Saturday, 27 June 2020

Pengembangan Identitas Konselor: Sebuah Teori Mendasar Tentang Tugas Transformasional Konselor Baru


a.      Implikasi Secara Faktual Dalam Bimbingan Konseling (Penerapan di Lapangan)
Seperti yang telah disebutkan di dalam jurnal ini bahwa objek dan setting penelitian yang dilakukan oleh para peneliti adalah konselor-konselor di Negara Amerika bagian Tenggara yang didasarkan dari berbagai macam basis pekerjaan yang berbeda-beda, baik itu konselor yang berbasis di sekolah maupun konselor yang berbasis masyarakat umum. Mengingat bahwa profesi konseling di Amerika Serikat merupakan sebuah profesi yang sudah berkembang jauh dalam praktiknya, maka tidak sulit untuk mengumpulkan 26 orang konselor dari latar belakang basis kerja dan tingkatan pengalaman yang berbeda-beda untuk bersama-sama mendiskusikan tentang hal-hal yang mempengaruhi pengembangan profesionalisme mereka. Maka dalam kaitannya dengan implikasi secara faktual, penelitian ini telah menawarkan beberapa rumusan dalam jurnal mereka.
Pertama, pendidik konselor memiliki tanggung jawab untuk membina dan mengembangkan identitas profesional counselor-in-training (CACREP, 2009). Pendidik konselor dapat menggunakan informasi tentang tugas transformasional dan bagaimana menyelesaikan tugas-tugas untuk lebih mempersiapkan kemunculan konselor-konselor baru. Ketika counselor-in-training masuk program, mereka dapat diberikan tugas seperti wawancara atau bayangan berlatih sebagai konselor untuk mendapatkan perspektif yang lebih realistis dari angkatan kerja. Juga, pendidik konselor dapat memberikan perspektif praktis dengan mengundang pembicara tamu yang berlatih konselor dalam semua kelas. Pendidik konselor yang juga praktisi dapat menggunakan contoh dalam pengajaran mereka dari praktek mereka saat ini untuk menggambarkan pandangan yang wajar dari konseling. Selain itu, pendidik konselor dapat berusaha untuk memastikan bahwa praktikum dan magang menjadi pengalaman yang realistis dan sebaiknya mempersiapkan konselor-in-training untuk realitas lingkungan kerja. Oleh karena itu, konselor yang memasuki dunia kerja akan memiliki harapan yang lebih masuk akal dari profesi konseling. Mereka juga bisa tahu apa yang diharapkan saat mereka tumbuh dan berkembang dalam profesi. Harapan yang realistis dapat menyebabkan frustrasi kurang, yang akan membantu baik konselor dan klien.
Kedua, penelitian ini memberikan pengetahuan baru bagi konselor dalam proses pengembangan identitas profesional mereka. Pengakuan terhadap adanya tugas-tugas transformasional dalam profesi konseling dapat menormalkan pengalaman konselor. Ada dapat kenyamanan dalam mengetahui bahwa orang lain sedang menghadapi masalah dan frustrasi yang sama. Pengetahuan yang didapatkan konselor di setiap tingkatan dalam menghadapi perjuangan yang sama dapat menyebabkan munculnya dukungan sebaya yang lebih besar. Sebagai konselor merasa keraguan diri, burn-out, atau ketidaksesuaian, mereka sebagai alat pengkaji ilmu pengetahuan (belajar terus menerus, bekerja dengan klien, dan panduan berpengalaman) untuk membantu mereka bekerja melalui perjuangan mereka. 
Akhirnya, hasil penelitian ini memperkuat manfaat dari pengawasan di semua tingkat konseling. Konselor harus didorong untuk mencari panduan yang berpengalaman untuk membantu mereka menavigasi pertumbuhan profesional mereka. Juga, pengawas dapat menggunakan pengetahuan tentang perjuangan pada setiap tahap pengembangan untuk lebih mendukung konselor supervisi mereka. Supervisor dapat menggunakan informasi tentang perlunya terus belajar untuk membantu konselor yang mereka supervisi dengan menyediakan kesempatan belajar tambahan. Supervisor dapat menyesuaikan pelatihan mereka untuk kebutuhan perkembangan supervisi mereka.
Akan tetapi mengingat bahwa metode penelitian ini adalah Grounded Theory yang memiliki subjektivitas kuat dalam koding dan penafsiran datanya, maka muncul sebuah pertanyaan dalam mengkaji jurnal ini; apakah hasil penelitian ini dapat diimplikasikan pada setting profesi konseling di Indonesia? Kami rasa jawabannya masih bersifat probabilitas. Sebab di satu sisi, enam teori tugas transformasional untuk pengembangan profesionalisasi konselor ini merupakan sebuah teori baru hasil dari pembingkaian teori-teori yang sebelumnya terpisah tentang bagaimana mengembangkan diri menjadi seorang konselor yang profesional. Di sisi lain, teori ini tercetus dari kumpulan konselor di Amerika Serikat yang memiliki perkembangan dalam tatanan profesi yang sudah sangat maju. Salah satunya adalah keterlibatan konselor yang berbasis kerja dalam melayani masyarakat umum. Adalah sebuah profesi konselor yang saat ini masih belum berkembang pesat di Indonesia. Basis kerja konselor di Indonesia hampir seluruhnya masih berada dalam ranah pendidikan dan sekolah. Sebab saat ini perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia masih belum bisa berdiri tegak, dan masih melakukan pencarian bentuk kerja professional. Hal ini dipaparkan oleh Nurhudaya (2005). Hal ini akan menjadi pertimbangan tentang penerapan teori tugas transformasional ini di Indonesia.
Mungkin ada beberapa poin dalam tema tugas transformasional ini yang dapat diterapkan dan sebagian lagi masih memerlukan proses agar bisa diimplikasikan di Indonesia. Sebagai contoh, dalam tema Penyesuaian dengan Harapan, jika diterjemahkan dalam ranah konseling dan pemberian layanan, maka seorang konselor di bagian bumi manapun memang perlu menguasai tema ini. Kebanyakan konselor terutama lulusan S1 atau pascasarjana yang baru menyelesaikan studinya, berharap bahwa dirinya bisa menjadi konselor yang sempurna dan beranggapan bahwa jika dirinya menunjukkan ketidaktahuan atau kesalahan, maka orang lain akan menilai bahwa dirinya tidak kompeten (Corey, 2004). Padahal harapan-harapan seperti itu justru akan membuat seorang konselor menjadi pribadi yang sulit berkembang karena terus menutupi dan tidak mau mengakui keterbatasan yang ia miliki dalam mencapai harapan tersebut. Sehingga ketika suatu ketika ia tidak mampu mencapai harapan tersebut, akan terjadi kecemasan dan gangguan yang berdampak pada pelayanan yang ia lakukan.
Kemudian dalam tema tentang Kepercayaan Diri dan Kebebasan, jika dimaknai dalam kaitannya dengan pengembangan profesionalisasi,  nyatanya di Indonesia sendiri masih sedikit konselor yang memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan profesionalismenya hingga pada tahap pelayanan di masyarakat umum dan tidak terbatas hanya dalam lingkup sekolah. Sehingga secara pemaknaan, profesi konseling di Indonesia sendiri masih bisa dibilang belum mendapat ‘kebebasan’ dalam bekerja. Terhitung sampai tahun 2003 lalu,  baru sekitar 10 persen konselor yang memperoleh sertifikat resmi dari Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Artinya, hanya 183 orang itu yang berhak menyelenggarakan bimbingan konseling dan pelatihan bagi masyarakat umum secara resmi (Kartadinata, 2003). Hal ini membuktikan bahwa tema ini masih belum bisa diwujudkan secara gamblang dalam profesi konseling di Indonesia. Mungkin seperti yang telah disebutkan dalam jurnal ini, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan wawasan para konselor maka ke depannya secara perlahan kesadaran dan kepercayaan diri konselor Indonesia akan semakin meningkat untuk tergerak dalam mengembangkan profesionalisasi mereka dan berusaha untuk memperoleh sertifikat resmi untuk pelayanan konseling di masyarakat umum tersebut.
Selanjutnya untuk tema tentang Pemisahan vs. Integrasi. Jika di Amerika Serikat pembahasan tentang tema ini merujuk pada kebingungan konselor dalam keinginan untuk memisahkan peran lain dengan perannya sebagai konselor atau justru menganggap bahwa perannya sebagai konselor dan perannya yang lain merupakan satu bagian tak terpisahkan, maka di Indonesia tema ini tidak hanya membahas tentang hal tersebut. Akan tetapi juga dapat dimaknai dari kebingungan konselor akan pemisahan atau integrasi tentang tugas pokok dan fungsi bimbingan dan konseling dalam hubungannya dengan sistem manajemen sekolah. Selama ini masih banyak fenomena dimana konselor sekolah belum mengerti akan lahan profesionalnya di sekolah sehingga banyak menimbulkan kesalahpahaman tentang peran BK dalam manajemen sekolah, seperti munculnya fenomena guru BK yang menjadi tim ketertiban sekolah, penjaga piket sekolah, maupun pengganti guru ketika guru mata pelajaran tidak masuk kelas (Sugiyo, 2014). Konselor yang dikatakan professional harus mengerti tentang permasalahan ini. Ia perlu memahami bahwa tugas pokok konselor pada dasarnya adalah memberikan bantuan kepada peserta didik agar mampu mencapai dan melalui tugas perkembangannya secara optimal sehingga ia menjadi pribadi yang mandiri.
Dua tema berikutnya dirasa cukup berkaitan antara satu sama lain, yaitu Panduan Berpengalaman dan Belajar Terus Menerus. Dalam kaitan dengan penerapannya di Indonesia tidak ada perbedaan dengan penerapan di Amerika Serikat. Konselor pada hakikatnya merupakan manusia yang tidak bisa lepas dari proses belajar secara terus menerus. Karena subjek dan objek dari konseling itu sendiri adalah manusia yang memiliki sifat dinamis atau berubah-ubah dari satu dimensi waktu ke dimensi yang lain (Yusuf dan Nurihsan, 2010).. Untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dinamisnya manusia tersebut, konselor perlu senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan ikut berkembang melalui kegiatan belajar yang tidak terbatas waktu. Prinsip ini berlaku secara universal di setiap belahan bumi bagian manapun. Kemudian jika dikaitkan dengan dunia profesionalisme, maka dalam prosesnya belajar tersebut, konselor memerlukan panduan berpengalaman agar ilmu yang ia peroleh tervalidasi dan diakui oleh orang lain. Panduan ini bisa didapat dari rekan kerja sejawat, rekan kerja yang lebih berpengalaman dalam bidang konseling maupun melalui supervisi dari ahli.
Pada tema terakhir, prinsip Bekerja dengan Klien ini pun secara umum sudah bisa diterapkan pula di Indonesia hanya saja lebih luas. Terutama dengan memandang bahwa falsafah dasar bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Dua poin pertama telah mewakili prinsip dasar dari bekerja dengan klien. Konselor perlu menumbuhkan sikap bahwa membantu klien, baik itu dikatakan berhasil atau tidak merupakan sebuah tindakan yang memiliki tanggung jawab ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan menyadari bahwa prinsip membantu secara altruistik memberikan nilai-nilai positif pada pemeliharaan terhadap nilai kepedulian pada sesama manusia dan terlebih lagi adalah perbuatan yang bernilai pahala di mata Tuhan, maka hal itu akan menenangkan dan memberikan kedamaian tersendiri pada diri konselor. Seperti yang disebutkan oleh Anwar Sutoyo (2015) bahwa tidak ada satu kebaikan pun yang sia-sia, maka konselor harus memiliki keyakinan bahwa kebaikan kecil meskipun hanya dalam bentuk niat untuk menolong, maka suatu saat pertolongan tersebut akan kembali kepadanya sendiri di saat yang tidak diduga-duga. Hal-hal semacam ini diharapkan akan menjadi motivasi bagi konselor untuk dapat mengembangkan pribadi altruistiknya sehingga secara profesionalpun konselor tidak akan mudah mengalami burn-out dalam pekerjaannya berhadapan dengan klien.

Daftar Pustaka

Awalya. (2012). Buku Ajar Pengembangan Pribadi Konselor. Yogyakarta: Deepublish

Creswell. J. W. (2003). Research design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches (2nd ed.). Thousand Oaks. CA: Sage.

Fuad, Muskinul. (2009). Kualitas Pribadi Konselor: Urgensi dan Pengembangannya. Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi. 3 (2), 247-254.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah. (2002). Peran
Bimbingan   Konseling   Dalam   Rangka   Mewujudkan   Pendidikan
 Kecakapan Hidup di Sekolah.  Jawa Tengah : Dinas  Pendidikan dan
 Kebudayaan Jawa Tengah
Moss, J.M, et.al. (2014). Professional Identity Development: a Grounded Theory of Transformational Tasks of Counselors. Journal of Counseling & Development.  92, 3-12.

Nelson. K. W.. & Jackson. S. A. (2003). Professional counselor identity develop- ment: A qualitative study of Hispanic student interns. Counselor Education and Supervision. 43, 2-14.

Nurhudaya. 2005. Pelayanan Konseling di Era Global (dalam : Pendidikan dan Konseling di Era Global dalam Perspejtif Prof.Dr.M.Djawad Dahlan). Bandung : Rzki Press

Kartadinata, Sunaryo. 2005. Arah dan Tantangan Bimbingan dan Konseling Profesional; HIstorik-Futuristik. (dalam : Pendidikan dan Konseling di Era Global dalam Perspejtif Prof.Dr.M.Djawad Dahlan). Bandung : Rzki Press

Sugiyo. 2011. Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang. Widya Karya.
Yusuf, Syamsu & Juntika Nurihsan. 2011. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosdakarya.
Sutoyo, Anwar. 2015. Menjadi Penolong. Semarang: Prodi Bimbingan dan Konseling Program Pascassarjana UNNES.

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...