Thursday, 11 June 2020

Teori Holland


Latar BelakanTeorHolland
Sejak  kemunculan  teori  Holland,  teori  ini  telah  menjadi  kekuatan utama dalam psikologi terapan. Presentasi pertama teori ini pada tahun 1959 yang menekankan pencarian aspek kesesuaian individu-lingkungan. Orang membuat pilihan pekerjaan dalam pencarian arti untuk situasi yang memuaskan hierarki kesesuaiannya. Pada versi awal ini juga terdapat penekanan pada akuisisi dan pengolahan informasi lingkungan. Orang dengan informasi lebih lanjut tentang lingkungan kerja dapat membuat pilihan yang lebih memadai daripada orang-orang dengan kurang informasi. Selain itu, pengaruh eksternal seperti orang tua dan guru  juga berpengaruh terhadap pilihan karier individu.
Serangkaian artikel penelitian  yang luar biasa  diikuti saat Holland berada di National Merit Scholarship Corporation yang mendokumentasikan karakteristik dari jenis, kegiatan yang disukai, deskripsi diri, dan kompetensi. Studi ini, yang dirangkum Holland, mengungkapkan bahwa enam jenis kepribadian, bila dihitung dengan menggunakan satu dari beberapa inventori, menunjukkan pola yang reliabel dengan prediksi teoritis. Misalnya, jenis realistis cenderung keras kepala dan menyesuaikan. Mereka lebih memilih seni industri dan pertanian sebagai bidang utama dan surveyor dan mekanik sebagai pilihan kerja. Sedangkan jenis artistik cenderung imajinatif dan emosional. Mereka lebih memilih seni dan musik sebagai bidang utama dan artis dan penulis sebagai pilihan kerja (Holland, 1997).
Konsep Teori Holland
Teori Holland memberikan perhatian pada karakteristik perilaku atau tipe kepribadian sebagai penyebab utama dalam pilihan dan perkembangan karier individu  (Herr,  Cramer  & Niles,  2004;  Perry &  VanZandt,  2006). Kepribadian seseorang menurut Holland merupakan hasil dari keturunan dan pengaruh lingkungan (Osipow, 1983). Faktor keturunan adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri yang sifatnya menurun. Sedangkan faktor lingkungan adalah faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri, bisa terdiri dari pengaruh budaya, teman bergaul, orang tua, guru dan orang dewasa.
Menurut Weinrach 1984 (dalam Herr, Cramer & Niles, 2004) teori Holland dideskripsikan sebagai struktural-interaktif karena menghubungkan secara tegas antara karakteristik kepribadian dengan jenis pekerjaan. Holland (dalam Herr, Cramer & Niles, 2004) mengajukan pendekatan struktural- enteraktif dalam beberapa tema umum, yaitu:
  1. Pilihan pekerjaan  adalah  ekspresi  dari  kepribadian dan  bukan  sebuah kejadian yang acak, meskipun ketidaksengajaan juga bermain peran
  2. Anggota   dari    sebuah    kelompok    pekerjaan    memiliki    persamaan kepribadian dan persamaan histori perkembangan individu.
  3. Karena  seseorang  dalam   kelompok   pekerjaan   memiliki   persamaan kepribadian, mereka akan merespon beberapa situasi dan permasalahan dengan cara yang sama.
  4. Prestasi,   kemantapan,   dan   kepuasan   pekerjaan   tergantung   pada kesesuaian antara kepribadian seseorang dan  lingkungan pekerjaan.
Menurut Gothard, dkk (2001) terdapat empat asumsi yang merupakan jantung teori Holland. Adapun keempat asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Kebanyakan orang dapat dikategorikan sebagai salah satu dari enam tipe: realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional.
  2. Ada enam tipe lingkungan pekerjaan: realistik, investigatif, artistik, sosial enterprising, dan konvensional.
  3. Orang menyelidiki lingkungan-lingkungan yang akan membiarkan atau memungkinkannya melatih keterampilan-keterampilan dan kemampuan- kemampuannya, mengekspresikan sikap-sikap dan nilai-nilainya, dan menerima masalah-masalah serta peranan-peranan yang sesuai.
  4. Perilaku seseorang ditentukan oleh interaksi antara kepribadiannya dan ciri-ciri lingkungannya
Sebagai tambahan, Holland (dalam Gothard, dkk, 2001; Spokane, Luchetta & Richwine, 2002) menyebut beberapa konsep kunci  yang lain. Adapun konsep kunci tersebut adalah sebagai berikut:
    1.      Consistency. Beberapa pasangan tipe lebih dekat hubungannya daripada yang lainnya. Misalnya, tipe-tipe realistik dan investigatif lebih banyak persamaannya daripada tipe-tipe konvensional dan artistik.
    2.      Differentiation. Beberapa tipe kepribadian atau lingkungan lebih dibatasi secara jelas daripada yang lainnya. Misalnya, seseorang mungkin sangat menyerupai suatu tipe dan menunjukkan sedikit kesamaan dengan tipe- tipe lainnya, atau suatu lingkungan mungkin sebagian besar didominasi oleh suatu tipe tunggal.
    3.      Congruence. Terdapat derajat kesesuaian antara tipe kepribadian orang dan lingkungan. Misalnya, tipe-tipe realistik tumbuh dengan subur dalam lingkungan-lingkungan  realistik  karena  lingkungan  seperti  itu memberikan kesempatan-kesempatan dan menghargai kebutuhan- kebutuhan tipe realistik
    4.      Identity.  Identity  merupakan  indikator  tingkat  kejelasan  gambaran tujuan, minat dan bakat seseorang. Identity terkait dengan diferensiasi dan konsistensi dalam menentukan kekuatan kepribadian dan lingkungan.
    5.      Calculus. Teori   Holland   menggambarkan   bagaimana   individu   berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana karakteristik individu dan lingkungan mengakibatkan pilihan dan penyesuaian pekerjaan (Spokane & Cruza-Guet, 2005; Gottfredson, 1999).
Holland membagi enam tipe kepribadian   yang  berkorelasi  dengan  tipe  lingkungan  pekerjaan,   yaitu realistik,  intelektual,  artistik,  sosial,  enterprising,  dan  konvensional (Ferguson, 2008; Gothard, dkk, 2001; Spokane, Luchetta & Richwine, 2002; Herr, Cramer & Niles, 2004; Kidd, 2006; Nathan & Hill, 2006).
1.        Realistik Tipe realistik preferensinya pada aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi eksplisit, teratur, atau sistematik terhadap obyek- obyek, alat-alat, mesin-mesin, dan binatang-binatang.
2.        Investigatif. Tipe Investigatif memiliki preferensi untuk aktivitas-aktivitas yang memerlukan penyelidikan observasional, simbolik, sistematik, dan kreatif terhadap fenomena fisik, biologis, dan kultural agar dapat memahami dan mengontrol fenomena tersebut, dan tidak menyukai aktivitas-aktivitas persuasif, sosial, dan repetitif.
3.        Artistik. Tipe Artistik   lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang ambiguous, bebas,   dan   tidak   tersistematisasi   untuk   menciptakan   produk-produk artistik, seperti lukisan, drama, karangan.
4.        Sosial. Tipe Sosial lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang melibatkan orang-orang lain dengan penekanan pada membantu, mengajar, atau menyediakan bantuan
5.        Enterprising. Tipe Enterprising lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang melibatkan manipulasi terhadap orang-orang lain untuk perolehan ekonomik   atau   tujuan-tujuan   organisasi.   Tidak   menyukai   aktivitas- aktivitas yang sistematik, abstrak, dan ilmiah.
6.        Konvensional. Tipe Konvensional lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi data yang eksplisit, teratur, dan sistematik guna memberikan kontribusi kepada tujuan-tujuan organisasi
Teori Holland mengemukakan bahwa terdapat enam tipe kepribadian dan lingkungan kerja. Enam tipe kepribadian dan lingkungan pekerjaan tersebut seringkali disebut dengan RIASEC, yang merupakan singkatan dari Realistic,  Investigative,  Artistic,  Social,  Enterprising,  and  Conventional.
Implikasi Teori Holland dalam Bimbingan dan Konseling
Holland menyebut kesejajaran antara tipe kepribadian dan tipe lingkungan kerja sebagai congruence (Donohue, 2005). Jika tipe kepribadian individu dan tipe lingkungan kongruen, maka dipercaya individu akan lebih mantap   dalam   pilihan  karier,  prestasi   pekerjaan   lebih   tinggi,   prestasi akademik lebih tinggi, lebih menjaga kemantapan personal, dan lebih puas (Brown, 2007).
Akan tetapi, banyak individu yang kurang memahami tipe kepribadian yang dimiliki dan lingkungan kerja yang diminatinya. Akibatnya banyak dari mereka yang tidak mendapatkan kesesuaian antara minat karier dan lingkungan kerja. Selain itu, mereka juga tidak memahami dan tidak mengetahui  bagaimana  cara  mendapatkan  kesesuaian  antara  minat  karier yang sesuai dengan tipe kepribadian dan lingkungan kerja yang diminatinya.
Sehingga, ketika mereka terjun ke dunia pekerjaan tingkat kepuasan kerja individu tersebut cenderung rendah. Salah satu implikasi paling penting dari teori Holland adalah konselor dapat membantu konseli menganalisis minat dan lingkungan kerja mereka serta memahami hubungan keduanya (Kidd, 2006). Dengan membantu menganalisis   minat dan lingkungan kerja, maka akan dapat memfasilitasi konseli dalam memantapkan minat kerjanya dan menyesuaikannya dengan lingkungan kerja. Kesesuaian dari minat kerja dan lingkungan kerja ini akan meningkatkan kepuasan kerja konseli.
Kritik Teori Holland
Teori karier yang dikembangkan oleh Holland menuai beberapa kritik. Adapun beberapa kritik tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Teori  yang  dikembangkan  oleh  Holland  ini  terlalu  sederhana  dalam mengklasifikasikan individu dalam enam tipe kepribadian dan tipe lingkungan pekerjaan serta menyatakan individu akan memiliki kepuasan kerja jika tipe kepribadiannya sesuai dengan tipe lingkungan pekerjaan.
  2. Teori  karier  yang  dikembangkan  oleh  Holland  ini  kurang  mengakui kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri, dalam hal ini adalah menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan. Padahal manusia memiliki potensi yang kuat untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan.
  3. Teori  Holland  ini  memandang  individu  hanya  memiliki  satu  tipe kepribadian yang kuat dan akan berkorelasi dengan tipe lingkungan pekerjaan. Misalnya individu yang memiliki tipe kepribadian artistik hanya  dominan  memiliki  kemampuan  di  tipe  lingkungan  peerjaan artistik.
Kesimpulan
Teori Holland memberikan perhatian pada karakteristik perilaku atau tipe kepribadian sebagai penyebab utama dalam pilihan dan perkembangan karier. Holland membagi enam tipe kepribadian yang berkorelasi dengan lingkungan pekerjaan, yaitu realistik, intelektual, artistik, sosial, enterprising, dan   konvensional.   Setiap   individu   perlu   menemukan   tempat   kerja (lingkungan  kerja)  yang  sesuai  dengan  tipe kepribadiannya. Semakin  baik tingkat kecocokan antara tempat kerja dan gambaran tipe kepribadiannya, semakin meningkat kepuasan orang tersebut dengan pekerjaannya.
Rujukan:


Armstrong,  P.I.,  dkk.  2008.  Hollands  RIASEC  Model  as  an   Integrative Framework for Individual Differences. Journal of Counseling Psychology, 55 (1): 1-18.
Brown,   D.   2007.   Career   Information,   Career   Counseling,   and   Career Development. USA: Pearson Education, Inc.
Donohue,  R.  2005.  Person-Environment  Congruence  in  Relation  to  Career Change and Career Persistence. Journal of Vocational Behavior, 68: 504- 515.
Feist, J. & Feist, G.J. 2006. Theories of Personality. New York: Mc Graw Hill.
Ferguson.   2008.  Careers  and  Vocational  Guidance.  New  York:   Infobase Publishing.
Gothard, dkk. 2001. Careers Guidance in Context. London: SAGE Publications Ltd.
Gottfredson,   G.D.   1999.   John   L.   Hollands   Contributions   to   Vocational Psychology: A Review and Evaluation. Journal of Vocational Behavior, 55: 15-40.
Herr, E.L., Cramer, S.H. & Niles, S.G. 2004. Career Guidance and Counseling throgh the Lifespan: Systematic Approaches. Boston: Pearson.
Holland, J.L. 1997.  Making Vocational Choices. New Jersey: Prentice Hall.
Kidd,  J.  M.  2006.  Understanding  Career  Counselling:  Theory, Research  and Practice. London: SAGE Publications Ltd.
Nathan, R & Hill, L. 2006. Career Counselling. London: SAGE Publications Ltd
Osipow, S.H. 1983.   Theories of Career Development.   London: Prentice-Hall International Inc.
Spokane A.R., Luchetta, E.J. & Richwine, M.H. 2002. Career Choice and Development (D. Brown & Associates, Ed.). San Francisco: John Wiley & Sons, Inc.
Spokane, A.R. & Cruza-Guet, M.C. 2005. Career Development and Counseling Putting Theory and   Research to Work (D.S. Brown & R.W. Lent, Ed.). New Jersey: JohnWiley & Sons, Inc.


0 comments:

Post a comment