Monday, 15 June 2020

Teori Konseling Psikoanalisis, Adlerian, dan Humanistik


2.1     Teori Konseling Psikoanalisis, Adlerian, dan Humanistik
2.2.1        Teori Konseling Psikoanalisis
Penemu teori psikoanalisis ialah Sigmund Freud, seorang psikiatris dari Vienna (1895-1939), adalah sosok yang sealu diasosiasikan dengan psikoanalisi, khususnya dengan sekolah pemikir klasik. Freud memandang sifat manusia sebagai suatu yang dinamis dengan teransformasi dan pertukaran energi di dalam kepribadiannya (Hall, 1954). Manusia mempunyai pikiran sadar, pikiran pra-sadar, dan pikiran bawah sadar. Menurut Freud kepribadian terdiri dari tiga bagian:
a)      Id (terdiri atas naluri dasar amoral, dan yang bekerja sesuai prinsip kesenangan).
b)      Ego (“pusat pikiran”, yang membuat keputusan secara sadar sesuai dengan prinsip kanyataan)
c)      Superego (hati pikiran yang berisi nilai-nilai ajaran orang tua dan bekerja sesuai dengan prinsip moral)
Psikoanalisis juga dibentuk pada apa yang Freud sebut sebagai tahap perkembangan psikoseksual. Masing-masing tahap berfokus pada zona kesenangan yang dominan pada waktu tertentu:
a)      Tahap oral, dengan mulut sebagai zona kesenangan dan kepuasan dasar didapat data menggigit dan menyedot;
b)      Tahap anal, dengan kepuasan dirasakan saat menahan maupun buang air besar;
c)      Tahap phallic, dengan pusat kesenagan utama terletak di organ seks, dan baik pria maupun wanita harus berupaya memalui hasrat seksual
d)     Latency, dengan energy difokuskan pada aktivitas berpasangan dan penguasaan pembelajaran kognitif serta keahlian fisik secara pribadi; dan
e)      Tahap genital, dimana jika semuanya telah  berjalan dengan baik, masing-masing gender merasa lebih tertarik satu sama lain dan muncul pola interaksi heteroseksual yang normal.
Frustasi yang berlebih atau kepuasan berlebih pada tiga tahap awal merupakan kendala utama yang di tahapan-tahapan ini. Di sini klien dapat menjadi terpaku (atau tertahan) pada tingkat perkembangan tersebut dan/atau terlalu bergantung pada penggunaan makanisme pertahanan (contoh, represi, penyangkalan, regresi, proyeksi, rasionalisasi, formasi reaksi dan pergeseran). Professional yang mempraktikkan psikoanalisis klasik berfungsi sebagai seorang ahli. Peranan konselor analisis adalah membiarkan klien mendapatkan penverahan dengan menghidupkan kembali dan menangaini pengalaman masa lalu yang terpecahkan yang muncul sebagai focus selama sesi berlangsung. Perkembangan transference diutamakan untuk membantu klien menghadapi maslah bawah sadar secara realstis.
Tujuan utamanya pada penyesuaian pribadi, biasanya memicu reorganisasi kekuatan internal si salam diri seseorang. Tujuan utama yang kedua adalah membantu klien mengahdapi tahap perkembangan yang belum terpecahkan. Tujuan akhir adalah membantu klien mengahdapi tuntutan masyarakat tempat dimana dia hidup. Teknik psikoanalisis yangs erring digunakan adalah asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis transference, analisis resistensi dan interpretasi. Kekuatan dan kontribusi teori psikoanalisis ialah:
a)      Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.
b)      Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristik.
c)      Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrument diagnostic.
d)     Menekankan pada proses adaptif dan hubungan social
e)      Efektif bagi penderita berbagai macam gangguan, termasuk hysteria, narsisisme, reaksi obsesif-komplusif, gangguan karakter, ansietas, fobia, dan gangguan seksualitas
f)       Menekankan pada pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.
Keterbatasan teori psikoanalisis ialah :
a)      Menghabiskan waktu dan biaya yang banyak
b)      Tidak terlalu berguna bagi klien lansia atau bahkan sekelompok klien yang bervariasi.
c)      Pendekatan ini telah diklaim secara eksklusif oleh para psikiater
d)     Banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan
e)      Mmenuntuk banyak ketekunan
f)       Tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling professional

2.2.2        Teori Adlerian
Alfred Adler (1870-1937) dalah penemu pendekatan Adlerian pada konseling, juga dikenal senagai psikologi individual. Gagasan utama pada teori Adler dalam hubungannya dengan sifat manusia adalah secara peimer dimotivasi oleh kepedulian social, yaitu perasaan mempunyai kaitan dengan masyarakatsebagai bagian dari  masyarakat secara keseluruhan, suatu kepedulian aktif dan empati kepada sesame, selain kebutuhan dan kemauan untuk berkontribusi pada kepentingan umum masyarakat (Mosak & Maniacci, 2008).orang yang mempunyai kepedulian social bertanggungjawab atas diri sendiri dan orang lain serta kompetitif dan positif dalam hubungannya dengan kesehatan mental. “mereka yang gagal, termasuk neorotok, psiotik, dan individu yang berorientasi criminal, gagal karena kurang memiliki kepedulian social” (Daugherty, Murphy, & Paugh, 2001, p. 466)
Adler percaya bahwa manusia dipengaruhi oleh tujuan masa depan (teleogikal) selain oleh akibat masa lalu. Teorinya juga memberi banyak penekanan pada urutan kelahiran: mereka yang lahir pada urutan ordinal yang sama (missal, anak pertama) lebih memiliki perasaan satu sama lain disbanding adik-kakak dalam satu keluarga (Dreikurs, 1950).sebagai tambahan urutan kelairan, lingkungan juga penting bagi perkembnagan seseorang, khususnya 5 tahun pertama kehidupan. Secara keseluruhan penganit Adler percaya bahwa ada tiga tugas utama kehidupan masyarakat, pekerjaan, dan seksualitas.Konselor Adlerian berfungsi sebagai ahli diagnostic, guru dan model dalam hubungan kesetaraan yang mereka bangun dengan klien. Penganut teori Adlerian seringkali aktif berbagai firasat atau pemikiran dengan klien dan sering mengarahkan ketika memberikan tugas rumah pada klien.
Membantu orang untuk mengembangkan gaya hidup holistic dan sehat. Ini artinya mendidik atau mendidik ulang kalien mengnai gaya hidup semacam itu serta membantunya mengatasi perasaan inferioritas. Membantu klien mengatasi gaya hidup yang salah. Konselor Adlerian mencoba untuk mengembangkan suatu hubungan yang hangat, suprortif, bersahabat, empati, dan setara dengan kliennya. Konseling dipandang sebagai upaya kolaboratif (Adler, 1956). Konselor mendengarkan secara aktif dan menanggapi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan konselor yang perpusat pada manusia (James & Gilliland, 2003). Setelah hubungan terbangun, konselor berkonsentrasi pada analisis gaya hidup klien, termasuk memeriksa konstelasi keluarga, kenangan awal mimpi, dan prioritas. Usaha konselor berikutnya adalah membantu klien untuk mengembngkan pencerahan, khususnya dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan membuat interprestasi. Untuk mencapai perubahan tingkah laku, konselor menggunakan teknik spesifik: konfrontasi, mengahukan “pertanyaan”, dorongan,bertindak “seandainya”, meludah di sup klien, menangkap diri sendiri, penetapan tugas, tekan tombol.

Kekuatan dan Kontribusi
a.       Membina atmosfer kesetaraan melalui teknik positif yang digunakan konselor
b.      Pendekataini fleksibel untuk semua usia
c.       Berguna untuk perawatan berbagai keahlian, termasuk kelainan perilaku, perilaku antisosial, ansietas masa kanak-kanak dan remaja, beberapa kelainan efektif dan kelainan kepribadian.
d.      Memberi kontribusi pada teori-teori pembantu lainnya dan pada pengetahuan serta pemahaman umum akan interaksi manusia.
e.       Dapat digunakan secara seklektif di berbagai konteks budaya
Keterbatasan.
a.       Kurang memiliki dasar penelitian yang suportif an tegas.
b.      Pendekatan ini masih kabur dalam hubunganya dengan beberapa konsep dan istilah
c.       Terlalu optimistis perihal sifat manusia
d.      Prinsip dasar pendekatan ini, seperti struktur keluarga yang demokratis misalnya, tidak cocok untuk klien yang konteks budayanya menekankan pada hubungan social linear.
e.       Sangat bergantung pada pengetahuan erbal, logika, dan pencerahan, penerapannya terbatas untuk klien yang kurang cerdas.
2.2.3        Teori Humanistik
2.2.3.1  Konseling Tingkah Laku
Carl Rogers (1902-1987) adalah orang yang paling dekat dengan konseling berpusat pada orang. Bahkan Rogers lah yang pertama kali memformulasikan teori tersebut dalam bentuk psikoterapi taklangsug di dalam bukunya. Manusia menurut karakteristik“positif, bergerak maju, konstruktif, realistic, dan dapat diandalkan” (Rogers, 1957, p.199). Menurut Rogers, aktialisasi diri merupakan penggerak yang paling umum dan memotivasi keberadaan, serta mencakup tindakan yang mempengaruhi orang tersebut secara keseluruhan. Memandang individu dari prespektif fenomenologikal: yang penting adalah persepsi manusia mengenai relalita disbanding peristiwa yang terjadi itu sendiri (Rogerrs, 1955). Agar muncul diri yang sehat, seseorang membutuhkkan perhatian positif-cinta, kehangatan, kasih saying, respek, dan penerimaan. Namun semakin jauh idealism diri dengan realita diri, semakin asing dan menyimpang diri orang tersebut.
Peran konselor membuat dan meningkatkan atmosfer dimana klien bebas dan didorong untuk mengeksprorasi semua aspek mengenai dirinya (Rogers, 1951, 1980). Konselor menaruh kepercayaan pada kliennya untuk mengembangkan agenda tentang apa yang imgin dia kerjakan. Tugas konselor adalah lebih sebagai fasilitator daripada penngarah. Pada pendekatan berpusat pada orang, konselor adalah ahli proses tersebut dan ahli penelitian (mengenai klien tersebut). Kesabaran adalah kuncinya (Miller, 1996). Tujuan dalam konseling berpusat pada orang berkiasar pada klien sebagai manusia, bukan permasalahan yang dihadapinya. Rogers (1977) menekankan bahwa orang perlu bentuan untuk belajar bagaimana menghadapi berbagai situasi. Selah satu cara utama untuk mencapai hal ini adalah dengan membantu klien menjadi orang yang berfungsi penuh, yang tidak perlu menerapkan mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi pengalaman sehari-hari. Lebih jauh lagi, orang yang berfungsi penuh mengembangkan penerimaan yang lebih besar akan dirinya dan orang lain serta menjadi pembuat kepustusan yang lebih baik di masa kini dan mendatang. Yang paling utama, klien dibantu untuk mengidentifikasikan, menggunakan, dan mengintegrasikan sumber daya dan potensinya sendiri (By & Pine, 1993; Miller, 1996). Teknik yang digunakan Rogers (1957) percaya bahwa ada tiga kondisi penting dan perlu (inti) pada konseling:
a.       Empati
b.      Perhatian tanpa pamrih (penerimaan, penghargaan), dan
c.       Kecocokan (ketulusan, keterbukaan, autentik, transparansi).
Rogers (1967) menyakini bahwa “perubahan epribadian yang positif dan signifikan” tidakterjadi kecuali di dalam suatu hubungan (p. 73). Metode yang membantu meningkatkan hubungan klien-konselor, mencakup, tetapi tidak terbatas pada, mendengarkan secara pasif dan aktif, refleksi perasaan dan pikiran yang tepat, klarifikasi, penyimpulan, kontrofersi, dan arahan umum atau terbuka. Pertanyaan dihindari sedapat mungkin (Tursi & Cochran,2006).

Kekuatan dan Kontribusi.
a.       Pendekatan ini merevolusi profesi konseling dengan cara menghubungkan konseling denngan psikoterapi dan memperjelasnya melalui pembuatan rekaman suara dari sesi actual dan menerbitkan salinan actual mengenai sesi konseling (Goodyear, 1987; Sommors-Flanagan, 2007).
b.      Pendekatan berpusat pada orang dapat diterapkan untuk berbagai macam permasalahan manusia.
c.       Pendekatan ini telah menghasilkan penelitian yang eksplisif (Tursi & Corhran, 2006).
d.      Pendekatan ini efektif dalam sejumlah keadaan.
e.       Pendekatan berpusat pada orang sangat membantu jika bekerja dengan klien yang mengalami tragedi.
f.       Berfokus pada keterbukaan dan hubungan penerimaan yang dibangun konselor dank lien serta proses bantuan bersifat jangka pendek.
g.      Hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk dipelajari.
h.      Pendekatan ini mempunyai pandangan positif perihal sifat manusia dan terus berevolusi.
Keterbatasan.
a.       Pendekatan ini terlalu sederhana, optimis, santai, dan tidak berfokus untuk klien yang dalam krisis atau klien yang membutuhkan struktur dan arah yang lebih jelas (Seligman, 2006; Tursi & Cochran 2006)
b.      Terlalu bergantung pada klien yang suka bekerja keras, cerdas, dan berwawasan luas untuk mendapat hasil yang terbaik.
c.       Mengabaikan diagnosis, ketidaksadaran, teori-teori perkembangan, dan dorongan agresif serta seksual yang alami.
d.      Hanya menangani permasalahan yang ada di permukaan dan tidak menantang klien untuk mengkasplorasi area-area yang lebih dalam.
e.       Lebih berdasarkan pada sifat ketimbang teknik

2.2.3.2  Konseling Eksistensial
Pendekatan eksentensial menolak pandangan determenistik dari sifat manusia dan menekankan kebebasan manusia yang dimiliki untuk memilih apa yang harus dilakukan. Pandangan ini berfokus kepada kebebasan memilih dan tindakan yang dilakukannya, penganut pandangan ini memandang bahwa manusia akan bertanggung jawab sendiri atas keputusan apapun yang dibuat di dalam kehidupannya, dan di dalam keputusan tersebut mungkin itu yang lebih berarti dan sehat dibandingkan yang lainnya. Menurut frankl (1962) ,arti hidup selalu berubah tetapi tidak pernah berakhir, teorinya ini dikenal sebagai logoterapi.
Peran konselor dalam mengambil tindakan melalui teori ini yakni konselor tidak ada aturan yang seragam untuk konselor yang menganut aturan ini, oleh karena itu konselor peka terhadap terhadap semua aspek karakter klien mereka. Konselor lebih berkonsentrasi untuk bersikap autentik dan klien dan masuk ke dalam hubungan yang lebih dalam dan personal dengannya. Konselor eksistensial berfungsi sebagai model dari bagaimana mencapai potensi dan membuat keputusan, berkonsentrasi untuk membantu klien mengalami perasaan subyektif, mendapat pemahaman diri yang lebih jelas dan bergerak maju. Tujuan penganut eksistensial adalah membantu klien menyadari pentingnya arti tanggung jawab, kesadaran, kebebasan, dan potensi. Penganut eksistensial berharap bahwa selama proses konseling klien akan lebih bertanggung jawab atas kehidupannya, di dalam prosesnya klien tidak lagi menjadi pengamat suatu peristiwa tetapi menjadi seorang pembentuk aktifitas personal yang berarti, dan pemegang nilai-nilai pribadi yang mengarah pada gaya hidup yang bermakna.
Teknik teori eksistensial ini tidak membatasi konselor untuk menggunakan teknik intervensi tertentu, (fernando 2007: 230) Teknik eksistensial ini sedikit lebih berbeda daripada model konseling  lainnya. Namun, kelemahan ini sesungguhnya justru menjadi kekuatan karena membolehkan konselor eksistensial meminjam gagasan-gagasan lain dan menggunakan keahlian pribadi dan profesional yang luas cakupannya. Jadi penganut eksistensial ini bebas untuk menggunakan teknik yang sangat luas disebut dengan desensisasi dan asosiasi bebas. Menggunakan konfrontasi, klien dikonfrontasi dengan gagasan bahwa semua orang bertanggung jawab atas kehidupannya masing-masing. Konselor eksistensial meminjam beberapa teknik dari model konseling lain, seperti latihan kesadaran imajinasi, paradoks, defleksi, dan aktivitas penetapan tujuan.
Kekuatan dan kontribusi, yakni:
a.    Menekankan keunikan masing-masing individu dan pentingnya arti di dalam mereka.
b.   Pendekatan ini mengakui bahwa kegelisahan tidak harus merupakan kondisi yang negatif.
c.    Memberikan konselor akses ke banyaknya filosofi dan literatur yang sangat informatif.
d.   Pendekatan ini menegaskan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang berkelanjutan.
e.    Pendekatan ini efektif pada situasi konseling yang multikultural.
f.    Membantu menghubungkan individu dengan masalah universal  yang dihadapi oleh manusia.
g.   Pendekatan ini dapat berkombinasi dengan persfektif dan metode lain.
Adapun keterbatasan dari pendekatan ini yakni:
a.       Pendekatan ini belum menghasilkan model konseling yang berkembang secara penuh.
b.      Pendekatan ini kekurangan program pelatihan dan pendidikan.
c.       Pendekatan ini sulit diterapkan diluar tingkatan individual karena sifatnya yang subjektif.
d.      Pendekatan ini lebih dekat pada filosofi eksistensial daripada teori konseling lainnya.


0 comments:

Post a comment