Thursday, 11 June 2020

Pengertian Kematangan Karir


A.    Kematangan Karir
1.      Pengertian Kematangan Karir
Kematangan karir merupakan aspek yang perlu dimiliki siswa untuk menunjang karir dimasa depan. Pengertian kematangan karir yang diungkapkan oleh B. Hasan (2006: 127), menyatakan bahwa kematangan karir yaitu sikap dan kompetensi yang berperan untuk pengambilan keputusan karir. Sikap dan kompetensi tersebut mendukung penentuan keputusan karir yang tepat. Kematangan karir juga merupakan refleksi dari proses perkembangan karir individu untuk meningkatkan kapasitas untuk membuat keputusan karir (Richard, 2007: 171). Sedangkan Crites (Levinson, 1998: 475), mendefinisikan kematangan karir individu sebagai kemampuan individu untuk membuat pilihan karir, yang meliputi penentuan keputusan karir, pilihan yang realistik dan konsisten. Pengertian kematangan karir jauh lebih luas daripada sekedar pemilihan pekerjaan, karena akan melibatkan kemampuan individu baik dalam dalam membuat keputusan karir maupun aktivitas perencanaan karir. Kematangan karir mengarah pada pengenalan karir secara menyeluruh, diawali dengan pengenalan potensi diri, memahami lapangan kerja yang sebenarnya, merencanakan sampai dengan menentukan pilihan karir yang tepat.
Pengertian kematangan karir menurut Luzzo (Levinson, 1998: 475), mengemukakan bahwa kematangan karir merupakan aspek yang penting bagi individu dalam memenuhi kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan untuk membuat keputusan karir yang cerdas dan realistik. Super berpendapat bahwa keberhasilan dan kesiapan remaja untuk memenuhi tugas-tugas yang terorganisir yang terdapat dalam setiap tahapan perkembangan karir disebut sebagai kematangan karir (Gonzales, 2008: 749). Kematangan karir seseorang juga dipengaruhi oleh usia, menurut (Gonzales, 2008: 749). Kesesuaian dengan usia yang dimaksudkan dalam definisi ini, adalah berdasarkan teori Life-Span, Life-Space dari Super, yang mengatakan bahwa setiap individu pada jenjang usia tertentu mempunyai peran yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Kesimpulan kematangan karir dari beberapa pendapat tersebut adalah sikap dan kompetensi individu dalam menentukan keputusan karir yang ditunjang oleh faktor kognitif dan afektif dengan meningkatkan pengetahuan dan keahlian. Kematangan karir ini merupakan hubungan antara usia individu dengan tahap perkembangan karir yang mempunyai peran dalam kematangan karir yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dillard (1985 : 32) mengatakan bahwa kematangan karier merupakan sikap individu dalam pembuatan keputusan karier ditampakan oleh tingkat konsistensi pilihan karier dalam suatu periode tertentu.
Tabel 2.1Perbandingan Kematangan Karier Menurut Super dan Crites
Super (1951,1974)
Crites(1965,1971)
1.      Career Plafulness
  • Distant future
  • Intermediate future
  • Present
Degree of career development
1.      Consistency
  • Field
  • Time
  • Level
  • Family
  • Indepence
1.      Career Eksploration
  • Consultation
  • Resources
  • Participation
2.      Realism
  • Interests
  • Skills
  • Personality
  • Social Class
3.      Information
  • Educational
  • Income requirements
  • Duties Supply and demand
  • Condition
  • Career advancement
4.      Competencies
  • Problem solving
  • Planning
  • Goal selection
  • Self-appraisal
  • Occupational information
5.      Decition making
  • Principles
  • Practice
4.      Attitudes
  • Orientation
  • Preference
  • Commitment
  • Involvement
6.      Reality orientation
  • Self-knowledge
  • Realism
  • Consistensy
  • Crystalization
  • Work experience

(Gonzales, Alveres Manuel. (2008). “Career Maturity: a Priority for Secondary Education”. Journal of Research in Eduvational Psycology). No 16, Vol 6(3), pp 749-772.)

Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kematangan karier merupakan keberhasilan individu untuk menjalankan tugas perkembangan karier sesuai dengan tahap perkembangan yang sedang dijalani, meliputi pembuatan perencanaan, pengumpulan informasi mengenai pekerjaan, dan pengambilan keputusan karier yang tepat berdasarkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai karier yang dipilih. Pendekatan multidisipliner pada pengembangan karier yang dipergunakan oleh Super tercermin dalam minatnya terhadap psikologi diferensial atau teori trait dan faktor sebagai media pengembangan instrument testing dan norma-norma asesmen yang menyertainya. Dia berpendapat bahwa psikologi diferensial sangat penting dalam upaya untuk memperkaya data tentang perbedaan okupasional yang terkait dengan kepribadian, aptitude, dan minat. Teori self-concept merupakan bagian yang sangat penting dari pendekatan Super terhadap perilaku vokasional. Penelitian menunjukkan bahwa vocational self-concept berkembang melalui pertumbuhan fisik dan mental, observasi kehidupan bekerja, mengidentifikasi orang dewasa yang bekerja, lingkungan umum, dan pengalaman pada umumnya. Pada akhirnya, perbedaan dan persamaan antara diri sendiri dan orang lain akan terasimilasi. Bila pengalaman yang terkait dengan dunia kerja sudah menjadi lebih luas, maka konsep diri vokasional yang lebih baik pun akan terbentuk. Meskipun vocational self-concept hanya merupakan bagian dari konsep diri secara keseluruhan, namun konsep tersebut merupakan tenaga penggerak yang membentuk pola karier yang akan diikuti oleh individu sepanjang hidupnya. Jadi, individu mengimplementasikan konsep dirinya ke dalam karier yang akan menjadi alat ekspresi dirinya yang paling efisien.
2.      Indikator Kematangan Karir
a.      Anak SD
Istilah kematangan karir untuk siswa sekolah dasar adalah kesadaran karir (career awareness) karena pada tahap ini anak masih berada pada tingkatan kesadaran sebagai bentuk kematangan karir pada tahapannya. Terdapat beberapa kompetensi karir bagi siswa sekolah dasar, antara lain:
1.      Pentingnya pengetahuan konsep diri yang positif tentang perkembangan karir
2.      Keterampilan berinteraksi dengan orang lain
3.      Kesadaran pentingnya perkembangan emosi dan fisik permbuatan karir
4.      Kesadaran pentingnya pencapaian prestasi untuk mendapatkan kesempatan karir
5.      Kesadaran hubungan antara pekerjaan dan belajar
6.      Keterampilan untuk memahami dan menggunakan informasi karir
7.      Kesadaran hubungan antar tanggung jawab personal, kebiasaan bekerja yang baik dan kesempatan karir
8.      Kesadaran bagaimana karir berhubungan dengan fungsi dan kebutuhan di masyarakat
9.      Memahami bagaimana cara mengambil keputusan dan memili alternative berdasarkan pendidikan dan tujuan akhir
10.  Kesadaran hubungan antara peran dalam kehidupan karir
11.  Kesadaran tentang perbedaan pekerjaan dan perubahan peran laki-laki dan perempuan
12.  Kesadaran terhadap proses perencanaan karir
b.      Remaja
Menurut Donald E. Super (Sharf, 1992: 155-159), menyatakan bahwa kematangan karir remaja dapat diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut:
1.      Perencanaan karir (career planning)
     Aspek perencanaan karir menurut Super (Sharf, 1992: 156), merupakan aktivitas pencarian informasi dan seberapa besar keterlibatan individu dalam proses tersebut. Kondisi tersebut didukung oleh pengetahuan tentang macam-macam unsur pada setiap pekerjaan. Indikator ini adalah menyadari wawasan dan persiapan karir, memahami pertimbangan alternatif pilihan karir dan memiliki perencanaan karir dimasa depan. 
2.      Eksplorasi karir (career exploration)
Menurut Super (Sharf, 1992: 157) merupakan kemampuan individu untuk melakukan pencarian informasi karir dari berbagai sumber karir, seperti kepada orang tua, saudara, kerabat, teman, guru bidang studi, konselor sekolah, dan sebagainya. Aspek eksplorasi karir berhubungan dengan seberapa banyak informasi karir yang diperoleh siswa dari berbagi sumber tersebut. Indikator dari aspek ini adalah mengumpulkan informasi karir dari berbagai sumber dan memanfaatkan informasi karir yang telah diperoleh.
3.      Pengetahuan tentang membuat keputusan karir (decision making)
Aspek ini menurut Super (Sharf, 1992: 157) adalah kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan dan pemikiran dalam membuat perencanaan karir. Konsep ini didasari pada tuntutan siswa untuk membuat keputusan karir, dengan asumsi apabila siswa mengetahui bagaimana orang lain membuat keputusan karir maka diharapkan mereka juga mampu membuat keputusan karir yang tepat bagi dirinya.
4.      Pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja  (world of work information)
Aspek ini terdiri dari dua komponen menurut Super (Sharf, 1992: 158), yakni terkait dengan tugas perkembangan, yaitu individu harus tahu minat dan kemampuan diri, mengetahui cara orang lain mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan mengetahui alasan orang berganti pekerjaan. Komponen kedua adalah mengetahui tugas-tugas pekerjaan dalam suatu jabatan dan perilaku-perilaku dalam bekerja.
5.      Pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai (knowledge of preferred occupational group)
Aspek ini menurut Super (Sharf, 1992: 158) adalah siswa diberi kesempatan untuk memilih satu dari beberapa pilihan pekerjaan, dan kemudian ditanyai mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Mengenaipersyaratan, tugas-tugas, faktor-faktor dan alasan yang mempengaruhi pilihan pekerjaan dan mengetahui resiko-resiko dari pekerjaan yang dipilihnya. Indikator pada aspek ini adalah pemahaman mengenai tugas dari pekerjaan yang diinginkan, memahami persyaratan dari pekerjaan yang diinginkan, mengetahui faktor dan alasan yang mempengaruhi pilihan pekerjaan yang diminati dan mampu mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin muncul dari pekerjaan yang diminati.
6.      Realisme keputusan karir (Realism)
     Realisasi keputusan karir adalah perbandingan antara kemampuan individu dengan pilihan karir pekerjaan secara realistis. Aspek ini menurut Super (Sharf, 1992: 159), antara lain: memiliki pemahaman yang baik tentang kekuatan dan kelemahan diri berhubungan dengan pekerjaan yang diinginkan, mampu melihat faktor-faktor yang mendukung dan menghambat karir yang diinginkan, mampu mengambil manfaat membuat keputusan karir yang realistik Individu yang memiliki kematangan karir yang baik berarti telah memiliki orientasi karir (career orientation). Orientasi karir didefinisikan sebagai skor total dari: 1) sikap terhadap karir, 2) keterampilan membuat keputusan karir, dan 3) informasi dunia kerja, menurut Super (Sharf, 1992: 159). Sikap terhadap karir terdiri dari perencanaan karir dan eksplorasi karir. Keterampilan membuat keputusan karir terdiri dari kemampuan menggunakan kemampuan dan pemikiran dalam membuat keputusan karir. Informasi karir terdiri atas memiliki informasi tentang pekerjaan tertentu dan kelompok pekerjaan yang lebih disukai.
Kesimpulan dari pendapat tersebut menyatakan bahwa faktor kematangan karir individu dipengaruhi oleh aspek perencanaan karir, eksplorasi karir, pengetahuan tentang membuat keputusan, informasi tentang dunia kerja, pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang disukai, dan realisasi keputusan karir.
c.       Dewasa
Kematangan kariri pada masa dewasa ditandai dengan: 1) Stabilisasi dalam pekerjaan; 2) Kemajuan dalam pekerjaan; 3) Inovasi dalam pekerjaan; dan 4) Perbaikan dalam pekerjaan (Super dalam Sharf, 1992)
Masalah karir dianggap sangat memberatkan bagi orang dewasa manakala masa pension tiba. Menurut Super (Sharf, 1992) munculnya post power syndrome dan disengagement merupakan ketakutan orang dewasa saat datangnya masa pension.
Disengagement, di dalam tahap pemeliharaan, jika individu tidak memperbaharui pengetahuan mereka dan membuat beberapa usaha inovasi, mereka dalam bahaya kehilangan pekerjaan. Individu mungkin mulai melepaskan diri dari pekerjaannya. Kadang-kadang kebutuhan untuk melepaskan diri datang dari keterbatasan fisik. Orang-orang di usia50 tahunan dan 60 tahunan yang terlibat di dalam beberapa jenis pekerjaan fisik seperti konstruksi, membuat lukisan, pembuatan baja – dapat menemukan bahwa mereka tidak lagi mampu bekerja selama atau secepat ketika mereka ada. Super (Sharf, 1992) mula-mula menunjuk tahap ini sebagai ‘kemunduran’ (decline), tetapi mengubah labelnya karena konotasi negatifnya untuk banyak orang. Meskipun orang bisa mengalami kemunduran kemampuan fisik dan memori, tetapi juga berhubungan dengan kearifan (wisdom).  Orang-orang terus dapat menggunakan kapasitas mental untuk melepaskan diri dari berbagai aktivitas. Subtahap disengagement-decelerating, retirement planning dan  retirement living- dapat dilihat sebagai tugas-tugas orang dewasa akhir, tetapi tidak selalu harus dipertimbangkan.
Decelerating, yaitu perlambatan tanggung jawab kerja seseorang. Untuk sebagian orang ini bisa berarti menemukan cara yang lebih mudah melakukan pekerjaan atau menghabiskan lebih sedikit waktu dalam melakukan pekerjaan. Yang lain dapat menemukan bahwa sulit untuk konsentrasi pada berbagai hal, tidak seperti masih muda. Gambaran dari permasalahan yang sulit pada pekerjaan dan keinginan untuk menghindari tekanan batas waktu adalah tanda-tanda dari decelerating.
Retirement Planning. Meskipun banyak individu akan memulai perencanaan pension (retirement planning) sejak dini, kebanyakan individu harus berhubungan langsung dengan persoalan ini. Tugas ini termasuk aktivitas-aktivitas seperti perencanaan financial dan kegiatan-kegiatan perencanaan pension. Beberapa individu dapat memilih pekerjaan sambilan baru atau sebagai sukarelawan. Dalam beberapa hal, ketika mereka melakukan ini, individu kembali ke tahap kristalisasi dan menilai kembali minat, kapasitas (fisik dan mental), dan nilai-nilai.
Retirement Living. Tahap ini umumnya untuk orang-orang usia akhir 60-an yang sering kali mengalami perubahan dalam peran kehidupan. Penggunaaan waktu luang, aktivitas di rumah dan keluarga, dan pelayanan masyarakat menjadi lebih penting, sedangkan pekerjaan akan menjadi kurang penting. Aspek retirement living adalah tempat dimana seseorang tinggal dan penggunaan waktu luang.

3.      Hambatan dalam Kematangan Karir
Hambatan kematangan karir yang dikemukakan oleh Rosenthal (Smedley, 2003: 110), menunjukkan karakteristik kemampuan belajar rendah, konsep diri rendah, dan individu yang bertipe belajar pasif. Gejala ini menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki kematangan karir dari segi afektif yang rendah. Dengan demikian individu yang memiliki permasalahan dalam belajar mengakibatkan kematangan karirnya juga rendah. Penyebabnya, dalam kematangan karir membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung untuk meningkatkan kapasitas yang diperlukan dalam menentukan pilihan karir.
Permasalahan dari segi emosional dan belajar juga berpengaruh terhadap kematangan karir (Smedley, 2003: 108). Hambatan lain yang muncul menurut Pusat Layanan Konseling mahasiswa, Universitas Negeri Illinois (2005), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seorang siswa gagal dalam membuat pilihan keputusan karir. Takut akan kegagalan, takut sukses karena berpikiran orang lain mengharapkan kesempurnaan jika berhasil sekali, kurangnya kemampuan untuk menetapkan prioritas, tidak tahutempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk membantu memutuskan, berharap orang lain yang akan membuat keputusan, belum memiliki pengalaman dalam membuat keputusan karir, tidak mau mengorbankan kenyamanan untuk kepentingan kedepan, takut orang lain menolak keputusan yang telah di buat, selalu berpikir bahwa saya tidak dapat melakukannya jika orang lain pun tidak dapat melakukannya atau perasaan tidak percaya diri, dan percaya bahwa keputusan yang telah dibuat tidak akan ada yang peduli.
Upaya mengatasi permasalahan yang menghambat kematangan karir adalah dengan meningkatkan kapasitas diri dalam pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan karir dan tahapan perkembangan karir. Pilihan karir membutuhkan proses yang komplek untuk dipikirkan, membutuhkan waktu dan usaha. Lebih dari itu menentukan pilihan karir merupakan salah satu kesempatan dan biasanya masuk pada kondisi yang tidak pasti. Untuk mengatasi permasalahan kematangan karir melalui usaha: mengenali persoalan yang dihadapi, mengenali penyebab utama persoalan, memformulasikan pada alternatif atau pilihan strategi penyelesaian yang tepat, memprioritaskan pilihan-pilihan penyelesaian permasalahan, dan mengevaluasi hasil yang dicapai.

4.      Upaya Peningkatan Kematangan Karir
Upaya untuk mencapai sasaran hasil yang maksimal dalam kematangan karir, menurut Gonzalez (2008: 764), ada lima bidang yang perlu dikembangkan antara lain:
1.        Pengetahuan diri dan aspek lain
Siswa harus menjadi idividu yang potensial dengan memahami: bakat, kecakapan dan kemampuan, konsep diri dan penghargaan diri, kepribadian, kemampuan akademik, pengalaman belajar dan kerja, minat,tingkat harapan, motivasi, nilai kehidupan, gaya hidup dan sebagainya. Semua karakteristik ini seharusnya sesuai dengan pilihan karir.
2.        Informasi studi, profesi dan karir
Siswa tidak hanya membutuhkan informasi mengenai diri mereka, tetapi juga tentang lingkungan dimana mereka tinggal. Mereka juga membutuhkan informasi mengenai pilihan pendidikan yang lain (jenjang pendidikan), pilihan profesional (jenjang karir), dan pilihan karir (jenjang sosial tenaga kerja). Mereka membutuhkan informasi tersebut sebagai bahan pertimbangan.
3.        Proses dalam menentukan keputusan karir
Melalui pengetahuan mengenai diri, pendidikan dan pengembangan profesional, siswa akan menentukan keputusan karir yang tepat. Mereka seharusnya dipersiapkan dalam menentukan keputusan karir melalui pertimbangan berbagai aspek tersebut.
4.        Transisi menuju dunia kerja
Siswa dipersiapkan dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus. Mereka membutuhkan strategi untuk menentukan keputusan karir yang tepat. Karir yang sesuai dengan jurusan yang mereka tekuni, dan mereka membutuhkan pengetahuan mengenai kebiasaan atau kewajiban sebagai tenaga kerja.
5.        Perencanaan karir
Siswa seharusnya dipersiapkan untuk menentukan perencanaan karir berpedoman pada karakteristik pribadi, pengalaman studi dan pengalaman kerja. Perencanaan karir akan membuat siswa teguh pendirian dalam pendidikan dan karir. Kematangan karir bukan sesuatu hal yang mudah, dapat dicapai secara cepat, tetapi kematangan karir merupakan suatu proses yang perlu dikembangkan. Salah satu peran guru pembimbing adalah dalam membantu siswa dalam menyelesaikan mengenai karir. Peningkatan kematangan karir siswa dapat dicapai jika ada peran serta pihak sekolah terutama guru pembimbing dalam membuat pedoman dalam proses bimbingan dan konseling karir yang tepat. 












B.     Arah Pilihan Karir
1.      Pengertian
Karir merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, maka perlu direncanakan secara matang. Jika orang memperoleh karir yang tepat, maka hidup orang akhirnya akan bahagia. Kebahagiaan adalah tujuan hidup semua orang.  Orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan.
Karir lebih menekankan aspek bahwa seseorang memandang pekerjaannya sebagai panggilan hidup yang meresapi seluruh alam pikir dan perasaan dan mewarnai seluruh hidupnya (Winkel, 2001 : 571). Menurut Super (dalam Sukardi, 2004 : 18) karir merupakan suatu rangkaian dari suatu pekerjaan, jabatan dan posisi yang dilakukan seumur hidup dan nampaknya sangat bermanfaat bagi umat kehidupan. Sementara itu dalam Depdiknas (2008: 664) disebutkan bahwa karir merupakan keahlian (hobi dan sebagainya) yang diamalkan dalam masyarakat atau dijadikan sumber kehidupan.
Menurut Winkel (2001 : 512) menyatakan bahwa arah pilih karir merupakan suatu proses pemilihan jabatan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor psikologis, sosiologis, cultural, geografis, pendidikan, fisik ekonomis dan kesempatan yang terbuka yang bersama-sama membentuk jabatan seseorang, di mana seseorang tadi memperoleh sejumlah keyakinan, nilai, kebutuhan, kemampuan, keterampilan, minat, sifat kepribadian, pemahaman dan pengetahuan yang semuanya berkaitan dengan jabatan yang dipangkunya.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa arah pilih karir adalah suatu tujuan dari rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan dan kedudukan dimana seseorang menjalaninya sepanjang kehidupannya sehari-hari dalam kehidupan dunia kerja.
Parsons (1909) percaya bahwa jika orang secara aktif terlibat dalam memilih pekerjaan mereka dari pada membiarkan kesempatan untuk beroperasi dalam perburuan pekerjaan, mereka lebih puas dengan karir mereka, pengusaha biaya berkurang, dan karyawan efisiensi meningkat. Ide-ide yang agak sederhana masih merupakan inti dari kebanyakan teori modern pilihan karir dan pengembangan. Holland (1985, 1997) dan, untuk tingkat yang lebih besar, Dawis dan Lofquist (1984) telah membuat mereka sudut-batu dari teori-teori mereka.

2.      Faktor-faktor yang Menentukan Karir
Terdapat berbagai hal yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan arah pilih karir yang dicita-citakan. Ada dua faktor yang menentukan arah pilih karir yaitu faktor internal dan eksternal, yaitu:
a.         Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang menentukan arah pilih karir. Menurut Winkel (2001 : 592-596) faktor dari dalam diri yang menentukan pilihan karir diantaranya:
·           Nilai-nilai kehidupan, di mana nilai yang dianut oleh individu berpengaruh terhadap pekerjaan yang dipilihnya, serta berpengaruh terhadap prestasi dalam pekerjaan. Individu yang memiliki nilai moral yang tinggi akan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi pula dalam pekerjaan atau karirnya tersebut.
·           Kemampuan intelegensi, dimiliki seseorang dapat dipergunakan sebagai pertimbangan dalam memasuki suatu pekerjaan atau karir.
·           Bakat, dengan mengetahui bakat yang dimiliki sadar dini akan memberikan pengaruh yang baik pada karir untuk masa mendatang karena jenis karir tersebut selalu disesuaikan dengan bakat yang dimiliki.
·           Minat, sangat besar pengaruhnya dalam suatu karir atau pekerjaan, dimana seseorang tidak akan mungkin menyelesaikan pekerjaannya dengan baik apabila tidak memiliki minat pada pekerjaan yang dilakukannya tersebut.
·           Pengetahuan, apakah dunia kerja yang akan dijalaninya sesuai dengan apa yang diharapkan, sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, nilai kehidupan dan keterampilan yang dimilikinya.
·           Masalah dan keterbatasan pribadi, masalah yang dimaksud adalah masalah dalam diri dimana tingkah laku dan tindak tanduknya yang menyimpang dari tradisi masyarakat, melawan norma-norma atau mengasingkan diri.
b.         Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang yang menentukan arah pilih karir. Menurut Winkel (2001: 596-598) diantaranya:
·           Masyarakat, yaitu lingkungan sosial budaya dimana orang muda dibesarkan. Lingkungan ini luas sekali dan berpengaruh besar terhadap pandangan dalam banyak hal yang dipegang teguh oleh setiap keluarga yang pada gilirannya menanamkannya pada semua anak.
·           Keadaan sosial-ekonomi negara atau daerah, yaitu laju pertumbuhan ekonomi yang lambat atau cepat, stratifikasi masyarakat dalam golongan sosial-ekonomi tinggi, tengah atau rendah, serta diversifikasi masyarakat atas kelompok-kelompok yang terbuka atau tertutup bagi anggota dari kelompok lain.
·           Pendidikan sekolah, yaitu pandangan dan sikap yang dikomunikasikan kepada anak didik oleh staf tenaga-tenaga pembimbing dan pengajar mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam kerja, tinggi rendahnya status sosial jabatan-jabatan dan kecocokan jabatan untuk anak laki-laki dan anak perempuan.
·           Pergaulan dengan teman-teman sebaya, bahwa pergaulan dengan teman sebaya adalah pandangan-pandangan dan harapan-harapan tentang masa depan dalam pergaulan sehari-hari dalam pergaulan terjalin dan terbentuk norma, nilai dan simbol tersendiri yang lain.

Berdasarkan pendapat di atas ada dua faktor yang menentukan  arah pilih karir dilihat dari pengaruh dari dalam diri seseorang dan dari luar, masyarakat lingkungan sekitanrnya. Sedangkan menurut Sukardi (2004: 44-52) yang menentukan arah pilih kariri adalah:
a.         Kelompok primer
Kelompok primer diwarnai oleh bentuk-bentuk hubungan yang bersifat pribadi dan akrab serta terjadi secara terus menerus. Keluarga merupakan bentuk kelompok primer yang memiliki kemantapan dan kompak.
b.         Kelompok sekunder
Kelompok sekunder ialah didasarkan atas kepentingan-kepentingan tertentu yang mewarnai aktivitas. Tujuan dari kelompok sekunder ini adalah untuk mencapai tujuan tertentu didalam masyarakat secara bersama-sama, obyektif dan rasional. Kelompok sekunder memiliki pengaruh dalam menentukan arah minat jabatan anak. Kelompok sekunder yang berpengaruh terhadap arah pilih jabatan anak, diantaranya:
1)        Keadaan teman-teman sebaya
2)        Sifat dan sikap teman-teman sebaya, dan
3)        Tujuan dan nilai-nilai dari kelompok teman sebaya.
c.         Komponen dalam Pemilihan Arah Karir
Menurut Arifah (2005: 54) bahwa komponen-komponen yang ada dalam pemilihan arah karir yang sesuai dengan kondisi diri siswa dapat diketahui dari: kebebasan dalam memilih karir, kemantapan diri dalam memilih karir dan tanggung tawab terhadap karir yang akan dipilihnya.
1)        Adanya kebebasan dalam memilih karir
Tidak adanya rasa terkekang, rasa terbebani dan tidak adanya pengaruh orang lain dalam menentukan karir mana yang harus dipilih karena pada dasarnya siswa telah memahami dirinya dan kemampuannya. Dalam hal ini siswa mampu menunjukkan kebebasan dirinya dalam menentukan karir mana yang sesuai dengan kondisi dirinya. Dengan pemahaman diri siswa mampu untuk menentukan dan memilih karir apa yang sesuai dengan potensi yang ada padanya. Karir yang dipilih merupakan hasil keputusan sendiri berdasarkan pemahaman dirinya tanpa adanya kekangan dan paksaan. Ciri-ciri siswa yang memiliki kebebasan dalam memilih karir adalah:
a)        Siswa tersebut memilih karir atas bakat, minat, cita-cita, kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya.
Siswa yang mengetahui potensinya, mengetahui tingkat rasa senangnya, sadar dengan harapan-harapan yang ingin diwujudkannya di masa depan, mengetahui nilai-nilai positif dan negatif dalam dirinya sehubungan dengan pendidikan yang ditekuni dan bidang karir yang akan ditekuninya nanti. Dalam memilih karirnya dilakukan dengan kesadaran dari diri siswa, tanpa adanya paksaan dari pihak lain.
b)      Siswa tersebut memilih karir dengan tidak bergantung pada orang lain.
Siswa yang memahami diri dan lingkungan karirnya serta mampu merencanakan masa depan karirnya mampu memilih karir yang sesuai dengan keadaan dirinya. Dalam memilih karirnya siswa tidak lagi harus mengikuti kehendak dan kemauan orang lain. Pemilihan itu dilakukan dengan pertimbangan sendiri dan merupakan hasil keputusan yang telah dipikirkan dengan matang dari diri siswa.
2)        Kemantapan diri dalam memilih karir.
Sikap siswa yang menunjukkan rasa percaya terhadap kemampuan yang dimiliki, merasa senang dalam menekuni pendidikan dan bidang karir yang akan dipilih serta mempunyai harapan yang maju terhadap pendidikan yang sedang ditekuni dan pilihan karir yang diinginkan. Dalam hal ini siswa telah mempunyai keyakinan bahwa dengan mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya, akan mampu untuk memilih karir yang diinginkannya.
Keyakinan tersebut melahirkan perasaan senang/ minat terhadap bidang karir yang akan dipilihnya karena sesuai dengan minat dirinya. Perasaan yakin dan rasa senang terhadap pendidikan yang dipilih mampu mendorong rasa percaya diri siswa terhadap karir yang akan dipilihnya. Rasa optimis ini dapat terlihat dari adanya keinginan untuk maju dengan karir yang ditekuninya tidak mudah putus asa dalam menekuni bidang karir yang menjadi pilihannya. Ciri-ciri siswa yang memiliki kemantapan diri dalam memilih karir adalah:
a)        Percaya terhadap kemampuan yang ada pada dirinya
Perasaan yakin terhadap kemampuan yang dimiliki, membuat siswa menjadi mantap dalam menekuni pendidikan yang ditekuni dan bidang karir yang akan dipilih. Dengan rasa percaya diri mampu memberikan dorongan yang positif kepada siswa dalam memilih bidang karir yang sesuai dengan keinginannya.
b)      Merasa senang dengan karir yang akan dipilihnya.
Perasaan senang, ringan dan penuh minat yang tumbuh  dalam diri siswa ketika memilih pendidikan yang sedang ditekuni, membuat siswa mudah dalam mendalaminya. Dengan perasaan ini siswa mampu dalam menyelesaikan segala konsekwensi yang ada pada pendidikan tersebut. Siswa yang mampu dalam menyelaraskan bakat, minat dan cita-citanya terhadap pendidikan, akan mampu memilih karir yang sesuai dengan kondisinya tersebut.
c)      Memiliki rasa optimis terhadap karir yang akan dipilihnya.
Keinginan siswa untuk berhasil dan memiliki keyakinan untuk maju terhadap karir yang akan dipilihnya, mendorong siswa untuk berfikir maju dan mengembangkan karirnya. Dengan rasa optimis menjadikan diri siswa semakin berani dan yakin dalam menentukan pilihan karir yang sesuai dengan dirinya.
3)        Tanggung Jawab terhadap Karir yang akan Dipilihnya.
Sikap siswa yang menunjukkan usaha sungguh-sungguh dalam menekuni bidang kejuruan yang sedang ditekuni dan karir yang akan dipilih karena sadar akan diri dan masa depannya agar kehidupan yang akan dijalani sesuai dengan harapan yang diinginkan. Siswa bersedia melakukan usaha yang berhubungan dengan bidang karir kejuruannya karena sadar akan tujuan/ cita-cita yang ingin diwujudkan sesuai dengan harapannya. Karena kesadaran tersebut mampu melahirkan dorongan dan semangat yang tentunya akan memberikan dampak yang positif terhadap bidang kejuruan yang sedang ditekuni dan terhadap bidang karir yang akan dipilihnya. Karena adanya motivasi yang positif terhadap karir yang akan ditekuni menunjukkan adanya tanggung jawab terhadap bidang karir yang akan dipilihnya.
Ciri-ciri siswa yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap karir yang akan ditekuninya adalah:
a)        Berusaha keras dalam menekuni pendidikan
Dalam menekuni bidang karir yang sedang dijalani maupun yang akan dipilih diperlukan adanya usaha yang sungguh-sungguh dan konsentrasi. Hal ini dilakukan agar hasil yang diperoleh maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan usaha yang keras, siswa mampu dalam menentukan karir yang tepat dan sesuai dengan yang diharapkannya.
b)        Tekun dalam belajar memahami pendidikan
Ketekunan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam memahami bidang karir yang sedang dijalani, akan menjadikan siswa berhasil dalam berkarir. Hal ini menjadi penting ketika siswa yang sedang menekuni bidang karirnya mampu mencapai tingkat prestasi yang menyebabkan siswa memiliki nilai lebih. Dengan ketekunan ini, menjadikan siswa mampu untuk memilih karir yang sesuai dengan harapannya.
c)        Sadar tujuan/ cita-cita terhadap karir yang akan dipilih
Kesadaran diri siswa terhadap cita-cita dan tujuan yang menjadi harapannya di masa depan mampu mendorong siswa dalam menentukan langkah yang tepat dalam merencanakan karirnya. Hal ini dilakukan agar siswa selalu sadar akan tujuan karirnya dan selalu berpedoman tidak berusaha untuk keluar dari yang tidak diinginkan dalam karirnya. Dengan kesadaran ini siswa mampu untuk memilih karir yang sesuai dengan harapan dan cita-citanya semula.
d)       Termotivasi dengan karir yang akan dipilih.
Dorongan yang timbul dari dalam diri siswa yang menyebabkan adanya kemauan untuk bersemangat dalam menekuni bidang karir yang akan dipilih. Dorongan yang timbul dari dalam diri siswa ini, menyebabkan siswa mampu memilih karir yang sesuai dengan keinginannya.
Sedangkan menurut Prakuso (2008: 21) bahwa komponen dalam pemilihan arah karir yang sesuai dengan kondisi diri dapat meliputi : memilih pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, keahlian, bakat, minat dan cita-cita, berjuang untuk memperoleh pengalaman, pendidikan dan keterampilan, keyakinan pada kelebihan yang dimiliki, memiliki percaya diri dan mengenal lingkungan dunia kerja.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen dalam pemilihan arah karir yang sesuai dengan kondisi diri meliputi kebebasan dalam memilih karir, kemantapan diri dalam memilih karir dan tanggung tawab terhadap karir yang akan dipilihnya, dan mengenal lingkungan dunia kerja.

C.    Penyesuaian Karir
1.      Tahap Penyesuaian Karier
Penyesuaian karir menurut David V. Tiedeman digolongkan menjadi tiga tahap, yaitu tahap induksi (induction), tahap transisi (trantition), dan tahap mempertahankan (maintenance).
a.       Tahap Induksi
Tahap ini dimulai dari pengalaman dan kesimpulan yang diteliti. Individu mengorganisir karir dari tujuan individu ke dalam interaksi yang berhubungan dengan masyarakat (misalnya melanjutkan sekolah atau pekerjaan). Selama tahap ini, individu mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan yang telah dicapainya. Akhirnya pada tahap ini tujuan dan sejumlah alternative menjadi suatu bagian. Dalam arti lain, tujuan individu dan dunia kerja bersimilasi dengan posisinya sebagai salah satu aspek yang memungkinkan mendorongnya untuk berhasil.
b.      Tahap Transisi
Dalam tahap ini, orientasi yang diutamakan adalah disesuaikan kepada penetapan tujuan karir yang diambilnya. Walaupun telah diperoleh kepercayaan bahwa seseorang akan berhasil terhadap pembuatan keputusan karirnya, akan tetapi seorang individu masih mengalami tahap transisi berbagai keputusan yang telah diambilnya, yaitu adanya berbagai kemungkinan bahwa individu akan menyimpang arah.
c.       Tahap Mempertahankan
Pada tahap mempertahankan, individu memelihara keputusan karir yang telah diambilnya. Prospek terhadap segala usahanya telah menuju kepada status di masa mendatang dan seterusnya akan berkembang menjadi pembinaan karir.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Karir
a.       Penyesuaian Diri
Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang diutarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Mutadin (2002) mengatakan: "Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation".
Sejalan dengan hal tersebut Fahmi (dalam Sobur, 2003) berpendapat bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses dinamis yang terus-menerus dan bertujuan untuk mengubah kelakuan guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungan.
Dengan demikian penyesuaian diri ada yang berarti pasif maupun yang aktif. Pasif berarti semua kegiatan yang dilakukan individu ditentukan oleh lingkungan, sementara yang aktif berarti individu mempengaruhi lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya.Sejalan dengan hal tersebut Gunarsa (2006) mengatakan bahwa penyesuaian dirimerupakan faktor yang penting dalam dunia kerja. Seorang harus berusaha menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi agar dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi dan mampu berhubungan dengan orang lain. Penyesuaian diri yang baik sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kepuasan dalam karir.
Hurlock (dalam Gunarsa & Gunarsa,2006) menyatakan bahwa seseorang yang mampu menyesuaikan diri kepada umum atau kelompoknya dan orang tersebut memperlihatkan sikap dan perilaku yang menyenangkan, berarti orang tersebut diterima oleh kelompok dan lingkungannya.
Sedangkan menurut Cattel (dalam Chaplin, 2001) kepribadian merupakan segala sesuatu yang memungkinkan suatu peramalan dari apa yang akan dilakukan seseorang dalam satu situasi tertentu dalam pekerjaannya. Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses yang dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang agar terjadi hubungan yang lebih baik antara individu dengan lingkugannya.
Penyesuaian diri merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hidup manusia sejak lahir hingga meninggal tidak lain merupakan bentuk penyesuaian diri, sehingga dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri dilakukan oleh manusia sepanjang hidup. Manusia memerlukan penyesuaian diri terhadap diri dan lingkungannya dalam menghadapi berbagai permasalahan. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh manusia sepanjang hayatnya, karena pada dasarnya setiap manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya baik fisik, psikis, maupun sosialnya sejak lahir hingga meninggal.
Seseorang dapat dikatakan mampu melakukan penyesuaian diri dengan normal manakala dia mampu secara sempurna memenuhi kebutuhannya, tanpa melebihkan yang satu dan mengurangi yang lain, dengan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, serta bertanggungjawab terhadap masyarakat tempat dia hidup. Manusia sejak lahir telah dihadapkan dengan lingkungan, yang menjadi sumber stress. Cara-cara yang dilakukan untuk menghadapi lingkungan beranekaragam dan keberhasilannya juga beranekaragam. Bagi mereka yang gagal akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan atau gangguan yang lain.
Penyesuaian diri bersifat relatif, karena tidak ada orang yang mampu menyesuaikan diri secara sempurna. Alasan pertama penyesuaian bersifat relatif adalah melibatkan kapasitas seseorang dalam mengatasi tuntutan dari dalam dan dari lingkungan. Kedua adalah karena kualitas penyesuaian diri bervariasi antara satu masyarakat atau budaya dengan masyarakat atau budaya lain. Ketiga adalah karena adanya perbedaan-perbedaan pada setiap individu, setiap orang mengalami masa naik dan turun dalam penyesuaian diri.
Dalam memberikan pengertian penyesuaian diri, di kalangan para ahli ada perbedaan. Perbedaan ini dikarenakan dalam memberikan definisi berangkat dari titik tekan yang berbeda, ada yang menitikberatkan perspektif psikologis dan sosiologis. Menurut Lazarus (Zakiyah, 2010:2), bahwa penyesuaikan berasal dari kata”to adjust” berarti untuk membuat sesuai atau cocok, beradaptasi, atau mengakomodasi.
Penyesuaian merupakan proses bagaimana individu mengatur berbagai ”demands” atau permintaan. Permintaan yang dimaksud adalah permintaan  yang dikehendaki seseorang dengan  fenomena  yang ada di  dalam masyarakat. Siswa yang dapat menyesuaikan diri dengan permintaan lingkungannya diharapkan tidak mengalami permasalahan dalam proses pencapaian prestasi akademik
Menurut Yusuf (2005) memberikan pengertian dari perspektif sosiologis, bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan di mana seseorang hidup.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud  dengan   penyesuaian   diri   adalah   suatu   proses   dinamis   yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu, orang lain, dan  lingkungannya.
b.      Ciri-ciri Penyesuaian Diri
Setiap benda atau sesuatu hal pasti mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda  antara  yang  satu  dengan  yang  lainnya,  baik  ciri  psoitif  atau  negatif, begitu pula dengan penyesuaian diri.
Adapun ciri penyesuaian diri positif menurut Hammad (2008) adalah: (a) terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, atau kekurangmampuan mengontrol diri; (b) terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologis, seperti: kompensasi, sublimasi, rasionalisasi, proyeksi, melamun dan sebagainya; (c) mempunyai    pertimbangan    dan    pengarahan    diri    yang    rasional    (ketika memecahkaan masalah berdasarkan alternatif-alternatif yang telah diperhitungkan serta mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang dipilih); (d) mampu belajar untuk mengembangkan kualitas dirinya sehingga mampu mengulangi timbulnya problem; (e) mampu bersikap realistis dan objektif dalam memecahkan masalah; dan  (f)  mampu  memanfaatkan pengalaman  masa lalu,  untuk  mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.

3.      Lingkungan Karir
Memilih sebuah karir lebih dari sekedar menentukan apa yang akan dilakukan seseorang untuk mencari nafkah. Pekerjaan memberikan pengaruh bagi kehidupan seseorang secara keseluruhan, termasuk kesehatan fisik dan mental. “ada interkoneksi antara peran pekerjaan dan peranan lain dalam kehidupan” Imbimbo (dalam Gladding, 2004).
Lingkungan Karir merupakan salah satu dari penyebab keberhasilan dalam pelaksanaan suat karir atau pekerjaan, tetapi juga merupakan suatu penyebab kegagalan dalam dunai kerja.
Utuk memperoer tentang dunia kerja maka inforsmasi pekerjaan merupakan sebuah penunjang utama dalam bimbingan karir, pengetahuan tentang lingkungan kerja akan sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menjalankan karinya. Ada tiga aspek penting yang barkaitan dengan lingkungan karir adalah sebagai berikut:
1)     Menggambarkan pekerjaan                          
2)     Kondisi pekerjaan atau masalah gaji
3)     Membantu mengetahi karakteristik dan kebutuhan untuk masing-masing pekerjaan.
Lingkungan karir juga harus disesuaikan dengan bakat, prestasi, minat , nilai dan kepribadiannya.
Pemahaman tentang lingkungan karir tidak terlepas dari realisme keptusan karir dimana perbandingan antara kemampuan individu dengan pilihan pekerjaan secara realistis. Dalam menentukan realisme keputusan karir setidaknya mampu; 1) memiliki pemahaman yang baik tentang keputusan dan kelemahan diri yang berhubungan dengan pilihan karir yang diinginkan;2) mampu melihat faktor-faktor yang akan mendukung taup menghambar karir yang diinginkan;3) mampu melihat kesempatan yang ada berkaitan dengan pilihan karir ang diinginkan;4) mampu melihat salah satu alternatif pekerjaan dan berbagai pekerjaan yang beragam; 5) dapat mengembangkan kebiasan belajar dan keberja secara efektif.
Jadi Pengetahuan tentang lingkungan kerja merupakan perencanaan berhubungan dengan tugas pekerjaan ketika individu harus mengetahi minta dan kemampuan dirinya, mengetahui cara orang lain mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanya, dan mengetahuai alasan orang lain berganti pekerjaan. Kedua konsep tersebut berkaitan dengan pengetahuan tentang tugas-tugas pekerjaan dalam suatu vokasional dan perilaku-perilaku dalam bekerja.





















BAB III
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Zakiyah Naili dkk. 2010. “Hubungan antara Penyesuaian Diri dengan Prokrastinasi Akademik siswa Sekolah Berasrama SMP N 3 Peterongan Jombang”. Jurnal Psikologi Undip. Vol. 8 No 2 Oktober 2010. 2960-6427-1-SM

Hammad, EL. Azzam. 2008. Kesehatan Mental Orang Dewasa. Restu Agung : Jakarta

Yusuf, Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya

Gladding, Samuel, T. 2004. Counseling: A Comprehensive Profession. Singapore. Pearson Education Singapore Pte. Ltd. Chapter14: Career Counseling Over The Life Span

Munandir. 1996 : Program Bimbingan Karier di Sekolah. Depdikbud-Jakarta.

Osipow, S.H 1983 : Theories Of Carier Development, Pretice Hall.inc- New Jersey

Schneiders, A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York : Mc. Grave-Hill, Inc.

Chaplin, J.P (2001). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Grafindo

Hammad, EL. Azzam. 2008. Kesehatan Mental Orang Dewasa. Restu Agung : Jakarta

Yusuf, Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya

Zakiyah Naili dkk. 2010. “Hubungan antara Penyesuaian Diri dengan Prokrastinasi Akademik siswa Sekolah Berasrama SMP N 3 Peterongan Jombang”. Jurnal Psikologi Undip. Vol. 8 No 2 Oktober 2010. 2960-6427-1-SM.

Gladding, Samuel, T. 2004. Counseling: A Comprehensive Profession. Singapore. Pearson Education Singapore Pte. Ltd. Chapter14: Career Counseling Over The Life Span

Gunarsa, S.D., & Gunarsa, Y.S.D (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia


No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...