perasaan seperti contohnya klien tersenyum ketika mengakui kegugupannya.

Kekuatan dan kontribusi terapi Gestalt adalah sebagai berikut:

-          Menekankan kepada membantu orang untuk masuk dan menerima semua aspek kehidupnnya

-          Membantu klien memfokuskan diri untuk memecahkan masalah yang belum terselsaikan.

-          Pendekatan ini memberi penekanan utama pada tindakan bukan bicara.

-          Pendekatan ini fleksibel dan tidak terbatas hanya pada beberapa teknik.

-          Pendekatan ini tepat untuk mngobati penyimpangan efektif tertentu.

Adapun keterbatasan terapi gestalt yakni:

-          Kurang mempunyai dasar teoritis yang kuat

-          Pendekatan ini membicarakan pengalaman sekarang dan bagaimana secara kaku (perls, 1969)

-          Pendekatan ini menghindari diagnosis dan pengajuan.

-          Pendekatan ini terlalu berfokus pada perkembangan individual dan dikritik atas keegoisannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "TEORI KONSELING"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel