Tuesday, 23 June 2020

Penelitian dan Evaluasi dalam Konseling


  Penelitian dan Evaluasi dalam Konseling
1.      Tujuan Penelitian
Best & Kahn (2006) mendefinisikan penelitian sebagai “ the systematic and objective analysis and recording of controlled observations that may lead to the development of generalizations, principles or theories, resulting in prediction and possibly ultimate control of events” (dalam Neukrug, 2003:431). Artinya : bahwa penelitian merupakan analisis obyektif dan sistematis serta pelaporan observasi terkontrol yang mengarah pada generalisasi sebuah perkembangan, prinsip-prinsip atau teori-teori, hasil dari sebuah prediksi, dan bisa jadi adalah pokok dari sebuah kejadian.
Dengan kata lain, penelitian menganalisis informasi dengan tujuan untuk memberikan kita pengetahuan tentang keadaan masa sekarang, pengetahuan tersebut mungkin membantu kita membuat prediksi tentang masa depan. Ada beberapa penelitian dan sangat bervariasi; survey pendapat dari para konselor, penggunaan intervew intensif untuk memahami bagaimana perkembangan moral dibentuk, atau menunjukkan analisis statistik kompleks untuk menentukan ketrampilan konselor mana yang paling efektif.
Tanpa penelitian, pengetahuan akan tetap stagnan (mandeg), dan paradigma baru tidak mampu berkembang (Kuhn, 1962). Penelitian mengajegkan apa yang dilakukan oleh konselor dan dapat mendorong terciptanya sebuah kesempatan pendekatan perubahan konseli (Lambert, Ogles, &Masters, 1992). Penelitian adalah dasar evaluasi yang memungkinkan kita mengetahui apakah program dan pelatihan yang kita adakan efektif.
Siapakah peneliti itu? Adalah kamu dan saya, dan semua individu yang menyandarkan diri pada fakta-fakta untuk meyakinkan apa yang kita kerjakan. Kenyataannya, beberapa memiliki pendapat bahwa konselor pada level master adalah peneliti dalam sensenya, bahwa mereka adalah seorang praktisi-ahli ilmu pengetahuan; mereka bekerja dengan dan mengumpulkan informasi dari klien dan menggunakan informasi yang telah terkumpul sama baiknya seorang ahli (science) untuk membuat keputusan atas kliennya (Houser, 2009)
2.      Review Literatur dan Pernyataan Permasalahan
Penelitian menawarkan kita sebuah mekanisme untuk memuaskan keingintahuan kita tentang sifat dasar manusia. Dalam hal ini, konselor memiliki keraguan terhadap renungan mereka tentang gangguan emosional secara alami dan memiliki cara-cara yang efektif untuk mengatasi beberapa permasalahan. Peneliti menggunakan metode yang sistematis untuk mengumpulkan informasi dan menemukan jawaban yang masuk akal terhadap pertanyaan-pertanyaan (Sommer & Sommer, 2002) dan praktisi menggunakan hasil penelitian tersebut.
Jadi, darimana peneliti memulai? Tentu aja berawal pada dugaaan atau perkiraan tentang topik menarik yang akan dieksplor oleh peneliti. Biasanya, langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memeriksa apakah topik yang dipilih telah dilakukan penelitian sebelumnya. Pemeriksaan terhadap penelitian terdahulu disebut review literatur dan pada umumnya dimulai dengan mengadakan searching (pencarian) abstrak di dalam bidang ilmu konseling, pendidikan, psikologi dan disiplin ilmu lainnya yang mungkin relevan dengan penelitian.
Hasil searching (pencarian) yang diperoleh dari review literatur adalah pernyataan permasalahan, yang mana menempatkan penelitian dalam konteks historikal, menentukan apakah penelitian eksis pada topik yang kita ambil, diskusi-diskusi mengapa isu yang diangkat adalah penting, batasan lingkup penelitian, menjelaskan bagaimana penelitian yang kita ambil berbeda dengan penelitian yang telah terdahulu, dan poin penting dalam melangsungkan pengembangan pertanyaan, pernyataan atau hipotesis penelitian yang membatasi tipe penelitian yang akan diadakan (McMillan & Schumacher, 2001; Mettler & Charles, 2008).
Ketika pernyataan dari permasalahan telah dikembangkan, desain penelitian dapat ditentukan. Pada umumnya desain penelitian didasarkan pada sejumlah faktor, termasuk kecenderungan peneliti terhadap penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, atau campuran pendekatan dan jenis penelitian yang telah diadakan sebelumnya, seperti yang ditemukan pada review literatur dan pernyataan permasalahan. 
3.      Perbedaan Antara Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Penelitian kuantitatif mengasumsikan bahwa ada kenyataan obyektif didalamnya yang mana pertanyaan penelitian dapat diformulasikan (dibentuk) dan metode ilmiah digunakan untuk mengukur kemungkinan identifikasi perilaku, nilai-nilai atau keyakinan dari satu atau terhadap perilaku, nilai atau keyakinan yang lainnya. Penelitian kualitataif, dengan sisi lain,  diadakan bahwa ada banyak cara melihat sebuah pengetahuan dan salah satunya dapat membuat pengertian terhadap dunia dengan melibatkan seseorang dalam situasi penelitian di satu percobaan untuk mengadakan kemungkinan penjelasan terhadap permasalahan yang diuji (Heppner, Kivlighan, & Wampold, 2008). Tabel berikut menunjukkan perbedaan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Kuantitatif
Kualitatif
Asumsi tentang pengetahuan
§  Kebenaran ditemukan melalui penelitian
§  Pengatahuan digunakan untuk mengembangkan hipotesis
§  Kenyataan adalah disusun secara sosial dan ada banyak realita.
§  Pengetahuan muncul melalui penelitian
Metode penelitian yang digunakan
§  Matematik, statistik, dan logis.
§  Pengujian hipotesis dan berupaya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan penelitian.
§  Proses deduktif
§  Filosofis dan sosiologis
§  Multi metode untuk memahami pertanyaan penelitian
§  Keterlibatnan penuh alam tugas dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan
§  Proses induktif

Bias dan validasi
§  Bias adalah problematik.
§  Meningkatkan kontrol terhadap studi untuk meningkatkan validitas dan mengurangi bias
§  Bias diakui.
§  Bias dikurangi melalui penggunaan multi metode terhadap penyusunan data dan pemeriksaan hasil
Tujuan dan generalisasi
§  Untuk menemukan fakta dan kebenaran serta mengeneralisasikan hasil pada audiens yang lebih besar
§  Untuk menemukan informasi dan mendeskripsikan penemuan agar memberi pencerahan
Peran peneliti
§  Tidak memihak, ahli ilmu pengetahuan yang obyektif
§  Terlibat/terjun dalam situasi sosial, mendeskripsikan dan mempresentasikan temuan

Penelitian kuantitatif dan kualitatif menganalisis permasalahan penelitian dengan pendekatan yang berbeda. Sehingga bukan hal yang mengherankan jika desain keduanya bervariasi. Mengingat penelitian kuantitatif mencoba mengurangi masalah untuk melihat variabel yang lebih spesifik yang dapat dimanupulasi secara eksperimen, tujuan penelitian kualitatif adalah untuk membuat pengertian keluar dari permasalahan dengan menganalisis permasalahan secara luas kedalam kealamian konteks yang terjadi.
a.       Metode Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif mengasumsikan bahwa ada kenyataan obyektif yang dapat diungkap melalui penggunaan desian penelitian dan analisis data statistik. Penelitian kuantitatif menggunakan metode ilmiah untuk menunjukkan kemungkinan rasional (masuk akal) bahwa hipotesis valid atau mencari kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang dtanyakan. Dua jenis utama penelitian kuantitatif yaitu penelitian eksperimen dan noneksperimen.
Meskipun kedua penelitian ini menggunakan metode ilmiah dan menggunakan pendekatan reduksional terhadap permasalahan, ada perbedaan yang krusial antara dua jenis penelitian ini. Pada penelitian eksperimental, peneliti memanipulasi pengalaman partisipan (treatment) dalam beberapa cara untuk menunjukkan sebuah hubungan sebab dan akibat antara hal tersebut dan hasil yang spesifif diukur. Desain noneksperimen, dengan kata lain, cenderung melihat hubungan antar variabel atau mendeskripsikan sikap, kepercayaan, dan perilaku dari kelompok yang disurvei.
·         Penelitian True-Eksperimen.
Dalam bidang penelitian eksperimen, desain true-eksperimen dianggap la creme de la creme, seperti mereka melakukan tes, dalam berbagai cara yang dikontrol, untuk hubungan kausal antar variabel yang dipelajari. Pada tipe penelitian ini, variabel independen atau variabel yang dimanipulasi diuji untuk menentukan apakah ini memiliki pengaruh langsung terhadap variabel dependen atau hasil pengukuran.
Dalam penelitian true-eksperimen, ada penugasan acak untuk subyek dalam treatmen kelompok, yang artinya bahwa setiap subyek memiliki kesempatan yang setara dalam treatment kelompok. Ada pemahaman yang salah terhadap penelitian true-eksperimen bahwa semua penelitian true-eksperimen harus memiliki kelompok kontrol. Ini bukan suatu masalah; jika peneliti percaya bahwa hasil pada penelitian terdahulu bahwa beberapa treatmen berbeda secara signifikan dengan tanpa treatmen apapun, kemudian dia tidak menjamin harus memiliki kelompok kontrol dan bahkan mungkin berharap membandingkan jenis-jenis treatmen yang berbeda-beda.
Salah satu contoh penelitian eksperimen adalah studi tentang pengaruh latihan aerobik (variabel independent) terhadap tingkat depresi, kecemasan dan stress (variabel dependent). Latihan aerobik merupakan variabel yang dapat dimanipulasi, dengan menawarkan berbagai jenis treatment yang ada dalam latihan aerobik, dan karena ini merupakan penelitian true-eksperimen, maka ada penugasan acak. Oleh karena itu, satu desain akan diterapkan pada 100 individu secara acak ke dalam empat kelompok: kelompok kontrol tanpa melakukan latihan aerobik, kelompok yang berpartisipasi selama 8 minggu di latiahn aerobik ringan, kelompok yang berpartisipasi selama 8 minggu di latiahn aerobik menengah, dan kelompok yang berpartisipasi selama 8 minggu di latiahn aerobik secara intens. Dan juga, instruktur yang digunakan berbeda pada tiap pelatihan di masing-masing kelas pada kelompok treatment, akan membantu memastikan bahwa kepribadian dari instruktur bukanlah faktor yang menentukan hasil penelitian.
Berawal dengan hipotesis nol yang berbunyi “bahwa tidak ada perbedaan dalam pengukuran kecemasan, depresi dan stres antara individu yang mengikuti jenis latihan aerobik yang berbeda”. Ketika peneliti menggunakan hipotesis nol, maka mereka berharap bahwa hal itu salah, bahwa peneliti ingin membuktikan bahwa treatment yang diberikan menyebabkan perbedaan antara kelompok, kemudian mendemonstrasikan efek treatment.  
Dalam hal ini, penggunaan latihan aerobik, misalnya jika secara acak menempatkan 100 individu dalam empat kelompok, asumsinya bahwa sebelum melakukan latihan individu terlihat sama jika dilakukan pengukran terhadap ketiga karakteristik tersebut. Oleh karena itu, dengan mengikuti latihan areobik dengan treatmen ang berbeda-beda di masing-masing kelompok akan ditemukan perbedaan karena efek dari treatment dan bukan oleh faktor lainnya. Kadang-kadang, untuk memastikan asumsi ini benar, pra-pengukuran bisa dilakukan. Jika kelompok sangat signifikan, ini dapat dikontrol secara statistik untuk kemudian.
Jika treatment sama sekali tidak efektif, ketika pengukuran terhadap  orang-orang dalam keempat kelompok hampir beberapa karakter yang mungkin ditemukan beberapa perbedaan antara kelompok maka sekedar dikarenakan oleh peluang variabel atau ketidaktentuan skor. Oleh karena itu, dalam mendemonstrasikan bahwa treatment efektif, maka secara aktual pengukuran kemungkinan yang berbeda dikarenakan treatment dan tidak disebabkan oleh peluang atau fluktuasi minor. Pada kenyataannya, ketika studi menunjukkan bahwa kemungkinan 999 dari 1000 yang dihasilkan karena treatment
Dalam melakukan penelitian true-eksperimen, ada sejumlah perbedaan jenis desain probabilitas ketika memutuskan bagaimana memanipulasi variabel dan mengukur variabel dependent. Bagaimanapun, tanpa memperhatikan desain penelitian yang digunakan, dalam penelitian true-eksperimen dijelaskan apakah kelompok atau individu terlihat berbeda atau tidak sebelum dan sesudah treatment.
·         Penelitian Kuasi Eksperimen.
Sama halnya dengan penelitian true-eksperimen, dalam pengadaan penelitian kuasi eksperimen mencoba untuk menentukan sebab-akibat, dan ada maniplasi terhadap variabel independen; meskipun tidak ada penugasan acak (Heppner et al., 2008). Tidak seperti penelitian eksperimen, selain penugasan acak, jenis penelitian ini menguji kelompok utuh, memberikan satu atau lebih kelompok treatment, sementara kelompok lain tidak diberi treatmen. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui efek bimbingan klasikal terhadap perilaku bullying pada siswa tingkat 5 dan 6, maka perlu dipilih 6 hingga 12 anak untuk mendapatkan informasi terkait bullying. Setelah itu dilakukan perbandingan antara kelompok yang mendapat treatment dan yang tidak.
Yang patut disayangkan, kelemahan dari penugasan acak dalam kuasi eksperimen sering menghasilkan rendahnya kredibilitas dalam penentuan apakah ada tidaknya perbedaan yang disebabkan oleh efek treatment.  Dapat dibayangkan bahwa ada banyak faktor yang secara berbeda mempengaruhi kelompok treatment dengan kelompok non-treatment, kemudian hasil yang berbeda ditemukan. Dalam hal ini, hasil yang diperoleh disebabkan oleh seleksi daripada sekedar efek treatment. Maka diperlukan internal validitas untuk mengetahui faktor-faktor lain di luar efek treatment. Namun bagaimanapun itu, dunia real tidak menyediakan kita kesempatan untuk memilih individu secara acak untuk masuk dalam kelompok treatment, maka kuasi eksperiment sering dijadikan alternatif dari true eksperimen.
·         Desain One Shot Case Study dan One Group Pretest/Postest
Ketika peneliti mengingkinkan menguji perubahan personal maupun kelompok setelah ditreatmen, maka peneliti dapat menggunakan desain one shot case study atau one group pretest/postest (Kline, 2009). Bagaimanapun juga terdapat permasalahan yang nyata berkaitan dengan validitas internal dengan jenis desain ini (Houser, 2009)
Dalam desain ini, sama halnya dalam penelitan kuasi eksperimen, tidak ada penugasan acak untuk men-treatment kelompok, tetapi ada manipulasi terhadap variabel independen dan beberapa studi mengimplikasikan hukum sebab akibat. Dalam hal ini, kembali pada bahasan treatment latihan aerobik, jika kita bekerja dengan individu yang tingkat kecemasan dan stressnya kuat, dapat didesain studi yang menguji efek latihan aerobik terhadap pengukuran skala rendah kecemasan dan rata-rata waktu istirahat bagi hati klien (tidak mengalami situas stres). Dengan menggunakan desain ABA, akan dibuat baseline terhadap hasil pengukuran (A), dalam hal ini adalah skala kecemasan dan rata-rata resting heart.
Setelah bebrapa minggu, akan dibuat sejumlah baseline pengukuran dan memperkenalkan treatment, yaitu latihan aerobik. Pengukuran terhadap kecemasan dan stress akan dilakukan setelah beberapa minggu individu mengikuti treatment. Setelah itu, treatment akan dihapuskan dan beberapa minggu kemudian dilakukan pengukuran terhadap skor kecemasan dan stress (A again). Kegunaan treatment akan ditunjukkan dengan penurunan tingkat kecemasan dan stress selama mengikuti treatment dan menjadi semakin baik setelah treatment.
·         Penelitian Non-eksperimen
-          Penelitian Korelasi.
Penelitian korelasi merupakan penelitian yang berupaya untuk memahami hubungan antar variabel melalui penggunaan koefisien korelasi. Koefisien korelasi menunjukkan hubungan antar variabel dengan rentang -1 hingga +1. Korelasi positif menunjukkan kecenderungan skor salah satu variabel berhubungan dengan skor variabel pada satu arah. Korelasi negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan arah, sedang korelasi 0 menunjukkan tidak ada hubungan antar variabel.
Karena penelitian korelasi tidak menunjukkan sebab akibat dan tida menggunakan penugasan acak, penelitian jenis ini lebih mudah dilakukan daripada desain eksperimen dan seringkali digunakan sebagai persiapan penelitian untuk mengecek anggapan peneliti. Dua tipe penelitian korelasi yang sering digunakan adalah bivariat korelasi yang mengeksplor hubungan antra dua variabel dan multipel korelasi yang menguji hubungan lebih dari dua variabel.
 Dua jenis bivariat korelasi yaitu studi korelasi sederhana dan studi korelasi prediktif. Studi korelasi sederhana mengeksplor hubungan antar dua variabel “disini dan sekarang”. Sebagai contoh, ingin mengetahui hubungan antar empati seorang konselor dengan kemampuan membangun hubungan dengan klien, maka dengan menggunakan instrumen yang mengukur empati dan instrumen ynag mengukur kemampuan membangun hubungan dengan klien, korelasi antara dua variabel bisa ditemukan. Skor dari masing masing instrumen akan dikorelasikan dengan menggunakan statistik, akan diperoleh hubungan yang signifikan antara dua hal tersebut. Apakah empati menyebabkan kuatnya hubungan, bukan menjadi tujuan penelitian korelasi ini, namun hasil penelitian dapat digunakan acuan untuk melakukan pelatihan bagi konselor.
Studi korelasi prediktif digunakan untuk mengetahui bagaimana variabel satu mampu memprediksi satu atau lebih variabel yang lainnya. Misal bahwa antara karakteristik kepribadian dan lingkungan kerja akan mampu meprediksi kepuasan kerja yang diperoleh. Namun ini bukan mencari sebab akibat terjadinya kepuasan kerja, namun hanya sekedar memprediksi, ketika kepribadian sesuai dengan lingkungan kerja maka diprediksi individu bisa merasakan kepuasan kerja, tanpa melihat faktor lain yang membuat puas.
Penelitian multipel korelasi digunakan ketika kita memiliki lebih dari dua variabel yang dianggap berhubungan dengan vaiabel lain. Multipel regresi, satu dari sekian statistik korelasi multivarian, dapt menberitahukan bagaiman sebuah kombinasi dapat memprediksi hasil. Bentuk lain dari multipel korelasi adalah analisis diskrimanasi, analisis faktor, analisis diferensiasi.
-          Penelitian Survei.
Dalam penelitian survei, pertanyaan dikembangkan atau wawancara didesain dengan tujua untuk memperoleh informasi yang spesifik dari populasi target. Survei dapat menciptakan informasi yang menarik tentang nila, perilaku, demografi dan opini dari populasi tertentu dn digunakan dalam area bisnis, pendidikan dan pengetahuan sosial. Dalam mendeskripsikan data yang disusun, peneiti survei menggunakan statistik deskriptif dasar seperti distribusi frekuensi, persentase, pengukuran tendensi senter, dan pengukuran variabilitas. Seringkali, diagram dan grafik digunakan untuk mengilustrasikan beberapa data yang disusun.
Beberapa langkah yang biasanya dilakukan saat mengadakan penelitian survei yaitu berikut ini: (1) Mendefinisikan tujuan dan obyek survey, (2) Menentukan target populasi, (3) Menentukan metode respons (suratkertas, internet, wawancara langsung, telepon), (4) Menentukan sumber daya yang dibutuhkan (misal; stamp, website), (5) Mengembangkan instrumen dan cover-nya, (6) Mengadakan studi pilot dan melakukan revisi, (7) Melengkapi follow-up terhadap non responden, (8) Mengumpulkan data, (9) Mengorganizing hasil, (10) Mendistribusikan hasil (jurnal).
-          Penelitian Ex-Post Facto.
Penelitian ini sering disebut penelitian kausal-comparatif yang menguji hubungan yag telah ada dalam kelompok utuh. Penelitian ex-post facto ini digunakan ketika tidak ada kepraktisan atau tidak memungkinkan memanipulasi variabel independen, seperti ketika akan menguji perbedaan efek terhadap gender, tipe kepribadian, ras, atau ketika penugasan acak tidak dapat dilakukan (Heppner et al, 2008).
Contoh penelitian yaitu ketika kita ingin membandingkan skor di National Counselor Exam (NCE) dari siswa lulusan CACREP (program akreditasi konseling) dengan lulusan non CACREP. Secara nyata, kita dapat memilih siswa secara acak dan kita dapat memanipulasi variabel independent, yaitu siswa yang ikut serta dalam program lulusan. Bagaimanapun, ini akan mudah mengumpulkan data dari siswa yang mengikuti program ini. Kemudian ini menjadi proses yang sederhana untuk dilakukan analisis statistik yang mana perolehan skor ujian tertinggi. Dan faktanya National Board for Certified Counselor memiliki data ini, dan meskipun tidak dilakukan analisis perbandingan, siswa dari CACREP mendapatan skor tertinggi dalam sertifikasi ujian.
Meskipun penelitian ex-post facto lebih tepat dibandingkan beberapa penelitian eksperimen lainnya, namun ada masalah bawaan pada jenis penelitian ini. Dalam hal ini, kita tidak dapat memastikan apakah variabel independent dapat benar-benar dipertanggungjawabkan sebagai hasil penelitian. Sebagai contoh, di NCE sampel yang barusan didiskusikan, terdapat banyak hal yang perlu dijelaskan mengapa perbedaan ditemukan. Berikut ini sedikit hipotesis yang mungkin benar adanya: (1) Siswa yang tidak diterima di CACREP dan memilih sekolah lain mungkin kurang persiapan secara akademik, (2) Siswa yang tidak ikut CACREP mungkin kreatif namun lemah dalam akademik, (3) Fakultas di CACREP memiliki guru yang lebih baik, (4) Program CACREP mencakup kurikulum yang diujikan oleh NCE, sedangkan non-CACREP tidak meng-cover kurikulum tersebut dan ide-ide lainnya.
Dalam upaya untuk mengontrol hipotesis-hipotesis di atas, penelitian terkadang perlu diusahakan untuk mematchingkan kelompok treatment terhadap variabel yang dapat mengacaukan hasil penelitian. Penelitian juga dapat dilakukan pada lulusan setelah beberapa tahun kelulusan. Oleh karena itu, hipotesis saingan yang teridentifikasi perlu dicatat sebagai variabel baur yang didiskusikan dalam hasil penelitian. Tambahan, hipotesis saingan yang tidak teridentifikasi oleh peneliti dapat mempengaruhi hasil penelitian. Inilah mengapa peneliti perlu sangat sementara/tidak permanen dalam menarik kesimpulan dalam penelitian ex-post facto.


b.      Metode Penelitian Kualitatif
Naturalistik – Phenomenologis filosofi adalah basic penelitian kualitatif (McMillan & Schumacher, 2001). Pendekatan ini mengasumsikan bahwa ada banyak cara dimana kenyataan dapat diinterpretasikan dan diterapkan secara individual. Jika penelitian kuantittaif menggunakan metode ilmiah, maka penelitian kualitatif mengandalkan pada peneliti yang secara berhati-hati mengobservasi dan mendeskripsikan fenomena dan menginterpretasikan fenomena dalam konteks sosial. Untuk alasan ini, penelitian kualitatif memungkinkan menguji fenomena yang oleh penelitian kuantitatif tidak dapat dieksplor , seperti pemahaman kita tentang empati dan makna bahwa kita berasal dari Tuhan (Hanna & Shank, 1995). Sebagai hasilnya, penemuan penelitian kualitatif menawarkan banyak cara untuk menerapkan paradigma penelitian ke dalam berbagai seting klinis. Dan juga, penelitian kualitatif dapat menambahkan bagan informas yang hilang yang tidak dapat dicover oleh metode reduksi dar penelitian kuantitatif.
Sebagai lawan dari deduksi, metode reduksi dari penelitian kuantitatif, yang aman mengidentifikasi variabel, mengisolasi mereka, mengukur mereka, penelitian kualitatif mengandalkan pada metode studi kasus, salah satu cara analisis dan fokus permasalahan secara lebih mendalam sebuah kejadian atau fenomena. Pendekatan ini mengandalkan pada sejumlah metode, seringkali digunakan secara simultan, dalam upaya untuk tidak mengkover tema dan makna fenomena yang dipelajari. Penelitian kualitatif tidak memiliki banyak bentuk, berikut ini empat tipe penelitian kualitatif: grand teori, pendekatan phenomenologis, penelitian etnografi dan penelitian historikal
·         Grand Teori
Dikembangkan oleh sosiologis Glaser dan Strass selama tahun 1960’an, grand teori ini dapat dideskripsikan sebagai sebagai proses, sebagai perlawanan untuk pengujian terhadap momen yang sedang terjadi. Dalam proses ini, pertanyaan penelitian didasarkan atas konsentrasi populasi  yang diuji dalam berbagai banyak cara. Eksplorasi ini dapat mengarahkan kemunculan suatu teori yang berdasarkan pada pertanyaan asli penelitian. Berlawanan dengan penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik untuk menentukan validitas hipotesis atau pertanyaan penelitian yang diambil dari review literatur, proses ini tidak berawal dari literatur untuk menghindari terjadinya bias dalam menginterpretasikan hasil.
Sebagai gambaran , jika kita muncul pertanyaan ” bagaimana seorang konselor mengembangkan teoritik berorientasi pada karier?” maka dapat dikembangkan pertanyaan penelitian seperti ini:
-          Kapan konselor pertama kali mempertimbangkan orientasi teoritik?
-          Pengalaman apa yang mempengaruhi pemilihan teori?
-          Hal terpenting apa yang ada dalam teori tersebut?
-          Bagaimana jika teori yang dipilih bisa berubah sewaktu-waktu/ seiring waktu?
Setelah mendapatkan pertanyaan penelitan,maka tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah : persiapan, pengumpulan data, membuat catatan, koding dan menulis laporan. Grand teori cocok untuk dilakukan oleh konselor karena mereka adalah sosok yang natural sebagai observer dan pendengar. Namun proses ini tidak semudah mendengarkan suatu wawancara, namun membutuhkan proses yang sistematis dan teori yang relevant untuk kepentingan pertanyaan penelitian.
·         Desain Phenomenologis
Desain phenomenologis kurang dimasukkan dalam teori terkini, dan lebih tertarik dalam memahami secara sederhana pengalaman populasi dalam pertanyaan yang diajukan (Christensen & Brumfield, 2010). Sebagai contoh, jika kita ingin mengetahui gangguan traumatik yang di alami oleh korban bencana lama yang masih hidup, maka kita melakukan wawancara dengan korban bencana alam dengan tujuan untuk mengetahui pengalamannya secara utuh dengan tetap berhati-hari agar respon yang muncul tidak membuat hal negatif terjadi. Proses pengumpulan datanya sama dengan proses grand teori.
·         Penelitian Etnografi
Etnograf mengarah pada deskripsi tentang budaya manusia; terkadang disebut antropologi budaya, penelitian etnografi dipopulerkan oleh Margaret Mead yang mempelajari pemuda Aborigin di Samoa dengan melibatkan diri kedalam orang-orang dan budaya mereka sebagai upaya untuk memahami gaya hidup mereka (Mead, 1961). Penelitian etnografi mengasumsikan bahwa fenomena atau kejadian dapat dengan sangat baik dipahami didalam konteks budaya mereka. Ambllah sebuah kejadian keluar dari konteks itu sendiri, dan makna yang terkandung mungkin diinterpretasikan dari konteks peneliti sebagai kebalikan dari konteks sosial asli itu sendiri. Secara realitas, oleh karena itu, sebuah kontruksi sosial, dengan tujuan untuk dipahami, perlu diuji kedalam perspektif fenomenologi darimana itu muncul. Kemudian seorang etnografi mencari untuk memahami kejadian dengan memahami makna bahwa orang-orang ditempatkan pada mereka dari dalam konteks alami mereka.
Langkah awal mengadakan penelitian etnografi adalah mengidentifikasi kelompok yang akan dipelajari dan mengidentifikasi permasalahan umum yang akan diteliti. Mengadakan review iteratur dapat membantu peneliti membangun pemahaman yang lebih baik terhadap budaya atau kelompok yang akan dipelajari dan membantu peneliti dalam mendefinikan tujuan penelitian dan mengembangkan hipotesis atau pertanyaan penelitian. Lalu, peneliti menentukan metode apa yang akan dgunakan untuk terlibat langsung dalam budaya atau populasi. Sebelum masuk ke dalam budaya tersebut, peneliti sebaiknya mengembangkan rencana untuk melaksanakan pengumpulan data. Tiga metode yan biasanya digunakan dalam penelitian etnografi yaitu observasi, wawancara, dan pengumpulan dokumen atau artefak.
Observasi. Seorang etnografi akan sering mengobservasi situas atau fenomena dan mendeskripsikannya, menggunakan catatan intensif, apa yang mereka lihat. Meskipun terkadang penelitian kualitatif tidak mengambil peran yang vital ketika observasi, merea lebih sering mejadi observer partisipan. Pada jenis observasi ini peneliti melibatkan dirinya bersama kelompok dan mungkin hidup bersama. Bagaimanapun itu, ini adalah hal yang penting untuk tidak mengganggu proses alami kelompok dan mendengarkan dan dengan cermat mencatat sehingga observer memahami  perspektif unik dari kelompok. Hanya dalam cara ini observer dapat menyusun apresiasi yang banyak tentang bagaimana kenyataan dari kelompok terbangun. Ini sangat penting observer merekam peran apa dan efek apa yang dimunculkan dari kegiatan observasi terhadap kelompok.
Wawancara Etnografi. Wawancara etnografi metode pengumpulan data kualitatif populer kedua dari kelompok atau budaya. Beberapa wawancara ; pertanyaan terbuka berusaha untuk memahami bagaimana intervee mengkonstruksika makna. Wawancara mungkin bersifat informal; terarah, dimana pertanyaan diluar jalur;atau terstandart yang mana pertanyaan pasti telah ditentukan sebelum melakukan interview tetapi para responden mengharapkan pertanyaan yang terbuka. Konselor adalah ahli dalam melakukan wawancara etnografi karena mereka terlatih dalam pertanyaan terbuka. Sebagai observer partisipan, adalah sangat penting dengan cermat mencatat atau merekam dengan tujuan untuk menyusun verbatim percakapan.
Pengumpulan dokumen dan artefak. Artefak adalah simbol budaya atau kelompok dan dapat membantu seorang etnografi memahami kepercayaan, nilai-nilai dan perilaku kelompok. Dalam proses ini akan sangat membantu jika peneliti mengetahui bagaimana artefak dibuat, darimana artefak berasal, usia artefak, bagaimana penggunaannya, dan siapa yang menggunakan. Interpretasi tentang makna artefak akan dipadukan dengan hasil observasi dan wawancara.
McMillan dan Schumacher (2001) menyarankan kategori dari artefak berikut: dokumen pribadi, seperti buku harian, surat-surat pribadi, dan catatan anekdot; dokumen kantor, seperti kertas internal dan eksternal, file dan rekaman pribadi, dan data statistik; dan obyek yang memiliki simbol makna terhadap budaya.

·         Penelitian Historikal
Tujuan penelitian historikal adalah mendeskripsikan dan menganalisis kondisi atau kejadian di masa lalu dan menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian hstorikal mengandalkan pada pengumpulan informasi secara sistematisdalam mengupayakan menguji dan memahami kejadian masa lalu dari kerangka kerja kontekstual. Ketika mengerjakan penelitian historikal, peneliti pada umumnya memiliki poin pandangan dalam pikirannya dan membutuhkan literatur untuk mendukung pandangannya tersebut. Kemudan peneliti akan memulai mengumpulkan data untuk menunjukkan bahwa pandangannya memiliki kevalidan. Dalam proses ini mungkin pandangan peneliti akan mengalami perubahan sebagai pengaruh dari literatur yang diperoleh atau sumber data yang disusun.
Dalam pengumpulan data, beberapa sumber dapat digunakan. Sebisamungkin peneliti menggunakan sumber utama atau rekaman aslisebagai lawan dari sumber data cadangan yang mana dokuen atau informasi verbal dari sumber tidak aktual terhadap peristiwa. Berikut in contoh sumber utama :
-          Oral histories. Oral histories menunjuk pada ketika peneliti secara langsung mewawancara orang yang terlibat langsung dalam kejadian atau yang mengobservasi kejadian tersebut
-          Dokumen. Dokumen adalah rekaman kejadian yang secara umm dimuseumkan dalam perpustakaan atau pusat arsip. Beberapa contohnya adalah diari, surat autobiografi, jurnal dan majalah, film, rekaman, luisan, dan rekaman institusi.
-          Barang peninggalan/ keramat. Barang pennggalan / keramat adalah bebagai bentuk obyek yang dapat memberikan bukti-bukti tentang pertanyaan-pertanyaan di masa lalu. Seperti buku, peta, bangunan, artefak, dan lain sebagainya yang mewakili barang peninggalan/keramat.
4.      Statistik dan Analisis Data Penelitian Kuntitatif dan Kualitatif
Penelitian kuantitatif menggunakan statistik untuk menganalisis hasil, sedangkan penelitian kualitatif menggunakan proses yang diebut analisis induktif.
·         Penelitian Kuantitatif
Secara umum, penggunaan statistik dalam penelitian kuantitatif dapat dibagi menjadi dua kategori : statistik deskriptif yang digunakan untuk merangkum dan mendeskripsikan hasil, dan statistif inferensial yang mana prosedur metematik digunakan untuk membuat kesimpulan terhadap populasi besar dari sampel yang dipelajari. Statistik deskriptif termasuk di dalamnya yaitu : pengukuran tendensi sentral, seperti mean, media, modus; mengukur validitas, seperti range, varian, dan standar deviasi; perolehan score, seperti persentil, T-score, DIQ score; dan mengukur adanya sebuah hubungan, seperti koefisien korelasi. Statistik deskriptif sering digunakan dalam penelitian survei.
Statitistik inferensial digunakan untuk menguji apakah perbedaan atau kekuatan hubungan antara kelompok treatmen yang mungkin ditemukan dari beberapan kemungkinan. Beberapa dari tipe analisis yang ada termasuk di antaranya t-test, untuk mengukur perbedaan antara dua hal,; analisis varian (ANOVA), untuk mengukur perbedaan antara dua hal atau lebih dari dua; faktor analisis varian, digunakan ketika ada lebih dari sati variabel independen dan peneliti tertarik menguji masing-masing  variabel independen dan bagaimana mereka saling terkait; analisis varian multivariasi (MANOVA), digunakan ketika dua atau lebih veriabel dependen akan diuji; signifikan koefisien korelasi, digunakan ketika menguji apakah hubungan natar variabel signifikan secara statistik; dan Chi square, yang digunakan untuk membandingkan apakah nilai frekuensi yang diobservasi berbeda dari nilai frekuensi yang diperkirakan. Secara umum, penelitian eksperimen dan penelitian ex post facto menggunakan statistik inferensial yang mengukur perbedaan antara beberapa hal sedangkan penelitian korelasi menguji tingkat/derajat hubungan antar variabel.
Pada saat ini, ukuran efek sebuah studi menjadi penting ditingkatkan dibawah pemahaman hasil penelitian kualitatif. Ukura efek mengarah pada temuan yang signifikan untuk dipraktikkan. Sekarang ini, ukuran efek ditunjukkan dengan penggunaan sejumlah prosedur statistik yang bervariasi dan biasanya direferalkan dalam publikasi studi.
·         Penelitian Kualitatif
Pengumpulan data kualitatif mengandalkan pada proses yang disebut analisis induksi yang artinya bahwa tema dan kategori muncul dari data (McMillan & Schumacher, 2010). Kemudian, peneliti yang menguji data yang dikumpulkan tersebut melalui berbagai metode menyebutkan informasi dalam berbagai tema, cara pengkategorian informasi, dan cara menyeleksi bagian-bagian terpenting dari informasi. Selama proses ini berlangsung, peneliti mulai melihat point fakta yang muncul.
 Secara umum, peneliti kualitatif mengklasifikasi data mereka melalui proses yang disebut koding. Proses ini membreak-down (memecah dan menurunkan) sebagian besar data ke dalam bagian yang lebih kecil yang mirip untuk mendapatkan makna dari pertanyaan penelitian.
Meskipun grand teori, pendekatan phenomenologis dan penelitian etnografi mengandalkan pada koding dan identifikasi tema, ini dapat pula sangat penting dalam penelitian historikal ketika membandingkan perbedaan tipe-tipe dokumen, relief dan mungkin wawancara. Dalam kasus lain, proses ini sulit, belum berhasil ditemukan pola dan tema yang signifikan dalam penelitian kualitatif.
5.      Isu Kualitas Studi Penelitian
McMillan dan Schumacher (2010) menunjuk validitas sebagai “the truth or falsity of propositions generated by research”, bahwa validitas adalah kebenaran atau kesalahan dari proposisi yang digeneralkan oleh penelitian. Hingga derajat sebagai hasil dari desain penelitian mendekati kenyataan obyektif yang representatif adalah tanda bahwa studi tersebut memiliki validitas yang baik. Ada dia jenis validitas, yaitu validitas internal dan validitas eksternal.
·         Validitas Internal
Validitas internal menggambarkan derajat yang mana variabel yang tidak ada hubungannya telah dihitung selama menggambarkan kesimpulan dan telah didiskuskan secara singkat. Studi yang lebih sulit untuk dikontrol akan memiliki lebih sedikit ancaman terhadap validitas internal dan oleh karena itu lebih sedikit hipotesis-hipotesis saingan yang mungkin menjadi sebuah penjelasan terhadap data yang ditemukan. Lebih jelasnya, studi kuantitatif pada umumnya lebih sulit dikontrol daripada studi kualitatif.
·         Validitas Eksternal
Validitas eksternal, dengan kata lain, menggambarkan pengeneralisasian hasil penelitian, dengan atau tanpa kesimpulan peneliti dapat diterapkan pada populasi yang lebih besar dari sampel yang diteliti. Pengontrolan yang sulit, populasi kecil kadang digunakan dan metode reduksi dalam penelitian kuantitatif kadang membuat ini sulit digeneralkan pada populasi yang lebih besar. Dalam penelitian kualitatif, validitas eksternal harus dilakukan dengan kemmapuan peneliti untuk mendeskripsikan penelitian dalam cara yang akan membantu peneliti lainnya bekerja dengan populasi yang lain. Jika metode reliabel untuk memsusun informasi digunakan, dan jika informasi berguna dan berdasarkan pada basic teori pendukung, kemudian implikasi penelitian akan bergunan bagi peneliti lainnya.
·         Apakah Validitas Valid dalam Penelitian Kualitatif?
Berhubungan dengan penelitian kualitatif, beberapa menyarankan bahwa lebih baik menggunakan ranah validitas, penelitian kualitatif sebaknya menjelaskan kredibilitas dan kelayakan untuk dipercaya sebuah penelitian. Upaya untuk mendeskripsikan kejadian-kejadian dalam cara yang reliabel dan valid angat susah, hal ini sangat lumrah, kejadian-kejadian dapat memiliki banyak makna bergantung pada kerangka pikir siap yang menjelaskan.
Kemampuan untuk menciptakan reliabilitas dan validitas dari penelitian kualitatif berdasarkan pada seberapa baik peneliti mampu menyimpan informasi dan menganalisis hasilnya. Berikut ini sara yang dapat menjadi cara untk memastikan kredibilitas penelitian kualitatif (Best & Khan, 2006; Christensen & Brumfield, 2010; McMillan dan Schumacher, 2010) :
-          Mengadakan prolog dan lahan kerja yang persisten dalam pengumpulan informasi
-          menggunakan triangulasi atau menggunakan multiple metode untuk menyusun data (misal : observasi, interview, dokumentasi)
-          menggunakan  bahasa yang dipahami partisipan
-          mendeskripsikan informasi yang disusun dalam tema-tema yang kongkrit
-          menggunakan banyak peneliti untuk mengurangi bias
-          mengupayakan “brackret off” terhadap bias individual sehingga mereka tidak kebingungan dengan data yang dikumpulkan
-          merekam data secara mekanis, jika memungkinkan, memastikan akuransinya
-          menggunakan informan atu peneliti yang melakukan partisipan observasi untuk menguatkan fakta yang disusun
-          menggunakan auditor eksternal untuk mengecek bias dalam proses penelitian
-          melakukan member check dengan bertanya pada individu untuk mereview keakuratan transkrip
-          mencari aktif diskrepansi data atau informasi yang tidak mendukung seperti kebenaran yang berbeda dari situasi yang dipoinkan.
Setelah data disusun dan dibuktikan, peneliti harus melalui proses yang teliti dalam mereview data, mensintesis hasil, dan membuat kesimpulan serta genaralisasi. Pertanyaan orijinal penelitian yang diajukan peneliti mungkin mengalami perubahan selama penelti melakukan proses review data dan analisis sumber. Hasil akhir penelitian melibatkan analisis logis dari materi yang disusun sebagai lawan dari analisis statistik yang kita temui pada penelitian kuantitatif. Pada akhirnya, peneliti perlu berhati-hati untuk tidak kaku terhadap poin yang telah ia buat dan sebaiknya membuka diri untuk menerima opini sebagai bentuk dukungan dan pengadaan temuan utama.

6.      Membaca dan Menulis Penelitian
Membaca penelitian kuantitatif dan kualitatif mengikutsertakan bagian logika yang menggambarkan apa yang peneliti telah lakukan dalam studinya. Meskipun penelitian kuantitatif dan kualitatif mempelajari pendekatan pencapaian pengetahuan secara berbeda, cara menyajikan hasil penelitian sama. Berikut ini bagian-bagian penting dalam naskah pelaporan penelitian :
·         Abstrak. Ringkasan pendek dari naskah yang pada uumnya berisi kurang dari 100 kata
·         Review literatur. Sesi ini berisi review penelitian terdahulu yang telah dilengkapi dalam area studi dan dielaborasikan dengan pernyataan permasalahan. Review dapat berupa sependek-pendeknya satu halaman atau sepanjang-panjangnya sepuluh halaman dan harus diberikan  hipotesis penelitian atau pertanyaan penelitian.
·         Hipotesis penelitian atau pertanyaan penelitian. Pada umumnya hipotesis atau pertanyaan penelitian dapat ditemukan diakhir review literatur. Hipotesis atau pertanyaan penelitian mendefinisikan variabel, mengidentifikasi hubungan antar variabel, dan mendefinikan populasi yang dipelajari.
·         Metodologi. Sesi metode atau prosedur penelitian mendeskripsikan bagaimana studi diadakan dan termasuk deskripsi partisipan, pernyataan tentang instrumen yang digunakan, termasuk validitas dan reliabilitas instrumen, sumber data, prosedur teknis pelaksanaan studi, dan prosedur pengumpulan data.
·         Hasil. Sesi naskah ini mendeskripsikan jenis analisis statistik atau sintesis data yang digunakan sama baiknya dengan deskripsi dalam penulisan diagram, tabel dan gambaran hasil yang diperoleh.
·         Diskusi, Implikasi dan kesimpulan. Sesi ini mendeskripsikan bagaimana hasil penelitian dihubungkan dengan hipotesis atau pertanyaan penelitian. Hasil harus berkaitan dengan penelitian terdahulu danalasan yang masuk akal mengapa hasil yang ditemukan didiskusikan. Beberapa metodelogi permasalahan dijelaskan di bagian ini. Meskipun penulis memiliki kebebasan untuk menuangkan spekulasinya, penulis harus melakukan itu secara sementara. Seringkali penulis masuk ke dalam sesi ini bagaimana penelitian diterapkan pada studi selanjutnya.
·         Reference.
7.      Evaluasi dalam Konseling
Konsep penelitian banyak digunakan dalam evaluasi, tujuan evaluasi berbeda dengan tujuan penelitian (Leary, 2007). Penelitian cenderung menguji paradigma baru untuk mengembangkan pemahaman dan pengetahuan serta bagaimana pengetahuan dapat diaplikasikan ke dalam praktik, sedangkan program evaluasi harus dilakukan dengan apakah iya atau tidak program tersebut mencapai tujuan dan obyektif serta harus menunjukkan kebenaran dan nilai-nilai (Houser, 2009; Leary, 2007;Roys, Thyer & Padgett, 2010)
Sebagai seorang konselor, kita akan diminta untuk mengevaluasi perkembangan konseli dan keefektifan program yang kita adakan. Dalam hal ini, mungkin kita akan diminta untuk menunjukkan bukti bahwa konseli kita berkembang melalui konseling atau mendemonstrasikan keefektifan dari program self-esteem, program bimbingan klasikal, program pengembangan karier, kefektifan program parenting, atau program-program sederhana yang menjelaskan program-program yang diberikan kepada konseli. Program eveluasi memiliki kedudukan yang penting dalam penjelasan keefektifan hubungan kerja di sekolah. Penggunaan teknik evaluasi juga merupakan langkah penting dalam proses pertanggungjawaban dan menjamin publik dan agen pendanaan bahwa agensi menunjukkan layanan utama dan efektif untuk konseli (;Leary, 2007;Roys, Thyer & Padgett, 2010). Dengan tujuan untuk mengembangkan program yang sedang dijalankan atau dikembangkan maka terdapat pengukuran evaluasi sumatif dan formatif dapat dilakukan.           
Evaluasi  formatif dan sumatif terkadang disebut dengan evaluasi proses dan evaluasi hasil, kedua evaluasi ini memiliki tujuan yang berbeda. Evaluasi formatif berfokus pada asesmen program selama dilaksanakan agar mampu menyusun umpan balik tentang keefektifan program dan mengijinkan perubahan dalam pelaksanaan program bila diperlukan. Sedangkan evaluasi sumatif mengasesmen secara keseluruhan program dengan tujuan untuk memutuskan apakah program akan dilaksanakan lagi ataukah bagaimana program ini perlu diubah agar lebih efektif lagi.
Cara yang paling banyak dilakukan untuk menyelenggarakan evaluasi formatif adalah meminta umpan balik secara verbal kepada audience. Dalam hal ini, peneliti perlu membuka diri terhadap umpan balik yang diberikan, khususnya kritis negatif akan dapat mengubah program ditengah jalan. Lakukan hal ini sesering mungkin agar partisipan dengan bebas dan terbuka mengungkapkan perasaannya. Peneliti juga dapat mengunakan format berbentuk rating yang dapat diisi oleh partisipan yang mana prosesnya lebih cepat dalam pengumpulan umpanbalik, namun kelemahan teknik ini adalah partisipan tidak dapat memberikan umpan balik selain yang ditanyakan dalam daftar rating.
Evaluasi sumatif digunakan untuk menunjukkan keefektifan program dengan tujuan menentukan apakah program akan diberikan pada konseli di masa mendatang dan ini adalah cara untuk menunjukkan tanggungjawab kepada agen pendanaan atau agen administrasi. Evaluasi sumatif pada umumnya melibatkan dan proses formal yang sering menilai sisi-sisi manusia secara luas yang terlibat dalam program.
Evaluasi sumatif kadang melibatkan penggunaan desain penelitian yang spesifik. Penggunaan penelitian eksperimen maupun true-eksperimen dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap program yang telah diberikan kepada konseli.
Meskipun evaluasi formatif dan evaluasi sumatif hampir memiliki persamana, berikut ini perbedaan yang utama antara kedua jenis evaluasi.
Perbedaan Evaluasi Formatif Dan Evaluasi Sumatif

Evaluasi Formatif
Evaluasi Sumatif
Fokus
Disini dan Sekarang
Outcome dari program
Tujuan
Untuk menentukan nilai suatu program yang sedang terjadi
Untuk menentukan nilai suatu program setelah program berakhir
Hipotesis/pertanyaan
Hipotesis atau pertanyaan. Biasanya pertanyaan
Populasi
Kelompok Layanan (seperti : workshop, kelompok bimbingan, konferensi)
Desain / statistik
Biasanya :
Informal
Statistik deskriptif
Dapat berbentuk :
Statistik deskriptif
Desain eksperimen
Desain ex post facto
Validitas/kredibilitas
Internal dan Eksternal validitas

0 comments:

Post a comment