Wednesday, 24 June 2020

KONSELING KORBAN PENGANIAYAAN DAN PENYANDANG CACAT


1.    KONSELING KORBAN PENGANIAYAAN DAN PENYANDANG CACAT
A.    Konseling Korban Penganiayaan
Penganiayaan (abuse) oleh Glading (2012:524) dijelaskan sebagai penyalahgunaan atau perlakuan yang salah terhadap orang lain, tempat, maupun benda-benda. Secara alami dapat bersifat aktif maupun pasif, namun hasil akhirnya biasanya akan merusak siapa pun yang terlibat di dalamnya. Secara umum jenis dari penganiayaan ini oleh Glading dibedakan menjadi 2 yakni: penganiayaan interpersonal dan penganiayaan intrapersonal.
Penganiayaan interpersonal meliputi kekerasan atau penelantaran kepada orang lain, khususnya di dalam satu keluarga. Contohnya: kepada saudara kandung, pasangan, anak-anak. Bentuknya bisa saja halus atau tidak kentara, seperti penganiayaan emosional, atau yang bentuk nyata seperti kekerasan fisik. Pada umumnya penganiayaan seksual pada anak tidak banyak dilaporkan khusus nya penganiayaan seksual yang menimpa anak laki-laki”(Tomes, 1996; p.55). Sebagian besar penganiayaan laki-laki dilakukan oleh pelaku yang bukan anggota keluarga.
1)        Penganiayaan Emosional Pada Pasangan Suami Istri
Dari semua jenis penganiayaan, penganiayaan emosional merupakan yang paling umum. Penganiayaan ini bersifat tidak kentara dibandingkan dengan bentuk penganiayaan lainnya, walaupun dapat juga terlihat nyata. Beg Cross dalam Glading (2012: 524-525) mengatakan bahwa ada 12 tanda penganiayaan emosional antara pasangan suami istri:
a)      Cemburu
b)      Mengendalikan perilaku
c)      Harapan yang tidak realistis
d)     Isolasi
e)      Menyalahkan pasangan atas suatu masalah dan perasaan
f)       Hipersensitif
g)      Penganiayaan verbal
h)      Peran jenis kelamin yang tidak fleksibel
i)        Perubahan kepribadian dan suasana hati yang mendadak
j)        Ancaman kekerasan
k)      Membanting dan memukul barang-barang.
l)        Menggunakan kekuatan selama beragurmen

2)        Penganiayaan Pada Anak
Penganiayaan pada anak dan penelantaran anak merupakan keprihatinan besar dalam keluarga-keluarga di Amerika. Setiap tahun ada lebih dari 2,5 juta anak yang menjadi korban penganiayaan dan penelantaran. Yang termasuk dalam kategori penganiayaan anak ini adalah penganiayaan fisik, seksual dan psikologi. Efek dari penganiayaan anak adalah agresi, kejahatan, dan bunuh diri, selain gangguan kognitif, akademis, dan psikologi dalam diri anak. Penganiayaan pada diri anak juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku anak setelah dewasa.
Glading (2012:525) menambahkan, bahwa sejumlah anak korban penganiayaan sulit menjalin hubungan yang erat dan berkelanjutan dengan teman-teman sebayanya apalagi dengan orang dewasa. Beberapa anak yang mengalami penganiayaan fisik menjadi tidak percaya pada orang lain,kriminal, dan bahkan depresi.
3)   Penganiayaan Antarsaudara
Antara saudara dapat terjadi penganiayaan dan bahkan penganiayaan saudara adalah suatu pandemic dan dapat mempunyai akibat fatal. Diperkirakan ada sekitar 40% anak di Amerika Serikat yang terlibat dalam agresi fisik antar saudara dan sekitar 85% yang terlibat dalam agresi verbal antar saudara secara rutin. Alasan penganiayaan antar saudara kompleks, tetapi umumnya mencakup persaingan dominasi, dan perkelahian kekuasaan untuk mendapat sumber daya.
Penganiayaan anatar saudara terjadi dalam 3 bentuk dominan: seksual, fisik, dan psikologi. Penganiayaan seksual hampir selalu dilakukan pada saudara perempuan oleh saudara laki-lakinya. Penganiayaan itu dapat terjadi hanya satu kali, tetapi sering kali kontinu selama bertahun-tahun. Penganiayaan fisik adalah melakukan tindakan fisik yang menimbulkan bahaya seperti memukul, menendang, menggigit, mencakar, atau menggunakan benda-benda seperti ikat pinggang, pisau dan lain sebagainya. Penganiayaan psikologis mencakup olok-olok atau ejekan yang konstan, intensif, atau berlebihan, merendahkan atau meremehkan dan dapat menjadi bagian dari kedua tipe penganiayaan lainnya. Meskipun penganiayaan antar saudara ini biasanya mereda dengan bertambahnya usia, tetapi dapat meninggalkan bekas atau luka pada orang yang mengalaminya. Korban bisa berlaku kejam pada orang-orang yang lebih lemah darinya setelah dia dewasa nanti.
4)        Upaya Mencegah dan Mengobati
Program pencegahan dalam penganiayaan antarpribadi terutama bersifat pendidikan. Fokus program ini adalah mengajarkan keahlian mendengarkan dan interaksi hubungan yang tepat. Pengobatan untuk pengaiayaan antarpribadi cukup prevalen. Empat pengobatan yang paling umum untuk penganiayaan pasangan/kekasih adalah terapi perkawinan, pelatihan manajemen kemarahan, terapi individual, dan program pengendalian konflik domestik. Terapi perkawinan dapat berupa terapi pasangan atau terapi bersama, tetapi biasanya pada kasus penganiayaan hal ini tidak dapat dilakukan karena adanya risiko kekerasan. Oleh karena itu layanan yang biasa dilakukan biasanya adalah program spesifik gender untuk pelaku. Upaya penanganan penganiayaan antarsaudara sebagian besar melibatkan partisipasi langsung dari orangtua/wali, anak-anak, dan orang yang terlibat di dalamnya. Selain itu menekankan pentingnya memberikan pengawasan yang baik untuk anak, memberikan pendidikan seks yang tepat pada anak, dan memastikan tidak ada kekerasan di rumah.
Pencegahan dan pengobatan pada malah penelantaran anak cukup kompleks karena melibatkan isu hukum, perkembangan dan psiklogis. Pada sebagian besar kasus, perawatan untuk korban belum dapat dilakukan sebelum masalah hukum diselesaikan terlebih dahulu.
Oleh karena itu dalam menghadapi anak korban penganiayaan, konselor harus menangani sejumlah besar masalah baik yang ada sekarang maupun di masa lalu. Kemarahan dan perasaan dikhianati di pihak korban penganiayaan sering kali harus ditangani dahulu sebelum menghadapi keluarga sebagai satu kesatuan untuk mengoreksi masalah dan mencegah agar tidak terjadi lagi. Lebih jauh lagi, karena melibatkan masalah hukum, korban penganiayaan mungkin dipisahkan dari pihak keluarga, yang membuat tugas menangani keluarga menjadi jauh lebih sulit dan menantang. Ada organisasi khusus di AS seperti Prevent Child Abuse America dan Parents Anonymous yang memiliki cabang-cabang di daerah yang memusatkan diri dalam meningkatkan hubungan keluarga yang sehat.
5)        Penyalahgunaan Intrapersonal
Penyalahgunaan intrapersonal melibatkan dari dalam diri pribadi individu. Seseorang adakalanya tidak merasakan bahwa dirinya sendirilah yang menganiaya atau melakukan penyalahgunaan pada diri sendiri. Yang termasuk dalam penyalahgunaan intrapersonal adalah penyalahgunaan substansi,judi, dan kecanduan kerja.
a)  Penyahgunaan substansi
Penyalahgunaan substansi adalah pemakaian substansi yang dapat meracuni dan membuat kecanduan secara tidak benar dan mendaji suatu kebiasaan, seperti alkohol, obat, dan tembakau. Dalam definisi ini obat diartikan sebagai substansi apapun selain makanan yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan kerja tubuh seseorang, termasuk stimulant, depresan dan halusinogen. Penyalahgunaan substansi merusak mental, fisik, emosional, sosial, dan spiritual seseorang. Adapun upaya untuk mengatasi penyalahgunaan substansi ini adalah dengan upaya preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan). Upaya preventif yang dapat dilakukan menurut Glading (2012:531-532) seperti program kampanye “Say No to Drugs”, sosialisasi program-program pencegahan di setiap jenajang sekolah mulai dari dasar hingga sekolah lanjut.
Upaya kuratif yang dapat dilakukan adalah dengan perawatan seperti konseling bagi penderita dan keluarga penyalahgunaan substansi maupun jika sudah sangat berat maka dialihtangankan ke dalam balai rehabilitasi dengan penanganan oleh dokter atau bekerjasama dengan para konselor.
b)    Judi
Penjudi kompulsif merupakan masalah yang serius di Amerika Utara. Dalam beberapa hal penjudi kompulsif sejajar dengan pecandu alkohol atau obat. Penjudi kompulsif kehilangan control atas perilakunya. Mereka umumnya berbohong dan menipu demi dapat terus berjudi.
Penjudi kompulsif ada tahap terstimulasi, euphoria yang sebanding dengan “perasaan melayang” yang dicari pencandu obat. Keadaan ini disertai perubahan kimiawi otak dan aliran yang kadang dikarakteristikkan dengan telapak tangan berkeringat, denyut jantung cepat, rasa mual selama berharap-harap cemas. Seperti pada kecanduan lainnya, penjudi kompulsif lama kelamaan “mentolerir” aksinya tersebut. Jadi untuk merasakan kegairahan, mereka harus terus-menerus menambah besarnya taruhan.
Perawatan untuk penjudi kompulsif, di AS dapat dibantu melalui sebuah wadah organisasi bantuan yaitu Gamblers Anonymus. Organisasi ini polanya sama dengan Alcoholic Anonymous, termasuk program perawatan 12 langkah. Tingkat kesuksesannya sebanding dengan kecanduan lain. Namun, sifat perawatannya lebih panjang dan lebih rumit karena sejumlah penjudi kompulsif juga menderita kecandun alain seperti alkholisme, penyalahgunaan substansi, pembelanja kompulsif, atau bolumia.
c)     Kecanduan kerja
Kecanduan kerja atau workholism didefinisikan sebagai kelainan yang kompulsif dan progresif, berpotensi fatal, yang ditandai oleh tuntutan yang ditujukan pada diri sendiri, kerja berlebihan yang kompulsif, ketidakmampuan mengatur kebiasaan kerja, dan terlalu memanjakan diri dengan pekerjaan sampai mengabaikan dan merusak hubungan dekat dan aktivitas kehidupan utama lainnya. Masalah workholism diantaranya pada kesehatan mental, komunikasi dalam perkawinan, otoritas dalam perkawinan dan lain sebagainya. Adapun dalam penanganan kecanduan kerja ini oleh Robinson dalam Glading (2012:541) merekomendasikan beberapa hal berikut:
1)                  Bantu mereka memperlambat kerjanya
2)                  Relaksasi
3)                  Bantu mereka mengevaluasi suasana keluarganya
4)                  Menekankan pentingnya perayaan dan ritual
5)                  Membantu mereka ke pergaulan sosial
6)                  Menghadapi kehidupan di saat sekarang
7)                  Mendorong klien untuk mengasah dirinya
8)                  Menekankan pentingnya diet yang tepat, istirahat dan olahraga
9)                  Membantu klien menangisi kehilangan di masa kanak-kanak dan menangani masalah harga diri
10)              Menginformasikan kepada klien bahwa program 12 langkah tersedia sebagai pelengkap kerja individual


B.     Konseling Penyandang Cacat
Kecacatan adalah kondisi fisik maupun mental yang membatasi aktivitas atau fungsi seseorang. Klien yang mempunyai kecacatan mencakup mereka yang memiliki manifestasi fisik, emosional, mental, dan perilaku, termasuk sejumlah diagnsis seperti alkoholisme, artritis, buta, penyakit kardiovaskuker, tuli, keternelakangan mental, cacat ortopedi, dan lain sebagainya. Afiliasi, sertifikasi, dan pendidikan untuk konselor penyandang cacat di AS ditangani oleh ARCA (American Rehabilitation Counselor Association).
Glading (2012: 547) mengkategorikan mengenai penyandang cacat ini yaitu konseli penyandang cacat khusus meliputi: cacat fisik, cacat mental, ADHD, HIV AIDS. Adapun konseling rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk menangani konseling penyandang cacat ini yaitu:
1.      Konseling pribadi
2.      Mencari kasus
3.      Menentukan pemenuhan persyaratan
4.      Pelatihan
5.      Pemberian rehabilitasi
6.      Layanan pendukung
7.      Penempatan tugas
8.      Perencanaan
9.      Evaluasi
10.  Knsultasi kelembagaan
11.  Relasi publik
12.  Tindak lanjut
DAFTAR PUSTAKA

Samuel T.Glading (2012). Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Permata Puri Media.

0 comments:

Post a comment