Saturday, 13 June 2020

Landasan Pendidikan


Pengertian Landasan Pendidikan
      Pengertian yang pertama mengacu kepada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memperlakukan anak-anaknya secara insting, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunanya. Insting merupakan pembawaan sejak lahir, suatu sifat yang tidak perlu di pelajari terlebih dahulu. Yang termasuk insting manusia antara lain sikap melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kemampuan menyusu air susu, dan merasakan kehangatan kedekapan ibu. Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal, yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, ketrampilan, pikiran, perasaan,kemauan, sosial sampai perkembangan iman semuanya di tangani oleh pendidik. Berarti mendidik adalah membuat manusia menjadi lebih sempurna dan meningkatka hidupnya dari kehidupan alamiyah menjadi berbudaya.  ( Prof. Made Pidarta ).
Dewey (1958:62) menekankan bahwa pendidikan itu merupakan suatu proses pertumbuhan. Dalam hal ini dia menulis “karena pertumbuhan merupakan ciri khas dari kehidupan, maka pendidikan menjadi satu dengan pertumbuhan, tanpa  akhir. Tolak ukur mutu pendidikan di sekolah adalah sampai dimana sekolah itu dapat menciptakan suasana untuk pertumbuhan dan menyajikan cara-cara untuk membuat pertumbuhan ini terlaksana dengan baik.
Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai yaitu individu yang kemampuan-kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai seorang individu maupun sebagai warga Negara/masyarakat. Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dalam memilih isi (materi) strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Kegiatan tersebut dapat di berikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, berupa pendidikan informal dan formal.  Apabila di arahkan empat aspek pembentukan kepribadian manusia yaitu pengembangan manusia sebagai mahluk individu, mahluk sosial, mahluk susila, dan mahluk beragama (religius).
Pendidikan merupakan gejala yang universal, dimana ada manusia disana ada pendidikan. Oleh karenanya pendidikan merupakan keharusan bagi manusia dan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa adanya pendidikan sangat mustahil bagi manusia dapat berkembang sejalan dengan aspirasi untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.

2.2. Perspektif Teori Landasan Pendidikan
Landasan pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Landasan pendidikan menurut Prof. Made Pidarta , meliputi : Landasan Hukum, Landasan Filsafat, Landasan Sejarah, Landasan Sosial Budaya, Landasan Psikologi, dan Landasan Ekonomi.
1.      Landasan Hukum
Kata landasan hukum berarti melandasi/mendasari titik tolak. Landasan hukum seorang guru boleh mengajar misalnya ada surat keputusan tentang pengangkatan nya sebagai guru. Surat keputusan tersebut menjadi titik tolak untuk ia bisa melaksanakan pekerjaan sebagai guru. Dan hal ini juga tercantum dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 yaitu tentang sistem pendidikan nasional. Undang-undang ini mengatur pendidikan pada umumnya, artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan, mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi di tentukan oleh undang-undang ini.
2.      Landasan Filsafat
Filsafat dalam arti sekarang mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno. Para tokoh filsafat pada waktu itu adalah Socrates (469-399 SM), Plato (427-347), dan Aristoteles (384-322) SM. Socrates mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan cara berfikir secara dialektis. Plato mengatakan kebenaran hanya ada di alam ide yang bisa diselami dengan akal, sedang Aristoteles merupakan peletak dasar empirisme, yaitu kebenaran harus dicari melalui pengalaman panca indra.
3.      Landasan Sejarah
Sejarah adalah keadaab masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah mencakup segala kejadian dalam ala mini,termasuk hal-hal yang dikembangkan oleh budi daya manusia. demikianlah ada sejarah candi, fosil, batu-batuan, sejarah perkembangan benua dan pulau, politik, sejarah suatu Negara, ilmu, pendidikan, dll.
4.      Landasan Sosial Budaya
Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hamper tidak pernah lepas dari unsur-unsur sosial budaya. Sebab sebagian terbesar dari kegiatan manusia dilakukan secara kelompok, sebagai contoh pekerjaan dirumah, di kantor, di perusahaan, di perkebunan, di bengkel, dan di sekolah. Hampir semua pekerjaan di lakukan lebih dari satu orang, ini berarti unsur sosial ada pada kegiatan tersebut. Sosial mengacu pada hubungan antar individu, antar masyarakat dan individu dengan masyarakat serta unsur sosial ini merupakan aspek individu secara alami.
5.      Landasan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Jiwa balita baru berkembang sedikit sekali sejajar dengan tubuhnya juga masih bekemampuan sederhana sekali, makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap-tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan.
6.      Landasan Ekonomi
Pada zaman pasca modern/globalisasi ini yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi di bandingkan kesejahteraan rohani. Hal ini membuat ekonomi menjadi pusat perhatian yang sangat besar. Kecenderungan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan budaya, terutama dalam bidang teknologi, kesenian dan pariwisata. Berbagai produk ditawarkan baru yang semakin canggih dengan model dan desain yang menarik, hal ini lah yang mendorong situasi orang-orang berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan dirinya.


2.3    Teori Praksis dalam Pendidikan
            Pendidikan selalu dapat dibedakan menjadi teori dan praktik. Teori pendidikan adalah pengetahuan tentang makna dan bagaimana seyogyanya pendidikan itu dilaksanakan, sedangkan praktek adalah tentang pelaksanaan pendidikan secara konkretnya (nyatanya). Praksis pendidikan adalah bidang kehidupan dan kegiatan praksis pendidikan. Kedua jenis seyognya tidak dipisahkan, sebaiknya siapa yang berkecimplung dalam bidang pendidikan perlu mengusai keduanya. Teori mengandaikan praktek dan praktek berlandaskan teori. Oleh karena itu, dipandang janggal bila ada orang yang mengatakan dapat melaksanakan pendidikan tanpa mengusai teorinya.
            Teori pendidikan perlu memiliki syarat-syarat seperti logis, deskritif, dan menjelaskan. Logis artinya memenuhi syarat-syarat untuk berpikir lurus dan benar. Deskriptif atau penggambaran berarti dipaparkan secara jelas. Sedangkan menjelaskan berarti memberikan penerangan. Teori pendidikan tidak dapat di susun seperti teori dalam ilmu pengetahuan alam. Teori pendidikan di susun sebagai latar belakang yang hakiki dan rasional dari praktek pendidikan serta dasar nya bersifat direktif. Di susun demikian rupa dengan maksud untuk menemukan sejumlah penemuan dalam praktek. Fungsi teori pendidikan menunjukkan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan sehingga di sebut direktif ( mengarah pada tujuan perkembangan yang optimal).

2.3.1        Situasi Pendidikan
Kegiatan pendidikan, yang terlaksana melalui hubungan atau interaksi pendidikan antara peserta didik dan pendidik, mrupakan peristiwa dan sealigus upaya yang istimewa dan unik.
A.    Hubungan sosial, hubungan pendidikan, dan situasi pendidikan.
Hubungan pendidikan antara peserta didik dan pendidikan tidak terjadi secara acak.artinya, tidak sebarang hubungan  antara seseorang dengan orang lain, kapan saja, dimana saja,dalam kondisi apapun juga dan dengan cara  bagaimanapun juga akan menjadi apa yang dinamakan  hubungan pendidikan, atau secara singkat pendidikan saja. Peristiwa pendidikan hanya akan apabila situasi itu tumbuh dan berkembang melalui teraktualisasikannya kondisi tertentu di dalam relasi kedua bela pihak yang berhubungan itu. Relasi kedua bela pihak itu memang merupakan persyaratan terjadinya situasi pendidikan, tetapi hubungan itu sendiri tidak menjamin kepastian tumbuh kembangnya situasi pendidikan,pada banyak kasus dapat di ketahui bahwa hubungan yang terjadi diantara dua pihak manusia justru menimbulkan situasi yang bertentangan dengan makna dan tujuan pendidikan itu sendiri, seperti terjadinya pelecehan, penghinaan,persaingan,penghisapan permusuhan dan sebagainya. Relasi abntara kedua pihak yang berhubungan meruplam hal akan lahan bagi tumbuh kembangnya situasi pendidikan.
Dalam kendisi yang lebih formal,pendidikan cendrunglebih resmi, pendidikan cendrung lebih berperan sebagai pengawal dan sekaligus pengembang situasi penidikan. Pendidikan berada di depan dan peserta didik mengikutinya. Dalam hal formal  diseperti itu pendidik dalam kondisi menjalankan tugasnya dan peserta didik berposisi sebagai sasaran dan tugas yang dilaksanakan oleh pendidik.

B.     Komponen pokok situasi pendidik
Setiap kegiatan pendidikan, yang berlangsung dalam hubungan pendidikan,selanjutnya di sebut situasi pendidikan,  dalamnya terkandung komponen peserta didik, pendidik, tujuan pendidik, dan proses pembelajaran.
1.      Peserta didik
Peserta didik adalah manusia yang sepenuhnya memiliki      HMM dengan segenap kandunganya.peserta didik dengan HMMnya berhak hidup sesuai dengan HMMnya yang perlu di perkembangkan  melalui pendidikan. Dengan kata lain, pendidikanlah yang akan mengembangkan  HMM peserta didik sehingga peserta didik menjdi apa yang di sebut sebagai manusia seutuhnya.
2.      Pendidik
Seperti juga peserta didik,pendidik adalah manusia yang sepenuhnya memiliki HMM dengan segenap kandungannya. Pendidik dengan HMMnya, dan perlu bekerja, dalam hal inii sebagai pendidik, yang harus melayani perkembangan HMM peserta didik. Dalam diri pendidik, HMM pendidik itu secara relative telah lebih berkembang dibanding perkembangan HMM perserta didik.
3.      Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan pada  dasarnya tidak lain adalah arah yang hendak dicapai demi perwujudan tu juan hidup manusia, yaitu hidup sesuai HMM, dengan segenap kandungannya, yaitu berkembangnya secara optimal hakikat manusia, dimensi kemanusiaan dan pancadaya. Tujuan pendidikan mengarah pada pembentukan manusia yang  berprikehidupan takwa pada tuhan yang maha kuasa, sesua dengan keindahan,  kesempurnaan dan ketinggian derajatnya, menguasai dan memelihara alam tempat tinggalnya, dan terpenuhi hak hak azazinya.  Prikehidupan seperti itu sesuai dengan tuntutan dimensi dimensi kefitrahan, keindividuan, sosialan,susilaan, dan keberagamaan manusia. Dalam pada itu, prikehidupan demikian dapat di peroleh melalui di kembangkannya daya daya takwa, cipta, rasa, karsa dan karya setiap individu. Dengan kata lain tujuan pendidikan, dari pangkal yang paling dasar sampai dengan ujung jabarannya yang paling operasional haruslah mengacu pada perkembangan unsur-unsur hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya.
4.      Proses pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang  di jalani oleh peserta didik dalam upaya mencapai tujuan pendidik di satu sisi, dan di sisi lain merupakan  kegiatan yang di upayakan oleh pendidik agar kegiatan tersebut berlangsung untuk sebesar-besarnya  bermanfaat bagi pencapaian tujuan pendidikan oleh peserta didik.proses pembelajaran ini berlangsung dalam interaksi antara komponen pesrta didik dan pendidik dengan muatan tujuan pendidikan.dalam interaksi ini pendidikan menyikapi dan memperlakukan peserta didik sesuai dengan HMM yang melekat pada diri peserta didik,untuk mencapai tujuan pendidikan yang tidak lain adalah upaya perwujudan HMM itu pada prikehidupan peserta didik. Dalam penyikapan dan perlakuan peserta didik seperti itu, peserta didik berprilaku sesuai dengan dinamika HMMnya yang sedang berkembang. Dalam proses pembelajaran terjadi” interaksi HMM” antar peserta didik dan pendidik.

C.    Kenormatifan tujuandan isi pendidikan
Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang HMM nya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui  pengaktifan pancadaya  secara optimal. Inilah paradigma pemuliaan kemanusiaan manusia yang melandasi  kegiatan pendidikan, yang mewarnai komponen komponen situasi pendidikan. Manusia melakukan kegiatan  pendidikan  atau menjalani proses pembelajaran bukan karena sekedar ingin belajar/bisa belajar, melainkan sejak awal kejadiannya telah dilengkapi oleh kemampuan belajar untuk mengarungi arah dan mencapai tujuan kehidupan manusia itu sendiri, yaitu kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Arah dan tujuan untuk mencapai kebahagian hidup itu merupakan fondasi kebahagiaan hakiki pengembangan manusia, sekaligus menjadi tujuan mendasar pendidikan. Tujuan dasar ini memuat isi atau subtansi perwujudan hakikat manusia  dalam HMM.

D.    Pilar  proses pembelajaran
Dalam pelaksanaannya, proses pembelajaran merupakan usaha sadar terencana oleh pendidik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran yang berciri tiga dimensi itu memerlukan perangkat pendidikan yang didukung oleh dua pilar, yang disini di sebut kewibawaan dan kewiyataan.
1.      Kewibawaan
Kewibawaan merupakan perangkat hubungan antar personal yang mempertautkan peserta didik dengan pendidik dalam situasi pendidikan. Melalui kewibawaan ini, hungan antara keduanya merupakan relasi social yang mewarnai keunikan situasi pendidikan secara mendasar. Dengan kewibawaan pendidik memasuki pribadi pesrta didik, dan peserta didik mengarahkan dirinya kepada pendidik.
a.       Pengakuan dan penerimaan
Pengakuan dan penerimaan adalah kesadaran dan pemahaman pendidik tentang  segenap kandungan HMM yang sepenuhnyamelekat pada diri peserta didik. Atas dasar kesadaran dan pemahaman itu pendidik menghadapi dan memberikanperlakuan terhadap peserta didik sesuai dengan HMM demi teraktualisasikannya hakikat mansia melalui pengembangan dimensi kemanusiaan dan pancadayanya secara optimal.kesadaran dan pemahaman pendidik yang bermuara pada penyikapan dan perlakuan terhadap peserta didik itu harus sedemikian rupa terwujudkan sampai peserta didik benar benar di aktualisasikan oleh peserta didik
b.      Kasih saying dan kelembutan
Kasih sayang dan kelembutan merupakan warna dan kualitas hubungan yang berawal dari pendidik kepada peserta didik, dalam bentuk komunikasi dan sentuhan sentuhan lainnya. Hubungan ini, yang dasarnya adalah penerimaan dan pengakuan, dioperasional dalam nuansa nuansa sosio emosional yang sejuk, hangat, dekat,  akrab dan terbuka.
c.       Penguatan
Sebagaimana makna dasarnya, penguatan merupakan upaya pendidik untuk menguatkan, memantapkan atau meneguhkan hal-hal tertentu yang ada pada diri peserta didik. Apa yang di kuatkan tidak lain adalah hal-hal positif yang ada pada peserta didik, terutama tingkah laku positif yang merupakan hasil perubahan berkat upaya pengembangan diri peserta didik. Penguatan dilakukan pendidik melalui pemberian penghargaan secara tepat yang di dasarkan  pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku.
d.      Tindakan tegas yang mendidik
Sepintas terasa ada kontradiksi  tindakan tegas yang mendidik dengan sikap dan perlakuan kasih sayang dan kelembutan,Tidak demikian adanya. Tindakan tegas yang mendidik adalah upaya pendidik untuk mengubah tingkah lakupeserta didik yang kurang di kehendaki melalu penyadaran peserta didik atas kekeliruan dengan tetap menjunjung tinggi HMM dan hubungan baik antara pendidik dan pesrta didik.dengan TMM itu pendidik konsisten terhadap HMM, tujuan pendidikan, pengakuan dan penerimaan, serta kasih sayang dn kelembutan terhadap peserta didik.
e.       Pengarahan dan keteladanan
Keteladanan merupakan puncak penampilan pendidik terhadap peserta didik. Seluruh penampilan pendidik yang di dasarkan pada penerimaan dan pengakuan, kasih sayang dan kelenbutan, dlam bentuk penguatan dan TMM, yang seluuhnya positif dan normative itu, di harapkan dapat di terima dan bahkan di tiru oleh peserta didik.satu hal yang menjadi kunci  bagi terlaksananya keteladanan adalah ketaatasasan penampilan pendidik dengan materi yang patut di teladani peserta didik.
2.      Kewiyataan
Pilar kedua adalah kewiyataan  yang merupakan perangkat praktik pembelajaran yang terkait langsung dengan materi pembelajaran yang di turunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dn dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. Pengembangan dan apliksi metode pembelajaran, alat bantu pembelajaran, lingkungan pembelajaran yang keempatnya merupakan unsure praktik kewiyataan yang selanjutnya di lengkapi dengan penilaian hasil pembelajaran. Sebagimana kewibawaan, kewiyataan juga tidak boleh menyimpang dari HMM, yang berisi hakikat manusia, dimensi kemanusiaan dan pancadaya.
a.       Materi pembelajaran
Materi pembelajaran  merupakan isi atau subtansi tujuan pendidikan yang hendak dicapai peserta didik dalam pengembangan dirinya. Secara mendasar subtansi yang di maksud itu di turunkan dari khasanah HMM dalam unsure-unsur hakikat manusia, dimensi kemanusiaannya, dan secara lebih operasional, isi atau subtansujui tujuan yang dimaksud berada dalam pengembangan unsure-unsur pancadaya. Dengan kata lain, materi pembelajaran yang dikembangkan dan di usung oleh pendidik dalam prose pembelajaran adalah demi berkembangnya pancadaya, yaitu daya takwa, cipta,rasa, karsa dan karya peserta didik.
b.      Metode pembelajaran
Proses pembelajaran ibarat pendorong atau kekuatan untuk meningkatkan dan mengangkut muatan materi pembelajaran sampai ketujuan demi kepentingan peserta didik. Agar materi pembelajan itu dapat dip roses dan diolah dengan sebaik-baiknya, pendidik perlu mengaplikasikan berbagai pendekatan, metode dan cara-cara yang tepat agar materi pembelajaran dapat terjangkau, terkerjakan dan termanfaatkan secara efektif dan efisien oelh peserta didik.
c.       Alat bantu pembelajaran
Alat bantu pembelajaran adalah berbagai sarana dan fasislitas yang dapat di gunakan pendidik untuk memperlancar, mengefektikan dan mengefisienkan upaya pencapaian tujuan pendidikan oleh peserta didik. Strategi multi media, dalam kaitannya dalam multi strategi dan multisumber yang di gunakan oleh pendidik memperkaya proses pembelajaran. Termasuk kedalam alat bantu pembelajaran adalah berbagai alat peraga langsung, buatan guru, grafis dan elektronik, serta kelengkapan laboratorium,studio dll.
d.      Lingkungan pembelajaran
Secara lebih luas dan lebih mencakup, lingkungan pembelajaran mengacu kepada berbagai subtansi yang dapat dan perlu di jadikan sumber materi pembelajaran, serta digunakan sebagai sumber perangkat metode dan alat bantu pembelajaran. Lingkungan belajar dikehendaki berada dalam kondisi cukup aman dan nyaman sehingga peserta didik beta belajar di sana. Kondisi lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan ibarat kondisi jasmaniah sehat bugar individu yang akan menunjang bagi penampilan invididu secara efektif dalam aktivitas kehidupannya.
e.       Penilaian hasil pembelajaran
Proses pembelajaran di selenggarakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan itu merupakan keberhasilan dari proses pembelajaran yang dilaksanakan., sekecil apapun hasil yang di peroleh itu. Untuk mengetahui keberhasilan yang di capai deselenggarakan penilaian. Dengan adanya penilaian kemajuan perkembangan peserta didik dapat di pantau dan selanjutnya di arahkan untuk lebih maju lagi. Penilaian hasil pembelajan di selenggarakan melalui berbagai cara dan format dengan pendekatan yang lebih bersifat pengembangan dengan memperhatikan potensi dan perbedaan individual peserta didik. Termasuk di dalam penilaian adalah upaya diagnosis, serta tindak lanjut, seperti apa yang sering d sebut pembelajaran perbaikan dan pengayaan.

E.     Situasi Pendidikan dalam Sosok Keilmuan Pendidikan
Sebelumnya  telah dikemukakan bahasan singkat terhadap lima hal, yaitu har-kat dan martabat manusia, tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, dan proses pembelajaran yang di dalamnya termuat perangkat pendidi kan dengan dua pilar utama, yaitu kewibawaan dan kewiyataan. Subtansi dari kelima hal tersebut dapat dirangkai dan disistematiskan men jadi satu kesatuan yang membentuk sosok keilmuan pendidikan yang disebut situasi pendidikan

REFERENSI
Mantja, W. 2001. Bahan Ajar; Landasan-Landasan Kependidikan. Malang. Universitan Negeri Malang

Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta : Grasindo

0 comments:

Post a comment