Tuesday, 30 June 2020

PENGERTIAN KOMPETENSI KONSELOR/PENDIDIK KONSELOR

 PENGERTIAN KOMPETENSI KONSELOR/PENDIDIK KONSELOR
Kompetensi merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu, dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Dalam Landasan Bimbingan dan Konseling karya Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, konselor haruslah kompeten (2009:38). Kompeten maksudnya, bahwa konselor itu memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral sebagai pribadi yang berguna. Kompetensi sangatlah penting bagi konselor, sebab klien yang dikonseling akan belajar dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia.
Jadi, kompetensi merupakan hasil konstruksi kemampuan (compose skill) sehingga seseorang mampu; (1) melaksanakan pekerjaan sesuai peran, posisi atau profesi, (2) mentransfer ke tugas dan situasi baru, serta (3) melanjutkan studi dan mencapai kedewasaan diri.
Sosok utuh kompetensi konselor  terdiri atas dua komponen yang berbeda namun terintegrasi dalam praksis sehingga tidak bisa dipisahkan yaitu kompetensi akademik dan kompetensi profesional (Syamsu Yusuf, 2009:4).
Harold McCully dalam bukunya, The School Conselor: Strategy for Proffesionalization (Gibson, 2011:74), menyatakan “Sebuah profesi merupakan pekerjaan yang di dalamnya anggota suatu kelompok profesional memastikan kompetensi minimum siapa pun yang ingin memasuki bidang kerja mereka, biasanya dilakukan dengan cara menetapkan dan menegakkan standar penyeleksian, pelatihan dan pelisensian atau sertifikasi.”
Seorang konselor/pendidik konselor menurut  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Depdiknas, 2005a), dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Depdiknas, 2005b), memiliki empat kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran, yakni: kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial (Prayitno, 2009:59).


1.    Kompetensi Paedagogik
Kompetensi paedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimilikinya.
Pada kompetensi paedagogik ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
a.  Memahami landasan keilmuan pendidikan (filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi)
1)  Memahami hakikat kebenaran dan sistem nilai yang mendasari proses-proses pendidikan
2)  Memahami proses pembentukan perilaku individu dalam proses pendidikan
3)  Memahami karakteristik individu berdasar usia, gender, ras, etnisitas, status sosial, dan ekonomi dan ekonomi dapat mempengaruhi individu dan kelompok
4)  Menguasai konsep dasar dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan
b.  Memahami hubungan antar unsur-unsur pendidikan (pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, metode pendidikan, dan lingkungan pendidikan)
c.   Mampu memilih dan menggunakan alat-alat pendidikan (kewibawaan, kasih sayang, kelembutan, keteladanan, dan hukuman yang mendidik)

2.    Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian  adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Pada kompetensi kepribadian ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
a.    Menampilkan keutuhan kepribadian konselor
1)    Menampilkan perilaku membantu berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2)    Mengkomunikasikan secara verbal dan atau nonverbal minat yang tulus dalam membantu orang lain
3)    Mendemonstrasikan sikap hangat dan penuh perhatian
4)    Secara verbal dan nonverbal mampu mengkomunikasikan rasa hormat konselor terhadap klien sebagai pribadi yang berguna dan bertanggung jawab
5)    Mengkomunikasikan harapan, mengekspresikan keyakinan bahwa klien memiliki kapasitas untuk memecahkan problem, menata dan mengatur hidupnya, dan berkembang.
6)    Mendemonstrasikan sikap empati dan atribusi secara tepat
7)    Mendemonstrasikan integritas dan stabilitas kepribadian serta kontrol diri yang baik
8)    Memiliki toleransi yang tinggi terhadap stress dan frustrasi
9)    Mendemonstrasikan berfikir positif terhadap orang lain dan lingkungannya

3.    Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
4.    Kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan pendidik membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka konselor terikat dengan kompetensi yang harus dikembangkan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Sehubungan dengan hal itu, kompetensi yang harus menjadi pegangan oleh konselor adalah Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI) dalam konteks PP 19/2005.
Setiap konselor dalam kehidupan kesehariannya, baik sebagai pribadi maupun dalam menjalankan tugasnya, terikat oleh SKKI yang dijabarkan dalam kaitannnya dengan PP 19/2005, sebagai berikut:
1.     Kompetensi Paedagogik (PP 19/2005)
Pada kompetensi paedagogik ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
K.1.1. Memahami landasan keilmuan pendidikan (filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi)
a.    Memahami hakikat kebenaran dan sistem nilai yang mendasari proses-proses pendidikan
b.    Memahami proses pembentukan perilaku individu dalam proses pendidikan
c.    Memahami karakteristik individu berdasar usia, gender, ras, etnisitas, status sosial, dan ekonomi dan ekonomi dapat mempengaruhi individu dan kelompok.
K.1.3. Menguasai konsep dasar dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan
a.    Memahami hubungan antar unsur-unsur pendidikan (pendidik, peserta didik, tujuan pendidikan, metode pendidikan, dan lingkungan pendidikan)
b.    Mampu memilih dan menggunakan alat-alat pendidikan (kewibawaan, kasih sayang, kelembutan, keteladanan, dan hukuman yang mendidik)
2.     Kompetensi Kepribadian
Pada kompetensi kepribadian ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
K.2.1. Menampilkan keutuhan kepribadian konselor
a.    Menampilkan perilaku membantu berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
b.    Mengkomunikasikan secara verbal dan atau nonverbal minat yang tulus dalam membantu orang lain
c.    Mendemonstrasikan sikap hangat dan penuh perhatian
d.    Secara verbal dan nonverbal mampu mengkomunikasikan rasahormat konselor terhadap klien sebagai pribadi yang berguna dan bertanggung jawab
e.    Mengkomunikasikan harapan, mengekspresikan keyakinan bahwa klien memiliki kapasitas untuk memecahkan problem, menata dan mengatur hidupnya, dan berkembang.
f.     Mendemonstrasikan sikap empati dan atribusi secara tepat
g.    Mendemonstrasikan integritas dan stabilitas kepribadian serta control diri yang baik
h.    Memiliki toleransi yang tinggi terhadap stress dan frustrasi
i.      Mendemonstrasikan berfikir positif terhadap orang lain dan lingkungannya
K.2.2. Berperilaku etik dan professional
a.    Menyadari bahwa nilai-nilai pribadi konselor dapat mempengaruhi respon-respon konselor terhadap klien
b.    Menghindari sikap-sikap prasangka dan pikiran-pikiran stereotipe terhadap klien
c.    Tidak memaksakan nilai-nilai pribadi konselor terhadap klien
d.    Memahami kekuatan dan keterbatasan personal dan professional
e.    Mengelola diri secara efektif
f.     Bekerja sama secara produktif dengan teman sejawat dan anggota profesi lain
g.    Secara konsisten menampilkan perilaku sesuai dengan kode etik profesi.

3.     Kompetensi Profesional
Selanjutnya, pada kompetensi profesional ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
K.2.3. Memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan professional
a.    Menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang secara etik dapat dipertanggungjawabkan bagi semua klien
b.    Berperilaku objektif terhadap pandangan, nilai-nilai, dan reaksi emosional klien yang berbeda dengan konselor
c.    Memiliki inisiatif dan terlibat dalam pengembangan profesi dan pendidikan lanjut untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan professional
d.    Memiliki kepedulian untuk aktif dalam organisasi profesi konseling
K.3.1. Memahami kaidah-kaidah perilaku individu dan kelompok
a.    Menjelaskan mekanisme perilaku menurut berbagai pendekatan
b.    Menjelaskan dinamika perilaku individu dan kelompok
c.    Menjelaskan hubungan antara motivasi dan emosi
d.    Menjelaskan mekanisme pertahanan diri
K.3.2. Memahami konsep kepribadian
a.    Menjelaskan proses pembentukan pribadi
b.    Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
c.    Menjelaskan bentuk-bentuk gangguan kepribadian individu
K.3.3. Memahami konsep dan prinsip-prinsip perkembangan individu
a.    Menjelaskan prinsip-prinsip perkembangan
b.    Menjelaskan proses perkembangan individu
c.    Menjelaskan aspek-aspek perkembangan
d.    Menjelaskan fase dan tugas perkembangan
e.    Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
K.3.4. Mampu memfasilitasi perkembangan individu
a.    Memilih strategi intervensi perkembangan individu yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik individu
b.    Mampu merekayasa lingkungan
K.4.1. Memahami hakikat dan makna asesmen
a.    Memahami perspektif historis asesmen sebagai awal layanan
b.    Menunjukkan alasan dan pentingnya asesmen
c.    Menunjukkan bukti kebenaran, jenis kebenaran, dan hubungan antar kebenaran secara objektif
d.    Memahami konsep validitas, reliabilitas, dan daya beda dalam pengembangan instrument
e.    Memahami konsep statistika dalam asesmen meliputi timbangan pengukuran, ukuran kecondongan terpusat, indeks variabilitas, bentuk dan jenis distribusi, serta korelasi
f.     Memahami teori kesalahan pengukuran, model dan penggunaan informasi keterandalan, serta hubungan antara kebenaran dengan keterandalan
K.4.2. Memilih strategi dan teknik asesmen yang tepat
a.    Memahami teknik-teknik asesmen melalui tes meliputi: jenis, kelebihan dan kekurangan, dan karakteristik masing-masing perilaku yang diungkap oleh teknik tersebut
b.    Memahami teknik-teknis asesmen non tes meliputi: macamnya, kelebihan dan kekurangan, dan karakteristik masing-masing perilaku yang diungkap oleh teknik tersebut
c.    Mampu memiliki teknik-teknik asesmen sesuai dengan pertimbangan usia, gender, orientasi seksual, etnik, kultur, agama, dan factor lain dalam asesmen individual, kelompok, dan populasi spesifik.
K.4.3. Mengadministrasikan asesmen dan menafsirkan hasilnya
a.    Mampu menggunakan tes psikologis dan menginterpretasikan hasilnya
b.    Mampu menggunakan instrumen non-tes dalam asesmen psikologis dan menginterpretasikan hasilnya
c.    Mampu mengelola konferensi kasus dalam alur asesmen
d.    Mampu menggunakan komputer dan teknologi informasi sebagai alat bantu asesmen
e.    Mampu melakukan pendokumentasian hasil asesmen secara sistematis dan mudah diakses
K.4.4. Memanfaatkan hasil asesmen untuk kepentingan bimbingan dan konseling
a.    Mampu memilih hasil asesmen untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling
b.    Mampu memprediksi perkembangan individu dan atau kelompok dalam menghadapi perubahan
c.    Mengelola konferensi kasus dalam alur asesmen
K.4.5. Mengembangkan instrumen asesmen
a.    Mengembangkan instrumen tes
b.    Mengembangkan instrumen non-tes
K.5.1. Memahami konsep dasar, landasan, azas, fungsi, tujuan dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
a.    Mampu menjelaskan konsep dasar bimbingan dan konseling
b.    Mampu menjelaskan landasan filosofis, religius, psikologis, sosial budaya, ilmiah, dan teknologis, serta landasan paedagogis
c.    Mampu menjelaskan azas-azas bimbingan dan konseling
d.    Mampu menjelaskan fungsi bimbingan dan konseling
e.    Mampu menjelaskan tujuan bimbingan dan konseling
f.     Mampu menjelaskan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
K.5.2. Memahami bidang-bidang garapan bimbingan dan konseling
a.    Terampil memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pribadi-sosial
b.    Terampil memberikan pelayanan bimbingan dan konseling belajar
c.    Terampil memberikan pelayanan bimbingan dan konseling karir
K.5.3. Menguasai pendekatan dan teknik teknik bimbingan dan konseling
a.    Mampu menjelaskan berbagai macam pendekatan dalam bimbingan dan konseling
b.    Mampu memilih pendekatan bimbingan dan konseling secara tepat dan mempraktikkannya sesuai dengan keadaan klien
c.    Terampil menggunakan teknik-teknik bimbingan dan konseling individual
d.    Terampil menggunakan teknik-teknik bimbingan dan konseling kelompok
K.5.4. Mampu menggunakan dan mengembangkan alat dan media bimbingan dan konseling
a.    Memahami berbagai alat dan media dalam bimbingan dan konseling
b.    Mampu mengembangkan berbagai alat dan media bimbingan dan konseling
c.    Mampu menggunakan dan mengambangkan model-model layanan bimbingan dan konseling berbasis teknologi
K.6.1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan perencanaan program bimbingan dan konseling
a.    Menerapkan prinsip-prinsip perencanaan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan program bimbingan dan konseling
b.    Mampu melakukan penilaian kebutuhan layanan bimbingan dan konseling
c.    Menentukan tujuan dan menentukan prioritas program bimbingann dan konseling
d.    Menyusun program bimbingan dan konseling
K.6.2. Mampu mengorganisasikan dan mengimplemetasikan program bimbingan dan konseling
a.    Mengidentifikasi personalia dan sasaran program bimbingan dan konseling secara tepat
b.    Mengkoordinasikan dan mengorganisasikan personalia dan sumber daya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan program bimbingan dan konseling secara maksimal
c.    Melaksanakan program bimbingan dan konseling dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh komponen yang terkait
K.6.3. Mampu mengevaluasi program bimbingan dan konseling
a.    Mereview program bimbingan dan konseling berdasarkan standar penyelenggaraan program
b.    Mampu menggunakan pendekatan evaluasi program bimbingan dan konseling secara tepat
c.    Mengkoordinasikan kegiatan evaluasi program bimbingan dan konseling
d.    Membuat rekomendasi yang tepat untuk perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling
e.    Mendiseminasikan hasil dan temuan-temuan evaluasi penyelenggaraan program bimbingan dan konseling kepada pihak yang berkepentingan
f.     Mengontrol implementasi program bimbingan dan konseling agar senantiasa berjalan sesuai desain perencanaan program
K.6.4. Mampu mendesain perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling
a.    Memanfaatkan hasil evaluasi program bimbingan dan konseling untuk perbaikan dan pengembangan program
b.    Menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan program bimbingan dan konseling
K.7.1. Memahami berbagai jenis dan metode riset
a.    Mampu menjelaskan konsep, prinsip, dan metode riset
b.    Mendesain dan mengimplementasikan riset
K.7.2. Mampu merancang riset bimbingan dan konseling
a.    Mengidentifikasi masalah
b.    Merumuskan masalah
c.    Menentukan kerangka fikir riset
d.    Merumuskan tujuan dan manfaat hasil riset
e.    Menentukan pendekatan riset
f.     Menentukan subjek riset
g.    Menentukan prosedur dan mengembangkan teknik pengumpulan data
h.    Menentukan teknik analisis data
K.7.3. Melaksanakan riset bimbingan dan konseling
a.    Mengumpulkan data riset
b.    Mengolah dan menganalisis data
c.    Melaporkan hasil riset
K.7.4. Memanfaatkan hasil riset dalam bimbingan dan konseling
a.    Mampu membaca dan menafsirkan hasil riset
b.    Mampu memanfaatkan hasil riset untuk pengembangan bimbingan dan konseling

4.     Kompetensi Sosial
Dan terakhir, pada kompetensi sosial ini, sub kompetensi dan indikatornya (SKKI), adalah sebagai berikut:
K.1.2. Menguasai landasan budaya
a.    Memahami perbedaan-perbedaan budaya (usia, gender, ras, etnisitas, status sosial, dan ekonomi) dapat mempengaruhi individu dan kelompok
b.    Memahami dan menunjukkan sikap penerimaan terhadap perbedaan sudut pandang subjektif antara konselor dengan klien
c.    Peka, toleran dan responsif terhadap perbedaan budaya klien


K.2.1. Menampilkan keutuhan pribadi konselor
a.    Mengkomunikasikan secara verbal dan atau nonverbal minat yang tulus dalam membantu orang lain
b.    Mendemonstrasikan sikap hangat dan penuh perhatian
c.    Secara verbal dan nonverbal mampu mengkomunikasikan rasahormat konselor terhadap klien sebagai pribadi yang berguna dan bertanggung jawab
d.    Mengkomunikasikan harapan, mengekspresikan keyakinan bahwa klien memiliki kapasitas untuk memecahkan problem, menata dan mengatur hidupnya, dan berkembang
K.2.2. Menampilkan perilaku etik dan professional
a.    Bekerja sama secara produktif dengan teman sejawat dan anggota profesi lain
Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan kompetensi profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah (scientific basic) dan kiat (arts) pelaksanaan layanan profesional bimbingan dan konseling. Landasan ilmiah inilah yang merupakan khasanah pengetahuan dan keterampilan  yang digunakan oleh konselor (enabling competencies) untuk mengenal secara mendalam dari berbagai segi kepribadian konseli yang dilayani, seperti dari sudut pandang filosofis, paedagogis, psikologis, antropologis, dan sosiologis.

Kompetensi akademik seorang konselor profesional terdiri atas kemampuan (Syamsu, 2009:4-5):
a.    Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani
1)     Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum
2)     Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku  konseli 
b.    Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling
1)    Menguasai teori dan praksis pendidikan
2)    Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang, satuan pendidikan
3)    Menguasai konsep dan praksis penelitian  dalam bimbingan dan konseling
4)    Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling

c.    Menyelenggarakan Bimbingan dan konseling yang memandirikan
1)   Merancang program Bimbingan dan Konseling
2)   Mengimplementasikan program  Bimbingan dan Konseling yang komprehensif
3)   Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling.
4)   Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli.
d.    Mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan
1)     Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2)     Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat
3)     Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional
4)     Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja
5)     Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling
6)  Mengimplementasikan kolaborasi antar profes
A.     IMPLIKASI SOSOK UTUH KOMPETENSI KONSELOR DAN PENDIDIK KONSELOR PADA KURIKULUM JURUSAN/PRODI BK
Dengan melihat sosok utuh kompetensi konselor dan pendidik konselor, sebagaimana disebutkan di atas, maka implikasinya pada kurikulum jurusan /prodi Bimbingan dan Konseling adalah konselor maupun pendidik konselor selain dituntut penguasaan kemampuan sebagai konselor maupun pendidik dalam program S-1 Bimbingan dan Konseling yang diakhiri dengan Program Pendidikan Profesi Konselor, khususnya bagi dosen program S-1 Bimbingan dan Konseling, juga dituntut untuk menguasai pendekatan, prosedur dan teknik Evaluasi Diri dalam rangka mengungkap akar permasalahan yang menjadi kendala serta kemampuan menyusun serta mengimplementasikan program perbaikan untuk meningkatkan mutu kinerja Program S-1 Bimbingan dan Konseling yang diampunya agar lulusannya memiliki daya saing minimal di tingkat nasional, serta menguasai pula pendekatan, prosedur dan teknik supervisi yang diperlukan sebagai penyedia penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Konselor, serta kemampuan mengembangkan profesionalitas sebagai pendidik konselor secara berkelanjutan.
Sedangkan Pembentukan Kompetensi Akademik calon konselor yang meliputi kemampuan (a) memahami konseli yang hendak dilayani, (b) menguasai khasanah teoretik, konteks, asas, dan prosedur serta sarana yang digunakan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, (c) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (d) mengembangkan profesionalitas sebagai konselor secara berkelanjutan yang dilandasi sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung,  dilakukan melalui proses pendidikan formal jenjang S-1 dalam bidang bimbingan dan konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan dalam bidang bimbingan dan konseling, dengan gelar akademik disingkat S.Pd.
Adapun rambu-rambu yang wajib diindahkan dalam penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, baik pada tahap pembentukan kemampuan akademik yang berujung pada penganugerahan ijasah Magister Pendidikan (M.Pd) dalam bidang Bimbingan dan Konseling, maupun pada tahap pembentukan kemampuan profesional sebagai pendidik konselor yang bermuara pada penganugerahan gelar profesi Magister Bimbingan dan Konseling, disingkat M.Kons.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2008. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jurusan BK UPI, Bandung.

Gibson, Robert L. Dan Marianne H. Mitchell, 2011, Bimbingan dan Konseling, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prayitno, 2009, Wawasan Profesional Konseling, Padang: Sukabina Offset
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan, 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu dan tim, 2009. Kode Etik Profesi Konselor Indonesia , Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Jakarta.

0 comments:

Post a comment