PERAN DAN TANGGUNG JAWAB KONSELOR SEKOLAH

Peran Dan Tanggung Jawab Konselor Sekolah | Konselor sekolah adalah petugas profesional yang artinya secara formal mereka telah disiapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan yang berwenang. Mereka dididik secara khusus untuk menguasai seperangkat kompetensi yang diperlukan bagi pekerjaan bimbingan dan konseling. Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa konselor sekolah memang sengaja dibentuk menjadi tenaga-tenaga yang profesional dalam pengetahuan, pengalaman dan kualitas pribadinya dalam bimbingan dan konseling.

Peran Dan Tanggung Jawab Konselor Sekolah

Oleh karena itu tugas-tugas yang diembannya pun mempunyai kreteria khusus dan tidak semua orang atau semua profesi dapat melakukanya. Tugas-tugas konselor sekolah tersebut antara lain :

  1. Bertanggung jawab tentang keseluruhan pelaksanaan Layanan Konseling di sekolah.
  2. Mengumpulkan, menyusun, mengelola, serta menafsirkan data, yang kemudian dapat dipergunalkan oleh semua staf bimbingan di sekolah.
  3. Memilih dan mempergunakan berbagai instrument psikologis untuk memperoleh berbagai informasi mengenai bakat khusus, minat, kepribadian, dan inteleginsinya untuk masing-masing siswa.
  4. Melaksanakan bimbingan kelompok maupun bimbingan individual (wawancara konseling).
  5. Mengumpulkan, menyusun dan mempergunakan informasi tentang berbagai permasalahan pendidikan, pekerjaan, jabatan atau karir, yang dibutuhkan oleh guru bidang studi dalam proses belajar mengajar.
  6. Melayani orang tua Wali murid ingin mengadakan konsultasi tentang anak-anaknya (Dewa Ketut Sukardi, 2010).

Peran Konselor Di Sekolah

Konselor sekolah memiliki tugas dan kewajiban yang erat kaitannya dengan misi pendidikan karakter. Hal ini dapat dilihat dari bidang gerakan bimbingan dan konseling yang mengandung pengertian bahwa konselor sekolah ditinjau dari fungsinya memiliki tugas dan kewajiban yang tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, konselor sekolah wajib menyelenggarakan program layanan bimbingan dan konseling, baik langsung maupun tidak langsung, yang memiliki nilai pendidikan karakter. Dalam proses bimbingan dan konseling, seorang konselor memberikan fasilitas kepada konseli untuk dapat memahami dirinya sendiri, dapat menggali berbagai masalah yang dihadapinya dan memungkinkan untuk memilih alternatif pilihan untuk memecahkan masalahnya secara terbuka.

Dalam mengoptimalkan peran dalam program bimbingan dan konseling, seorang konselor sekolah memiliki peran yang sangat penting. Agar konselor sekolah dapat mensukseskan program tersebut, semua pihak sekolah yaitu siswa, guru, orang tua dan kepala sekolah harus dapat dilibatkan oleh konselor sekolah terkait dalam program pengabdiannya.

Setiap konseli/siswa pasti memiliki masalah dalam hidupnya, konselor sekolah harus sadar karena tidak mungkin dalam hidup tidak mengalami masalah dan hambatan setiap hari. Disinilah konselor sekolah berperan sebagai agen pendidikan perubahan untuk membantu konseli/siswa dalam mengembangkan segala kemampuan yang ada dalam diri individu yang dimilikinya. Melalui bimbingan dan konseling, konselor sekolah dapat membantu siswa untuk menerima dirinya sendiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, sehingga siswa dapat membiasakan diri untuk dapat memilih dan memutuskan berbagai alternatif pilihan dengan berbagai konsekuensi atau konsekuensi untuk dapat mendorong konseli/siswa menjadi individu dalam memperbaiki diri. menjadi semakin mandiri.

Demikian juga siswa memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami orang lain, berempati dengan orang lain, menerima dan terbuka terhadap orang lain, serta mampu memperlakukan orang lain dengan baik dan benar. Semua itu membutuhkan proses yang panjang dalam memberikan pendampingan kepada siswa agar setiap siswa mampu bersosialisasi, menyenangkan, ramah, peduli, setia dan sebagainya, agar siswa tidak terkesan sombong, kejam, sombong, galak, kasar, dan segera. Dengan program layanan bimbingan dan konseling yang profesional dan mandiri, maka karakter generasi muda akan tumbuh kuat dalam dirinya, yang dilandasi oleh tuntunan iman, kemampuan yang dimiliki dan kebiasaan untuk selalu menghargai perbedaan perbedaan yang ada di lingkungan sekitar. dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, mahasiswa juga memiliki kemampuan untuk menumbuhkembangkan dan menguasai bakat dan minatnya, yang kesemuanya berujung pada peningkatan daya saing dalam lingkup pembaruan bangsa. Konselor sekolah adalah agen perubahan (agents of change) untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas, produktif, religius, berkarakter, andal, dan bermartabat melalui program layanan bimbingan dan konseling yang komprehensif atau komprehensif terhadap konselinya, sehingga dapat menciptakan generasi muda generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Sikap Konselor Di Sekolah

Seorang konselor untuk dapat berhubungan dengan kliennya harus memiliki sikap sebagai berikut:

  • Kemampuan berempati

Memahami dan dapat memahami apa yang dipikirkan klien. Empati ini dapat dirasakan oleh kedua belah pihak, baik oleh konselor maupun oleh klien.

  • Kemampuan untuk menerima klien

Dasar dari kemampuan ini adalah penghargaan terhadap orang lain. Dua unsure yang perlu diingat dalam menerima klien, yaitu : konselor  berkehendak untuk membiarkan adanya perbedaan antara konselor dan klien, dan yang kedua konselor menyadari bahwa pengalaman yang akan  dilalui klien akan penuh dengan perjuangan, pembinaan dan perasa.

  • Kemampuan untuk menghargai klien

Seorang konselor harus meghargai pribadi klien tanpa syarat apa pun.Apabila rasa penghargaan dirasakan klien, maka ia akan berani  mengemukakan segala masalahnya sehingga timbul keinginan bahwa  dirinya berharga untuk mengmbil keputusan bagi dirinya sendiri.

  • Kemampuan untuk memperhatikan

Kemampuan memperhatikan ini membutuhkan keterampilan dalam mendengarkan dan mengamati untuk dapat mengetahui dan memahami intisari isi dan suasana hati bagaimana klien mengungkapkan baik dalam kata-kata maupun gerak tubuh.

  • Kemampuan untuk membangun keintiman

Keakraban ini akan tumbuh terus menerus dan berkembang dengan baik jika konselor benar-benar memperhatikan dan menerima klien secara positif tanpa paksaan sehingga dapat terbina hubungan yang nyaman dan harmonis antara konselor dengan klien.

  • Sifat keaslian (asli)

Konselor konseling yang berpusat pada pribadi harus menunjukkan sikapnya yang sebenarnya dan tidak berpura-pura karena kepura-puraannya justru membuat klien dekat.

  • Sikap terbuka

Konseling yang berpusat pada klien mengharapkan keterbukaan klien untuk mengungkapkan semua masalah dan menerima pengalaman. Keterbukaan ini akan terwujud jika ada keterbukaan dari konselor.

Peran Dan Fungsi Konselor Dalam Konseling

Peran Konselor

Menurut Baruth dan Robinson, peran adalah apa yang diharapkan dari posisi yang dijalani seorang konselor dan persepsi dari orang lain terhadap posisi konselor tersebut. Sedangkan peran konselor menurut Baruth dan Robinson adalah peran yang inheren ada dan disandang oleh seseorang yang berfungsi sebagai konselor.

Ada banyak teori mengenai peran konselor, teori tersebut bermacam-macam sesuai dengan asumsi tingkah laku serta tujuan yang akan dicapai oleh seorang konselor.

Dalam pandangan Rogers, koselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan, dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.

Selain itu peran konselor menurut Rogers adalah fasilitator dan reflektor. Disebut fasilitator karena konselor memfasilitasi atau mengakomodasi konseli mencapai pemahaman diri. Disebut reflektor karena konselor mengklarifikasi dan memantulkan kembali kepada klien.

perasaan dan sikap yang diekspresikannya terhadap konselor sebagai representasi orang lain.

Agar peran ini dapat dipertahankan dan tujuan konseling dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling. Kondisi konseling ini menurut Rogers satu keharusan dan cukup memadai untuk pertumbuhan, sehingga dia menyebutnya sebagai necessary and sufficient conditions for therapiutic change.

Kondisi-kondisi yang perlu diciptakan itu adalah sebagai berikut

  • Konselor dan klien berada dalam hubungan psikologis.
  • Klien adalah orang yang mengalami kecemasan, penderitaan, dan ketidak seimbangan.
  • Konselor adalah benar-benar dirinya sejati dalam berhubungan dengan klien.
  • Konselor merasa atau menunjukkan unconditional positive regard untuk klien.
  • Konselor menunjukkan adanya rasa empati dan memahami tentang kerangka acuan klien dan memberitahukan pemahamannya kepada klien.
  • Klien menyadari (setidaknya pada tingkat minimal) usaha konselor yang menunjukkan sikap empatik berkomunikasi dan unconditioning positive regard kepada klien.

Kontak psikologis, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rogers terjadi ketika dua orang berinteraksi. Setiap orang mencapai kesadaran yang berbeda dalam lapangan pengalaman dari yang lain.

Dari penggunaan pendekatan menurut Rogers ini sejumlah perubahan yang diharapkan muncul dengan sukses adalah :

  • Klien bisa melihat dirinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
  • Klien dapat menerima diri dan perasaannya lebih utuh.
  • Klien menjadi lebih percaya diri (self confident) dan sanggup mengarahkan diri (self directing).
  • Klien sanggup menjadi pribadi yang diinginkan.
  • Klien menjadi lebih fleksibel dalam persepsinya dan tidak lagi keras ke diri sendiri.
  • Klien sanggup mengadopsi tujuan-tujuan yang lebih realistik.
  • Klien mampu bersikap lebih dewasa.
  • Klien sanggup mengubah perilaku ketidakmampuan menyesuaikan dirinya.
  • Klien jadi lebih sanggup menerima keberadaan orang lain apa adanya.
  • Klien jadi lebih terbuka kepada bukti entah di luar atau di dalam dirinya.
  • Klien berubah dalam karakteristik kepribadian dasarnya dengan cara-cara yang konstruktif.

Konselor adalah seorang anggota staf sekolah dan bertanggung jawa penuh terhadap fungsi bimbingan dan mempunyai keahlian khusus dalam bidang bimbingan yang tidak dapat dikerjakan oleh guru biasa. Konselor / guru pembimbing bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah dan hanya mempunyai hubungan kerjasama dengan guru serta anggota staff lainnya.

Konselor bersama kepala sekolah merencanakan program bimbingan yang sistematis yang meliputi:

  • Program pengembangan pendidikan guru.
  • Program konsultasi untuk guru dan orang tua.
  • Program konseling untuk murid.
  • Program layanan referral untuk murid.
  • Program pengembangan dan penelitian sekolah.
  • Penelitian hasil belajar dan layanan bimbingan lainnya. (Yusuf dan Nurihsan, 2011).

Dalam menjalankan tugasnya seorang konselor sekolah harus mampu melaksanakan peranan yang berbeda-beda dari situasi ke situasi lainnya. Pada situasi tertentu kadang-kadang seorang konselor harus berperan sebagai seorang teman dan pada situasi berkutnya berperan sebagai pendengar yang baik atau sebagai pengobar/ pembangkit semangat, atau peran-peranan lain yang dituntut oleh klien dalam proses konseling.

Winkel (2012) pun berpendapat tentang peranan konselor di sekolah yaitu: Konselor sekolah dituntut mempunyai peranan sebagai orang kepercayaan konseli/ siswa, sebagai teman bagi konseli/ siswa, bahkan konselor sekolahpun dituntut agar mampu berperan sebagai orang tua bagi klien/ siswa.

Oleh karena itu untuk menjalankan tugasnya, maka menurut Dewa Ketut Sukardi (2010) seorang konselor harus memenuhi persyaratan tertentu, diantaranya persyaratan pendidikan formal, kepribadian, latihan atau pengalaman khusus. Selain itu, masih banyak anggapan bahwa peranan konselor sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah (Prayitno dan Erman Amti, 2009).

Meskipun demikian konselor harus selalu mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal sekolah lainnya guna terlaksananya program bimbingan dan konseling yang telah direncanakan, juga menjalin hubungan kepada semua siswa baik siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir, maupun kepada siswa-siswa yang nyaris tidak mempunyai masalah guna membantu dan memfasilitasi siswa dalam menyelesaikan kesulitan atau masalah.
Dalam sebuah seminar tentang “Peranan Kepala Sekolah, Guru, dan Guru Pembimbing dalam Implementasi Kurikulum 2013 untuk Peningkatan Mutu Pendidikan”, disebutkan bahwa berkaitan dengan bentuk kegiatan konselor/guru BK, maka layanan yang diberikan oleh konselor sekolah dapat bersifat preventif, kuratif, dan preseveratif atau developmental dalam rangka menunaikan mutu pendidikan dalam mengembangkan potensi siswa. Layanan yang bersifat preventif berarti kegiatan yang dilakukan oleh konselor sekolah bermaksud untuk mencegah agar perilaku siswa tidak berlawanan dengan norma/aturan. Layanan yang bersifat kuratif bermakna bahwa layanan konselor ditujukan untuk mengobati/memperbaiki perilaku siswa yang sudah terlanjur melanggar norma/aturan/hukum. Kegiatan preseveratif/ developmental berarti layanan yang diberikan oleh konselor sekolah bermaksud untuk memelihara dan sekaligus mengembangkan perilaku siswa yang sudah sesuai agar tetap terjaga dengan baik, tidak melanggar norma, dan juga mengembangkan agar semakin lebih baik.

Jadi, dapat dikatakankan bahwa konselor memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan yang terletak pada bagaimana konselor membangun manusia yang seutuhya dari berbagai aspek yang ada di dalam setiap individu/peserta didik. Dengan kata lain peran konselor dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu untuk membantu setiap peserta didik agar berkembang secara optimal.

Saat ini, peran dan fungsi-fungsi dari konselor sekolah mengalami pergeseran paradigma sebagai profesi seutuhnya dan mulai menangani berbagai komponen model. ASCA National Model mengidentifikasi empat sistem yang sangat penting untuk mengembangkan program konseling, yaitu: fondasi, pelayanan, manajemen, dan akuntabilitas. Berikut ini adalah ringkasan dari empat sistem model bimbingan yang telah mendapat dukungan dari pemerintah dalam profesi konseling sekolah, sekarang diajarkan dalam program pendidikan konselor dan diadopsi oleh sistem sekolah nasional. Berikut adalah penjelasan lengkap dari model ini:

1. Fondasi/Dasar

Fondasi/dasar dari program konseling sekolah mencakup tiga komponen:

  • Keyakinan dan filsafat: Menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang mendorong program.
  • Misi: Menjelaskan tujuan dari program ini, yang ditulis untuk semua siswa, menunjukkan keterkaitan sistem yang luas, dan mengidentifikasi hasil jangka panjang.
  • Domain: Mendefinisikan akademis tertentu, karir, dan daerah personal/sosial yang akan ditujukan untuk meningkatkan pembelajaran siswa.

2. Pelayanan

Sistem pelayanan program ini menggambarkan bagaimana program akan dilaksanakan. Ini terdiri dari empat komponen:

  • Bimbingan kurikulum: Mendefinisikan berbagai struktur pelajaran bimbingan, perkembangan ditawarkan melalui kegiatan kelas, bimbingan dan kelompok untuk membantu siswa mencapai tujuan mereka (misalnya, meningkatkan harga diri, meningkatkan kemampuan belajar). Tujuan kegiatan ini adalah siswa, orang tua, guru, dan lain-lain untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Perencanaan individu siswa: Ini adalah kegiatan yang dirancang untuk membantu setiap siswa mengelola akademiknya, karir, dan pengembangan pribadi / sosial. Umumnya, hal ini dilakukan melalui kelompok kecil atau konseling individu dan kegiatan penilaian.
  • Layanan Responsif: Ini meliputi berbagai metode konseling yang digunakan untuk menanggapi keprihatinan mahasiswa dan meliputi konseling individu dan kelompok kecil, konseling krisis, mengacu pada para profesional lainnya yang memfasilitasi kegiatan (misalnya, mediasi).
  • Dukungan sistem: ini mengacu pada kegiatan-kegiatan yang mendukung konselor sekolah secara efektif menjalankan program. Mereka mencakup hal-hal seperti kegiatan profesional berkembang, konsultasi, kolaborasi, dan bekerja sama dengan pemegang kendali yang kritis, manajemen program dan operasional (misalnya, anggaran), dan memastikan bahwa konselor dan orang lain melakukan pembagian tanggung jawab yang adil dari yang diperlukan untuk secara efektif menjalankan program yang ada di sekolah.

3. Manajemen

Sistem manajemen mencakup alat dan proses yang diperlukan untuk berhasil menjalankan program. Ini terdiri dari enam komponen:

  • Manajemen perjanjian: Ini termasuk kesepakatan dengan administrator mengenai apa saja aspek program konselor yang bertanggung jawab dan bagaimana tanggung jawab dibagi antara para pemangku kepentingan.
  • Dewan Penasehat: Ini merupakan kelompok pemegang kendali yang ditunjuk untuk meninjau program (misalnya, siswa, orang tua, guru, administrator, dll).
  • Penggunaan data: ini melibatkan penggunaan analisis data dan pemilahan data untuk memastikan bahwa siswa mencapai tujuan mereka dan dapat mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
  • Rencana Aksi: Ini melibatkan rencana spesifik untuk mencapai semua tujuan siswa dan untuk mengurangi kesenjangan prestasi siswa.
  • Penggunaan waktu: ini menjelaskan waktu tertentu dihabiskan untuk memberikan layanan untuk semua komponen dari program konseling.
  • Kalender: Ini melibatkan menyiapkan kalender mingguan dan semester untuk memastikan bahwa semua pemegang kendali tahu apa yang dijadwalkan.

4. Akuntabilitas

Tujuan akuntabilitas adalah "Bagaimana mengatasi siswa yang bermasalah sebagai hasil dari program ini?" (ASCA, 2005a, hal. 23). Ada tiga komponen dari akuntabilitas:

1. Hasil laporan: Ini termasuk evaluasi program yang dijalankan oleh konselor sekolah serta evaluasi perubahan siswa dari waktu ke waktu di seluruh sekolah. Hasil tersebut digunakan untuk mengubah program dan harus dibagi dengan para pemangku kepentingan.

2. Standar Kinerja: Ini melibatkan evaluasi konselor sekolah melalui skala rating dan komentar tertulis untuk menilai apakah konselor telah efektif dalam menangani standard yang ditentukan yaitu masing-masing tiga belas, yang didasarkan pada komponen yang tercantum dalam empat sistem yang telah dikemukakan (dasar, pengiriman, manajemen , dan akuntabilitas).

3. Audit Program: Di sini, audit besar manfaatnya untuk melihat bagian dari masing-masing empat sistem tersebut untuk melihat apakah telah berhasil dilaksanakan. Sedangkan tujuan standar kinerja adalah apakah konselor sekolah memiliki implementasi komponen, dan audit berfungsi untuk memeriksa apakah komponen telah berhasil dalam mencapai tujuan tersebut.

Menurut Prayitno dan Erman Amti (2009), dalam kaitannya dengan tujuan mengoptimalkan potensi peserta didik, konselor tidak hanya berhubungan dengan peserta didik atau siswa saja sebagai sasaran utama layanan, melainkan juga dengan berbagai pihak yang dapat secara bersama-sama menunjang pencapaian tujuan itu, yaitu sejawat (sesama konselor, guru, dan personal sekolah lainnya), orang tua, dan masyarakat pada umumnya. Kepada mereka itulah konselor menjadi “pelayan” dan tanggung jawab dalam arti yang penuh dengan kehormatan, dedikasi, dan keprofesionalan. Berikut adalah penjabaran dari pembagian tanggung jawaab konselor:

1. Tanggung jawab konselor kepada siswa, yaitu bahwa konselor

  • Memiliki keawajiban dan kesetiaan utama dan terutama kepada siswa yang harus diperlakukan sebagai individu yang unik;
  • Memperhatikan sepenuhnya segenap kebutuhan siswa (kebutuhann yang menyangkut pendidikan, jabatan/pekerjaan, pribadi, dan sosial) dan mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang optimal bagi setiap siswa;
  • Memberi tahu siswa tentang tujuan dan teknik layanan bimbingan dan konseling, serta aturan ataupun prosedur yang harus dilalui apabila ia menghendaki bantuan bimbingan dan konseling;
  • Tidak mendesakkan kepada siswa (konseli) nilai-nilai tertentu yang sebenarnya hanya sekedar apa yang dianggap baik oleh konselor saja;
  • Menjaga kerahasiaan data tentang siswa;
  • Memberi tahu pihak yang berwenang apabila ada petunjuk kuat sesuatu yang berbahaya akan terjadi;
  • Menyelenggarakan pengungkapan data secara tepat dan memberi tahu siswa tentang hasil kegiatan itu dengan cara sederhana dan mudah dimengerti;
  • Menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan professional;
  • Melakukan referral kasus secara tepat.

2. Tanggung jawab konselor kepada orang tua, yaitu bahwa konselor:

  • Menghormati hak dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dan berusaha sekuat tenaga membangun hubungan yang erat dengan orang tua demi perkembangan siswa;
  • Memberi tahu orang tua tentang peranan konselor dengan asas kerahasiaan yang dijaga secara teguh;
  • Menyediakan untuk orang tua berbagai informasi yang berguna dan menyampaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya untuk kepentingan perkembangan siswa;
  • Memperlakukan informasi yang diterima dari orang tua dengan menerapkan asas kerahasiaan dan dengan cara yang sebaik-baiknya;
  • Menyampaikan informasi (tentang siswa dan orang tua) hanya kepada pihak-pihak yang berhak mengetahui informasi tersebut tanpa merugikan siswa dan orang tuanya.

3. Tanggung jawab konselor kepada sejawat, yaitu bahwa konselor:

  • Memperlakukan sejawat dengan penuh kehormatan, keadilan, keobjektifan, dan kesetiankawanan;
  • Mengembangkan hubungan kerja sama dengan sejawat dan staf administrasi demi terbinanya pelayanan bimbingan dan konseling yang maksimum;
  • Membangun kesadaran tentang perlunya asa kerahasiaan, perbedaan antara data umum dan data pribadi, serta pentingnya konsultasi sejawat;
  • Menyediakan informasi yang tepat, objektif, luas dan berguna bagi sejawat untuk membantu menangani masalah siswa;
  • Membantu proses alih tangan kasus.

4. Tanggung jawab konselor kepada sekolah dan masyarakat, yaitu bahwa konselor:

  • Mendukung dan melindungi program sekolah terhadap penyimpangan-penyimpangan yang merugikan siswa;
  • Memberitahu pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang dapat menghambat atau merusak misi sekolah, personal sekolah, ataupun kekayaan sekolah;
  • Mengembangkan dan meningkatkan peranan dan fungsi bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan segenap unsur-unsur sekolah dan masyarakat;
  • Membantu pengembangan :
    · Kondisi kurikulum dan lingkungan yang baik untuk kepentingan sekolah dan masyarakat;
    · Program dan prosedur pendidikan demi pemenuhan kebutuhan siswa dan masyarakat;
    · Proses evaluasi dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi sekolah pada umumnya (fungsi bimbingan dan konseling, kurikulum dan pengajaran, dan pengelolaan/administrasi)
  • Bekerjasama dengan lembaga, organisasi, dan perorangan baik di sekolah maupun di masyarakat demi pemenuhan kebutuhan siswa, sekolah dan masyarakat, tanpa pamrih.

5. Tanggung jawab konselor kepada diri sendiri, yaitu bahwa konselor:

  • Berfungsi (dalam layanan bimbingan dan konseling) secara profesional dalam batas-batas kemampuannya serta menerima tanggung jawab dan konsekuensi dari pelaksanaan fungsi tersebut;
  • Menyadari kemungkinan pengaruh diri pribadi terhadap pelayanan yang diberikan kepada konseli;
  • Memonitor bagaimana diri sendiri berfungsi, dan bagaimana tingkat keefektifan pelayanan serta menahan segala sesuatu kemungkinan merugikan klien;
  • Selalu mewujudkan prakarsa demi peningkatan dan pengembangan pelayanan professional melalui dipertahankannya kemampuan professional konselor, dan melalui penemuan-penemuan baru.

6. Tanggung jawab konselor kepada profesi, yaitu bahwa konselor:

  • Bertindak sedemikian rupa sehingga menguntungkan diri sendiri sebagai konselor dan profesi;
  • Melakukan penelitian dann melaporkan penemuannya sehingga memperkaya khasanah dunia bimbingan dan konseling;
  • Berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan organisasi profesional bimbingan dan konseling baik di tempatnya sendiri, di daerah, maupun dalam lingkungan nasional;
  • Menjalankan dan mempertahankan standar profesi bimbingan dan konseling serta kebijaksanaan yang berlaku berkenaan dengan pelayanan bimbingan dan konseling;

Membedakan dengan jelas mana pernyataan yang bersifat pribadi dan mana pernyataan yang menyangkut profesi bimbingan serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh implikasinya terhadap pelayanan bimbingan dan konseling.

Lanjut: Bimbingan dan Konseling

  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PERAN DAN TANGGUNG JAWAB KONSELOR SEKOLAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel