Saturday, 13 June 2020

Landasan Psikologis Pendidikan


A.                Pengertian Landasan Psikologis Pendidikan
Psikologi berasal dari kata Yunani  yaitu psycho yang artinya roh, jiwa atau daya hidup, dan logos dapat diartian ilmu .Jadi secara etimologi psikologi berarti: “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”. Psikologi adalah ilmu yang konkrit  atau ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme dalam hubungan dengan lingkungannya.
Menurut Barlow (dalam Romlah, 2010:24) tentang psikologi pendidikan “sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menjadikan serangkaian sumber untuk membantu seseorang dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru dalam proses pembelajaran secara efektif”. Titik tekan dari pengertian ini adanya interaksi antara guru dan siswa dalam kelas. Guru adalah seseorang yang berkewajiban atau bertugas mengajar yang didalamnya terdapat serangkaian mengajar, sedangkan siswa adalah sekumpulan individu yang sedang belajar dan didalamnya terdapat strategi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi dan prestasi yang di capainya.
Dari tata hubungan interdisipliner dengan ilmu sosial lainnya, khususnya terhadap pendidikan, psikologi pun memberikan landasan, yaitu dalam hal pembinaan perilaku. Karena pada dasarnya, perbaikan perilaku merupakan sasaran utama penyelenggaraan pendidikan. Sebagai ilmu perilaku, psikologi khusus mengarahkan kegiatan studinya terhadap fenomena kejiwaan. Fakta menunjukkan bahwa karena potensi kejiwaan cenderung mengalami perubahan dan perkembangan secara bertahap, perilaku manusia pun cenderung mengalami perubahan dan perkembangan secara bertahap pula. Oleh sebab itu, pelaksanaan pendidikan dalam hal pengembangan materi pendidikan juga harus disesuaikan dengan tahapan-tahapannya. Dalam hal ini, seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan dipandang perlu dikembangkan berdasar pada psikologi perkembangan peserta didik.

B.                 Kegunaan Psikologi Pendidikan
Peserta didik merupakan subyek dari psikologi pendidikan, di dalamnya tidak lepas dari perilaku dalam mengekspresikan diri pada situasi berlangsungnya pembelajaran, baik didalam kelas maupun diluar kelas. Bentuk ekspresi yang dilakukan oleh peserta didik tidak lepas dari unsur psikologi, seperti kesiapan mereka untuk merima pelajaran, kesehatan mental yang dialaminya, minat belajar dan lain-lain. Apabila guru/pendidik telah memperhatikan berbagai ekspresi mereka, maka dengan mudah pendidik memberikan motivasi belajar kepada peserta didik. Psikologi pendidikan sangat berguna bagi para pendidik, guru dan orang tua agar dapat:
1.      Memberikan pengajaran dan pelajaran terhadap peserta didik terhadap peserta didik, sesuai dengan perkembanga jiwa mereka.
2.      Mengenal dan memahami keberadaan setiap peserta didik secara utuh baik secara individual maupun kelompok.
3.      Memperlakukan peserta didik sesuai dengan keadaan jiwa yang dialaminya.
4.      Membantu peserta didik dalam mengatasi masalah pribadi yang dihadapi.
5.      Mewujudkan tindakan psikologi yang tepat dalam belajar-mengajar.
C.                Bentuk Psikologi Pendidikan
Ada tiga bentuk psikologi pendidikan, yaitu:
1.      Psikologis Perkembangan
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah: (Nana Syaodih, 1989).
a)             Pendekatan pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain.
b)            Pendekatan diferensial, pendekatan ini dipandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok–kelompok. Anak-anak yang memiliki kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya
c)             Pendekatan ipsatif, pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual
Dari ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan pentahapan ada dua macam yaitu bersifat menyeluruh dan yang bersifat khusus. Yang menyeluruh akan mencakup segala aspek perkembangan sebagai faktor yang diperhitungkan dalam menyusun tahap-tahap perkembangan, sedangkan yang bersifat khusus hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun tahap-tahap perkembangan anak.
Psikologi perkembangan menurut Rouseau dalam (Pidarta, 2007:200) membagi masa perkembangan anak atas empat tahap :
a)      Masa bayi dari 0 – 2 tahun sebagian besar merupakan perkembangan fisik.
b)       Masa anak dari 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti  hidup manusia primitif.
c)       Masa pubertas dari 12 – 15 tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan untuk berpetualang.
d)      Masa adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati, dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya.
         Menurut Jean Piaget dalam (Pidarta, 2007:203) ada empat tingkat perkembangan kognisi, yaitu:
a)      Periode sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun.
Kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks. Reaksi intelektual hampir seluruhnya karena rangsangan langsung dari alat-alat indra. Punya kebiasaan memukul-mukul dan bermain-main  dengan permainannya. Mulai dapat menyebutkan nama-nama objek tertentu.
b)      Periode praoperasional pada umur 2 – 7 tahun.
Perkembangan bahasa anak ini sangat pesat. Peranan intuisi dalam memutuskan sesuatu masih besaar, menyimpulkan sebagian kecil yang diketahui. Analisis rasional belum berjalan.
c)      Periode operasi konkret pada umur 7 – 11 tahun.
Mereka sudah bisa berfikir logis, sitematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret. Mereka sudah mampu mengerjakan penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
d)     Periode operasi formal pada umur 11 – 15 tahun.
Anak-anak ini sudah dapat berfikir logis terhadap masalah baik yang konkret maupun yang abstrak. Dapat membentuk ide-ide dan masa depan yang realistis.

2.      Psikologi Belajar
Menurut Pidarta (2007:206) belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.



     Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut:
a)        Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang tentang respons anak yang diharapkan, beberapakali secara berturut-turut.
b)        Pengulangan, situasi dan respons anak diulang-ulang atau dipraktikkan agar belajar lebih sempurna dan lebih diingat.
c)        Penguatan, respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu.
d)       Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.
e)        Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak dalam belajar.
f)         Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor –faktor dalam pengajaran.
Para ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola  tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip belajar ini selanjutnya lazim disebut dengan teori belajar.
a)    Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara lain untuk menghapal perkalian dan melatih soal-soal (disiplin mental). Teori Naturalis bisa dipakai dalam pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur hidup.
b)    Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak berkelahi dan sebagainya.
c)    Teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk mengembangkan ide.



3.      Psikologi Sosial
Menurut Hollander (1981)  psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan  ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu (dikutip Pidarta, 2007:219).
Pembentukan kesan pertama terhadap orang lain memilki tiga kunci utama yaitu.
1)      Kepribadian orang itu. Mungkin kita pernah mendengar tentang orang itu sebelumnya atau cerita-cerita yang mirip dengan orang itu, terutama tentang kepribadiannya.
2)      Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu setelah berhadapan, maka hubungkan dengan cerita-cerita yang pernah didengar.
3)      Latar belakang situasi. Kedua data di atas  kemudian dikaitkan dengan situasi pada waktu itu, maka dari kombinasi ketiga data itu akan keluarlah kesan pertama tentang orang itu.
Dalam dunia pendidikan, kesan pertama yang positif yang dibangkitkan pendidik akan memberikan kemauan dan semangat belajar anak-anak. Motivasi juga merupakan aspek psikologis sosial, sebab tanpa motivasi tertentu seseorang sulit untuk bersosialisasi dalam masyarakat. Sehubungan dengan itu, pendidik punya kewajiban untuk menggali motivasi anak-anak agar muncul, sehingga mereka dengan senang hati belajar di sekolah.

Menurut Klinger (dikutip Pidarta, 2007:222) faktor-faktor yang menentukan motivasi belajar adalah.
1)        Minat dan kebutuhan individu.
2)        Persepsi kesulitan akan tugas-tugas.
3)        Harapan sukses.

D.                Implikasi Psikologi dalam Konsep Pendidikan
Tinjauan tentang psikologi perkembangan, psikologi belajar, psikologi social dan kesiapan belajar serta aspek-aspek individu, memberikan implikasi kepada konsep pendidikan. Implikasinya kepada konsep pendidikan, yaitu:
1.      Psikologi perkembangan yang bersifat umum, yang berorientasi pada afeksi dan pada kognisi, semuanya memberi petunjuk pada pendidik serta bagaimana membina anak-anak agar mereka mau belajar dengan sukarela.
2.      Psikologi belajar
a.       Klasik, disiplin mental bermanfaat untuk menghafal perkalian dan melatih soal-soal dan aktualisasi diri
b.      Behavioris bermanfaat atau cocok untuk membentuk prilaku nyata, seperti mau menyumbang, giat bekerja, gemar bernyanyi dan sebagainya.
c.       Kognisi cocok untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang lebih rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah dan untuk berkreasi menciptakan sesuatu atau ide baru.
3.      Psikologi sosial
a.         Persepsi diri atau konsep tentang diri sendiri ternyata bersumber dari perilaku yang overt dan persepsi kita terhadap lingkungan dan banyak dipengaruhi oleh sikap serta perasaan kita. Agar para peserta didik mengalami konsep diri yang riil maka pendidik perlu mengembangkan perilaku yang overt, persepsi terhadap lingkungan secara wajar, dan sikap keras perasaan yang positif. Kosep diri yang keliru dapat merusak perkembangan anak.
b.        Pembentukan sikap bisa secara alami, dikondisi dan meniru sikap para tokoh. Pendidik perlu membentuk sikap anak yang positif dalam banyak hal. Oleh sebab itu, cara pembentukan sikap ini perlu direncanakan dan dilaksanakan pada waktu dan situasi yang tepat.
c.         Sama halnya dengan sikap, motivasi  peserta didik juga perlu dikembangkan pada saat yang memungkinkan melalui:
1)        Pemenuhan minat dan kebutuhannya.
2)        Tugas-tugas yang menantang.
3)        Menanamkan harapan yang sukses dengan cara sering memberikan pengalaman sukses.
d.        Hubungan yang intim diperlukan dalam proses konseling, pembimbingan dan belajar dalam kelompok. Karena itu hubungan seperti ini perlu dikembangkan oleh para pendidik.
e.         Pendidik perlu membendungkan perilaku agresif anti sosial, tetapi mengembangkan agresif prososial dan sanksi. Pengurangan agresif anti sosial dapat dilakukan dengan menanamkan ketertiban, tidak menggangu atau sama lain dan berupaya agar anak-anak tidak mengalami putus asa.
f.         Pendidik juga perlu mengembangkan kemampuan memimpin dikalangan anak-anak. Sebab kepemimpinan sangat besar perannya dalam mencapai sukses belajar bersama dan sukses berorganisasi dalam kehidupan setelah dewasa.
4.      Kesiapan belajar yang bersifat afektif dan kognitif perlu diperhatikan oleh pendidik agar materi yang dipelajari ankak-anak dapat dipahami dan diinternalisasi dengan baik. Kesiapan afeksi harus dikembangkan dengan model pengembangan motivasi sedangkan kesiapan kesiapan kognisi dipelajari dari tingkat-tingkat perkembangan kognisi mereka.
5.      Wujud perkembangan total atau perkembangan seutuhnya memenuhi tiga kriteria, yaitu:
a.       Semua potensi berkembang secara proposional atau berimbang harmonis.
b.      Potensi-potensi itu berkembang secara optimal.
c.       Potensi-potensi berkembang secara integratif.


E.                 Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Peserta didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena pertumbuhan maupun karena perkembangan. Pertumbuhan terutama karena pengaruh faktor internal sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan terutama karena pengaruh lingkungan. Kedua hal tersebut sebenarnya hanya dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan, karena itu perubahan peserta didik tersebut dapat disebut sebagai tumbuh-kembang manusia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni faktor keturunan (hereditas), faktor lingkungan, faktor proses perkembangan itu sendiri, serta  hal-hal lain sebagai anugerah.
Pemahaman akan tumbuh-kembang manusia itu sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan untuk menentukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh-kembang itu secara efektif dan efisien. Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian, utamanya agar dapat diwujudkan kepribadian yang mantap dan mandiri. Meskipun terdapat variasi pendapat, namun dapat dikemukakan beberapa prinsip umum perkembangan kepribadian.
Salah satu prinsip perkembangan kepribadian ialah bahwa perkembangan kepribadian mencakup aspek behavioral maupun aspek motivasional. Dengan perkembangan kepribadian bukan hanya perubahan dari tingkah laku yang tampak, tetapi juga perubahan dari hal yang mendorong tingkah laku tersebut. Prinsip kedua dari perkembangan kepribadian ialah bahwa kepribadian mengalami perkembangan yang terus menerus dan tidak terputus-putus, meskipun pada suatu periode tertentu akan mengalami perkembangan yang cepat dibandingkan dengan periode lainnya. Di samping itu, hasil perkembangan pada periode tertentu akan menjadi landasan bagi perkembangan periode berikutnya. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan informal di keluarga serta pendidikan prasekolah. Sedang bagi guru di sekolah, hal ini berarti bahwa demi pemahaman kepribadian peserta didik tertentu diperlukan kerja sama yang erat dengan orangtua peserta didik yang bersangkutan, dan dengan demikian dapat membantu perkembangan kepribadian siswa yang bersangkutan atas dasar hasil perkembangan yang telah terjadi di keluarga.
Perkembangan kepribadian, di samping faktor keluarga juga dipengaruhi oleh faktor hereditas (seperti keadaan fisik, intelegensi, temperamen, dan sebagainya) dan faktor sosial budaya di luar lingkungan keluarga. Alexander dengan tegas mengemukakan tiga faktor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian seseorang yakni: bekal hereditas individu, pengalaman awal di keluarga dan peristiwa penting dalam hidupnya di luar lingkungan keluarga.
Dengan demikian, dari potensi hereditas, perkembangan kepribadian akan berlangsung atas dasar kerja sama antara proses maturasi (pendewasaan) sebagai pengaruh faktor-faktor pertumbuhan di dalam diri (intern) manusia, dengan proses belajar sebagai pengalaman-pengalaman yang dijumpai manusia dalam hidupnya.
Penerapan Landasan Psikologis dalam Pendidikan di Indonesia saat ini
Landasan psikologis merupakan landasan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Sehingga dapat dikatakan ketika pendidikan diselenggarakan tanpa memperhatikan aspek psikologis sebagai landasannya maka penyelenggaraan pendidikan tidak akan tepat sasaran sesuai kebutuhan dan perkembangan masing-masing peserta didik yang berbeda satu dengan lainnya.
Mengenai penerapan landasan psikologis dalam pendidikan di Indonesia saat ini nampaknya sudah menunjukkan hal yang menggembirakan. Kurikulum pendidikan Indonesia yang terbaru saat ini yang sedang gencar dilaksanakan ialah Kurikulum 2013. Berdasarkan penyampaian dari pelopor munculnya kurikulum baru ini yaitu Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, MS (Wamendikbud Nasional Indonesia bidang pendidikan), ternyata banyak aspek psikologis yang menjadi perhatian sehingga muncullah rancangan kurikulum 2013 ini yang pada akhirnya telah mencapai masa pelaksanaannya yang disambut dengan beragam respon dari berbagai kalangan, namun kebanyakan respon yang muncul ialah respon positif yang mendukung konsep kurikulum 2013 tersebut karena dinilai banyak memiliki sisi positif dalam pengembangan peserta didik untuk dapat menjadi insan yang kreatif, aktif, produktif dan berkarakter.




Dengan kurikulum baru ini peserta didik juga tidak akan lagi merasakan beban psikologis karena harus mempelajari banyak mata pelajaran, yang kebanyakan dipelajari dengan metode menghafal, diselingi banyaknya tugas atau PR, banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa setiap kali ke sekolah yang berpengaruh pula pada kondisi fisik berupa kelelahan, dan lainnya. Hal yang sangat baik dari penerapan kurikulum baru ini juga yaitu sangat memperhatikan aspek perbedaan potensi dan perkembangan peserta didik sehingga pendidikan diharapkan akan tepat sasaran bagi setiap peserta didik untuk menjadikan mereka anak negeri yang berkualitas dan berkompeten pada beragam bidang atau profesi.
Kontribusi Psikologi  pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian Psikologi  pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

Kontribusi Psikologi  pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian Psikologi  kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian Psikologi telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes Psikologi  baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan Psikologi  pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
             Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami perubahan,karena dibimbing, dan kegiatan bimbingan merupakan usaha atau kegiatan berinteraksi antara pendidik,anak didik dan lingkungan.
Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara Psikologi. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut Psikologi.
               Dengan demikian, Psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara Psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan Psikologi  menelaah gejala-gejala Psikologi dari manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.



DAFTAR PUSTAKA

Pidarta,Made.2014. Landasan Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Romlah. 2010. Psikologi Pendidikan. Malang: UMM Press.
Suhartono, Suparlan. 2009. Wawasan Pendidikan, Sebuah Pengantar Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group.

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

0 comments:

Post a comment