Monday, 29 June 2020

Peran dan Tanggung Jawab Konselor Sekolah

Peran dan Tanggung Jawab Konselor Sekolah
Konselor sekolah adalah petugas profesional yang artinya secara formal mereka telah disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara khusus untuk menguasai seperangkat kompetensi yang diperlukan bagi pekerjaan bimbingan dan konseling. Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa konselor sekolah memang sengaja dibentuk menjadi tenaga-tenaga yang profesional dalam pengetahuan, pengalaman dan kualitas pribadinya dalam bimbingan dan konseling.
Oleh karena itu tugas-tugas yang diembannya pun mempunyai kreteria khusus dan tidak semua orang atau semua profesi dapat melakukanya. Tugas-tugas konselor sekolah tersebut antara lain :
a.       Bertanggung jawab tentang keseluruhan pelaksanaan layanan konseling di sekolah.
b.      Mengumpulkan, menyusun, mengelola, serta menafsirkan data, yang kemudian dapat dipergunalkan oleh semua staf bimbingan di sekolah.
c.       Memilih dan mempergunakan berbagai instrument psikologis untuk memperoleh berbagai informasi mengenai bakat khusus, minat, kepribadian, dan inteleginsinya untuk masing-masing siswa.
d.      Melaksanakan bimbingan kelompok maupun bimbingan individual (wawancara konseling).
e.       Mengumpulkan, menyusun dan mempergunakan informasi tentang berbagai permasalahan pendidikan, pekerjaan, jabatan atau karir, yang dibutuhkan oleh guru bidang studi dalam proses belajar mengajar.
f.       Melayani orang tua Wali murid ingin mengadakan konsultasi tentang anak-anaknya (Dewa Ketut Sukardi, 2010).
Konselor adalah seorang anggota staf sekolah dan bertanggung jawa penuh terhadap fungsi bimbingan dan mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa. Konselor / guru pembimbing bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan hanya mempunyai hubungan kerjasama dengan guru serta anggota staff lainnya.
Konselor bersama kepala sekolah merencanakan program bimbingan yang sistematis yang meliputi:
a.       Program pengembangan pendidikan guru.
b.      Program konsultasi untuk guru dan orang tua.
c.       Program konseling untuk murid.
d.      Program layanan referral untuk murid.
e.       Program pengembangan dan penelitian sekolah.
f.       Penelitian hasil belajar dan layanan bimbingan lainnya. (Yusuf dan Nurihsan, 2011)
Dalam menjalankan tugasnya seorang konselor sekolah harus mampu melaksanakan peranan yang berbeda-beda dari situasi ke situasi lainnya. Pada situasi tertentu kadang-kadang seorang konselor harus berperan sebagai seorang teman dan pada situasi berkutnya berperan sebagai pendengar yang baik atau sebagai pengobar/ pembangkit semangat, atau peran-peranan lain yang dituntut oleh klien dalam proses konseling.
Winkel (2012) pun berpendapat tentang peranan konselor di sekolah yaitu: Konselor sekolah dituntut mempunyai peranan sebagai orang kepercayaan konseli/ siswa, sebagai teman bagi konseli/ siswa, bahkan konselor sekolahpun dituntut agar mampu berperan sebagai orang tua bagi klien/ siswa.
Oleh karena itu untuk menjalankan tugasnya, maka menurut Dewa Ketut Sukardi (2010) seorang konselor harus memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya persyaratan pendidikan formal, kepribadian, latihan atau pengalaman khusus. Selain itu, masih banyak anggapan bahwa peranan konselor sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah (Prayitno dan Erman Amti, 2009).
Meskipun demikian konselor harus selalu mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal sekolah lainnya guna terlaksananya program bimbingan dan konseling yang telah direncanakan, juga menjalin hubungan kepada semua siswa baik siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir, maupun kepada siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah guna membantu dan memfasilitasi siswa dalam menyelesaikan kesulitan atau masalah.
Dalam sebuah seminar tentang “Peranan Kepala Sekolah, Guru, dan Guru Pembimbing dalam Implementasi Kurikulum 2013 untuk Peningkatan Mutu Pendidikan”, disebutkan bahwa berkaitan dengan bentuk kegiatan konselor/guru BK, maka layanan yang diberikan oleh konselor sekolah dapat bersifat preventif, kuratif, dan preseveratif atau developmental dalam rangka menunaikan mutu pendidikan dalam mengembangkan potensi siswa. Layanan yang bersifat preventif berarti kegiatan yang dilakukan oleh konselor sekolah bermaksud untuk mencegah agar perilaku siswa tidak berlawanan dengan norma/aturan. Layanan yang bersifat kuratif bermakna bahwa layanan konselor ditujukan untuk mengobati/memperbaiki perilaku siswa yang sudah terlanjur melanggar norma/aturan/hukum. Kegiatan preseveratif/ developmental berarti layanan yang diberikan oleh konselor sekolah bermaksud untuk memelihara dan sekaligus mengembangkan perilaku siswa yang sudah sesuai agar tetap terjaga dengan baik, tidak melanggar norma, dan juga mengembangkan agar semakin lebih baik.
Jadi, dapat dikatakankan bahwa konselor memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan yang terletak pada bagaimana konselor membangun manusia yang seutuhya dari berbagai aspek yang ada di dalam setiap individu/peserta didik. Dengan kata lain peran konselor dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu untuk membantu setiap peserta didik agar berkembang secara optimal.
Saat ini, peran dan fungsi-fungsi dari konselor sekolah mengalami pergeseran paradigma sebagai profesi seutuhnya dan mulai menangani berbagai komponen model. ASCA National Model mengidentifikasi empat sistem yang sangat penting untuk mengembangkan program konseling, yaitu: fondasi, pelayanan, manajemen, dan akuntabilitas. Berikut ini adalah ringkasan dari empat sistem model bimbingan  yang telah mendapat dukungan dari pemerintah dalam profesi konseling sekolah, sekarang diajarkan dalam program pendidikan konselor dan diadopsi oleh sistem sekolah nasional. Berikut adalah penjelasan lengkap dari model ini:
1.      Fondasi/Dasar
Fondasi/dasar dari program konseling sekolah mencakup tiga komponen:
a.       Keyakinan dan filsafat: Menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mendorong program.
b.      Misi: Menjelaskan tujuan dari program ini, yang ditulis untuk semua siswa, menunjukkan keterkaitan sistem yang luas, dan mengidentifikasi hasil jangka panjang.
c.       Domain: Mendefinisikan akademis tertentu, karir, dan daerah personal/sosial yang akan ditujukan untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
2.      Pelayanan
Sistem pelayanan program ini menggambarkan bagaimana program akan dilaksanakan. Ini terdiri dari empat komponen:
a.       Bimbingan kurikulum: Mendefinisikan berbagai struktur pelajaran bimbingan, perkembangan ditawarkan melalui kegiatan kelas, bimbingan dan kelompok untuk membantu siswa mencapai tujuan mereka (misalnya, meningkatkan harga diri, meningkatkan kemampuan belajar). Tujuan kegiatan ini adalah siswa, orang tua, guru, dan lain-lain untuk mencapai tujuan tersebut.
b.      Perencanaan individu siswa: Ini adalah kegiatan yang dirancang untuk membantu setiap siswa mengelola akademiknya, karir, dan pengembangan pribadi / sosial. Umumnya, hal ini dilakukan melalui kelompok kecil atau konseling individu dan kegiatan penilaian.
c.       Layanan Responsif: Ini meliputi berbagai metode konseling yang digunakan untuk menanggapi keprihatinan mahasiswa dan meliputi konseling individu dan kelompok kecil, konseling krisis, mengacu pada para profesional lainnya yang  memfasilitasi kegiatan (misalnya, mediasi).
d.      Dukungan sistem: ini mengacu pada kegiatan-kegiatan yang mendukung konselor sekolah secara efektif menjalankan program. Mereka mencakup hal-hal seperti kegiatan profesional berkembang, konsultasi, kolaborasi, dan bekerja sama dengan pemegang kendali yang kritis, manajemen program dan operasional (misalnya, anggaran), dan memastikan bahwa konselor dan orang lain melakukan pembagian tanggung jawab yang adil dari yang diperlukan untuk secara efektif menjalankan program yang ada di sekolah.
3.      Manajemen
Sistem manajemen mencakup alat dan proses yang diperlukan untuk berhasil menjalankan program. Ini terdiri dari enam komponen:
a.       Manajemen perjanjian: Ini termasuk kesepakatan dengan administrator mengenai apa saja aspek program konselor yang bertanggung jawab dan bagaimana tanggung jawab dibagi antara para pemangku kepentingan.
b.       Dewan Penasehat: Ini merupakan kelompok pemegang kendali yang ditunjuk untuk meninjau program (misalnya, siswa, orang tua, guru, administrator, dll).
c.       Penggunaan data: ini melibatkan penggunaan analisis data dan pemilahan data untuk memastikan bahwa siswa mencapai tujuan mereka dan dapat mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
d.      Rencana Aksi: Ini melibatkan rencana spesifik untuk mencapai semua tujuan  siswa dan untuk mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
e.       Penggunaan waktu: ini menjelaskan waktu tertentu dihabiskan untuk memberikan layanan untuk semua komponen dari program konseling.
f.       Kalender: Ini melibatkan menyiapkan kalender mingguan dan semester untuk memastikan bahwa semua pemegang kendali tahu apa yang dijadwalkan.
4.      Akuntabilitas
Tujuan akuntabilitas adalah "Bagaimana mengatasi siswa yang bermasalah  sebagai hasil dari program ini?" (ASCA, 2005a, hal. 23). Ada tiga komponen dari akuntabilitas:
1. Hasil laporan: Ini termasuk evaluasi program yang dijalankan oleh konselor sekolah serta evaluasi perubahan siswa dari waktu ke waktu di seluruh sekolah. Hasil tersebut digunakan untuk mengubah program dan harus dibagi dengan para pemangku kepentingan.
2. Standar  Kinerja: Ini melibatkan evaluasi konselor sekolah melalui skala rating dan komentar tertulis untuk menilai apakah konselor telah efektif dalam menangani standard yang ditentukan yaitu masing-masing tiga belas, yang didasarkan pada komponen yang tercantum dalam empat sistem yang telah dikemukakan (dasar, pengiriman, manajemen , dan akuntabilitas).
3. Audit Program: Di sini, audit besar
manfaatnya untuk melihat bagian dari masing-masing empat sistem tersebut untuk melihat apakah telah berhasil dilaksanakan. Sedangkan tujuan standar kinerja adalah apakah konselor sekolah memiliki implementasi komponen, dan audit berfungsi untuk memeriksa apakah komponen telah berhasil dalam mencapai tujuan tersebut.
(Neukrug, 2007)
Menurut Prayitno dan Erman Amti (2009), dalam kaitannya dengan tujuan mengoptimalkan potensi peserta didik, konselor tidak hanya berhubungan dengan peserta didik atau siswa saja sebagai sasaran utama layanan, melainkan juga dengan berbagai pihak yang dapat secara bersama-sama menunjang pencapaian tujuan itu, yaitu sejawat (sesama konselor, guru, dan personal sekolah lainnya), orang tua, dan masyarakat pada umumnya. Kepada mereka itulah konselor menjadi “pelayan” dan tanggung jawab dalam arti yang penuh dengan kehormatan, dedikasi, dan keprofesionalan. Berikut adalah penjabaran dari pembagian tanggung jawaab konselor:
1.      Tanggung jawab konselor kepada siswa, yaitu bahwa konselor
a.       Memiliki keawajiban dan kesetiaan utama dan terutama kepada siswa yang harus diperlakukan sebagai individu yang unik;
b.      Memperhatikan sepenuhnya segenap kebutuhan siswa (kebutuhann yang menyangkut pendidikan, jabatan/pekerjaan, pribadi, dan sosial) dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bagi setiap siswa;
c.        Memberi tahu siswa tentang tujuan dan teknik layanan bimbingan dan konseling, serta aturan ataupun prosedur yang harus dilalui apabila ia menghendaki  bantuan bimbingan dan konseling;
d.      Tidak mendesakkan kepada siswa (konseli) nilai-nilai tertentu yang sebenarnya hanya sekedar apa yang dianggap baik oleh konselor saja;
e.       Menjaga kerahasiaan data tentang siswa;
f.       Memberi tahu pihak yang berwenang apabila ada petunjuk kuat sesuatu yang berbahaya akan terjadi;
g.      Menyelenggarakan pengungkapan data secara  tepat dan memberi tahu siswa tentang hasil kegiatan itu dengan cara sederhana dan mudah dimengerti;
h.      Menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan professional;
i.        Melakukan referral kasus secara tepat.

2.      Tanggung jawab konselor kepada orang tua, yaitu bahwa konselor:
a.       Menghormati hak dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dan berusaha sekuat tenaga membangun hubungan yang erat dengan orang tua demi perkembangan siswa;
b.      Memberi tahu orang tua tentang peranan konselor dengan asas kerahasiaan  yang dijaga secara teguh;
c.       Menyediakan untuk orang tua berbagai informasi yang berguna dan menyampaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya untuk kepentingan perkembangan siswa;
d.      Memperlakukan informasi yang diterima dari orang tua dengan menerapkan asas kerahasiaan dan dengan cara yang sebaik-baiknya;
e.       Menyampaikan informasi (tentang siswa dan orang tua) hanya kepada pihak-pihak yang berhak mengetahui informasi tersebut tanpa merugikan siswa dan orang tuanya.

3.      Tanggung jawab konselor kepada sejawat, yaitu bahwa konselor:
a.       Memperlakukan sejawat dengan penuh kehormatan, keadilan, keobjektifan, dan kesetiankawanan;
b.      Mengembangkan hubungan kerja sama dengan sejawat dan staf administrasi demi terbinanya pelayanan bimbingan dan konseling yang maksimum;
c.       Membangun kesadaran tentang perlunya asa kerahasiaan, perbedaan antara data umum dan data pribadi, serta pentingnya konsultasi sejawat;
d.      Menyediakan informasi yang tepat, objektif, luas dan berguna bagi sejawat untuk membantu menangani masalah siswa;
e.       Membantu proses alih tangan kasus.

4.      Tanggung jawab konselor kepada sekolah dan masyarakat, yaitu bahwa konselor:
a.       Mendukung dan melindungi program sekolah terhadap penyimpangan-penyimpangan yang merugikan siswa;
b.      Memberitahu pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang dapat menghambat atau merusak misi sekolah, personal sekolah, ataupun kekayaan sekolah;
c.       Mengembangkan dan meningkatkan peranan dan fungsi bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan segenap unsur-unsur sekolah dan masyarakat;
d.      Membantu pengembangan :
·       Kondisi kurikulum dan lingkungan yang baik untuk kepentingan sekolah dan masyarakat;
·       Program dan prosedur pendidikan demi pemenuhan kebutuhan siswa dan masyarakat;
·       Proses evaluasi dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi sekolah  pada umumnya (fungsi bimbingan dan konseling, kurikulum dan pengajaran, dan pengelolaan/administrasi)
e.       Bekerjasama dengan lembaga, organisasi, dan perorangan baik di sekolah maupun di masyarakat  demi pemenuhan kebutuhan siswa, sekolah dan masyarakat, tanpa pamrih.
5.      Tanggung jawab konselor kepada diri sendiri, yaitu bahwa konselor:
a.       Berfungsi (dalam layanan bimbingan dan konseling) secara profesional dalam batas-batas kemampuannya serta menerima tanggung jawab dan konsekuensi dari pelaksanaan fungsi tersebut;
b.      Menyadari kemungkinan pengaruh diri pribadi terhadap pelayanan yang diberikan kepada konseli;
c.       Memonitor bagaimana diri sendiri berfungsi, dan bagaimana tingkat keefektifan pelayanan serta menahan segala sesuatu kemungkinan merugikan klien;
d.      Selalu mewujudkan prakarsa demi peningkatan dan pengembangan pelayanan professional melalui dipertahankannya kemampuan professional konselor, dan melalui penemuan-penemuan baru.

6.      Tanggung jawab konselor kepada profesi, yaitu bahwa konselor:
a.       Bertindak sedemikian rupa sehingga menguntungkan diri sendiri sebagai konselor dan profesi;
b.      Melakukan penelitian dann melaporkan penemuannya sehingga memperkaya khasanah dunia bimbingan dan konseling;
c.       Berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan organisasi profesional bimbingan dan konseling baik di tempatnya sendiri, di daerah, maupun dalam lingkungan nasional;
d.      Menjalankan dan mempertahankan standar profesi bimbingan dan konseling serta kebijaksanaan yang berlaku berkenaan dengan pelayanan bimbingan dan konseling;
Membedakan dengan jelas mana pernyataan yang bersifat pribadi dan mana pernyataan yang menyangkut profesi bimbingan serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh implikasinya terhadap pelayanan bimbingan dan konseling.


No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...