Saturday, 13 June 2020

LANDASAN FILOSOFI PENDIDIKAN


LANDASAN FILOSOFI PENDIDIKAN

 A. Pengertian Filsafat
Kata filsafat atau filosofis berasal dari bahasa Yunani: philosophia yang pada dasarnya merupakan kata majemuk yang terdiri atas philos yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat dapat diartikan sebagai cinta kepada kebijaksanaan (Masykur Arif Rahman, 2013).
Sikun Pribadi (dalam Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, 2011) mengartikan filsafat ini sebagai suatu usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia di alam semesta ini.
Mempelajari filsafat tidak hanya sebatas memikirkan sesuatu sebagai perwujudan dari hasrat atau keinginan untuk mengetahui sesuatu, melainkan memang filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa (1) setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan, (2) keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri, (3) dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan (4) untuk menghadapi kesimpangsiuran dunia yang selalu berubah.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia aja. Diibaratkan mengamati gunung es, kita hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis (Pidarta, 2014).
Karakteristik filsafat dapat didentifikasi enam hal berkenaan dengan karakteristik filsafat, yaitu objek yang dipelajari filsafat (objek studi), proses berfilsafat (proses studi), tujuan berfilsafat (hasil studi), penyajian dan sifat kebenarannya. Objek studi filsafat adalah segala sesuatu, meliputi sesuatu yang telah tergelar dengan sendirinya (ciptaan Tuhan) maupun segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia. Namun demikian dari segala sesuatu tersebut hanya yang bersifat mendasarlah yang dipelajari atau dipertanyakan dan dipikirkan oleh para filsuf. Pendek kata objek studi filsafat bersifat komprehensif mendasar.
Proses studi atau proses berfilsafat dimulai dengan ketakjuban, ketidak puasan, hasrat bertanya, dan keraguan seseorang filsuf terhadap sesuatu yang dialaminya. Sehubungan dengan itu dalam berfilsafat para filsuf tidak berpikir dengan bertolak kepada suatu asumsi yang telah ada, sebaliknya mereka menguji asumsi yang telah ada. Selain itu, berpikir filosofis atau berfilsafat bersifat kontemplatif, artinya berfikir untuk mengungkap hakikat dari sesuatu yang difikirkan, atau berfikir spekulatif yakni berfikir melampauai fakta yang ada untuk mengungkap apa yang ada di balik yang nampak, atau disebut pula berfikir radikal, yaitu berfikir sampai kepada akar dari sesuatu yang dipertanyakan hingga terungkap hakikat dari apa yang dipertanyakan tersebut. Adapun dalam rangka mengungkap hakikat sesuatu yang dipertanyakannya itu para filsuf berfikir secara sinoptik, yaitu berfikir dengan pola yang bersifat merangkum keseluruhan tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipertanyakan, pola berfikir ini merupakan kebalikan dari pola berfikir analitik. Perlu dipahami pula bahwa dalam berfikirnya itu para filsuf melibatkan seluruh pengalaman insaninya sehingga bersifat subjektif.
Tujuan para filsuf berpikir sedemikian rupa mengenai apa yang dipertanyakannya tiada lain adalah untuk memperoleh kebenaran. Adapun hasil berfilsafat adalah berwujud system teori, system pikiran atau system konsep yang bersifat normative atau preskriptif dan individualitistik-unik. Hasil berfilsafat bersifat normatif atau preskriptif artinya bahwa system gagasan filsafat menunjukkan tentang apa yang dicita-citakan atau apa yang seharusnya. Sedangkan individualistik-unik artinya bahwa system gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf tertentu akan berbeda dengan system gagasan filsafat yang dikemukakan filsuf lainnya. Ini mungkin terjadi antara lain karena sifat subjektif dari proses berfikirnya yang melibatkan pengalaman insani masing-masing filsuf. Sebab itu, maka kebenaran filsafat bersifat subjektif-paralelistik, maksudnya bahwa suatu system gagasan filsafat adalah benar bagi filsuf yang bersangkutan atau bagi para penganutnya; antara system gagasan filsafat yang satu dengan system gagasan filsafat yang lainnya tidak dapat saling menjatuhkan mengenai kebenarannya. Dengan kata lain, bahwa masing-masing aliran filsafat memiliki kebenaran yang berlaku dalam relnya masing-masing. Adapun hasil berfilsafat tersebut disajikan para filsuf secara tematik sistematis dalam bentuk naratif  (uraian lisan/tertulis) atau profetik (dialog/tanya jawab lisan/tertulis).
Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu metafisika, epistemologi, logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut:
1.       Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam ini. Sub-cabang Metafisika antara lain:
a.      Ontologi adalah cabang filsafat (metafisika umum) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat ada-nya segala sesuatu yang ada secara komprehensif. Contoh tentang apa yang dibahas atau dipermasalahkan di dalam Ontologi antara lain: apakah hakikat yang ada (realitas) itu bersifat material atau ideal? Apakah hakikat yang ada itu bersifat tunggal, dua, atau plural? Apakah yang ada itu menetap atau berubah? Dsb. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tentunya tidak satu, melainkan berbeda-beda.
b.      Kosmologi adalah cabang filsafat (bagian metafisika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat alam termasuk segala isinya, kecuali manusia.
c.      Teologi adalah cabang filsafat (bagian dari metafisika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang keberadaan Tuhan. Dalam teologi permasalahan tentang keberadaan Tuhan ini dibahas secara rasional terlepas dari kepercayaan agama. Misalnya: pengakuan akan adanya Tuhan itu bukan atas dasar keimanan, melainkan atas argumentasi rasional. Contohnya “Argumen Kosmologi” yang menyatakan bahwa: segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta - termasuk manusia - adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian sebab-akibat namun tentunya mesti ada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya. Sebaliknya, Sebab Pertama adalah sumber bagi sebab-sebab yang lainnya, tidak berada sebagai materi, melainkan sebagai "Pribadi" atau "Khalik", yaitu Tuhan
a.      Antropologi adalah cabang filsafat (bagian metafisika khusus) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat manusia. Persoalan yang dibahas dalam antropologi antara lain: siapakah manusia itu, ciptaan Tuhan atau muncul dari alam sebagai hasil evolusi? Apakah yang hakiki pada manusia itu badannya atau jiwanya? Bagaimanakah hubungan antar badan dan jiwa? Bagaimanakah hubungan manusia dengan tuhannya, dengan alam, dengan sesamanya, dsb.

2.      Epistemologi ialah filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai berikut:
a.       Ada lima sumber pengetahuan yaitu:
1)      Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedi, buku teks yang baik, rumus, dan tabel.
2)      Common sense, yang ada pada adat dan tradisi.
3)      Intuisi yang berkaitan dengan perasaan.
4)      Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengalaman.
5)      Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan secara ilmiah.
b.      Ada empat teori kebenaran yaitu:
1)      Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsisten dengan kebenaran umum.
2)      Koresponden, sesuatu akan benar bila ia tepat dengan fakta yang dijelaskan.
3)      Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.
4)      Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.
3.      Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara  manusia berpikir dengan benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan penapatnya secara tepat dan benar.
4.      Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat nilai. Aksiologi terdiri dari:
a.      Etika adalah cabang filsafat (bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat baik jahatnya perbuatan manusia; dan
b.      Estetika adalah cabang filsafat (bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat seni (art) dan keindahan ( beauty).
Aliran Filsafat sebagaimana dapat dipahami dari uraian di atas, bahwa karakteristik berpikir para filsuf yang bersifat kontemplatif dan subjektif telah menghasilkan system gagasan yang bersifat individualistik-unik. Namun demikian, dalam peta perkembangan sistem pikiran filsafat para ahli filsafat menemukan kesamaan dan konsistensi pikiran dalam bentuk beberapa aliran pikiran dari para filsuf tertentu. Dengan demikian, maka dikenal adanya berbagai aliran filsafat seperti Idealisme, Realisme, Pragmatisme, dsb (Tatang, 2012).


B.     Landasan Filosofis Pendidikan Secara Umum
Landasan filosofis pendidikan adalah seperangkat filosofi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.
Landasan filosofis pendidikan sesungguhnya merupakan suatu sistem gagasan tentang pendidikan dan dedukasi atau dijabarkan dari suatu sistem gagasan filsafat umum yang diajurkan oleh suatu aliran filsafat tertentu. Terdapat hubungan implikasi antara gagasan-gagasan dalam cabang-cabang filsafat umum tehadap gagasan-gagasan pendidikan.
Berisi tentang gagasan atau konsep-konsep yang bersifat normatif atau presfektif. Dikatakan bersifat normative atau presfektif, sebab landasan filosofis pendidikan tidak berisi konsep-konsep tentang pendidikan apa adanya, melainkan berisi tentang konsep-konsep pendidikan yang seharusnya atau yang dicita-citakan.
Dalam landasan filosofis pendidikan juga terdapat berbagai aliran pemikiran.Hal ini muncul sebagai implikasi dari aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat. Sehingga dalam landasan filosofi pendidikan pun dikenal adanya landasan filosofis pendidikan Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme (Tatang, 2012), berikut adalah penjabarannya secara singkat:
1.      Idealisme
a)      Konsep Filsafat Umum Idealisme
·         Metafisika: Para filsuf idealisme mengklaim bahwa realitas pada hakikatnya bersifat spiritual.
·         Manusia: adalah mahluk spiritual, mahlukberfikir, memiliki tujuan hidup dan hidup di dunia dengan suatu aturan moral yang jelas.
·         Epistemologi: pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali atau berfikir melalui intuisi.
·         Aksiologi: manusia diperintah oleh nilai moral yang imperative yang besumber dari realitas yang absolute.
b)      Implikasi terhadap Pendidikan
·         Tujuan pendidikan: pengembangan karakter, pengembangan bakat insani, dan kebijakan sosial
·         Kurikulum/isi pendidikan: pengembangan kemampuan berpikir melalui pengembangan pendidikan liberal, penyiapan keterampilan kerja suatu mata pencaharian melalui pendidikan praktis.
·         Metode pendidikan: metode yang diutamakan adalah metode dialetik, namun tiap metode yang mendorong belajar dapat diterima, da cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis untuk belajar.
·         Peranan pendidik dan peserta didik: pendidik bertanggungjawab menciptakan lingkungan pendidikan bagi peserta didik. Sedangkan peserta didik bebas mengembangkan keperibadian dan bakat-bakatnya.
2.      Realisme
a)      Konsep Umum Filsafat Realisme
·         Metafisika: Para Filosof Realisme memandang dunia dalam pengertian materi yang hadir dengan sendirinya, dan tertata dalam hubungan-hubungan yang teratur diluar campur tangan manusia.
·      Manusia: Hakikat manusia terletak pada apa yang dikerjakannya. Manusia bisa bebas atau tidak bebas. Pikiran  atau jiwa merupakan suatu organisme yang sangat  rumit yang mampu berpikir.
·      Epistemologi: Pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman diri dan penggunaan akal.
·      Aksiologi: Tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam dan pada taraf  yang lebih randah diatur oleh kebijaksanaan yang telah teruji.
b)      Implikasi terhadap Pendidikan
·         Tujuan pendidikan: pendidikan bertujuan untuk penyesuaian diri dalam hidup dan mampu melaksanakan tanggungjawab sosial.
·         Kurikulum/isi pendidikan: Harus bersifat komprehensif yang berisi sains, matematika, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial, serta nilai-nilai.
·         Metode: Metode hendaknya bersifat logis dan psikologis.
·         Peranan pendidik dan peserta didik: Pendidik adalah pengelola kegiatan belajar-mengajar (classroom is teacher-centered). Sedangkan peserta didik berperan untuk menguasai pengetahuan, taat pada aturan dan berdisplin.
3.      Pragmatisme
a)      Konsep Filsafat Umum Pragmatisme
·         Metafisika: pragmatisme anti metafisika, suatu teori umum tentang kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial.
·         Manusia: Manusia adalah hasil evolusi biologis, pikologis, dan sosial.
·         Epistemologi: pengetahuan yang benar diperoleh melalui pengalaman dan berpikir (scientific method). Pengetahuan adalah relatif.
·         Aksiologi: ukuran tingkah laku individual dan social di tentukan secara eksperimental dalam pengalaman hidup.
b)      Implikasi terhadap Pendidikan
·         Tujuan pendidikan: pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hayat, proses rekontruksi yang berlangsung terus menerus dari pengalaman yang terakumulasi dan sebuah proses social. Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna memecahkan masalah-masalah dalamkehidupan individual maupun sosial.
·      Kurikulum/isi pendidikan: Kurikulum mungkin berubah, warisan-warisan sosial dari masa lalu tidak menjadi fokus perhatian. Pendidiakn terfokus pada kehidupan yang baik pada saat ini dan masa datang bagi individu, dan secara besamaan masyarakat dikembangkan.
·      Metode: Menguatamakan metode pemecahan masalah, penyelidikan dan penemuan.
·      Peranan pendidik dan peserta didik: Pendidk yaitu memimpin dan membimbing pesrta didik belajar tanpa ikut campur terlalu atas minat dan kebutuhan siswa. Peserta didik berperan sebagai organisme yang rumit yang mampu tumbuh.

C.    Landasan Filosofis Pendidikan di Indonesia
Pada dasarnya, bangsa Indonesia memiliki filsafat umum negara, yaitu Pancasila. Sebagai filsafat negara, Pancasila menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat berkarya pada segala bidang dan mewarnai segala segi kehidupan bangsa.
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang rumusannya termaktub dalam “Pembukaan” Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena Pancasila adalah dasar Negara Indonesia, implikasinya maka Pancasila juga adalah dasar pendidikan nasional. Sejalan dengan ini Pasal 2 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional” menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasa rkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Sehubungan dengan hal tersebut, artinya kita perlu mengkaji nilai-nilai Pancasila untuk dijadikan titik tolak dalam rangka praktek pendidikan maupun studi pendidikan lebih lanjut (Pidarta, 2014). Maka timbullah pertanyaan: “jika demikian halnya, untuk apa kita mempelajari landasan filosofis pendidikan dari berbagai aliran (Idealisme, Konstruktivisme, Pragmatisme, dsb.) sebagaimana telah dipelajari melalui pembahasan sebelumnya?”. Berbagai landasan filosofis pendidikan tersebut tetap perlu dikaji dengan tujuan untuk memahaminya, memilah dan memilih gagasan-gagasannya yang positif yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila untuk diambil hikmahnya demi pengembangan dan memperkaya kebudayaan serta pendidikan kita.
Berikut ini adalah penjabaran singkat dari konsep filsafat Pancasila (Tatang, 2012):
a)      Konsep Filsafat Umum
·         Metafisika: Hakikat Realitas. Manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah Sumber Pertama dari segala yang ada dan tujuan akhir segala yang ada. Realitas fisik dan/atau non fisik tampak dalam pluralitas fenomena alam semesta sebagai keseluruhan yang integral. Terdapat alam fana dan alam akhirat yang abadi di mana manusia akan dimintai pertanggungjawaban dan menerima imbalan atas pelaksanaan tugas hidupnya dari Tuhan YME. Di alam fana ini realitas tidak tidak bersifat given (terberi) dan final, melainkan juga “mewujud” sebagaimana kita manusia dan semua a nggota alam semesta berpartisipasi “mewujudkannya”.
·         Hakikat manusia adalah makhluk Tuhan YME (asas Ketuhanan YME); manusia adalah kesatuan badani-rohani, eksistensi dan kehidupannya multi dimensi tetapi ia adalah kesatuan utuh yang integral (asas mono dualis dan mono pluralis tetapi integral).
·         Epistemologi: Pancasila juga memandang manusia sesuai asas nasionalisme, internasionalisme, demokrasi dan keadilan sosial. Pengetahuan diperoleh melalui keimanan/kepercayaan, berpikir, pengalaman empiris, penghayatan, dan intuisi. Kebenaran pengetahuan ada yang bersifat mutlak, ada pula yang bersifat relatif.
·         Aksiologis: Sumber Pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan YME. Karena manusia adalah makhluk Tuhan, pribadi/individual dan sekaligus insan sosial, maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan YME, masyarakat dan individu.
b)      Implikasi dalam pendidikan
·         Tujuan Pendidikan.: pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung jawab.
·         Kurikulum: isi pendidikan hendaknya memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa; (b) peningkatan akhlak mulia; (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; (f) tuntutan dunia kerja; (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama; (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
·         Metode: praktek pendidikan hendaknya diselenggarakan dengan mengunakan multi-metode dengan tetap mengutamakan prinsip cara belajar siswa aktif.
·         Peranan pendidik dan peserta didik tersurat dan tersirat dalam semboyan “ing ngarso sung tulodo”,ing madya mangun karso”, dan” tut wuri handayani”.
·         Orientasi pendidikan: meliputi fungsi konservasi dan kreasi.

0 comments:

Post a comment