Sunday, 14 June 2020

Pengertian Teori, Pentingnya Teori, dan Teori ke Praktik


2.1     Pengertian Teori, Pentingnya Teori, dan Teori ke Praktik
2.1.1.      Pengertian Teori
Teori adalah model yang dipergunakan oleh konselor sebagai sebagai panduan untuk merumuskan pembentukan solusi atas suatu masalah. “Pemahaman teoritis adalah bagian esensial dalam praktik konseling yang efektif. Teori membantu konselor mengatur data klinis, membuat proses yang kompleks menjadi koheren, dan memberikan panduan konseptual untuk berbagai intervensi” (Hensen, 2006, p.291). Konselor menentukan teori yang akan digunakan berdasarkan latar belakang pendidikan, filosofi, dan kebutuhan kliennya. Tidak semua pendekatan tepat digunakan bagi semua konselor maupun klien. Sebagian besar teori konseling dikembangan oleh para praktisi luar biasa, yang memformulasikan gagasan mereka berdasarkan pengalaman observasinya. Akan tetapi kebanyakan ahli teori masih merasa kurang yakin mengenai posisi mereka, setelah sadar bahwa tidak ada satupun teori yang cocok untuk ditetapkan pada semua situasi ataupun klien (Tursi & Cachran, 2006). Memeng benar, satu teori tidak lagi mencukupi untuk satu klien yang sama setelah periode tertentu. Konselor harus memilih teori yang digunakannya dengan hati-hati dan menilai ulang secara berkala.
Beberapa model teori lebih komperhensif disbanding yang lain dan “semua teori terbelit dengan budaya, politik, dan bahasa” (Hansen, 2006, p.293). Konselor yang efektif menyadari hal ini, dan sigap dalam memilih teori yang paling komprehensif dan atas alasan apa digunakan. Dia mengetahui bahwa teori yang digunakan menentukan apa yang dia lihat dan bagaimana penggunaannya di dalam konseling dan, bahwa teori tersebut dapat dikatalogakan dalam beberapa cara termasuk kategori modernism dan post-modernisme. Hansen, Stevic, dan Warner (1986) menyebutkan lima persyaratan teori yang baik:
a)      Jelas, mudah dipahami, dan dapat dikomunikasikan. Koheren dan tidak bertentangan.
b)      Komprehensif. Mencakup penjelasan untuk fenomena yang sangat beragam.
c)      Eksplisit dan heulistik. Menghasilkan penelitian karena desainnya.
d)     Spesifik dalam menghubungkan penngertian pada hasil yang diinginkan. Berisi suatu cara untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan (contoh, pragmatic)
e)      Berguna bagi praktisi yang akan menggunakannya. Memberikan panduan bagi penelitian dan praktikya.
Sebagai tambahan lima kualitas tersebut, suatu teori yang baik bagi konselor adalah yang cocok dengan filosofi pribadinya dalam memberikan bantuan. Shertzer dan Stone (1974) menyebutkan bahwa teori konseling harus cocok dengan konselornya seperti ibarat pakaian. Beberapa teori, seperti layaknya baju, membutuhkan perombakan. Oleh karena itu, konselor yang efektif menyadari pentingnya perubahan. Konselor yang ingin bekerja efektif dan pandai menyesuaikan diri harus mempelajari beragam teori konseling, dan mengetahui bagaimana cara penerapannya tanpa menyalahi konsensi internalnya (Auvenshine & Noffsinger, 1984).
2.1.2.      Pentingnya Teori
Teori adalah fondasi konseling yang baik. Teori menantang konselor untuk lebih kreatif dan peduli dalam batasan-batasan hubungan sangat pribadi yang terstruktur demi kemajuan dan pencerahan (Gladding, 1990b). Teori mempunyai dampak pada bagaimana komunikasi klien dikonsepsikan, bagaimana hubungan antarpribadi di kembangkan, bagaimana etika professional diterapkan, dan bagaimana konselor memandang dirinya sebagai profesinal. Tanpa latar belakang teori, konselor bertindak coba-coba tanpa arah, tidak efektif, dan mambahyakan. Brammer dan kawan-kawan (1993) menekankan nilai pragmatis dari teori yang diformolasikan secara solid bagi konselor. Terori membantu  menjelaskan apa yang terjadi dalam suatu hubungan konseling dan membantu konselor meramalkan, mengevaluasi, dan meningkatkan hasil. Teori memberikan kerangka kerja dalam membantu observasi ilmiah mengenai konseling. Penggunaan teori meningkatkan koherensi gagasan mengenai konseling menghasilkan gagasan-gagasan baru. Meski demikian teori konseling mudah dipraktikkan, dengan cara membantu menjelaskan observasi konselor tersebut.
Boy dan Pine (1983) menguraikan detail dari nilai praktis suatu teori dengan menyebutkan bahwa teori adalah kata mengapa di belakang bagaimana peranan konselor, teori memberikan suatu kerangka di mana konselor dapat berfungsi. Konselor yang dipadu oleh teori dapat memenuhi tuntutan perannya, karena mempunyai alasan untuk apa yang dia lakukan. Boy dan Pine menunjukkan enam fungsi teori yang membantu konselor dengan cara yang praktis:
a)      Teori membantu konselor menemukan persatuan dan kesinambungan dalam perbedaan iksistensi.
b)      Teori mamaksa konselor untuk mengamati hubungan yang mungkin dia lewatkan sebelumnya.
c)      Teori memberikan pada konselor panduan operasional untuk digunakan dalam bekerja dan membantu konselor mengevaluasi perkembangannya sebagai seseorang professional
d)     Teori membantu konselor memusatkan diri pada data yang relevan dan menunjukkan apa yang harus dicari.
e)      Teori membantu konselor dalam membantu klien mengubah perilakunya secara efektif.
f)       Teori membantu konsselor mengevaluasi pendekatan lama dan baru pada proses konseling. Ini adalah basis untuk membangun pendekatan konseling yang baru.
“Kriteria utama bagi semua teori konseling adalah bagaimana teori dapat memberikan penjelaskan atas apa yang terjadi pada proses konseling” (Kelly, 1988, p.212-213). Nilai teori sebagai cara untuk mengatur informasi “bergantung seluruhnya pada tingkat penerapannya dalam realitas kehidupan manusia” (Young, 1988, p.336).
2.1.3.      Teori ke Praktik
Pada tahun 2008, terdapat lebih dari 400 sistem psikoterapi dan konseling di seluruh dunia (corsini,2008). Jadi, konselor mempunyai ragam pilihan teori yang luas untuk dipilih. Konselor yang efektif akan meneliti bukti keefektifan teori-teori yang ada dan mencocokkannya dengan kenyataan pribadinya dan realitas mengenai sifat manusia serta perubahan.
Bagaimanapun juga, seperti dikatakan Okun (1990), yang ditekannkan dalam konseling saat ni adalah menghubungkan teori, bukannya menciptakan. Penekanan ini terbangun dalam asumsi fundamental bahwa “tidak satu pun sudut pandang teoritis yang dapat menyediakan semua jawaban bagi klien kita saat ini” (p.xvi). lebih jauh lagi, konselor tampaknya secara prakmatis, luwes mengadaptasikan teknik dan intervensi-intervensi dari pendekatan teoritis yang berbeda ke dalam pekerjaannya, tanpa benar-benar menerima dasar sudut pandang beberapa teori. Praktik ini tampaknya menjadi suatu keharisan karena konselor harus mempertimbangkan factor internal, eksternal, antarpersonal, dan interpersonal katika bekerja bersama klien, dan hanya beberapa teori saja yang menggabumngkan semua dimensi ini menjadi satu.
Kebanyakan konselor professional masa kini (diperkirakan 60% hingga 70%) menganggap dirinya eklektik dalam menggunakan teknik dan teori (Lazarus & Beutler, 1993). Yaitu, menggunakan teknik dan teori untuk dicocokkan dengan kebutuhan klien dengan “rata-rata 4,4 teori digunakan untuk kerja terapeutiknya dengan klien” (Cheston, 200, p. 254). Sewaktu kebutuhan berubah, konselor pindah dari satu teori yang mereka gunakan ke pendekatan lainnya (suatu fenomena yang disebut konseling berganti-gaya).  Perubahan yang dilakukan oleh konselor berhubungan dengan tingkat perkembangan klien (Ivey, Ivey, Myers & Sweeney, 2005). Agar efektif, konselor harus mempertimbangkan seberapa jauh kliennya telah mengalami kemajuan dalam perkembangan structural, seperti yang digambarkan oleh Jean Piaget. Contohnya, seorang klien yang tidak sadar akan perkembangan lingkunganya membutuhkan pendekatan terapi yang terfokus pada “emosi, tubuh, dan pengalamannya di sini dan sekarang”; sementara klien dengan tingkatan perkembangan yang lebih maju akan cocok jika diberi pendekatan “operasi konsultasi-formal”, yng meneknkan pada pemikiran mengenai tindakan (Ivey & Goncalves, 1988, p. 410). Intinya adalah bahwa konselor dan teori harus dimulai dari tempat klien berada, membantu klien berkembang dalam pola yang benar dan utuh.
Sementara kekuatan elektik terletak pada kemampuannya untuk menarik teori, teknik, dan praktik yang beragam untuk dicocokkan dengan kebutuhan klien, pendekatan ini juga memiliki kekurangan. Contohnya, pendekatan elektik dapat membahayakan proses konseling jika konselor tidak familiar benar dengan sumua aspek yang terlibat di sini. Dalam situasi semacam itu konselor akan menjadi teknisi tanpa memahami mengapa pendekatan tertentu bekerja dengan baik dengan klien tertentu saat tertentu dan cara tertentu (Cheston, 2000). Pendekatan tanpa belajar dari konselor yang kurang berpendidikan ini kadang-kadang dinamai secara sarkastik sebagai “elektrik; yaitu, konselor mencoba semua cara dan metode yang “merangsangnya”. Masalah yang ada dalam orientasi eklektik adalah bahwa konselor lebih sering melakukan sesuatu yang membahayakan bagi proses konseling daripada mendatangan hasil yang baik jika dia hanya mempunyai sedikit pemahaman atau sama sekali tidak memahami apa yang dapat membantu klien.
Untuk menghadapi masalah ini, McBride dan Martin (1990) menyarankan adanya hierarki praktik eklektik dan mendiskusikan pentingnya mempunyai dasar teoritis yang kuat sebagai panduan. Tingkatan paling rendah atau pertama dari eklektisme adalah sinkrestima- proses penyatuan konsep-konsep yang tidak berhubungan secara tidak sistematis dan sembrono. Ini terjadi jika siswa lulusan dipacu untuk mempformulasikan teori konseling mereka sendiri tanpa terlebih dahulu mencoba bagaimana hasil dari model yang telah diuji. Tingkat eklektisme yang kedua adalah tradisional. Yaitu “menggabungkan secara teratur fiturfitur kompatibel dari berbagai sumber yang luas [menjadi] ke dalam keutuhan yang harmonis” (English & English, 1956, p. 168). Dibandingkan sinkretisma, hal tersebut lebih dipikirkan dam teorinya diperiksa secara mendalam.
Pada tingkat ketiga, eklektisme digambarkan sebagai professional atau teoretis atau sebagai integrasionisme teoritis (Lazarus & Beutler, 1993; Simon, 1989). Tipe eklektisme ini mengaruskan para konselor menguasai setidaknya dua teori sebelum mencoba mengkombinasikannya. Kendala yang ada pada pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini mengamnggap teori-teori tersebut memiliki derajat kesetaraan (yang mungkin tidak benar) dan eksistensi kriteria “untuk menentukan porsi atau potonngan teori apa yang harus dipertahankan atau dibuang” (Lazarus & Beutler, 1993, p.382). Hal tersebut berbeda dari model tradisional yang tidak membutuhkan pengusaan teori.
Tingkat keempat eklektisme disebut eklektisme, teknikal, diilustrasikan dalam pekerjaan Arnold Lazarus (2008) dan pendekatan konseling multimodalnya yang menilai apa yang dia uraikan sebagai tujuh elemen pengalaman klien. Vector-vektor tersebut diringkas dalam akronim BASIC ID: Behavior (perilaku) Affect (pengaruh) Sensation (sensasi) Imagery (gambaran) Cognitions (kognisi) Interpersonal relationships (hubungan antarpribadi) Drugs (obat-obatan)
Dalam pendekatan ini dipilih dan digunakan prosedur dari teori-teori yang berbeda dalam perawatan “tanpa perlu dilakuakan penambahan pada teori aslinya” (Lazarus & Beutler, 1993, p. 384). Di sini gagasannya adalah bahwa teknik, bukan teori, yang sebenarnya digunakan dalam merawat klien. Pendekatan ini segaris dengan apa yang disarankan oleh Cavanagh (1990) sebagai suatu pendekatan eklektik yang sehat pada konseling. Disini konselor harus mempunyai (aZ) pengetahuan  yang cukup dan pemahaman akan teori konseling yang digunakannya, (b) filosofi dasar yang integrative akan perilaku manusia yang membawa bagian-bagian terpisah dari berbagai teori ke dalam kombinasi yang memiliki arti, dan (c) cara yang fleksibel untuk mengikuti model ini dapat bekerja secara pragmatic dan efektif dalam suatu kerangka eklektik. Variable penting menjadi konselor eklektif yang sehat adalah pengusaan teori dan sensitivitas yang tinggi untuk mengetahui pendekatan apa yang harus digunakan kapan, dimana, dan bagaimana (Harman, 1997)
Tipe pendekatan eklektik yang tekakhir adalah model transteoretis, dari pengubahan (TTM) (Norcross & Beutler, 2008; Prochaska & DiClemente, 1992). Model ini berfokus pada arah dan memperkenalkan lima tahap perubahan prakontemplasi sampai pemeliharaan. Terdapat juga lima tingkatan prubahan:
a)      simtom/masalah situasional,
b)      kognisi kesalahan adaptif,
c)      konflik antarpribadi saat ini,
d)     konflik sistem keluarga, dan
e)      konflik intrapribadi,
“Konseling dari prespektif TTM memungkinkan pendekatan yang lebih makroskopik (milibatkan kerangka teoritis yang luas dan komprehensif) dan adaptif personal (melibatkan peningkatan pemikiran yang logis, akurat, ilmiah, dan kritis) daripada penyesuaian personal” (Petrocelli, 2002, p.25). kekurangan utamanya terletak pada kelengkapan dan kerumitan serta fakta bahwa TTM hanya pernah diuji dalam kelompok yang terbatas (misalnya, popolasi terpadu).
2.3.1        Teori Sistem
Teori sistem adalah istilah umum untuk mengonsepkan sekelompok elemen yang saling berhubungkan (misalnya, orang), yang berinteraksi sebagai satu entitas yang utuh (misalnya, kelompok atau keluarga). Sebagai sebuah konsep, teori sistem”lebih mirip pada suatu cara berpikir daripada teori yang koheren dan standar.”(Worden, 2003 p.8). Pembuat teori sistem adalah Ludwig von Bertalanffy (1968), seorang ahli biologi. Menurut teori tersebut, semua organism yang hidup tersusun atas komponen-komponen yang berinteraksi secara mutual, dan saling mempengaruhi satu sama lain. Tiga asumsi dasar yang membedakan teori sistem dari pendekatan konseling lainnya.
  1. Penyebab interpersonal
  2. “sistem psikologis sebaiknya dipahami sebagai pola interaksi interpersonal yang berulang,”dan
  3. “Perilaku simtomik harus….dipahami dari suatu sudut pandang interaksional” (Sexton, 1994, p.250)
Jadi, focus sistem teori secara umum adalah bagaimana interaksi dari bagian-bagian dapat mempengaruhi operasi sistem tersebut secara keseluruhan. Penyebab Sirkular adalah salah satu dari konsep utama yang dikenalkan oelh teori ini: gagasan adalah bahwa peristiwa-peristiwa saling berhubungan melalui serentetan umapn balik yang berhubungan. Di sini pengkambing-hitaman (seseorang ditunjuk sebagai penyebab suatu masalah) dan penyebab linear (seseorang dipandang sebagai penyebab untuk orang lain) dihilangkan. Ada sejumlah pendekatan konseling yang didasarkan pada teori sistem. Salah satunya adalah teori sistem Bowen, yang dikembangkan untuk membantu orang membedakan dirinya dari keluarganya. Terapi keluarga structural adalah teori kedua yang berfokus pada menciptakan batasan yang sehat. Pendekatan ketiga, terapi strategi, berasal dari penelitian Milton Erickson dan mempunyai banyak variasi, yang dapat diterapkan dalam berbagai cara.

2.3.3.1  Sistem Teori Bawen
Penemu atau pengembang, Salah satu pendekatan sistem terawal untuk bekerja bersama klien, khususnya anggota keluarga, yang diciptakan oleh Murray Bowen (1913-1990). Menurut Bowen, yang mempunyai permasalahan pribadi dengan keluarganya, individu yang tidak mempelajari dan memperbaiki pola yang diwariskan dari generasi sebelumnya, cenderung akan mengulanginya di dalam keluarganya sendiri. (Kerr, 1988)
Sistem Teori Bowen
Penemu/ pengembang. Murray Bowen (1913-1990). Sudut Pandang Tentang Sifat Manusia. Bowen percaya bahwa ada ansietas kronis di dalam semua kehidupan yang bersifat fisik dan emosional. Peranan Konselor adalah untuk melatih dan mengajar klien agar lebih kognitif saat berhadapan dengan orang lain. Tujuan konselor yakni klien akan memahami dan mengubah strategi dan polanya dalam menghadapi stres yang diwariskan dari generasi ke generasi. Teknik pada teori Bowen difokuskan pada cara untuk menciptakan seseorang individu dengan konsep diri yang sehat, yang mampu berinteraksi dengan orang lain dan tidak mengalami ansietas berlebih, setiap kali hubungannya mengalami tekanan. Teknik lainnya difokuskan pada proses kognitif, seperti mengajukan pertanyaan berdasarkan kepuasan keluarga seseorang (Bowen, 1976).Teknik ini juga berfokus pada detriangulasi, yang melibatkan”proses berhubungan dan terpisah secara emosional” dengan orang lain. Kekuatan dan Kontribusi teori ini adalah :
a.       Pendekatan ini berfokus pada riwayat keluarga multigenerasi dan pentingnya memahami dan menghadapi pola-pola di masa lalu, agar dapat menghindari pengulangan tingkah laku tertentu dalam hubungan antarpribadi.
b.      Pendekatan ini menggunakan genogram dalam memplot hubungan riwayat, yang merupakan alat spesifik yang asalnya dari pendekatan Bowen. Sekarang alat ini telah menjadi instrument yang digunakan oleh banyak pendekatan lain.
c.       Penekanan kognitif pada pendekatan ini dan fokusnya pada pembedaan diri dan detriangulasi.
Keterbatasan teori ini adalah:
a.       Pendekatan ini kompleks dan ekstensif. Teorinya tidak dapat dipisahkan dari terapi, dan jalinan tersebut membuat pendekatan ini lebih mempunyai keterlibatan daripada kebanyakan pendekatan terapi lainnya.
b.      Klien yang dapat memetik keuntungan paling banyak dari teori Bowen adalah yang mempunyai disfungsi berat atau pembedaan diri yang rendah.
c.       Pendekatan ini memerlukan investasi yang cukup besar pada berbagai tingkatan, yang mungkin sebagian klien tidak mau atau tidak bisa melakukannya.

2.3.3.1 Konseling Keluarga Struktural
Penemu/ pengembang konseling keliarga structural adalah Salvador Minuchin (1921-). Sudut pandang tentang sifat manusia menurut Minuchin (1974), setiap keluarga mempunyai struktur. Struktur adalah cara tak resmi, di mana suatu keluarga mengatur dirinya dan saling berhubungan. Peranan konselor adalah pengamat sekaligus ahli dalam menciptakan intervensi untuk mengubah dan memodifikasi struktur yang mengarisbawahi suatu keluarga. Tujuan konseling agar dapat mengubah dan mengatur ulang suatu keluarga agar menjadi unit yang lebih berfungsi dan produktif. Salah satu teknik paling utama adalah bekerja dengan interaksi keluarga. Teknik structural lainnya adalah: pengtuasi, ketidakseimbangan, presentasi, membuat batasan, intensitas, restrukturasi, dan menambahkan konstruksi kognitif.

Kekuatan dan Kontribusi
a.       Pendekatan ini cukup fleksibel, cocok diterapkan untuk keluarga dengan status ekonomi rendah maupun keluarga dengan penghasilan tinggi.(Minuchin, Colapinto,&Minuchin, 1999)
b.      Pendekatan ini efektif, sudah digunakan untuk merawat criminal remaja, alkoholik, dan penderita anoreksia.
c.       Pendekatan ini peka budaya dan tepat digunakan dalam berbagai budaya.
d.      Pendekatan ini jelas dalam definisi istilah-istilahnya, dan serta mudah diterapkan.
e.       Menekankan penghilangan simton dan reorganisasi keluarga dengan cara yang pragmatis.

Keterbatasan
a.       Banyak kritik yang mengatakan bahwa pendekatan ini tidak cukup kompleks, bersifat gender pada saat tertentu, dan terlalu berfokus pada masa sekarang.
b.      Tuduhan bahwa terapi structural telah dipengaruhi oleh terapi keluarga strategis dan tuntutan bahwa pendekatan ini sulit untuk dibedakan dari terapi strategis pada saat tertentu, akan menjadi suatu masalah.
c.       Karena konselor adalah yang berwenang pada proses perubahan, keluarga tidak diperdayakan sepenuhnya, hal ini dapat membatasi penyesuaian dan perubahan secara keseluruhan di masa datang.

2.3.3.3  Konseling Strategis (Singkat)
Penemu/ pengembang konseling strategis adalah Joeh Weakland, Paul Wazlawick, Jay Haley, Cloe Madanes, dan Milan Group yang merupakan pemimpin penting dari sekolah strategis. Sudut Pandang tentang Sifat Manusia adalah upaya untuk membantu orang beradaptasi. Konselor strategis mempunyai pandangan yang sistemik terhadap masalah tingkah laku, dan berfokus pada prosesnya bukan inti dari interaksi disfungsional. Tugas dari konselor strategis adalah membuat orang mencoba tingkah laku yang baru, karena tingkah laku yang lama tidak dapat bekerja dengan baik. Tujuannya untuk memecahkan, menyingkirkan, atau memperbaiki tingkah laku yang bermasalah yang dibawa dalam konseling. Teknik yang digunakan adalah:
a.       Pelabelan ulang (memberikan presfektif baru pada suatu tingkah laku).
b.      Paradoks (memaksakan kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh seseorang)
c.       Menggambarkan simtom (meminta keluarga atau pasangan untuk menunjukkan secara suka rela apa yang mereka manifestasikan  secara tidak sadar sebelumnya).
d.      Pura-pura untuk meminta klien membuat perubahan.
Kekuatan dan Kontribusi:
a.       Banyak dari trapis tersebut bekerja dalam tim
b.      Sifat dari pendekatan ini pragmatis dan fleksibel, dan sebagainya.
c.       Fokus praktisioner adalah pada inovasi dan kreativitas.
d.      Penekanan dalam pendekatan ini adalah untuk mengubah persepsi di dalam diri orang, sebagai cara mengasuh tingkah laku baru.
e.       Secara sengaja dilakukan upaya membereskan satu masalah terlebih dulu dan membatasi jumlah sesi dengan klien, sehingga focus dan motivasi untuk melakukan sesuatu secara berbeda dapat meningkat.
f.       Pendekatan ini dapat dimodifikasi dan diterapkan ke dalam berbagai lingkungan.
Keterbatasan
a.       Beberapa fondasi dan teknik utamanya saling bertumpuk dengan sistem lain dan teori, terapi singkat.
b.      Beberapa pendirian bersifat kontroversial.
c.       Ditekankannya keahlian dan kekuasaan konselor di dalam pendekatan strategis membuat klien tidak mendapatkan kebebasan, atau kemampuan sebesar yang semestinya.

2.3.2        Pendekatan Konseling Singkat (Brief Counseling)
2.3.4.1  Konseling Berfokus Solusi.
Penemu/ pengembang adalah Steve deShazer dan Bill O’Hanlon. Sudut pandang tentang sifat manusia konseling ini berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan klien. Peranan konselor ialah menentukan seberapa besar komitmen dan keaktifan klien untuk menjalani proses perubahan. Tujuannya membantu klien mengenal sumber daya dalam dirinya dan menyadari pengecualian di dalam dirinya pada saat dia bermasalah. Teknik konseling berfokus solusi merupakan suatu proses kolaborasi antara konselor dan klien.
Kekuatan dan Kontribusi.
a.       Singkatnya waktu konseling
b.      Fleksibel, mempunyai banyak riset
c.       Digunakan kepada klien yang berbeda-beda
d.      Perubahan kecil pada tingkah laku, dan sebagainya.
Keterbatasan
a.       Hampir tidak memperhatikan riwayat klien.
b.      Kurang memfokuskan pencerahan
c.       Perawatannya mahal karena menggunakan tim.

2.3.4.2  Konseling Naratif.
Penemu/ Pengembang adalah Michael White dan David Epston (1990). Sudut pandang tentang manusia. Pengetahuan dibentuk dari interaksi sosial. Konselor sebagai kolaborator dan ahli dalam memberikan pertanyaan. Tujuan klien menjalani terapi naratif. Teknik yang digunakan adalah :
a.       Eksternalisasi masalah, berarti memisahkan seseorang dari suatu masalah dan membedakan kesulitan; sehingga sumber daya klien dapat difokuskan pada bagaimana suatu situasi.
b.      Memunculkan dilemma, sehingga klien mengamati aspek-aspek yang mungkin terjadi suatu masalah sebelum kebutuhannya meningkat.
c.       Prediksi kemunduran, sehingga klien dapat memikirkan apa yang harus dilakukan jika ada kesulitan
d.      Menulis ulang kehidupan merupakan fokus utama perawatan.
Kekuatan dan Kontribusi
a.       Menghilangkan tuduhan dan menghasilkan dialog, ketika semua orang bekerja untuk memecahkan masalah bersa
b.      Klien menciptakan kisah baru dan kemungkinan tindakan yang baru.
c.       Pengecualian masalah disoroti seperti dalam terapi berfokus solusi.
d.      Klien dipersiapkan sebelum menghadapi kemunduran, dsb.
Keterbatasan
a.       Pendekatan ini cukup rumit dan tidak bekerja baik untuk klien yang intelektualnya kurang memadai.
b.      Tidak ada norma yang mengatur akan menjadi siapa klien nantinya.
c.       Sejarah masalah tidak dibahas sama sekali.

2.3.4.3  Pendekatan Konseling Krisis
Konseling krisis adalah penggunaan beragam pendekatan langsung dan berorientasi pada tindakan, untuk membantu individu menemukan sumber daya di dalam dirinya menghadapi krisis secara eksternal.

2.3.3        Konseling Krisis
Penemu/ pengembang adalah Erich Lindemann (1944-1956) dan Gerald Caplan (1964). Sudut pandang tentang sifat manusia. Kehilangan adalah bagian kehidupan yang tidak dapat dielakkan. Tujuannya adalah memberikan bantuan segera dan dapat berbagai bentuk kepada orang yang membutuhkan. Peranan konselor adalah mendorong ndividu matang dalam kepribadian dan memiliki banyak pengalaman kehidupan yang telah dia hadapi dengan sukses. Teknik konseling krisis dilakukan secara mengalir dan kontinu. Setelah penilaian, ada tiga aktivitas mendengarkan yang esensial, yang harus diterapkan.
a.       Mendefinisikan masalah, khususnya dari sudut pandang klien
b.      Memastikan keselamatan klien, meminimalkan bahaya psikologis dan fisik pada klien atau orang lain.
c.       Menyediakan dukungan, artinya berkomunikasi dengan klien secara tulus dan peduli tanpa pamrih.
Kekuatan dan Kontribusi
a.       Singkat dan langsung
b.      Tujuan dan maksud yang sederhana karena sifat krisis yang tiba-tiba dan atau traumatis.
c.       Bergantung pada intensitas, yang lebih besar daripada bentuk konseling biasa
Keterbatasan
a.       Tidak memberikan resolusi yang mendalam.
b.      Harus dilakukan dengan cepat.
c.       Lebih terbatas waktu.

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...