Sunday, 14 June 2020

Teknologi Pendidikan


A.    Konsep Teknologi Pendidikan
Istilah ‘Teknologi’ berasal dari kata Yunani technologis. Technie berarti seni, keahlian atau sains; dan logos berarti ilmu. Teknologi Pendidikan dalam arti sempit bisa merupakan media pendidikan, yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan agar berhasil guna, efisien dan efektif.
Sedang dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Dari definisi tersebut minimal ada dua hal yang penting digaris bawahi : Proses dan belajar manusia. Dalam konteks yang lebih umum , atau hanya dalam Proses pembelajaran , teknologi merupakan pengembangan, penerapan, penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia.Semua itu dapat terwujud dengan adanya komunikasi.
Teknologi Pendidikan menurut Percival & Ellington, 1984 (Inggris), Istilah penting tentang teknologi pendidikan, proses belajar, kondisi belajar, keefektifan, efisiensi dan empirik. Lembaga teknologi pendidikan di Inggris yaitu CET for UK, dan NCPL UK Pada halaman 19 – 20 dari buku tentang “Educational Technology”, mereka mengutip definisi Council for Educational Technology for the UK, yang menjabarkan teknologi pendidikan sebagai pengembangan, penerapan dan evaluasi atas sistem, tehnik, serta alat bantu untuk meningkatkan proses belajar (manusia).
Selain definisi ini, mereka juga mencantumkan definisi yang berasal dari National Centre for Programmed Learning, UK. Definisi tersebut berbunyi antara lain “teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah mengenai belajar dan kondisi belajar untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi pengajaran dan pelatihan. Jika tidak ada temuan atau prinsip ilmiah, maka teknologi pendidikan menggunakan tehnik teruji secara empirik untuk meningkatkan proses belajar”. Mereka berpendapat pola terapan teknologi pendidikan terjadi berupa proses berulang dan pendekatan sistem sebagai alur berpikir dalam merancang situasi mengajar / belajar dan memanfaatkan metode atau tehnik apa saja yang dianggap sesuai untuk pencapaian tujuan belajar. Pendekatan sistem  diharapkan agar dapat diselaraskan dengan rancangan materi dan luwes terhadap perkembangan terbaru proses belajar serta kemajuan di bidang pendekatan mengajar/belajar berikut metodenya. Teknologi Pendidikan sebagai suatu teknologi.
Teknologi pendidikan/instruksional sebagai suatu teknologi telah memenuhi persyaratan, diantaranya :
  • Ilmiah, yaitu teknologi pendidikan telah teruji melalui serangkaian penelitian / pengembangan teori
  • Terbuka, berarti teknologi pendidikan dapat diubah, disesuaikan dengan situasi belajar-mengajar
  • Inovatif, adalah penyesuaian terhadap masukan bidang lain agar tetap berhasil dalam proses belajar
  • Sistemik, yaitu alur berpikir yang menekankan keterhubungan antar komponen serta pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan belajar.
  • “Technology phobia vs technology fever” (fobi teknologi vs demam teknologi): seringkali ada orang yang “takut” (terkena aliran listrik) atau ragu-ragu untuk menggunakan teknologi karena kemungkinan teknologi tadi terlihat rumit dan tidak akrab namun terkadang ada orang yang “sangat” menyukai teknologi sehingga sangat tergantung akan keberadaan teknologi.

  1. Landasan Teknologi Pendidikan
1.    Landasan Filosofis Teknologi Pendidikan
Landasan Falsafah Penelitian teknologi pendidikan, terdiri atas 3 komponen seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri (dalam Miarso 2007: 103) . Ada 3 jenis komponen dalam teknologi pendidikan yaitu: ontology (apa), epistemology (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa).
  • Ontologi : merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya itu apa
  • Epistemologi : Pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu
  • Aksiologi : Menelaah tentang nilai guna, baik secara umum maunpun secara khusus, baik secara kasad mata maupun secara abstrak.
Yang menjadi kajian dalam penelitian teknologi pendidikan menjadikan beberapa perkembangan dalam bidang pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Ashby ( dalam Miarso 2011:104) yaitu adanya revolusi dalam bidang pendidikan
·       Revolusi I: Pada saat orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada oran lain. Orang lain tersebut diserahi untuk melaksanakan pendidikan anak-anaknya. Sebelumnya orang-orang melaksanakan pendidikan anak-anaknya sendiri-sendiri atau mengajar anak-anak sendiri tidak memberikan kepada orang lain, hampir semua keluarga mendidik anak-anaknya dalam keluarga sendiri. Pendidikan yang dilakukan secara individual.
Revoluasi II: Ada suatu lembaga guru, jadi pada tahapan ini ada lembaga pendidikan formal. Tidak seperti sebelumnya belum ada lembaga resmi yang ada sehingga pendidikan dilaksakan orang per orang. Dalam lembaga ada aturan-aturan yang diberlakukan, contohnya untuk masuk SR usianya 6 tahun dan lain-lain. Dalam revoluasi ini guru dianggap sangat penting segala sesuatu dianggap diketahui oleh guru, dan guru dipandang memiliki pengetahuan yang lebih dari orang lain. Sehingga lembaga ini memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat.
·       Revolusi III: Disebabkan oleh ditemukannya mesin cetak, cetak secara manual dilakukan oleh Cina, dan cetak dengan menggunakan mesin cetak dilakukan oleh Eropa (Prancis). Dengan mesin cetak maka pengetahuan tidak hanya diperoleh dari guru tetapi dapat diperoleh dari hasil cetakan seperti: buku, majalah, koran dan lain-lain. Pada revolusi ke-3 ini peran guru sudah mengalami pengurangan. Revolusi ke-3 sampai dengan saat ini masih terjadi
·       Revolusi IV : Disebabkan oleh berkembangnya bidang elektronik sepeti telpon, tv, komputer, internet dimana guru tidak dapat lagi untuk mengontrolnya. Atau minimal peran guru berkurang, dan guru tidak dapat mengklaim dirinya sebagai.
Sudut pandang yang baru mengenai teknologi pendidikan menggunakan beberapa pendekatan dengan ciri-ciri:
·         Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah
·         Unsur-unsur yang berkempentingan diintegrasikan dalam suatu proses komplek secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan dikelola sebagai satu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah
·         Penggabungan ke dalam proses yang komplek dan perhatian agar gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. (Miarso, 2007: 108)


Ada 6 hal kegunaan yang potensial dalam teknologi pendidikan yaitu:
1. Meningkatkan peroduktivitas pendidikan dengan jalan
  • memperlaju penahanan belajar
  • membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
  • mengurangi beban guru dalam penyajian informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
2. Memberikan kemungkinanan pendidikan yang sifatnya  individual dengan jalan:
  • mengurangi kontrol guru yang kaku dan sederhana
  • memberikan kesempatan anak sesuai kemampuannya
3. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan:
  • perencanaan program pengajaran yang lebih sistematik
  • pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku
4. Lebih menerapkan pelajaran, dengan jalan:
  • meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
  • penyajian informasi dan data secara lebih konkrit
5. Memungkinkan belajar lebih akrab:
  • mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan diluar sekolah
  • memberikan pengetahuan tangan pertama
6.   Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan:
  • pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka
  • penyajian informasi menembus batas geografi

2. Landasan Psikologi Teknologi Pendidikan
Dalam pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dianggap melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Pola tingkah laku tersebut meliputi aspek rohani dan jasmani. Menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan dan menyangkut sikap nilai. Siswa yang belajar dipandang sebagai organisme yang hidup sebagai satu keseluruhan yang bulat. Ia bersifat aktif dan senantiasa mengadakan interaksi dengan lingkungannya, menerima, menolak, mencari sendiri dapat pula mengubah lingkungannya.
Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar.
Menurut Lumsdaine (dalam Khadijah 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam Khadijah 2009) berpendapat bahwa teknologi pendidikan merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pembelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan “front-end analysis”, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya “performance problem analysis”. Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai “performance technology”.
Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan “Human resources management technology”.

3.   Landasan Sosiologis Teknologi Pendidikan
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja di bentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Sociology adalah penggunaan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan social dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyrakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.
Landasan Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal. Sosiologi dalam Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik.
Jadi, secara umum landasan sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena sosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain.

4.   Landasan Komunikasi Teknologi Pendidikan
Peranan teknologi dalam belajar yang dirancang sebagai tujuan pengajaran yang lebih efektif dan ekonomis merupakan peranan komunikasi yang sangat penting sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu landasan komunikasi teknologi pendidikan ada pada komunikasi insani. Seorang ahli komunikasi dari Amerika Wilbur schramm menjabarkan pengertian ilmu komunikasi itu ke dalam 3 kategori pokok dengan berbagai istilah yaitu :
  • Encoder yaitu, Penyampai pesan dalam hal ini Guru.  guru mempunyai informasi tertentu dan benar, kecepatan yang optimal dan sampai pada penerima informasi yaitu para siswa.
  • Signal yaitu pesan, berita pernyataan yang ditujukan kepada dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima pesan itu yang dilukiskan dalam bentuk gerak tangan, mimic, wajah, gambaran, foto, grafik, peta, diagram dll.
  • Decoder yaitu Penerima pesan yaitu siswa, mampu memahami isi pesan yang diterimanya.

C. Pendekatan dalam mencari kebenaran
Penelitian pada hakekatnya merupakan usaha mengungkap kebenaran. Pada dasarnya semua manusia selalu ingin menari kebenaran, namun demikian, cara menunjukkan atau cara memperoleh kebenaran tersebut berbeda-beda. Kebenaran ilmiah dapat diperoleh melalui berbagai cara yang dilandasi oleh pendekatan tertentu.

  1. Pendekatan positivistic
Pemikiran yang diungkapkan oleh eichelberger memberikan 3 landasan yang didapat digunakan dalam landasan penelitian baru, yaitu positivistic, fenomelogik dan hermeneutic.
Positivistic: landasan ini memberikan gagasan keberadaan besaran yang dapat diukur, dan penulis hanya sebagai pengamat yang obyektif. Pokok dari paham ini adalah “jika sesuatu itu ada maka, sesuatu itu dapat diukur”. Penelitian ini misalkan di lakukan secara laboratorik dan berulang. Dari penelitian ini melahirkan pengajaran terprogram “mesin pengajaran” (teaching machine). Fakta-fakta yang didapat dalam penelitian ini diuji secara empiric. Misalkan kita akan melakukan pengukuran tentang motivasi belajar maka dapat dijabarkan ke dalam indicator variable seperti motivasi belajar, cara belajar, usaha yang dilakukan, persaingan dan lain-lain. Data-data yang diperoleh harus diubah ke dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung secara statistic. Paham positivistic saat ini sangat dominan dalam penelitian khususnya dalam penelitian bidang IPA.
Fenomenologik, dikembangkan oleh matemtikawan Jerman Edmund Husserl (1850 – 1938) paham ini mengutamakan pada pengalaman dan kesadaran yang disengaja. Jadi pengalaman bukan saja pada interaksi dengan lingkungan belajar tetapi melainkan pelajaran yang diperoleh dalam rentang waktu tertentu. Untuk mendapatkan pengalaman diperlukan pemikiran, perasaan, tanggapan, dan berbagai ungkapan, tanggapan dan berbagai ungkapan psikologis atau mental.
Paradigma fenomenologik adalah akal sehat (common sense) yang oleh para penganut positivistic dianggap sebagai sesuatu yang kurang ilmiah. Fenomelogik tidak semata-mata berpangku pada data dan informasi yang ada tetapi mengadopsi pengalaman khusus menjadi umum, konkrit menjadi abstrak yang mempunyai sifat holistic. Semua diungkapkan secara naratif dengan memberikan uraian yang rinci dan mengenai hakikat suatu obyek atau konsep kebenaran ini syarat dengan nilai.
Hermeneutic dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dithey yang memberikan ciri bahwa pencarian kebenaran dengan menafsirkan atas gejala yang ada. Sejarawan menafsirkan legenda, artefak, naskah kuno dengan menggunakan kondisi yang ada saat ini. Demikian juga para ahli tafsir kitab suci menafsirakan ayat-ayat yang ada dengan keadaan yang tren saat ini. Ahli hukum juga memberikan tafsiran pada sehingga secara umum pada paham ini memiliki bebas nilai yang sesuai dengan keadaan baik yang terlihat maupun sesuatu yang tidak terlihat. Di bawah ini perbandingan antara 3 paham.
Positivistik
Fenomenologik
Hermeneutic
Analitik
Holistik
Sintetik
Nomotetik
Ideografik
Interpretatik
Deduktif
Induktif
Sinkretik
Laboratorik
Empirik
Empatik
Pembuktian dengan Logika
Pengukuhan pengalaman
Penafsiran yang tidak memihak
Kebenaran Universal
Kebenaran bersifat unik
Kebenaran yang diterima
Bebas Nilai
Tidak bebas nilai
Tidak bebas nilai

  1. Pendekatan Pascapositivistik
Kebenaran pascapositivistik akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan sedemikian rupa. Dan keadaan ini akan terus mengalami perkembangan sehingga menemukan hal-hal yang baru yang lebih bersifat inovatif. Dalam dunia pendidikan kebenaran pascapositivistik yang terbaru dan terus mengalami perkembangan adalah masalah model-model pembelajaran seperti model pembelajaran berkelompok, model pembelajaran langsung dan model pembelajaran kontruktivis. Perkembangan ini akan terus bertambah seperti quantum learning dan quantum teaching yang merupakan produk-produk inovatif dalam penelitian teknologi pendidikan. Pendekatan pascapositivistik cenderung menggunakan teori secara bervariasi. Kebanyakan menggunakan teori sebagai “jendela” untuk mengamati gejala yang ada,  dan berdasarkan data empirik dari lapangan yang berhasil dikumpulkan, dianalisis dan disentesiskan dalam bentuk teori sebagai teori yang membumi. Dengan kata lain, tidak berusaha untuk membuktikan teori. Pendekatan ini senantiasa memandang manusia sebagai mahkluk yang unik, oleh karena itu dalam penelitian untuk memecahkan masalah belajar misalnya, penelitian ini cenderung menggunakan landasan teori belajar konstruktivis. Teori ini secara ringkas menyatakan bahwa Setiap orang mengkonstruk (membangun) pengetahuan, sikap atau keterampilan berdasarkan pengalaman, pengetahuan yang telah ada sebelumnya, serta keserasian dalam lingkungannya. Jadi bersifat subyektif. Namun kalau apa yang dibangunnya itu dapat diterima oleh lingkungannya, maka terjadilah gejala yang dikenal dengan inter-subyektivitas. Pendekatan positivistik pada dasarnya menggunakan teori dalam merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian, dan kemudian berusaha membuktikannya. Teori dianggap sebagai penjelasan dan peramalan ilmiah (scientific explanation and prediction).
Pendekatan pascapositivistik cenderung menggunakan teori secara bervariasi. Kebanyakan menggunakan teori sebagai “jendela” untuk mengamati gejala yang ada,  dan berdasarkan data empirik dari lapangan yang berhasil dikumpulkan, dianalisis dan disentesiskan dalam bentuk teori sebagai teori yang membumi. Dengan kata lain, tidak berusaha untuk membuktikan teori. Pendekatan ini senantiasa memandang manusia sebagai mahkluk yang unik, oleh karena itu dalam penelitian untuk memecahkan masalah belajar misalnya, penelitian ini cenderung menggunakan landasan teori belajar konstruktivis. Teori ini secara ringkas menyatakan bahwa Setiap orang mengkonstruk (membangun) pengetahuan, sikap atau keterampilan berdasarkan pengalaman, pengetahuan yang telah ada sebelumnya, serta keserasian dalam lingkungannya. Jadi bersifat subyektif. Namun kalau apa yang dibangunnya itu dapat diterima oleh lingkungannya, maka terjadilah gejala yang dikenal dengan inter-subyektivitas. Pendekatan positivistik pada dasarnya menggunakan teori dalam merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian, dan kemudian berusaha membuktikannya. Teori dianggap sebagai penjelasan dan peramalan ilmiah (scientific explanation and prediction).

D.    Kedudukan penelitian pada  teknologi pendidikan.
Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pendidikan sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2)
       Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pendidikan baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pendidikan. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut .
Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pendidikan sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pendidikan, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pendidikan, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pendidikan berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya.
Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pendidikan berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pendidikan. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pendidikan. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.


Khadijah, Nyanyu. 2009. Psikologi Pendidikan. Palembang: CV.Grafika Telindo

Miarso, Yusufhadi, 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Soekanto, Soerjono. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sukamadinata, Nana Syaudih. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

0 comments:

Post a comment