Sunday, 14 June 2020

STANDART PROFESI: ETIK, AKREDITASI DAN KREDENSIAL

STANDART PROFESI: ETIK, AKREDITASI DAN KREDENSIAL

A.    Etika
      Konselor profesional tidak cukup hanya memiliki ilmu, keterampilan dan kepribadian belaka, akan tetapi harus pula memahami dan mengaplikasikan kode etik konseling (KEK). Kebutuhan kode etik menjadi urgen ketika kita dihadapkan pada keanekaragaman budaya. Latar belakang ini sudah disadari oleh the American Psychological Association (APA) yang mempublikasikan kode etik pada tahun 1953. Tidak terpaut lama, the National Association Social Workers (NASW) mengadopi kode etik tersebut pada tahun 1960. Dan pada tahun 1961, the American Counseling Asociation (ACA) mengembangkan kode etik tersebut (Neukrug, 2007: 55).  Menurut Brace, 1992 (dalam Neukrug, 2007: 55), standar etik merupakan cerminan dari beberapa perubahan sosial masyarakat. Pada perkembangan dan revisi petunjuk kode etik, ditetapkan berdasarkan perilaku masyarakat menjadi tugas yang sulit. Sebaliknya, hubungan etis mereka percaya bahwa peran moral menjadi hal utama dalam budaya mereka. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa pendapat etik yang bervariasi yang didasarkan pada budaya dengan budaya lain atau situasi dengan situasi lain.
      Menurut Bergin, 1985 (dalam Neukrug, 2007: 55), keputusan dalam membuat kode etik seharusnya didasarkan pada persetujuan umum. Menurut Gert (2005), kepercayaan lain percaya bahwa keputusan etik didasarkan pada kepercayaan umum dengan hampir seluruh orang setuju dengan kepercayaan tersebut (dalam Neukrug, 2007: 55). Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penetapan kode etik didasarkan pada hasil perundingan di mana mengacu pada kepercayaan umum di atas beragam situasi dan budaya.
      Menurut Corey et al., 2006, Dolgoff, Loewenberg, & Harrington, 2005, Mabe&Rollin, 1986, (dalam Neugkrug, 2007: 57), manfaat petunjuk etik untuk membantu profesi konseling, antara lain :
1.   Mereka mencegah klien dan professional untuk hanya berada pada organisasi profesi
2.   Mereka memberikan pernyataan tentang identitas profesi yang professional dan dewasa
3.   Mereka membimbing profesi menuju tipe perilaku yang didasarkan pada penghargaan yang dipertimbangkan menjadi profesi yang diinginkan
4.   Mereka menawarkan kerangka untuk beberapa proses pembuatan etik
5.   Mereka dapat menawarkan sebagai satu ukuran pertahanan jika keprofessionalan terjadi mal-praktik
      Menurut Corey et al, (2006); Dolgoff, Loewnberg & Harrington, (2005); Mabe & Rollin, (1986) (dalam Neugkrug, 2007: 57), terdapat aspek negatif dalam penggunaan kode etik, antara lain:
1.   Kode tidak menekankan pada beberapa isu dan menawarkan respon p  erjalanan yang kurang jelas pada isu yang lain
2.   Ada beberapa konflik dengan kode yang sama, di antara kode dan h    ukum, dan di antara kode dan sistem penghargaan konselor
3.   Hal itu terkadang sulit untuk melakukan pelanggaran etik pada kode
4.   Kode tidak selalu tertuju pada penyelesaian isu




B.     Akreditasi
      Salah satu mekanisme untuk menyakinkan pelatihan yang terbaik adalah melalui program akreditasi. Pada 30 terakhir ini, profesi konselor telah membuat langkah besar dalam uapaya menuju akreditasi. Dewan untuk akreditasi konseling dan program pendidikan terkait adalah Council For The Accreditation of Counseling Relate Educational Program (CACREP).
a.       Gambaran Singkat dari Standart CACREP
CACREP menawarkan standart untuk gelar dokter dalam pendidikan konselor dan untuk gelar master dalam konseling komunitas konseling sekolah, konseling perguruan tinggi, kesehatan jiwa, konseling karir, konseling gerotognical, konseling/terapi kemahasiswaan, pernikahan, pasangan, dan keluarga. Dengan pengecualian dan kesehatan mental konseling yang membutuhkan tingkat master 60 jam/ semester. Masing-masing program membutuhkan minimal 48 jam/ semester untuk gelar master. Untuk program master semua mencari akreditasi CACREP, kurikulum persyaratan termasuk program kerja dibidang identitas profesi, keragaman sosial dan budaya, pertumbuhan dan perkembangan manusia, pengembangan karir, membantu hubungan, penilaian, kelompok dan penelitian serta evaluasi.
b.      Badan Akreditasi Lainnya
Sejumlah badan akreditasi lain yang menetapkan standart di bidang terkait. Misalnya, dewan Rehabilitasi Education (CORE, 2006), program akreditasi konseling rehabilitasi. Pada bidang lain yang terkait, ada beberapa program konseling pastoral dan akreditasi oleh American Association of Pastoral Counseling (AAPC).
C.    Kredensial
Salah satu metoden memastikan bahwa para profesional berkompeten dibidangnya adalah melalui akreditasi. Maksud lain adalah melalui kredensial. Berikut adalah keuntungan adanya kredensial (Neukrug, 2007: 73), antara lain:
1.   Meningkatkan keprofesionalan. Kredensial meningkatkan status dan identitas anggota dalam profesi tentang siapa anggota profesi tersebut.
2.   Adanya keseimbangan. Kredensial membantu konselor menerima keseimbangan dalam status profesi, gaji, penggantian asuransi dan lainnya dengan hubungan profesi kesehatan mental yang dekat.
3.   Adanya kejelasan peran dan tugas di lapangan. Proses meloloskan undang-undang / peraturan untuk mendapatkan kredensial yang mampu membantu profesi secara jelas untuk mendeskripsikan tentang siapa kita dan di mana ranah kita.
4.   Perlindungan masyarakat. Kredensial membantu mengidentifikasi masyarakat dalam setiap individunya untuk mampu melakukan pelatihan dan keterampilan dalam konseling secara tepat.
Ada tiga bentuk kredensial yaitu:
a.       Pendaftaran
Bentuk sederhana dari kredensial dan melibatkan pendaftaran anggota kelompok profesional tertentu (Sweeney, 1991). Pendaftran ini pada umumnya diatur oleh negara masing-masing, dalam artian bahwa setiap individu yang telah terdaftar memperoleh kompetensi minimal, seperti gelar sarjana, profesional dan/atau magang di daerah tertentu. Sertifikat melibatkan pengakuan formal bahwa seseorang individu dalam profesi, meskipun lebih ketat daripada pendaftaran, sertifikat kurang menuntut daripada lisensi.
b.      Sertifikat
Sertifikat sering dilihat sebagai perlindungan gelar,hal itu membuktikan seseorang dari tingkat kompetensi tertentu. Sebaliknya, lisensi cendrung untuk melingdungi judul dan menentukan praktek profesional, tidak hanya membuktikan tingkatkompetensi tertentu, tetapi mendefinisikan apa yang seorang dapat lakukan dan dimana ia dapat melakukannya. Biaya tahunan biasanya harus dibayar untuk mempertahankan sertifikat. Sertifikat dapat ditawarkan oleh dewan negara bagian atau nasional. Akhirnya, sertifikat juga dapat keseimbangan berkelanjutan untuk melanjutkan pendidikan bagi seseorang individu yang mempertahanka kredensial.
c.       Lesensi
    Bentuk yang paling ketat dari kredensial adalah lesendi. Umumnya diatur oleh negara, lisensi menandakan bahwa seseorang memiliki izin telah memenuhi standart yang ketat. Tenpa lesensi tidak dapat berlatih dalam arena profesional tertentu, (ACA, 2005) lesensi umunya mendefinisikan lingkup dimana seseorang individu bisa dan tidak bisa melakukan. Lisensi konselor telah menjadi kenyataan bahwa kebanyakan setiap negara mempunyai lisensi dan merupakan persyaratan yang diamanatkan dengan undang-undang.    

DAFTAR PUSTAKA
Neukrug, Ed. 2007. The world of the counselor:an intruduction to the counseling profession.united States: Thomson Brooks/cole.

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...