Friday, 26 June 2020

KONSELING PERGURUAN TINGGI DAN LAYANAN KEHIDUPAN MAHASISWA


KONSELING PERGURUAN TINGGI DAN LAYANAN KEHIDUPAN MAHASISWA       
A.       Sejarah Konseling Perguruan Tinggi
Layanan kehidupan mahasiswa sebagai suatu profesi berkembang dengan cepat dalam perguruan tinggi antara akhir Perang Dunia I dan masa depresi tahun 1930-an (Fenske, 1989) selama periode ini banyak yang berharap agar profesional dalam bidang kehidupan mahasiswa akan diintegrasikan ke dalam program akademi utama. Namun hal itu tidak terjadi dengan  alasan  teoritis untuk menerapkan program kehidupan mahasiswa belum ada. Konseling perguruan tinggi  sebagai profesi baru dimulai sesudah akhir tahun 1940-an, baru setelah Perang Dunia II psikologi konseling dan konselor diperbolehkan berpraktik untuk mahasiswa di pusat.

B.       Dasar Teoritis dan Persiapan Profesional Untuk Bekerja dengan Mahasiswa
Konseling perguruan dan layanan kehidupan mahasiswa mencakup pemahaman tentang bagaimana mahasiswa dari segala usia belajar, bertumbuh, dan berkembang. Namun seperti dikatakan Bloland (1986)  beberapa “profesionaal baru dan sejumlah kecil professional musiman hanya mempunyai sedikit pengetahuan tentang teori perkembangan mahasiswa atau praktik”. Bagi konselor perguruan tinggi sangatlah penting untuk membedakan antara masalah mahasiswa yang terkait dengan perjuangan perkembangan, seperti otonomi, identitas dan keintiman, dengan bentuk gangguan psikologis yang lebih serius atau kronis (Sharkin, 1997).



1.         Dasar Teoritis
Dari sudut pandang ideologi, tiga tradisi yang mendominasi adalah : in loco parentis, layanan mahasiswa dan perkembangan mahasiswa (Rodgers,1989).  Model layanan mahasiswa menekankan mahasiswa sebagai sebagai konsumen dan memandatkan layanan yang memungkinkan perkembangan. Perkembangan mahasiswa berfokus pada menciptakan lingkungan berbasis riset yang membantu mahasiswa perguruan tinggi belajar dan berkembang (Rodgers, 1989,p.120) dalam  perkembangan mahasiswa sedikitnya ada empat teori-teori perkembangan yang menuntun aktivitas professional: psikologi, stuktural-kognitif, interaksi manusia-lingkungan  dan tipologi. Teori psikososial dapat di temukan hampir diseluruh tulisan Arthur Chickering (contoh Chickering dan Reisser, 1993) kemampuan otonomi, pengaturan emosi , identitas, tujuan, integritas dan hubungan. Tugas-tugas ini sejalan dengan ide Erick Erikson (1968) mengenai proses perkembangan remaja. Kekuatan utama chickering adalah bahwa dia memerinci dan menspesipikasi konsep Erikson dengan cara sedemikian rupa, sehingga konselor perguruan tinggi dan professional kehidupan mahasiswa dapat merencanakan dan mengevaluasi -teori program mereka seputar tiga isu utama. Teori stuktural nkognitif berfokus pada bagaimana seseorang mengembangkan perasaan berarti di dunia. Teori ini berhubungan dengan persepsi dan evaluasi dan digambarkan sanat baik dalam model moral dan intelektual dari Perry (1970) dan Kohlberg (1984), model-model ini berorientasi pada proses, hierarkis dan kronologis.
Model interaksi manusia-lingkungan “Mengacu pada berbagai konseptualisasi mahasiswa perguruan tinggi dan lingkungan perguruan tinggi serta tingkat keselarasan yang terjadi ketika mereka berinteraksi (Rodgers, 1989,p.121) teori dalam model ini menekankan bahwa perkembangan adalah suatu proses holistik yang melibatkan semua bagian manusia dengan lingkungan dalam suatu interaksi.
        Teori tipologi berpokus pada perbedaan individu, seperti temperamen jenis kepribadian, dan pola sosialisasi. Pola kepribadi mengaruhi individu, sehingga pola pertumbuhan dan perkembangan mereka bervariasi dengan motivasi, usaha, serta pencapaian mereka.

2.      Konseling Mahasiswa Perguruan Tinggi
Penekanan dan Peran
Penekanan dan peran konselor perguruan tinggi bervariasi dari kampous ke kampus tergantung pada tipe institusi tertentu yang menarik minat siswa dan dukungan untuk layanan yang didanai. Ada empat model utama dari layanan konseling yang diikuti oleh pusat konseling perguruan tinggi/universitas (Westbrook et al, 1993).
a)      Konseling sebagai psikoterapi, model ini menekankan konseling jangka panjang untuk sejumlah kecil mahasiswa. Konselor menangani perubahan dan merujuk masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendidikan ke penasehat akademi siswa.
b)      Konseling sebagai bimbingan pekerjaan, model ini menekankan pada membantu mahasiswa menghubungkan urusan karir dengan akademi secara produktif.
c)      Konseling sebgaimana defenisi tradisionalnya, model ini menekankan pada keberbedaan layanan konseling yang luas, termasuk hubungan jangka pendek atau panjang.
d)     Konseling sebagai konsultasi, model ini menekankan pada bekerja, dengan berbagai organisasi dan orang-orang yang memiliki pengaruh jangka pada kesehatan mental manusia.



Aktivitas
Aktivitas konselor perguruan tinggi mirip dengan profesional layanan kehidupan mahasiwa dalam hal kelengkapan dan variasinya. Beberapa layanan dari kedua kelompok ini bukan saling tumpang tindih. Lewing dan Cowger (1982) mengenali Sembilan fungsi konseling yang secara menentukan agenda konselor sekolah.
a)      Konseling akademis dan pendidikan
b)      Konseling professional
c)      Konseling pribadi
d)     Pengetasan
e)      Latian dan pengawasa
f)       Riset
g)      Pengajaran
h)      Perkembangan profesional
i)        Administrasi
Thurman (1983) menemukan bahwa terapi perilaku emotif rasional, termasuk pengnaan gambaran emnotif rasional dapat secara efektif mengurangi perilaku tipe A (terburu-buru, kompetitif dan kasar), kendala yang dihadapi konselor perguruan tinggi dalam memberikan layanan teratasi secara efektif melalui rujukan yang dimandatkan. Tantangan lain yang dihadapi oleh konselor perguruan tinggi adalah perubahan budaya mahasiswa yang terus menerus (Bishop, 1992).
 Klasifikasi masalah-masalah klien klien yang ditemukan pada ousat konseling perguruan tinggi dan universitas, yaitu:
a.      Penyesuaian Pribadi dan Sosial
Kendala dalam hubungan
1)      kemarahan/ mudah marah/ pengendalian impus
2)      putus hubungan
3)      kekhawatiran memikirkan kencan
4)      klematian orang yang bearti
5)      sulit mendapatkan teman/ kesepian
6)      pasanganromantis suami atau istri
Depresi                                                    
1)      Perasaan atau pikiran ingin bunuh diri
2)      Perasaan tak berdaya
3)      Kesedihan akibat dari kehilangan
Pelecehan dan perundungan seksual
1)      Pelecehan
2)      Perundungan
Harga diri
1)      Citra diri
2)      Rasa malu
3)      Rasa takut akan kegagalan
b.      Urusan karier dan akademis, urusan akademis
1)      Prestasi sekolah
2)      Penangguhan/penundaan
3)      Kemampuan belajar yang menyedihkan
Depresi dan gejala-gejala defresif sangat umum terjadi di antara mahasiswa perguruan tinggi AS (Dixion dan Reid, 2000 hal 343). “Sekitar 20 % mahasiswa menjalani sesi konseling di pusat konseling perguruan tinggi di setiap tahunnya, dan diperkirakan jumlah tersebut akan semakin meningkat” (Geraghty, 1997, A32). College Adjustment Scale adalah untuk menskrining mahasiswa perguruan tinggi terkait dengan perkembangan umum dan masalah psikologi (Anton dan Reed, 1991). Penilaian yang penting bagi pusat konseling perguruan tinggi untuk digunakan dalam menentukan layanan dan program apa yang akan ditekankan. 
Konselor sebaya juga merupakan cara efektif untuk menjangkau mahasiswa diluar pusat konseling diperguruan tinggi yang tradisional. Konselor perguruan tinggi juga dapat menawarkan layanan dan program dalam kombinasi dengan professional kehidupan siswa lainnya, empat layanan yang paling diinginkan adalah yang berhubungan dengan alkohol, pelecehan, dan perundung seksual, gangguan pola makan dan defresi.Hampir 90% mahasiwa kadang-kadang mengkomsumsi alkohol selama diperguruan tinggi, dan 20% adalah peminum berat dengar rata-rata konsumsi 28 gram alkohol per hari per bulan.  Sebagai tambahan, minuman yang tidak terkontrol dapat mengarah pada kekerasan dalam bentuk pemerkosaan, seks yang tidak aman, kesulitan akademis dan bunuh diri.
Kelainan pola makanan terutama bulimia dan anoreksia nevosa adalah bidang ketiga dimana konselor perguruan tinggi dapat menanganinya dalam bentuk tim bersama dengan professional mahasiswa lainnya. Walaupun banyak wanita yang mengidap kelainan tersebut tidak percaya bahwa kebiasaan mereka memerlukan terapi (Meyer, 2005). Masalah keempat yang menjadi kepedulian konselor perguruan tinggi adalah depresi (Kadison dan DiGeronimo, 2004). Depresi dan gejala sangat merusak dilingkungan perguruan tnggi karena keduanya sering kali mengganggu pembelajaran dan mengarah pada kekurangan kesuksesan.
3.      Professional dalam Kehidupan Mahasiswa
Penekanan dan Peran
Pada awalnya kehidupan mahasiswa perguruan tinggi dikonsentrasikan dalam membantu mahasiswa baru menyesuaikan diri dengan dengan kehidupan  kampus (Williamson, 1961). Fokus ini tetap ada namun sekarang ditambah dengan penekanan pada mahasiswa lama yang kembali kekampus, dan kepedulian meningkat terhadap semua aspek komunitas perguruan tinggi, seperti kerja untuk mahasiswa dari budaya minoritas dan mahasiswa dengan kesulitan belajar (Boesch & Cimbolic, 1994; Lynch & Gussel, 1996 Tat & Schwartz, 1993).
Masalah unik layanan adalah klub atau perkampusan system klub perempuan dan laki-laki yang menekan, meskipun menarik dan memuaskan bagi banyak mahasiswa, dapat juga menimbulkan perasaan depresi dikalangan mahasiswa yang tidak mendapat tawaran untuk bergabung. Professional mahasiswa menawarkan program dengan dengan cakupan kampus dan bantuan individual. Tujuan program yang komprehensif ini adalah untuk mendapatkan dampak positif pada mahasiswa dan membantu mereka mengidentifikasi masalah atau kekhawatiran pada titik yang strategis, dimana stategi intervensi bekerja paling bermanfaat. Dengan membantu mahasiswa berpisah secara positif namun tetap berhubungan dengan keluarga, professional urusan mahasiswa membantu mahasiswa dalam penyesuaian secara menyeluruh dan kinerja baik di dalam maupun diluar perguruan tinggi.
4.      Konseling dan Layanan Urusan Kehidupan Mahasiswa untuk Nontradisional
Selain bekerja dengan kelompok mayoritas,konselor dan professional urusan mahasiswa menangani kebutuhan mahasiswa nontradisional. Yang termasuk disini adalah mahasiswa senior, mahasiswa generasi pertama, mahasiswa dari budaya minoritas atau mahasiswa yang berprofesi sebagai atlit. Karakteristik umum mahasiswa nontradisional kemandirian finansial (51%), kehadiran paruh waktu (48%), penundaan pendaftaran (46%) (Evelyn, 2002).
Mahasiswa senior
Sebagai kelompok mahasiswa senior nontradisional mempunyai motivasi yang tinggi lebih menyukai pembelajaran interaktif memiliki kekhawatiran tentang keluarga dan keuangan, memandang sebagai suatu investasi dan mempunyai komitmen serta tanggung jawab yang tidak berhubungan dengan sekolah (Richter Antion, 1986). Konselor perguruan tinggi dan professional urusan kehidupan mahasiswa harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti, modifikasi lingkungan (contohnya, lampu yang lebih terang atau temperature ruangan yang lebih hangat).

Mahasiswa Paruh Waktu
Mahasiswa paruh waktu khususnya yang datang sesekali saja, mencapai sekitar 40% dari semua mahsiswa di perguruan tinggi sebagai kelompok mereka memiliki kelemahan yang relative bila dibandingkan dengan mahasiswa purna waktu karena:
a.       Mereka datang dari kelompok minoritas dari keluarga yang pendapatannya rendah.
b.      Mereka tidak dipersilahkan dengan baik untuk mengikuti perkuliahan dibandingkan rekannya yang purna waktu.
c.       Mereka sangat terkonstentrasi dalam perguruan tinggi dengan masa pendidikan 2 tahun dan program nongelar/sertifikat.
Mahasiswa Generasi Pertama
Kelompok mahasiswa nontradisional yang ketiga adalah mahasiswa perguruan tinggi generasi pertama adalah mahasiswa yang merupakan anggota pertama dalam kategori ini datang dari berbagai latar belakang yang luas dan berbeda, termasuk imigran generasi kedua dan golongan ekonomi rendah yang meningkat statusnya (Hodgkinson et al, 1992).Oleh karena itu mahasiswa generasi pertama memiliki sejumlah kebutuhan. Mereka harus mnenguasai pengetahuan akan lingkungan pergukaruan tinggi termasuk perbendaharaan kata yang khusus seperti contohnya kredit semester , dekan dan rektor (Fallon, 1997).Mereka juga harus berdedikasi terhadap peran sebagai siswa menerjemahkan system nilai-nilai dari mahasiswa dan keahlian.
Mahasiswa Budaya Minoritas
Mahasiswa budaya minoritas di Amerika serikat didominasi oleh Afrika Amerika, penduduk asli Amerika, Asia Amerika. Kurangnya dukungan dan suasana akademis yang kurang ramah (Ancis,Sedlacek, & Mohr,2000,p.180). Untuk mendapatkan dampak yang lebih luas serta menimbulkan perubahan yang diperlukan, konselor dan personil kehidupan mahasiswa dapat menggunakan program berskala kampus yang mempengaruhi semua aspek kampus. Program ini dapat mengambil bentuk presentasi kepada kelompok-kelompok khusus.  Dalam bentuk menjadi sponsor atau konsponsor dari pertemuan yang membahas kesejahteraan kampus atau ekspo layanan mahasiswa. (Marks dan Mclaughil, 2005).
Mahasiswa Atlit
Kelompok nontradisional yang kelima adalah mahasiswa atlit, para mahasiswa ini jikia dibandingkan dengan mahasiswa lainnya kurang sukla mencari bantuan melalui konseling (Watson, 2005).  Meskipun demikian, banyak dari mereka yang memiliki “Masalah berhubungan dengan system perguruan tinggi dan masyarakat luas”. Lingkungan yang berorientasi pada bidang olahraga menumbuhkan ketergantungan pada pelatih atau tim. Oleh karenanya mahasiswa ini mungkin saja terisolasi dan terasing dari kehidupan normal kampus dan merasa sters selain menghadapi tantangan untuk menjelaskan fungsi ganda sebagai mahasiswa dan sebagai atlit (Watson, 2005) konseling karier dan keahlian dalam perencanaan hidup adalah pelayanan yang harus diberikan disini.
DAFTAR PUSTAKA

Samuel T.Glading (2012). Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Permata Puri Media.

0 comments:

Post a comment