Sunday, 14 June 2020

Sejarah Konseling Sekolah


A.    Sejarah Konseling Sekolah
Sampai pada awal abad ke-20 belum ada konselor di sekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh guru, seperti dalam memberikan layanan informasi, layanan bimbingan  pribadi, sosial, akademik, dan karir. Dalam pembahasan ini, sejarah konseling sekolah akan dibagi menjadi dua kategori, yaitu sejarah konseling sekolah di Amerika dan sejarah konseling sekolah di Indonesia.
1.      Sejarah Konseling Sekolah di Amerika
Gerakan bimbingan dan konseling di sekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang pada siswa yang masuk ke sekolah-sekolah negeri. Pada permulaan abad ke-20 konselor sekolah yang pertama dilatih untuk menambah pemandu kerja.
Pada waktu yang hampir bersamaan, para ahli lainnya juga mengembangkan program bimbingan ini karena permasalahan menjadi lebih kompleks dan setiap orang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan untuk mengubah dunia dan kehidupannya secara cepat. Pengakuan kebutuhan akan latihan keahlian dalam pemandu kerja, Frank Parson mendirikan biro kerja Boston (Boston Vocational Bureau) pada tahun 1908 yang melatih guru-guru dan lain-lain dalam pemandu kerja. Parsons, yang mengembangkan pendekatan kepada panduan kerja, mempercayai bahwa pilihan kerja yang sesuai berdasarkan pada (1) Pemahaman jati diri, (2) Pengetahuan mengenai prinsip-prinsip sesuai dan informasi pekerjaan, dan (3) Kesanggupan untuk membuat suatu pekerjaan yang sesuai dengan pilihan yang berdasarkan pada pemahaman jati diri seseorang dan pengetahuan akan dunia kerja.
Dikenal sebagai “Founder Of Vacational Guidance” Parsons membantu menggolongkan dan membentuk suatu profesi baru, yaitu bimbingan dan konseling. Dia berhasil mempengaruhi pendidikan Amerika walaupun parsons meninggal diusia yang relative muda pada tahun 1908, akan tetapi usahanya dipertanggungjawabkan sebagai rujukan konseling sekolah yang pertama.
Sebagai ilmu baru  bimbingan kejuruan tersebar di seluruh Amerika Serikat, individu mulai menggunakannya untuk pendekatan yang lebih luas melalui konseling sekolah yang hadir untuk berbagai macam kebutuhan siswa secara psikologis maupun kebutuhan pendidikan.  Pada tahun 1932, para pendukung seperti John Brewer menyarankan bahwa bimbingan harus dilihat dalam konteks pendidikan total dan pembimbing terlibat dalam berbagai fungsi di sekolah, termasuk konseling penyesuaian, bantuan dengan perencanaan kurikulum, manajemen kelas, dan, tentu saja, bimbingan kerja.
Selama tahun 1930-an sampai tahun 1940-an bimbingan sekolah dibentuk oleh salah satu pendekatan komprehensif pertama untuk konseling, yang kemudian dikenal sebagai Point of View of Minnesota Williamson EG. Pendekatan direktif  ini terutama dipromosikan untuk menetapkan tujuan, mengatasi hambatan, dan mencapai gaya hidup yang memuaskan.
Selama tahun 1940-an pendekatan direktif dari EG Williamson adalah untuk, berorientasi pada hubungan, pendekatan humanistik Carl R. Rogers dan lain-lain.Upaya memperkuat identitas profesi konseling di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1952 setelah lahirnya asosioasi konselor yang disebut American School Counselor Association (ASCA), melalui upaya-upaya pengembangan professional, riset, dan advokasi promosi identitas konselor. Untuk menyiapkan konselor professional dimulai melalui pendidikan khusus, penekanan ketrampilan konseling perorangan dan  layanan bimbingan dan konseling yang mencakup: pengumpulan data, informasi, penempatan, tindak lanjut, dan evaluasi (Neukrug, 2007).
2.      Sejarah Konseling Sekolah di Indonesia
Layanan bimbingan dan konseling di Indonesia mulai dibicarakan secara terbuka sejak tahun 1962. Ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA, yaitu terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas 1 menjadi di kelas 2. Program penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Pemikiran ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960.
Perumusan rencana pelajaran SMA ini disusul dengan berbagai kegiatan pengembangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti rapat kerja, penataran, dan lokakarya. Puncaknya adalah didirikannya jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di dua IKIP Negeri di Indonesia. Perguruan tinggi yang membuka jurusan Bimbingan dan Penyuluhan adalah IKIP Bandung dan IKIP Malang pada tahun 1963. IKIP Bandung ini sekarang dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan IKIP Malang dikenal sebagai Universitas Negeri Malang (UM).
Secara formal, bimbingan dan konseling diberlakukan di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan sekolah. Dan pada tahun ini pulalah berdiri Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang yang memberikan pengaruh terhadap perluasan program bimbingan di sekolah.
Dalam dekade 80-an bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Upaya-upaya dalam dekade ini lebih mengarah kepada profesionalisasi yang lebih mantap. Beberapa upayanya antara lain adalah penyempurnaan kurikulum menjadi Kurikulum 1984. Dalam kurikulum ini telah dimasukkan bimbingan karir di dalamnya.
Usaha memantapkan bimbingan terus dilanjutkan dengan diberlakukannya UU no. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan nagi peranannya di masa yang akan datang.” Meskipun sudah ada peraturan perundang-undangan yang menegaskan peranan bimbingan dan konseling di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah. Pada periode ini kebanyakan konselor di sekolah masih bersifat reaktif hanya bilamana ada kasus siswa.
Undang-Undang tersebut kemudian diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Bab X Pasal 25 tahun 1990 dan PP No. 29 Bab X Pasal 27 tahun 1990 yang menyatakan bahwa “bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.”
Penataan bimbingan terus dilanjutkan dengan dikeluarkannya SK Menpan No. 84 tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam pasal 3 disebutkan tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Perkembangan bimbingan dan konseling Indonesia menjadi semakin mantap dengan terjadinya perubahan nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) pada tahun 2001, pemunculan nama ini dilandasi pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapat pengakuan dan kepercayaan publik. Maka dalam sepak terjangnya, ABKIN telah banyak melaksanakan kegiatan berupa seminar, lokakarya maupun penerbitan buku dan jurnal dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalitas serta efektifitas profesi bimbingan dan konseling baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

B.     Peranan dan Fungsi Konselor Sekolah
Saat ini, peran dan fungsi-fungsi dari konselor sekolah mengalami pergeseran paradigma sebagai profesi seutuhnya dan mulai menangani berbagai komponen model. ASCA National Model mengidentifikasi empat sistem yang sangat penting untuk mengembangkan program konseling, yaitu: fondasi, pelayanan, manajemen, dan akuntabilitas. Berikut ini adalah ringkasan dari empat sistem model bimbingan yang telah mendapat dukungan dari pemerintah dalam profesi konseling sekolah, sekarang diajarkan dalam program pendidikan konselor dan diadopsi oleh sistem sekolah nasional. Berikut adalah penjelasan lengkap dari model ini:
1.      Fondasi/Dasar
Fondasi/dasar dari program konseling sekolah mencakup tiga komponen:
a.       Keyakinan dan filsafat: Menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mendorong program.
b.      Misi: Menjelaskan tujuan dari program ini, yang ditulis untuk semua siswa, menunjukkan keterkaitan sistem yang luas, dan mengidentifikasi hasil jangka panjang.
c.       Domain: Mendefinisikan akademis tertentu, karir, dan daerah personal/sosial yang akan ditujukan untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
2.      Pelayanan
Sistem pelayanan program ini menggambarkan bagaimana program akan dilaksanakan. Ini terdiri dari empat komponen:
a.       Bimbingan kurikulum: Mendefinisikan berbagai struktur pelajaran bimbingan, perkembangan ditawarkan melalui kegiatan kelas, bimbingan dan kelompok untuk membantu siswa mencapai tujuan mereka (misalnya, meningkatkan harga diri, meningkatkan kemampuan belajar). Tujuan kegiatan ini adalah siswa, orang tua, guru, dan lain-lain untuk mencapai tujuan tersebut.
b.      Perencanaan individu siswa: Ini adalah kegiatan yang dirancang untuk membantu setiap siswa mengelola akademiknya, karir, dan pengembangan pribadi / sosial. Umumnya, hal ini dilakukan melalui kelompok kecil atau konseling individu dan kegiatan penilaian.
c.       Layanan Responsif: Ini meliputi berbagai metode konseling yang digunakan untuk menanggapi keprihatinan mahasiswa dan meliputi konseling individu dan kelompok kecil, konseling krisis, mengacu pada para profesional lainnya yang  memfasilitasi kegiatan (misalnya, mediasi).
d.      Dukungan sistem: ini mengacu pada kegiatan-kegiatan yang mendukung konselor sekolah secara efektif menjalankan program. Mereka mencakup hal-hal seperti kegiatan profesional berkembang, konsultasi, kolaborasi, dan bekerja sama dengan pemegang kendali yang kritis, manajemen program dan operasional (misalnya, anggaran), dan memastikan bahwa konselor dan orang lain melakukan pembagian tanggung jawab yang adil dari yang diperlukan untuk secara efektif menjalankan program yang ada di sekolah.
3.      Manajemen
Sistem manajemen mencakup alat dan proses yang diperlukan untuk berhasil menjalankan program. Ini terdiri dari enam komponen:
a.       Manajemen perjanjian: Ini termasuk kesepakatan dengan administrator mengenai apa saja aspek program konselor yang bertanggung jawab dan bagaimana tanggung jawab dibagi antara para pemangku kepentingan.
b.       Dewan Penasehat: Ini merupakan kelompok pemegang kendali yang ditunjuk untuk meninjau program (misalnya, siswa, orang tua, guru, administrator, dll).
c.       Penggunaan data: ini melibatkan penggunaan analisis data dan pemilahan data untuk memastikan bahwa siswa mencapai tujuan mereka dan dapat mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
d.      Rencana Aksi: Ini melibatkan rencana spesifik untuk mencapai semua tujuan  siswa dan untuk mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
e.       Penggunaan waktu: ini menjelaskan waktu tertentu dihabiskan untuk memberikan layanan untuk semua komponen dari program konseling.
f.       Kalender: Ini melibatkan menyiapkan kalender mingguan dan semester untuk memastikan bahwa semua pemegang kendali tahu apa yang dijadwalkan.
4.      Akuntabilitas
Tujuan akuntabilitas adalah "Bagaimana mengatasi siswa yang bermasalah sebagai hasil dari program ini?" (ASCA, 2005a, hal. 23). Ada tiga komponen dari akuntabilitas:
a.       Hasil laporan: Ini termasuk evaluasi program yang dijalankan oleh konselor sekolah serta evaluasi perubahan siswa dari waktu ke waktu di seluruh sekolah. Hasil tersebut digunakan untuk mengubah program dan harus dibagi dengan para pemangku kepentingan.
b.      Standar Kinerja: Ini melibatkan evaluasi konselor sekolah melalui skala rating dan komentar tertulis untuk menilai apakah konselor telah efektif dalam menangani standard yang ditentukan yaitu masing-masing tiga belas, yang didasarkan pada komponen yang tercantum dalam empat sistem yang telah dikemukakan (dasar, pengiriman, manajemen, dan akuntabilitas).
c.       Audit Program: Di sini, audit besar manfaatnya untuk melihat bagian dari masing-masing empat sistem tersebut untuk melihat apakah telah berhasil dilaksanakan. Sedangkan tujuan standar kinerja adalah apakah konselor sekolah memiliki implementasi komponen, dan audit berfungsi untuk memeriksa apakah komponen telah berhasil dalam mencapai tujuan tersebut (Neukrug, 2007).
Ada pula empat tema yang merupakan implementasi dari empat sistem dari model bimbingan dan konseling di atas, yaitu:
1.      Kepemimpinan (leadership)
Kemampuan untuk mempengaruhi tindakan orang lain, pemimpin yang baik bekerjasama, fasilitatif, professional, berdaya upaya dan mendukung. Bila para konselor sekolah mengubah bentuk dari program konseling pada paradigma baru yang dikelompokkan dalam model nasional ASCA. Bila hal hal tersebut membantu secara signifikan dalam mengurangi achievemet gap, dan akan memakai peranan dari kepemimpinan di sekolah. Hal itu meliputi pertunjukan jasa sebagai kerjasamanya dengan para stakeholder. Hal itu berarti konselor sekolah tidak akan bisa berisolasi lebih lama dari misi dari sistem pendidikan itu sendiri, sementara harus ada kritikan dan dukungan dalam sistem itu.
2.      Pembelaan (Advokasi)
Para konselor sekolah perlu membela program-program itu akan membahas keperluan dari semua siswa dan beberapa siswa yang keberatan dengan sistem itu. Itu berarti adanya kemauan untuk berpendapat di sekolah dan adanya kemauan untuk mengambil resiko pada stakeholder. Meskipun seorang advokad yang baik  mengerti keadaan sekolah dan menjadi seorang tim pemain, dia juga mau menyampaikan saran untuk perubahan bila diperlukan, khususnya ketika perubahan itu merujuk pada perkembangan optimal pada diri siswa.
3.    Kerjasama dan tim
Konselor sekolah harus mampu bekerjasama dengan semua stakeholder meliputi, siswa siswa, orang tua, guru guru, administrator dan personel lain. Kemampuan secara efektif dalam penggunaan keterampilan interpersonal seseorang dalam suatu dukungan untuk membangun hubungan yang penuh kritikan untuk menjadikan kerjasama yang sukses. Kerjasama  sukses dengan stakeholder- stakeholder penting yang meruakan sebuah cara yang tepat untuk koselor sekolah bisa membantu menemukan kebutuhan  dari semua siswa.
4.      Perubahan sistemik
Karena fakta menyatakan bahwa mereka adalah satu diantara sedikit individu di sekolah yang mempelajari sistem data yang luas serta karena mereka adalah orang–orang yang saling bekerjasama mengerjakan pekerjaan dengan semua stakeholder di sekolah, para konselor sekolah berada dalam posisi yang unik untuk memahami kebutuhan sistemik dari sekolah (Neukrug, 2007)

C.    Teori dan Proses Konseling Sekolah
Karena konselor sekolah terlibat dalam berbagai tugas, seperti teori dan proses yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang banyak. Dengan demikian, konselor sekolah perlu memiliki pengetahuan tentang berbagai teori yang tepat untuk melaksanakan program konseling seperti yang diidentifikasi dalam Model Nasional. Ini termasuk pengetahuan tentang konseling teori, teori pengembangan karir, teori pembangunan manusia, dan teori sistem.
a.       Teori Konseling
Ada sejumlah teori konseling, yang semuanya dapat di gunakan untuk mengatasi masalah siswa. Misalnya, teori-teori psikodinamik dapat membantu konselor sekolah memahami asal-usul masalah dengan anak-anak. Teori humanistik adalah keterampilan konseling  yang diperlukan  konselor sekolah untuk memahami dunia batin anak-anak, dan teori-teori kognitif dan perilaku dapat digunakan oleh konselor  yang ingin menetapkan tujuan spesifik yang berfokus pada perubahan perilaku atau kognisi. Meskipun konselor sekolah dilatih dalam semua pendekatan teoritis, karena keterbatasan waktu pada pekerjaan, mereka cenderung mempraktekkan pendekatan teoritis modalitas jangka pendek atau pengobatan singkat. Oleh karena itu, pendekatan terapi perilaku, kognitif, dan kenyataan yang sering digunakan (Neukrug & Williams, 1993), serta pendekatan singkat dan solusi-terfokus (Erford et al, 2003;. Sink, 2005). Dalam beberapa tahun terakhir, konseling Adlerian telah menjadi populer karena fokusnya pada pemahaman posisi anak dalam keluarganya dan bagaimana posisi yang mempengaruhi perilaku anak. Meskipun pendekatan humanistik cenderung berat karena jumlah waktu yang mereka ambil, yang empatik, komponen penting dari pendekatan humanistik, telah menjadi alat penting untuk membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan.
b.      Teori Perkembangan Karir
Sejumlah teori perkembangan karir dapat berhasil diterapkan di sekolah-sekolah. Teori yang mungkin paling penting adalah teori perkembangan pendekatan pembangunan hidup jangka panjang, karena membantu konselor sekolah menyusun program karir yang sesuai dengan tingkat usia anak-anak. Setelah program tersebut dibuat, sejumlah teori lainnya dapat diterapkan, asalkan mereka sesuai dengan tingkat usia. Misalnya, teori perkembangan dasar adalah untuk merancang program karir untuk anak-anak sekolah dasar, karena teori ini mengingatkan kita bahwa anak-anak muda yang baru mulai menjelajahi dunia kerja, sifat dan faktor dan teori kepribadian dapat diterapkan di sekolah menengah sebagai anak-anak yang mulai untuk memeriksa siapa mereka dan apa yang mereka anggap baik, dan  teori karir kognitif serta teori konstruktivis yang penting bagi siswa sekolah tinggi karena mereka mulai memeriksa realitas kerja atau kuliah dan untuk melihat bagaimana mereka memahami dunia.
c.       Teori  Perkembangan Manusia
Teori perkembangan normal serta perkembangan dari orang-orang abnormal sangat penting, tugas konselor sekolah adalah untuk memahami bagaimana anak-anak mengembangkan program  jangka panjang hidup mereka. Dengan demikian, pengetahuan perkembangan fisik dan perkembangan kognitif membantu konselor sekolah mengidentifikasi para siswa berbakat yang mungkin perkembangannya tertunda. Pengetahuan tentang perkembangan moral membantu konselor sekolah memahami dunia remaja yang sedang berkembang yang terkadang penuh dengan pergolakan. Pendekatan pengembangan hidup jangka panjang, seperti yang dikatakan Erikson, dapat membantu konselor sekolah menentukan apakah seorang siswa berjalan dengan normal dan dapat membantu untuk mengidentifikasi intervensi yang tepat jika diperlukan. Dan, teori perkembangan kepribadian dapat membantu konselor sekolah memahami mengapa seorang siswa mungkin akan menunjukkan beberapa perilaku abnormal.
d.      Teori Sistem
Teori sistem diterapkan untuk konseling keluarga, konseling kelompok, dan konsultasi dan pengawasan. Jelas, pengetahuan tentang ketiga sistem adalah bagian yang penting dari pekerjaan konselor sekolah. Mengetahui bagaimana anak-anak "cocok" ke dalam keluarga mereka dan memahami dinamika kompleks keluarga dasar untuk bekerja dengan anak-anak dan orang tua. Mampu bekerja secara efektif dengan kelompok anak-anak dan memiliki wawasan tentang interaksi yang  kadang rumit yang dapat terjadi, sangat penting konselor sekolah untuk bekerja secara efektif dalam kelompok. Dan memahami kompleksitas dari sistem sekolah dan bagaimana menggunakan pengetahuan itu untuk secara efektif berkonsultasi yang merupakan tugas utama dari konselor sekolah. Akhirnya, melihat pentingnya pengawasan oleh kepala sekolah, direktur bimbingan, dan lain-lain, dan memahami pentingnya mengawasi orang lain, seperti konselor sekolah, adalah salah satu bagian sistemik untuk konselor sekolah yang efektif.


D.    Latar Kerja Konselor Sekolah
Meskipun ada banyak kesamaan dalam pelatihan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan konselor sekolah menengah atas, ada beberapa perbedaan besar dalam tugas konselor sekolah sebenarnya  sebagai fungsi pengaturan. Melihat distribusi pelayanan, kita menemukan bahwa, dibandingkan konselor sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan konselor sekolah menengah atas semakin berkurang dalam melakukan kegiatan bimbingan dan konseling kelompok dan banyak lagi kegiatan administrasi, dan aktivitas bukan bimbingan. Di sisi lain, persentase waktu melakukan pengujian, pengembangan profesional, konsultasi, koordinasi sumber daya, dan konseling individual tetap cukup konstan. Sebagai Model Nasional menjadi semakin diresapi, ada sedikit keraguan bahwa persentase secara dramatis akan berubah dan bahwa peran dan fungsi tambahan akan ditambahkan.
Meskipun ASCA merekomendasikan konselor sekolah-murid rasio 1:250, kisaran rasio arus dari 1:150 sampai 1:1000 dengan rata-rata nasional yang 1:478. Akibatnya, apa yang konselor sekolah lakukan kadang-kadang tidak sesuai dengan  fungsi dari jumlah siswa yang telah ditetapkan. Hukum parsimoni, atau bagaimana melayani jumlah terbesar siswa efektif, sering menentukan cara di mana konseling dan bimbingan jasa diserahkan dan merupakan tantangan umum untuk semua konselor. Dengan itu dalam pikiran, dan berdasarkan pada Model Nasional, mari kita periksa apa yang konselor sekolah lakukan sebagai fungsi pengaturan.
a.       Konselor Sekolah Dasar
Sekolah Dasar merupakan tahun sekolah kehidupan terdiri dari tahap formatif perkembangan anak. Selama ini, anak-anak membangun akademis konsep diri mereka karena mereka menangani masalah-masalah kompetensi dan kepercayaan terhadap belajar. Mereka juga bekerja pada pengambilan keputusan, kemampuan komunikasi, dan mengembangkan nilai-nilai. Selain itu, mereka mulai mengembangkan hubungan sosial dan memeriksa posisi mereka dalam keluarga mereka.  Konseling sekolah pada tingkat ini harus komprehensif, perkembangan, preventif, dan akademis sesuai kebutuhan siswa, karir dan pengembangan pribadi/sosial. Berdasarkan Model Nasional ASCA itu, diperlukan layanan bagi siswa SD yang menawarkan perspektif seorang konselor sekolah dasar yang sedang diminta untuk bertransisi dengan cara dia bekerja dengan menggunakan Model Nasional.
b.      Konselor Sekolah Menengah Pertama
Sebagai anak-anak pindah ke remaja, mereka menghadapi banyak tugas perkembangan tinggi yang disebabkan oleh kebutuhan untuk memahami kepentingan mereka, kemampuan mereka, dunia kerja, hubungan teman sebaya mereka, seksualitas mereka, dan berbagai peran hidup. Mereka mulai mendefinisikan siapa mereka dan mulai mendapatkan rasa diri dan identitas yang unik.  Pada titik ini dalam hidup mereka bahwa mereka semakin mengandalkan pada penegakan hukum umpan balik dan kendali dari rekan-rekan mereka, bukan dari orang tua, dan hubungan sosial menjadi penting. Seperti dengan konseling sekolah dasar, konseling sekolah menengah  semakin menyeluruh, perkembangan, preventif, dan harus mengatasi akademik siswa, karir, dan pengembangan pribadi/sosial. Berdasarkan Model Nasional ASCA, layanan yang dibutuhkan untuk sekolah menengah siswa menawarkan perspektif konselor sekolah menengah yang sedang diminta untuk transisi cara dia bekerja dengan menggunakan Model Nasional.
c.       Konselor Sekolah Menengah Atas
Sebagai siswa sekolah menengah atas, mereka mengambil langkah penting menuju masa dewasa karena mereka menjadi lebih dekat dengan memasuki dunia kerja dan mulai mengalami peningkatan kejelasan mengenai bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri. Siswa SMA lebih mampu menggambarkan nilai-nilai mereka, keterampilan, dan kemampuan mereka. Pada saat yang sama, mereka semakin dipengaruhi oleh rekan-rekan mereka dan akan menghadapi keputusan hidup yang penting mengenai hal-hal seperti alkohol dan obat-obatan, perilaku seksual, dan pengembangan hubungan yang bermakna dengan orang lain.  Siswa-siswa akan menghadapi keputusan penting tentang masa depan mereka, dan tekanan akademik akan sangat menimpa pada mereka. Seperti dengan konseling sekolah dasar dan menengah, konseling SMA terus berkelanjutan mengenai, perkembangan, preventif, dan harus mengatasi akademik siswa, karir, dan pengembangan pribadi/sosial. Berdasarkan Model Nasional ASCA itu, dibutuhkan layanan untuk siswa sekolah menengah yang menawarkan perspektif konselor sekolah menengah yang sedang diminta untuk transisi cara dia bekerja dengan menggunakan Model Nasional.

E.     Isu-Isu Multibudaya
1.      Menciptakan Lingkungan Sekolah Multikultural
Sekolah-sekolah Amerika menjadi semakin beragam. Sebagai hasil dari perubahan demografi, dan dengan meningkatnya fokus pada multikultural di negara ini, konselor sekolah akan semakin tertantang untuk membuat sekolah sensitif terhadap keberagaman. Secara khusus, mereka akan diharapkan untuk membantu semua anak mengembangkan konsep diri yang sehat, menghormati keragaman, dan mengembangkan sikap positif dan yakin menuju keberhasilan akademis. Selain itu, konselor sekolah diharapkan dapat mempromosikan suasana multikultural di sekolah-sekolah dengan cara:
a.       Menyediakan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk semua anak untuk hasil yang baik dalam mengurangi kesenjangan prestasi.
b.      Membantu sekolah luas mendefinisikan keragaman untuk mencakup individu penyandang cacat, perbedaan agama, dan orientasi seksual, serta orang-orang tua.
c.       Menemukan cara untuk membantu peningkatan jumlah siswa yang mengalami kesulitan berbicara dalam bahasa Inggris.
d.      Menjamin penggunaan buku teks budaya sensitif.
e.       Menawarkan lokakarya dan program untuk membantu siswa, guru, dan administrator untuk menjadi pecinta multikultural.
f.       Mengevaluasi bahan bimbingan untuk memastikan bahwa mereka tidak bias.
g.      Mengikutsertakan orang tua dalam pengalaman pendidikan anak mereka dengan agar mereka mampu memahami bahwa mereka berasal dari latar belakang budaya yang beragam.
h.      Memahami bagaimana latar belakang budaya siswa, dalam interaksi dengan lingkungan sekolah, yang mempengaruhi bagaimana siswa menafsirkan keadaannya.
i.        Menemukan cara mendirikan konseling yang komprehensif dan program bimbingan perkembangan dan multikultural sensitif.
j.        Membantu sekolah dalam mekanisme pengembangan bagi individu yang berasal dari beragam latar belakang.
k.      Menjadi konselor sekolah multikultural mahir.

2.      Menilai Kompetensi Multikultural
Salah satu cara yang dapat dilakukan konselor sekolah bahwa mereka menciptakan lingkungan yang multikultural adalah dengan melakukan analisis sistematis sekolah mereka. Menawarkan daftar dari 51 item di sembilan kategori untuk membantu konselor sekolah melakukan hal ini. Kategori, yang didasarkan pada "analisis tema" isu-isu multikultural dalam konseling sekolah, adalah sebagai berikut:
1. Multikultural konseling,
2. Multikultural konsultasi,
3. Pemahaman rasisme dan perlawanan mahasiswa,
4. Multikultural penilaian,
5. Memahami perkembangan identitas ras,
6. Keluarga multikultural konseling,
7. Advokasi sosial,
8. Mengembangkan sekolah-keluarga-masyarakat kemitraan, dan
9. Pemahaman lintas-budaya interaksi interpersonal.
Isu utama yang menjadi perhatian para konselor multikultural di Amerika Serikat, terutama mereka yang memiliki sudut pandang emik, adalah dominannya teori-teori yang berdasarkan nilai-nilai budaya Eropa/Amerika Utara. Beberapa kepercayaan dominan dari Eropa/Amerika utara adalah nilai-nilai individual, pemecahan masalah yang berorientasi pada tindakan,
Isu kedua dalam konseling multikultural adalah sensitifitas terhadap budaya secara umum dan khusus. Pedersen (1982) percaya bahwa sangat penting bagi konselor untuk sensitif terhadap tiga area berikut dalam isu budaya:
1.      Pengetahuan akan cara pandang klien yang berbeda budaya
2.      Kepekaan terhadap cara pandang pribadi seorang dan bagaimana seorang merupakan produk dari pengkondisian budaya
3.      Keahlian yang diperlukan untuk bekerja dengan klien yang berbeda budaya.
Isu Ketiga adalah memahami cara kerja sistem budaya dan pengaruhnya terhadap tingkah laku. Konselor yang memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang sistem budaya biasanya akan lebih ahli dalam membantu anggota dari kelompok budaya tertentu.
Isu keempat dalam konseling multikultural adalah menyediakan layanan konseling lintas budaya yang efektif Sue (1978) membuat lima panduan untuk konseling lintas budaya yang efektif, yang masih aplikatif hingga sekarang:
1.      Konselor mengenali nilai-nilai dan kepercayaan yang mereka pegang sehubungan dengan tingkah laku manusia yang diinginkan dan diterima. Mereka kemudian akan dapat mengintegrasikan pengertian ini kedalam tingkah laku dan perasaan yang tepat.
2.      Konselor menyadari kualitas dan tradisi dari teori konseling yang umum dan bersifat kultural. Tidak ada metode konseling yang bebas dari pengaruh budaya.
3.      Konselor mengerti lingkungan sosial politik yang telah mempengaruhi kehidupan para anggota kelompok minoritas. Manusia adalah produk dari keadaan di mana mereka hidup.
4.      Konselor mampu berbagi cara pandang dari klien dan tidak menanyakan keabsahannya.
Isu terakhir dalam konseling multikultural adalah perkembangan dan penggunaan teori-teori konseling. Bias kultural terjadi pada konselor dari kalangan mayoritas maupun mnoritas (wendel,1997) dan dulu telah masuk ke dalam teori-teori konseling. Untuk menghadapi bias,teori-teori konseling yang berbatas secara budaya, dan untuk membantu melampaui batasan kultural, McFadden (1999) dan sejumlah pendidik konselor terkemuka telah menemukan cara untuk mengatasi ide-ide dan metode yang dikembangkan sebelum adanya kesadaran tentang perlunya konseling multikultural.
Model Mcfadden adalah perspektif lintas budaya yang berfokus pada tiga dimensi utama yang harus dikuasai konselor, yaitu :
-          Kultural-historikal, yakni konselor harus menguasai pengetahuan akan budaya klien.
-          Psikososial, yakni konselor harus memahami etnik, ras, performa, percakapan, tingkah laku kelompok sosial dari klien agar bisa memiliki komunikasi yang bermakna.
-          Saintifik-ideologikal, yakni konselor harus menggunakan pendekatan konseling yang tepat untuk menghadapi masalah yang terkait dengan lingkungan regional, nasional, dan internasional.



DAFTAR PUSTAKA

Ed Neukrug (2007).The World of The Counselor :An Intruduction to the Counseling Profession. United States: Thomson Brooks/Cole. Page 445-474

Samuel T.Glading (2012). Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Permata Puri Media. Hal.459-494

0 comments:

Post a comment