Wednesday, 17 June 2020

KONSULTASI DAN PELATIHAN KONSELING


KONSULTASI DAN PELATIHAN
Prosedur pelatihan dan jenis-jenis konsultasi dalam bimbingan dan konseling. Praktek konsultasi dengan dengan orang tua dan petugas kesehatan mental lainnya. Selain itu juga akan dibahas berkenaan dengan masalah konsultasi yang terjadi.
1.      KONSULTASI
Konsultasi ada seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pelayanan konsultasi berhubungan dengan guru, kesehatan masyarakat dan berkenaan dengan perawat, para pekerja dan yang lainnya  yang bisa terlibat sebagai seorang profesiona dalam bidang konsultasi. Ada beberapa macam jenis konsultasi:
a.       Konsultasi Triadik (bertiga)
Konsultasi triadik merupakan konsultsi yang dilakukan oleh tiga orang, disini konsultan bekerja sebagai penengah atau mediator terhadap permasalahan terkonsultasi atau klien (Tharp & wetzel, 1969) orang yang bisa dilibatkan dalam konsultasi ini bisa orang yang profesional, guru, orang  tua, para pekerja dibidang kesehatan dan otoritas kepemudaan.
Dalam konsultasi triadik terkadang seorang konselor tidak pernah melihat kleinnya tetapi seorang konselor bisa mengumpulkan informasi kemudian bekerja melakukan prosedur diagnostik kemudian melakukan layanan khusus terhadap klien.
Konsultasi  tidaklah sama dengan bimbingan dalam arti bahwa konsultasi tidak  mengasumsikan profesional penuh dan tanggung jawab etis bagi seorang konsultan. Konsultan tidak boleh melanggar hubungan antara klien dan penengah. Pembedaan dalam hal ini sangatlah penting seorang konsultan bukanlah  seorang pengawas bagi seorang penegah ataupun klien.
Ada hal yang juga penting yang perlu dipahami oleh konsultan bahwasanya seorang konsultee tidak datang kepada konsultan untuk mendapat nasehat pribadi tetapi untuk meminta bantuan berdasarkan prosedur yang sangat spesifik. Konsultan harus sadar bahwa dalam setiap proses ia akan melibatkan harapan bagi yag terkonsultasi. Ada tiga peran yang berbeda yang mencirikan model konsultasi ini yaitu adanya konsultan yang memberikan  atau menyediakan keahlian, konsultee yang mengaplikasikan apa yang didapat oleh konsultan dan klien yang menjadi objek dari layanan.
b.      Konsultan Teknis
Konsultasi ini dapat dikatakan sebagai layanan teknis , dimana dalam konsultasi ini konsultan menyediakan pendapat para ahli atau yang berkompeten dalam memberikan informasi yang sfesifik terhadap masalah yang dihadapi. Sebagai contoh konsultan  dapat melakukan serangkaian diagnostik tertentu terhadap para siswa disuatu sekolah, terutama kasus yang sulit ditangani dalam hal ini tenaga ahli dapat dimintai informasi tentang perkemabangan kepribadian.
c.       Konsultasi Kolaboratif
Didalam konsultasi kolaboratif tujuan utamanya adalah meliputi penyaluran informasi, perencanaan, tugas dan tanggung jawab serta evaluasi bagi suatu hubungan. Didalam konsultasi kolaboratif hubungan terjadi secara dua arah atau pihak, dimana didalamnya informasi dan sumber daya dikumpulkan dan konsultan dan terkonsultasi bekerja sebagai rekan setara dalam prosesnya.
d.      Konsultasi Facilitative
Didalam konsultasi ini konsultan bertugas dalam mempasilitasi akses terkonsultasi ke beragam sumber daya yang baru. Hubungan antara konsultan dan konsultee bersifat sukarela dan sementara.
e.       Konsultasi kesehatan mental
Dalam konsultasi ini konsultan membantu terapis untuk memperoleh pemahaman lebih baik tentang interaksinya dengan klien, melalui cara-cara penganalisisan, pendekatan penanganan, pertimbangan respon-respon terkonsultasi mereka bagi klien dan yang lebih penting lagi memberikan dukungan kepada pihak terkonsultasi.
f.       Konsultasi tingkah laku
Banyak yang memasukan konsultasi teingkah laku terdiri atas bantuan terhadap para pekerja yang berhubungan dengan jasa manusia, guru dan orang tua untuk menggunakan penguatan dalam mengatur perilaku di lingkungannya.
g.      Konsultasi proses
Kadang-kadang kebutuhan akan konsultasi sangat dibutuhkan oleh suatu lembaga, atau kelompok didalam organisasi. Konsultasi proses merupakan layanan yang diberikan ke sebuah organisasi dalam upaya meningkatkan efektivitas kerja kelompok mencapai tujuan-tujuannya. Konsultasi ini menyoroti interaksi diantara kelompok-kelompok individu yang bekerja satu sama lain dalam bentuk hubungan tatap muka.
Istilah konsultasi proses biasanya digunakan ketika konsultan masuk kedalam sebuah organisasi untuk membantu mengembangkan organisasi tersebut. Konsultasi proses didasarkan pada sejumlah asumsi tentang interaksi sosial didalam kelompok kerja yaitu:
§  Bahwa konsultasi proses bisa dicapai bila ada kejujuran dan keterbukaan didalam kelompok kerja.
§  Ketika kelompok kerja mengalami masalah, maka masalah itu lebih baik dipecahkan langsung oleh kelompok itu dibandingkan ada penengah atau menyerahkan kepada pimpinan yang tertinggi.
§  Kelompok kerja memiliki tanggung jawab dalam memberikan pemecahan masalah, perencanaan, dan pengambilan keputusan, pengorganisasian serta menekankan kepada usaha mereka sendiri
§  Kelompok kerja bisa memecahkan permasalahan mereka sendiri secara efektif ketika mereka bisa menggunakan informasi data tentang hubungan antar pribadi mereka dibandingkan menggunakan data dari tenaga diluar mereka.
2.      PELATIHAN (TRAINING)
Perkembangan lingkungan mulai mendapat tantangan, dimana model  pengobatan medis merupakan cara mengatasi masalah yang dihadapi, salah satu akibat dari perubahan ini adalah adanya model pelatihan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Penggunaan pelatihan bisa digunakan secara langsung dalam upaya professional.(Blocher & Biggs,1983).
Pertumbuhan dan perkembangan lingkungan yang modern membawa dampak yang  berbeda terhadap diri klien. Sehingga dibutuhkan strategi dan ketrampilan dan menghadapi masalh tersebut sebelum mucul dampak seperti konflik atau gangguan. Ketika seorang konselor menghadapi hal tersebut maka pelatihan merupakan metode yang lebih disukai.
Pelatihan intervensi memiliki keunggulan dibandingkan dengan pendekatan tradisional yang menganggap bahwa seorang klien itu sebagai individu yang sakit, abnormal dan tidak waras. Pelatihan lebih memandang klien sebagai pelajar yang mampu memperoleh ketrampilan yang mereka perlukan dan siap untuk dibekali ketrampilan untuk menghadapi tantangan masa depanya (Larsen,1984).
a.       Pelatihan Langsung
Program pelatihan yang bisa dikembangkan untuk penanganan secara langsung dapat di uraikan sebagai berikut:
1)      Pelatihan keterampilan sosial
Merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan dan hubungan antar pribadi yang didasarkan pada perkembangan psikologi perilaku. Didalam pendekatan ini, sasaran dari program pelatihan secara hati-hati ditetapkan dalam kaitanya dengan sfesifikasi perilaku, pengaturan perilaku yang diharapkan terjadi dan memiliki ukuran-ukuran yang tepat serta memiliki standar yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi apakah sasaran dari pelatihan telah tercapai. Peningkatan program keterampilan sosial dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut: (Eisler & Frederiksen,1980)
§  Langkah pertama adalah merancang pelatihan ketrampilan sosial dengan mengamati kemampuan dasar mereka. Setelah memperoleh contoh perilaku yang baik sebagai contoh dari ketrampilan sosial yang dinginkan.
§  Memberikan pengalaman belajar yang telah dirancang untuk dilaksanakan dengan target tertentu.
§  Mengembangkan program yang memungkinkan individu berkembang secara optimal.
§  Menerapkan pengalaman belajarnya melalui pelatihan atau kursus yang memungkinkan tercapainya sasaran yang diinginkan.
§  Mengevaluasi capaian dari program pelatihan yang diberikan.
2)      Pelatihan Ketegasan (Asertifitas)
Merupakan salah satu upaya meningkatkan ketampilan sosial, yang berada diluar pendekatan tingkahlaku. Tapi menekankan pada pendekatan kognitif behavioral yang sering disebut dengan pelatihan ketegasan. Pelatihan ini mengajarkan klien untuk menilai kebutuhan pribadinya dalam hubungan sosial dengan individu lainya. Adapun urutan pelatihan yang dapat diberikan meliputi:
§  Mengajarkan kemampuan dasar ketegasan, sikap, dan konsep agresif untuk mengenalkan perilaku interpersonal.
§  Mendiskusikan nilai pertanyaan dengan baik kepada individu tentang suatu hal dengan baik dan penuh pertimbangan.
§  Melatih perkataan dan mendiskusikan masalah-masalah yang sesuai dengan kondisi mereka.
§  Pelajar merespon situasi simulasi yang merupakan respon dari ketegasan.
§  Menganalisis perilaku kelompok diskusi,pelatih dan kognitif atau penrnyataan diri yang mendahului perilaku mereka.
§  Mendiskusiskan istilah yang ada dan pengaruhnya terhadap rasional emotif terapi.
§  Mengembangkan suatu yang baru bagi pikirannya atau pendapat dirinya.
§  Memperaktekan suatu respond dan simulasi perilakunya.
§  Berusaha merespon masalah yang ada.
§  Mengevaluasi hasil pelatihan.
Program ketegasan saat ini telah dimanfaatkan secara luas termasuk bekerja dengan klien yang mengalami tekanan, dalam masalah keluarga, dan dalam berbagai bidang lainya. (Gambrill,1984).
3)      Multiple Impact Traning (MIT)
Merupakan suatu program yang ditujukan pada peningkatan ketrampilan yang dikembangkan Gazda (1984) didalam program ini klien dipandang bukan sebagai orang yang sakit tetapi orang yang kurang memiliki ketrampilan hidup. MIT melibatkan banyak kelompok pelatihan dimana masing-masing memusatkan pada satu pelatihan yang sefesifik tentang ketrampilan hidup seperti komunikasi antar pribadi, fisik dan kebugaran. Tujuan hidup, problem solving dan pengembangan karir.
Yang juga penting bahwa MIT mengintegrasikan beberapa pelatihan yang ada yang sesuai dengan yang diharapkan klien. Berbagai dampak pelatihan ini telah digunakan di rumah sakit dan juga dalam bidang-bidang pendidikan. Pendidikan psikologi yang merupakan program penyerta pelatihan. Pendekatan ini dikembangkan untuk memudahkan perkembangan suatu teori dibandingkan pada membantu  mengembangkan ketrampilan yang spesifik.
b.      Penerapan Pelatihan Tidak Langsung
1)      Model pengembangan manusia (HRD)
Merupakan salah satu program yang dirancang untuk memperkaya sumberdaya masyarakat yang dibuat oleh Robert Carkhuff (1969).  Banyak individu yang mengalami masalah yang memerlukan bantuan namun mereka mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan penasihat yang professional.
Untuk mengisi kebutuhan tersebut Carkhuff mengembangkan suatu model yang sederhana yang digunakan untuk menolong orang lain dengan efektif. Dalam konsep HRD ada tiga langkah untuk membantu orang lainyaitu explorasi diri, pemahaman diri, dan melakukan tindakan yang didasarkan pada eksplorasi dan pemahaman diri. Pelatihan yang diberikan bisa dalam bentuk presentasi konseptual, demontrasi melalui video, pelatihan dengan menggunakan kelompok kecil. Bisa juga menghadirkan orang-orang yang sukses dalam pelaksanaan pelatihan.
HRD program telah digunakan dalam hal yang luas, meliputi pelatihan terhadap orang tua, untuk para siswa, pegawai rumah sakit, guru dan konselor (Cash,1984).
2)      Skilled Helper Model
Merupakan sebuah program yang digunakan untuk menolong masyarakat, program ini dikembangkan oleh Gerard Egan (1984) yang dinamakan Egan “penolong trampil” model ini labih baik dibandingkan model HRD dan dapat digunakan dengan tingkatan-tingkatan dan lebih luas.
Model Egan didasarkan dari beberapa konsep perkembangan psikologis yang menekankan pada interaksi antar persepsi, kognitif dan tindakan. Egan melihat bahwa perkembangan memiliki tantangan kepada individu untuk mendapatkan teladan dalam berperilaku. Proses belajar dalam model ini meliputi ketrampilan hubungan antar pribadi, pengetahuan spesifik, dan ketrampilan prilaku yang baik.
Model helper training dirancang untuk melatih orang untuk mudah membantu pertumbuhan dan memberikan pengajaran pada orang lain, pelatihan ini dirancang melalui empat tahapan, yaitu:
§  Diagnosis dan focus. Langkah ini mengijinkan klien untuk memahami sifat alami/kehidupannya, memperkenaalkan dia dengan perasaannya serta memberikan pemahaman tentang ketidakmampuanya. Penolong diajarkan untuk membantu hal ini dengan menggunakan teknik active-listening
§  Goal setting. Merupakan langkah kedua dimana adanya tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Dalam hal ini boleh dilibatkanya beberapa tingkatan dalam kognitif atau mendefinisikan ulang cita-cita dan kebutuhanya. Penolong menggunakan teknik yang spesifik untuk membantu proses ini
§  Pengembangan rencana tindakan. Proses ini meliputi pemecahan masalah dan strategi pengembangan dan rencana yang spesifik. Penolong diajarkan untuk dapat memberikan harapan kepada klien, praktis, dalam membantu proses ini
§  Menerapkan dan mengevaluasi setiap tindakan dan rencana. Tahap akhir ini membantu melibatkan klien untuk dapat bertanggung jawab dalam setiap rencana dan mengevaluasi efektivitas mereka.

0 comments:

Post a comment