Tuesday, 16 June 2020

Membangun Hubungan Konseling


Membangun Hubungan Konseling
1.      Faktor-faktor yang mempengaruhi konseling
Sejumlah faktor dapat mempengaruhi konseling, membuatnya lebih baik atau lebih buruk. Hal yang dibahas disini adalah keseriusan masalah yang dipaparkan, struktur, inisiatif, latar fisik, kualitas klien, dan kualitas konselor
a.    Keseriusan masalah yang dipaparkan
Konseling dipengaruhi oleh keseriusan masalah yang dipaparkan klien. Dalam Leibert (2006), dijelaskan bahwa “Bukti menunjukkan adanya hubungan antara seberapa besar masalah yang dipaparkan klien dengan perkembangan pengobatan. Jadi, klien yang melaporkan tingkat gangguan yang tinggi menjalani lebih banyak sesi untuk mencapai kemajuan yang signifikan daripada klien yang melaporkan tingkat ganggguan yang lebih rendah” (Gladding, 2015: hal 148)
b.    Struktur
Day & Sparacio (1980), menjelaskan “Struktur dalam konseling didefinisikan sebagai kesepahaman bersama antara konselor dan klien mengenai karakteristik, kondisi prosedur, dan parameter konseling”. Sedangkan ahli lain yakni Brammer & Shostrom (1993), menjelaskan bahwa “Struktur membantu memperjelas hubungan antara konselor dan klien dan memberikan arah yang benar; melindungi hak, peran, dan kewajiban baik dari konselor maupun klien; dan memastikan suksesnya konseling” (gladding, 2015: hal 149)


c.    Inisiatif
Inisiatif dapat disebut juga sebagai motivasi untuk berubah. Menurut para ahli kebanyakan klien datang untuk konseling atas dasar kemauan sendiri, namun tidak jarang pula yang datang dengan tekanan dan kehawatiran dan memaksakan diri untuk melakukan sesi konseling bahkan ada juga yang enggan berpartisipasi dalam kegiatan konseling. Menurut Vriend & Dyer (1973) “memperkirakan keengganan dalam berbagai tingkat pada mayoritas klien yang datang ke konselor” (Gladding, 2015: 153).
Dalam menangsni klien yang enggan melakukan konseling terkadang konselor binung harus berbuat seperti apa. Hal ini menderong konselor untuk menyalahkan klien terhadap permasalahannya dan tidak jarang pula konselor menyalahkan diri sendiri ketika tidak berhasil menyelesaikan permasalahan yang dialami klien. Untuk megatasi hal seperti ini konselor harus sering berlatih membayangkan dirinya sebagai klien yang datang dengan paksaan sehingga konselor mampu merasakan apa yang dirasakan klien semacam ini dan dapat menumbuhkan rasa empati konselor. Ritchie (1986), menjelaskan bahwa klien yang enggan adalah “seseorang yang dirujuk oleh pihak ketiga dan sering kali kurang mempunyai motivasi untuk mencari pertolongan”, (Gladding, 2015: 153).
d.   Latar fisik
Latar fisik ini terkait dengan tempat pelaksanaan bimbingan dan konseling, pada dasarnya kegiatan konseling dapat dilakukan dimana saja namun kebanyaka kegiatan konseling dilakukan didalam ruangan. Benjamin (dalam Gladding, 2015: 157), mengatan dia melakukan konseling didalam sebuah tenda. Menurutnya, tidak ada kualitas tertentu yang wajib dimiliki sebuah ruangan “kecuali bahwa ruangan tersebut tidak boleh membuat gelisah, berisik atau menyebabkan gangguan”.
Dalam tinjauan ekstensif terhadap penelitian latar fisik dan konseling, pressly dan Heesacker meneliti delapan karakteristik arsitektural dari ruangan dan dampak potensialnya pada sesi konseling. Faktor-faktor yang mereka tinjau berikut penemuannya adalah sebagaai berikut:
1)   Aksesoris (contooh, karya seni, objek, tumbuhan)_”orang lebih menyukai gambar-gambar alam yang kompleks dengan warna-warna natural daripada poster orang, kehidupan kota, dan lukisan abstrak”; orang merasa “lebih nyaman di kantor yang bersih yang dilengkapi karya seni dan tumbuh-tumbuhan”.
2)   Pewarnaan (contoh, buatan, alami)_”warna-warna terang dihubungkan dengan emosi positif, sedangkan warna gelap dihubungkan dengan warna-warna negatif”
3)   Perabotan dan desain ruangan (contoh, bentuk, garis, warna, tekstur, ukuran)_”jika dibandingkan konselor, klien lebih suka jarak yang tidak begitu jauh saat konseling dan tata letak funitur yang lebih protektif”
4)   Pencahayaan (contoh, buatan, alami)_”komunikasi umum cenderung terjadi di tempat yang terang, sedang percakapan yang lebih akrab biasanya ditempat yang agak redup” ; “pencahayaan dengan spektrum penuh membantu mengurangi simtom depresi”
5)   Aroma (contoh, tumbuhan, wangi-wangian, bau-bauan seacara umum)_”aroma yang tidak menyenangkan membangkitkan memori yang tidak menyenangkan, sementara aroma yang menyenangkan membangkitkan kenangan yang menyenangkan” ; “menghirup aroma makanan dan buah-buahan, terbukti dapat membuat klien mengungkapkan simtom depresinya”
6)   Suara (contoh, tingkat kebisingan, frekuensi)_”suara dapat meningkatkan atau mengurangi performa kerja” ; “musik dapat membantu dalam proses penyembuhan dan meredakan ketegangan otot, tekanan darah, detak jantung, dan rasa sakit”
7)   Tekstur (contoh, lantai, dinding, atap, perabotan)_”konselor sebaiknya mempertimbangkan penggunaan permukaan yang lembut, bertekstur untuk menyerap suara dan untuk meningkatkan perasaan privasi kliennya”
8)   Suhu udara (contoh, temperatur, tingkat kelembapan relatif, tekanan udara)_”kebanyakan individu merasa lebih nyaman pada temperatur antara 60-80 derajat farenheit dan tingkat kelembapan relatif 30 hingga 60 persen”
e.    Kualitas klien
Hubungan  konseling diawali sejak kesan pertama. Cara konselor dan klien saling berkenalan merupakan hal yang vital dalam membangun sebuah hubungan yang produktif. Menurut Warnath (dalam Gladding 2015) menunjukkan bahwa “klien datang dalam beragam ukuran, bentuk, karakteristik kepribadian, dan tingkat ketertarikan”. Beberapa klien terkadang sukses dalam menjalankan kegiatan konseling, namun tidak jarang klien yang tidak sukses dalam konseling yang dilakukan.
Kelompok yang cenderung sukses adalah kelompok dengan ciri; muda, atraktif, berani berbicara, cerdas, dan sukses. Sedangkan kelompok yang cenderung tidak sukses dalam kegiatan konseling adalah kelompok dengan ciri; orang rumahan, tua, kurang cerdas, jarang bicara, kurang berkemampuan, bodoh, dan kurang pandai.
f.     Kualitas konselor
Konselor merupakan ujung tombak dalam kegiatan konseling, sehingga kemampuan seorang konselor sangatlah diprioritaskan dalam setiap kegiatan konseling yang dilakukan. Okun dan Kantrowitz (dalam Gladding 2015) mencatat bahwa “sangatlah sulit untuk memisahkan karakteristik kepribadian si penolong dari tingkat dan gayanya dalam bekerja, karena keduanya saling berhubungan”.
Menurut Strong (dalam gladding 2015), Ada tiga karakteristik yang membuat konselor lebih berpengaruh yakni keahlian, ketertarikan, dan sifat dapat dipercaya.
1)   Keahlian merupakan tingkat dimana seorang konselor digambarkan sebagai orang yang berpengatahuan dan melek informasi mengenai spesialisasinya.
2)   Ketertarikan adalah fungsi dari kesamaan  yang terasakan antara klien da konselor selain fitur fisik
3)   Sifat dapat dipercaya dihubungkan dengan ketulusan dan konsistensi kenselor.

Referensi

Gladding, T Samuel. 2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta:PT. Indeks
Leod, Mc John. 2012. Pengantar Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Media

0 comments:

Post a comment