Saturday, 13 June 2020

TEORI PENDIDIKAN KARAKTER


A.    Pengertian Pendidikan Karakter
Membahas masalah pendidikan tidak terlepas dari pengertian pendidikan secara umum sehingga diperoleh pengertian pendidikan secara lebih jelas. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyrakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 3). Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan dan berkarakter kuat pernah dikatakan Martin Luther King, yaitu kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya.
Pengertian secara khusus, karakter adalah nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terwujud dalam perilaku (Mahmud, 2013 :42).  Karakter secara koheren memancar dari hasil olahpikir, olahhati, olahraga, serta olahrasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang.
Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona (1991) adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan siswa untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara kebaikan, mewujudkan dan menebar kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
B.     Fungsi Pendidikan Karakter
Masyarakat memandang pendidikan sebagai pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai budaya, baik bersifat keterampilan, keahlian, dari generasi tua kepada generasi muda agar masyarakat tersebut dapat memelihara kelangsungan hidupnya atau tetap memelihara kepribadian. Dari segi pandangan individu, pendidikan berarti upaya pengembangan potensi yang dimiliki individu yang masih terpendam agar teraktualisasi secara konkret sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh individu dan masyarakat.
Sebagaimana dikutip dari Akhmad Fikir dalam Mahmud (2013:104) menyatakan bahwa fungsi pendidikan karakter antara lain :
1.      pengembangan potensi dasar peserta didik agar berhati, berpikiran, dan berperilaku baik
2.      memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur untuk menjadi bangsa yang bermartabat
3.      untuk menyaring budaya yang negatif dan menyerap budaya yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa untuk meningkatkan peradaban bangsa  yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Adapun fungsi pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan Nasional adalah :
1.      pengembangan potensi dasar, agar ”berhati baik, berpikiran baik dan berperilaku baik”.
2.      Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik
3.      Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur  Pancasila



C.    Tujuan Pendidikan Karakter
Pada prinsipnya, tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan yang menjadi landasan dan dasar pendidikan. Karena tujuan pendidikan harus bersifat universal dan selalu aktual pada segala masa dan zaman. Konsep adanya pendidikan karakter pada dasarnya berusaha mewujudkan peserta didik atau manusia berkarakter (akhlak mulia). Mendiknas (2011: 6) mengemukakan bahwa pemebentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Di dalam pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 juga telah disebutkan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan dan akhlak mulia.
Adapun tujuan dari pendidikan karakter yang sesungguhnya jika dihubungkan dengan falsafah Negara Republik Indonesia adalah mengembangkan karakter peserta didik agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila. Menurut Dharma Kesuma, Cepi Triatna, dan Johar Permana (Sri Narwanti (2011:17), tujuan pendidikan  karakter adalah sebagai berikut :
1.         Memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (setelah lulus dari sekolah).
2.         Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan masyarakat.
3.          Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu pelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan.  Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, dan mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud perilaku sehari-hari.
D.    Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter
Setiap manusia dalam hidupnya pasti mengalami perubahan atau perkembangan, baik perubahan yang bersifat nyata atau yang menyangkut perubahan fisik, maupun perubahan yang bersifat abstrak atau perubahan yang berhubungan dengan aspek psikologis. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dalam manusia (internal) atau yang berasal dari luar (eksternal) faktor itulah yang akan menentukan apakah proses perubahan manusia mengarah pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya mengaruh pada perubahan yang bersifat negative.
Pendidikan karakter mengemban misi untuk mengembangkan watak-watak dasar yang seharusnya dimiliki oleh peserta didik penghargaan dan tanggung jawab merupakan dua nilai moral pokok yang harus diajarkan oleh sekolah. Nilai-nilai moral yang lain adalah kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, kedisiplinan diri dan rasa saling menolong. Nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasikan berasal dari :
1.    Agama, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya.
2.    Pancasila, Negara kesatuan Republik Indonesia ditegaskan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut pancasila.
3.    Budaya, sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya yang diakui oleh masyarakat.
Tujuan pendidikan nasional, undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional ( UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan nasional  sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga Negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusian yang harus dimiliki warga negara Indonesia.
Situasi dan kondisi masyarakat yang berbeda-beda terbukti ikut memberikan nuansa  tresendiri atau prioritas yang dimuat dalam pendidikan karakter. Defenisi pendidikan karakter ini lebih menekankan pentingnya tujuh pilar karakter sebagai berikut:
1.    Ketulusan, kejujuran
2.    Rasa sayang
3.    Kedermawanan
4.    Keberanian
5.    Kebebasan
6.    Persamaan
7.    Hormat
Pengertian karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pengerti, ahlak mulia, moral dan bahkan kecerdasan ganda.  Situasi dan kondisi masyarakat yang berbeda-beda terbukti ikut memberikan nuansa tersendiri atau prioritas yang dimuat dalam pendidikan karakter. Defenisi pendidikan karakter pun akan berbeda dengan jumlah dan jenis pilar karakter mana yang lebih menjadi penekanan. Terkait dengan kecerdasan ganda, kita mengenal bahwa keceradasan meliputi empat pilar kecerdasan yang saling berkaitan yaiti ,(1) Kecerdasan intelektual, (2) Kecerdasan spiritual, (3) kecerdasan emosional dan (4) kecerdasan social. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dalam pengertian kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dalam pengertian cerdas pada umumnya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan IQ. Sementara kecerdasan yang lain nya belum atau tidak memiliki ukuran matematis  sebagaiamana kecerdasan intelektual.

E.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan Karakter
Dalam tinjauan ilmu ahlak diungkapkan bahwa segala tindakan dan perbuatan manusia yang memiliki corak berbeda antara satu dan lainnya, pada dasarnya merupakan akibat adanya pengaruh dari dalam diri manusia (insting) dan motivasi yang di suplai dari luar dirinya seperti milieu, pendidikan dan aspek warotsh. Pertama adalah faktor insting (naluri). Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia dimotivasi oleh potensi kehendak yang dimotori oleh insting seseorang. Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia semenjak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting (naluri) berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkahlaku antara lain:
1.    Naluri makan. Begitu manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorong oleh orang lain.
2.    Naluri berjodoh, yang ditandai dengan laki-laki ingin berjodoh dengan wanita ingin berjodoh dengan laki-laki.
3.    Naluri keibu bapakan, yang ditandai dengan tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan mengasuh bayinya, kelakuannya itu didorong oleh naluri tersebut.
4.    Naluri berjuang yang ditandai dengan tabiat manusia yang cenderung mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan
5.    Naluri ber tuhan, yang ditandai dengan tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya yang mengatur dan memberikan rahmat kepadanya.
Selain insting tersebut, masih banyal lagi insting yang sering dikemukakan oleh para ahli psikolog, misalnya insting ingi tahu dan memberitahu, intsting takut, insting suka bergaul dan insting meniru. Kedua, faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter adalah adat/kebiasaan. Adat/kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, sepetti berpakaian, makan, tidur dan olahraga. Adapun ketentuan sifat-sifat adat kebiasaan adalah mudah diperbuai dan menghemat waktu serta perhatian. Ketiga, yang ikut mempengaruhi keberhasilan atau gagalnya pendidikan karakter adalah keturunan. Secara langsung atau tidak langsung keturunan sangat mempengaruhi pembentukan karakter atau sikap seseorang. Pendidikan tidak dapat mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang. Adapun menurut aliran empirisme, seperti dikatakan oleh john locke dalam teori tabula rasa, bahwa perkembangan jiwa anak itu mutlak ditentukan oleh pendidikan atau lingkungannya. Faktor keturunan atau warisan tersebut terdiri atas warisan khusus kemanusiaan, warisan suku atau bangsa, dan warisan khusus dari orang tua.
Adapun sifat yang diturunkan orang tua terhadapa anaknya itu bukan sifat yang tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan, adat dan pendidikan melainkan sifat-sifat bawaan sejak lahir. Sifat-sifat yang biasa diturunkan tersebut pada garis besar nya ada dua macam:
a.     Sifat-sifat jasmaniah, yakni sifat kekuatan dan kelemahan otot dan urat saraf orang tua dapat diwariskan kepada anak-anaknya.
b.    Sifat-sifat rihaniah, yakni lemah atau kuat nya suatu naluri dapat diturunkan pila oleh orang tua kelakmempengaruhi tingkah laku anak cucunya.
Keempat, yang berpengaruh terhadap pendidikan karakter adalah milieu atau lingkungan. Salah satu aspek yang turut memberikan saham dalam terbentuknya corak sikap dan tingkah laku seorang adalah factor milieu (lingkungan) dimana seorang berada. Milieu artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi tanah dan udara, sedangkan lingkungan manusia ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara dan masyarakat. Milieu itu ada dua macam:
1.    Lingkungan alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan factor yang mempengaruhi dalam menentukan tingkah laku seorang.
2.    Lingkungan pergaulan
Manisia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. itulah sebabnya manusia harus bergaul. Lingkungan pergaulan ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
1.             Lingkungan dalam rumah tangga
2.             Lingkungan sekolah
3.             Lingkungan pekerjaan
4.             Lingkungan organisasi jamaah
5.             Lingkungan kehidupan ekonomi
F.     Pendidikan untuk Pengembangan Karakter Berdasarkan Nilai Agama
Pendidikan untuk Pengembangan Karakter Berdasarkan Nilai Agama Perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia belakangan ini ditandai oleh banyak peristiwa yang berdampak besar dalam kehidupan dan sekaligus mencerminkan derajat dan karakter yang menjadi watak masyarakat Indonesia. Pertentangan antar kelompok masyarakat makin meningkat, korupsi merajalela, pengakuan superioritas sekolompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lain menjadi hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Persoalan ini dilingkupi juga oleh kebencian yang makin kuat terhadap etnik tertentu, kebencian yang makin kuat terhadap sistem dan pelaksanaan program pemerintah yang dinilai sangat korup dan kehilangan orientasi, karena kehilangan rasa malu dengan berbagai perilaku yang tidak mencerminkan karakter masyarakat Indonesia yang religius. Berbagai persoalan inilah yang menghilang karakter masyarakat (bangsa) ini ternyata bukan hanya persoalan Indonesia. Negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa juga mengalami persoalan yang sama.
Berkaitan dengan pemahaman serta watak masyarakat Indonesia pada perkembangan terakhirnya ini, dinilai menyimpang dari nilai-nilai watak dan karakter yang diharapkan. Karena itu, peran pendidikan baik formal, informal, maupun nonformal menjadi sangat penting dalam pengembangan karakter bagi rakyat Indonesia. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibangun dikembangkan melalui pendidikan karakter. Karena itu, rakyat Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana mereka mampu untuk menerapkan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata melalui pengembangan karakter. Ini sejalan dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah“… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Didin Hafidhuddin dalam Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Agama mengemukakan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha dan upaya bersama yang dilakukan secara sadar, serius, dan sungguh-sungguh dalam rangka membangun watak dan karakter peserta didik secara komprehensif.17 Selaras dengan hal ini Konfrensi internasional pertama tentang pendidikan Islam di Mekkah yang diadakan pada tahun 1997 memberikan rekomendasi bahwa yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah:
Education should aim at the balanced growth of the total personality of man, through the training of man’s spirit, intellect the rational itself, feelings and bodily senses ..... bothindividually and collectively and motivate all these aspect toward goodness and attainment of perfection ….. these at complete submission to Allah on the level of the individual, community at large, (Pendidikan karakter akan menumbuhkan kepribadian manusia secara totalitas mencakup seperti semangat, kecerdasan, perasaan dan sebagainya, baik dalam kehidupan pribadinya, masyarakatnya untuk melakukan kebaikan dan kesempurnaan, serta dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, melalui tindakan pribadi, masyarakat maupun kemanusiaan secara luas.
Dengan demikian, pendidikan karakter itu berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agama. Adapun fungsi agama dalam kehidupan sosial rakyat Indonesia sangat besar dan bervariasi sesuai dengan wataknya. Agama tidak hanya dipakai oleh manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang sifatnya sesuai dengan ajaran-ajaran dari agama yang bersangkutan, tetapi juga sering dipergunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan agama itu sendiri. Karena itu, munculnya kecenderungan fundamentalisme, fanatisme dan modernisme dalam berbagai corak kehidupan umat beragama di Indonesia dapat dibaca sebagai gejala penyalahgunaan (abuse) terhadap agama.
Pemakaian agama sebagai alat legitimasi biasanya muncul pada bangsa-bangsa yang tidak homogen secara agama. Gejala seperti ini akan muncul ke permukaan apabila kepercayaan-kepercayaan yang berbeda mengenai realitas yang tertinggi (ultimate) masuk ke dalam arena politik, mereka mulai bertikai dan makin jauh dari sikap kompromi. Berdasarkan kenyataan ini ada kecenderungan pada masyarakat modern yang sekular seperti di negeri-negeri Barat untuk memisahkan agama dari kehidupan, kendati di beberapa tempat lainnya diakui pula adanya pemikiran, praktikpraktik, dan pranata-pranata keagamaan tetap sebagai pusat kehidupan. Sementara itu, Thomas Lickona mengatakan bahwa dasar hukum moralitas yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama dalam kitab suci, dan implikasi dari dasar hukum moralitas ini berlaku secara universal. Inilah aspek penting dari pendidikan untuk pengembangan karakter bagi rakyat Indonesia dewasa ini yang sedang mengalami kemerosotan moral meski mereka tetap memperlihat perilaku yang taat dalam menjalankan agamanya.
Jika ditelaah dari aspek ilmu-ilmu sosial, fenomena agama dalam konteks sosial politik memiliki keterkaitan dengan kekuasaan serta legitiasi dalam wacana politik, kenyataan ini bisa disebut sebagai realitas interaksi agama dalam pendidikan karakter. Wacana mengenai hal ini merupakan isu yang sarat kontroversi baik di kalangan para pemikir Barat maupun pemikir Muslim, lebih-lebih lagi ketika isu tersebut masuk dalam kehidupan masyarakat empirik. Persoalan ini di dunia intelektual Muslim secara konfrehensif pernah dikemukakan oleh ‘Abd ar-Rahman Ibn Khaldun (1332- 1406).
Ibn Khaldun menempatkan agama sebagai daya pemersatu dan sumber kekuatan dalam kehidupan sosial maupun politik. Dia menyatakan bahwa agama lebih merupakan landasan pembangunan negara dan kerajaan, sebab agama mempersatukan dan membuat negara tak terkalahkan. Karena itu, tanpa agama, suatu kelompok hanya mempunyai persatuan alamiah melalui rasa kelompok yang menyebabkan setiap anggotanya bertindak bersama guna mencapai keunggulan. Berkaitan dengan hal ini, Ibn Khaldun mengemukakan:
Warna keagamaan benar-benar menjauhkan rasa saling cemburu dan iri hati di antara bangsa yang mempunyai rasa kelompok yang sama, dan menyebabkan mereka menyatu dalam kebenaran. Di satu pihak, bila sekelompok orang yang memiliki satu warna keagamaan dapat mencapai satu pendapat yang benar dalam menghadapi segala persoalan, tak seorang pun dapat menahan mereka. Sebab sudut pandang mereka satu dan tujuan mereka pun merupakan kesepakatan bersama. Mereka rela mati untuk mewujudkan dan mencapai tujuan-tujuannya. Di lain pihak, anggota dinasti yang mereka serang mungkin lebih banyak dari jumlahnya. Namun, golongan tersebut mempunyai tujuan-tujuan yang berbeda. Mereka mempunyai tujuan-tujuan yang sesat dan bercerai-berai, lantaran takut mati. Karena itu, perlawanan mereka tidak berarti bagi orang yang memiliki warna keagamaan, sekaligus jumlah mereka lebih besar. Mereka dikuasai kelompok kecil yang memiliki warna keagamaan yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan mereka, dan dalam tempo singkat disapu habis, lenyap.
Berdasarkan ungkapan di atas, Ibn Khaldun menggingatkan kepada setiap umat Islam bahwa warna dan nuansa agama menjadi faktor yang sangat berperan dan menentukan berhasil atau tidaknya suatu bangsa dalam membangun kehidupan sosialnya dengan mengembangkan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran agama yang akan mempengaruhi watak mereka dalam kehidupan sosialnya. Sehingga pengembangan karakter berdasarkan nilainilai agama menjadi acuan dalam membentuk kepribadian suatu bangsa. Semua ini hanya dapat dilakukan melalui pola pembeljaran dalam institusi pendidikan yang dilakukan secara berkelanjutan, sistematis serta terencana dengan baik.
Berdasarkan asusmsi tersebut di atas pendidikan karakter merupakan suatu keniscayaan yang sudah lama menjadi problem di kalangan pemikir Islam seperti Ibn Khaldun. Bagi seorang Muslim, pemisahan antara agama dari kehidupan sosial terutama dalam dunia pendidikan sejak awal tidak pernah dikenal, karena agama secara langsung memasuki dan mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.24 Karena itu, pendidikan karakter memerlukan upaya-upaya pencerahan dalam membentuk kepribadian, watak generasi muda sekarang agar menghasilkan insan-insan unggulan di segala bidang melalui pendidikan untuk pengembangan karakter berdasarkan nilai-nilai agama.

G.    Peran Guru dalam Mengimplementasikan Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya Bangsa di Lingkungan Sekolah  
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis nilai agama dan budaya bangsa. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi pendidikan karakter, tidak akan berhasil maksimal dan memuaskan. Peran guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di lingkungan sekolah tidak hanya terbatas dalam hal mengajar atau hanya menyampaikan materi pelajaran di muka kelas, tetapi berperan aktif dalam setiap kata, perilaku dan sikapnya menjadi profil dan contoh bagi peserta didik dalam membentuk karakter mereka.
Guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mengimplementasikan pendidikan karakter sehingga peserta didik berkarakter (akhlak mulia). Tanggung jawab guru sangat besar untuk menciptakan peserta didik yang memiliki budi pekerti luhur, berperilaku baik, berprestasi, berkualitas dan berakhlak mulia. Tanggung jawab ini merupakan alat ukur kesuksesan guru dalam memberi pembelajaran dan mengimplementasikan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Menurut Martinus Yamin (2007:103), sebagai seorang yang dimintai pertanggungjawaban dalam pembelajaran dan dihubungkan dengan mengimplementasikan pendidikan karakter, guru harus memiliki seperangkat kapabilitas sebagai berikut :
1.      Memiliki tanggung jawab yang sempurna dan mengerti pekerjaannya dengan jelas
2.      Memiliki kualifikasi dan kapabilitas untuk mengerjakan tugas pembelajaran
3.      Memiliki kewenangan yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam pembelajaran.
Ukuran guru dalam menguasai kelas tidaklah menjadi ukuran tercapainya tujuan belajar, tetapi ditentukan sejauh mana guru mampu mengembangkan kemampuan peserta didik, baik kecakapan, keterampilan, pengetahuan, wawasan, dan karakter berkeadaban. Sebab, guru merupakan pembaharu sekaligus pencerah pikiran dan hati peserta didik.
Idealnya, guru harus mampu mengembangkan karakter peserta didik dengan memberikan kesempatan peserta didik untuk mengembangkan kreativitasnya yang dapat dilakukan melalui kecakapan memotivasi serta menciptakan iklim belajar yang aman, nyaman, dan kondusif. Sebab, tujuan kurikulum pendidikan karakter adalah memberdayakan peserta didik supaya memiliki kecakapan hidup, berdikari, mandiri, berwawasan, memiliki pengetahuan, memiliki keterampilan/skill, optimis, dan segala perilaku positif lainnya.
Daftar Pustaka
Mahmud. 2013. Pendidikan Karakter (Pendidikan Berbasis Agama & Budaya Bangsa). Bandung : CV Pustaka Mulia

Sri Narwanti. 2011. Pendidikan Karakter (Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karakter Dalam Mata Pelajaran). Yogyakarta: Familia.

Thomas Lickona, 2012. Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter, terjemahan Juma Wadu Wamaungu dan Editor Uyu Wahyuddin dan Suryani, Jakarta: Bumi Aksara.





No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...