Thursday, 11 June 2020

KONSELING KARIR



KONSELING KARIR


A.    Pandangan Konseling Karir

Pendekatan konseling karir yang didefinisikan oleh Crites (1969) yaitu Sebuah  model  artikulasi  yang  baik  dan  metode  berupa  bantuan  yang diberikan kepada individu dalam membuat keputusan mengenai peranan sepanjang hidup mereka dalam dunia kerja dan penyelesaian masalah yang timbul dalam proses pemilihan / penentuan. “ definisi ini adalah bagian yang paling jelas; hanya ambiguitas saja yaitu artinya artikulasi baik itu relatif.
Crites (1974) mengusahakan sebuah pendekatan yang khusus bagi konseling karir, dia menemukan lima artikulasi baik secara relatif. Pertama, pada tahun 1930 dan 1940 Crites mengadakan investigasi pada psikologi kejuruan dan bimbingan kejuruan, pada saat ini mulai berkembang pendekatan trait and factor. Pada akhir 1940an, konseling client-centered telah dipakai untuk memilih karir. Selanjutnya adanya kontribusi dari sudut pandang psikoanalisis, dalam waktu yang bersamaan Donald Super (1957) mengajukan sebuah pandangan perkembangan implikasi bagi konseling, dan yang terakhir Crites (1974) mencatat aplikasi tersebut pada akhir 1950an mengenai prinsip behavior yang dapat memberikan informasi karir untuk mencari dan memutuskan. Kemudian, Crites (1976) menganggap pendekatan sintetis nya sendiri untuk konseling karir.
Pendekatan ini dinamakan konseling trait-and-factors dikembangkan khusus bagi masalah karir. pendekatan ini menjadi pendekatan perkembangan terbaik dan standar bagi pendekatan lain yang dapat dibandingkan. Sepanjang pendekatan behavior bagi konseling karir, terlihat sebagai artikulasi yang baik, dengan demikian akan diambil kekuatannya, sedangkan pendekatan yang lainnya memiliki artikulasi yang kurang baik.
1.      Pendekatan Client-Centered

Cient-centered   menekankan pada penyesuaian sosial-emosional, untuk membuat keputusan pemilihan karir dan penyesuaian karir. Berdasarkan Crites (1974), Patterson (1964) mengeluarkan pernyataan terbaik dari teori client-centered yang digunakan bagi konseling karir. Pendekatan ini menekankan pada hasil dan karakteristik konselor yang konsisten dengan pendekatannya. Tujuan konseling yaitu kesesuaian-diri dan  pengamalan  konsep-diri.  Kesesuaian  yang  ditawarkan  konselor, empati, dan dan anggapan positif yang mutlak menetapkan elemen-elemen prinsip terapis dalam konseling dyad (Rogers, 1957). Crites (1974, 1981) memandang kontribusi yang penting bagi konseling karier sebagai penambah rasa sensitif konselor terhadap klien dalam pengambilan keputusan dan pengakuan bagaimana sebuah peranan pekerjan dapat mempengaruhi konsep hidup seseorang.
2.      Pendekatan Psikoanalisa

Kontribusi psikoanalisis pada awalnya bagi konseling karir datang sebagai bagian terpenting dari Edward S. Bordin dan perkumpulannya di University of Michigan (Bordin, 1968); (Bordin;1990); (Bordin, & Kopplin,1973); (Borrdin, Nachman, & Segal, 1963). Pendakatan yang diungkapkan oleh Bordin dilabeli oleh Crites (1974) sebagai psikodinamis. Label ini lebih sesuai, sejak pandangan Bordin sebagai konseling karir dibalik konsep psikoanalisis bagi sebuah sintesis psikoanalisis dan teori perkembangan lainnya.Pada intinya pendekatan ini adalah asumsi bahwa faktor internal (intrafisik) menjelaskan masalah klien yang memiliki pembuat keputusan.
Bordin dan Kopplin (1973) mengembangkan sebuah sistem diagnosa yang berusaha mengkategorikan masalah untuk mengambil keputusan dalam karir. Versi sederhana sebuah kategori yang ada. Rangkuman   yang   mengurangi   perluasan   seperti   subkategori   yang menjamin pemisahan investigasi.
a)      Kesulitan sintesis. Situasi dimana tinjauan kognitif yang tidak cukup terjadi pada klien dalam memilih karir dengan benar.
b)      Masalah identitas. Kasus-kasus dimana persepsi diri yang digabungkan dengan pilihan masalah.
c)      Konflik kepuasan. Hal–hal dimana pendekatan/penghindaran serta pendekatan/konflik pendekatan yang terjadi.
d)     Orientasi perubahan. Kasus-kasus dimana ketidakpuasan diri dan keinginan untuk berubah secara personal menjadi potret sebuah pilihan karir.
e)      Patologi jahat. Keadaan dimana fungsi seseorang tidak sanggup memutuskan pilihan karir atau bahkan hal-hal yang harus dikerjakan.
f)       Masalah  yang  tidak  dapat  diklasifikasikan.  Masalah-masalah  yang tidak sesuai dengan kategori diatas
Kepercayaan dalam bekerja pada psikoanalitis dan teori perkembangan Erik Erikson telah terbukti. Ide Erikson (1964,1956,1963,1968) dalam identitas yang ditulis secara berkala dalam literature konseling karir psikoadinamis.
Permohonan konseling karir psikodinamis tergantung pada seluruh daya tarik terhadap teori psikoanalitis, psikologi ego, dan perawatan modern yang digabungkan. Penting untuk dicatat bahwa pengalaman Bordin sebagai seorang klinis dan pratikan terapi, berbanding terbalik dengan akar pendekatan lainnya dalam pemikiran pendidik dan peneliti. Pelatihan secara klinis, praktek terapi, mayoritas orang yang menyumbang beberapa bentuk terapi berdasarkan analitis (Garfield & Kurtz, 1976), mungkin ketertarikan  menggunakan pendekatan konseling karir ini dalam pengaturan perawatan seperti pusat kesehatan mental, praktek pribadi, dan lainnya secara tratdisional yang terlibat langsung dengan masalah karir ini
3.      Pendekatan Perkembangan

John Crites (1974, hal. 17) mengatakan bahwa pendekatan perkembangan sistem bantuan klien yang komprehensif dan koheren dengan masalah karir belum diformulasikan.“ Dalam terminologi proses konseling dan tujuannya, pendekatan perkembangan adalah gabungan antara client-centered dan teknik traits-and-factor ( Crites , 1974). Tujuan konseling adalah mempromosikan perkembangan karir. Hubungan tahap perkembangan  Super,  yaitu  tujuan-tujuan  tersebut  lebih  spesifik  yang sesuai dengan klien.
4.         Pendekatan Trait-and-Factors

Jauh sebelum 1930an, konseling trait-and-factor   merupakan pendekatan tradisional bagi pengmabilan keputusan karir dan standar bagi semua bentuk konseling karir yang ada. Pendekatan trait-and-factor bagi konseling  didasari    oleh  teori  sikap  yang  menyatakan  bahwa  manusia dapat  dimengerti  menurut  sikap  yang  mereka  tunjukan.  Sikap-sikap tersebut adalah karakteristik stabil, dipercaya sebagai bilangan terbatas, daripada kemampuan orang untuk merespon situasi yang sama secara konsisten.   Sedangkan   sikap   internal   seseorang   yang   tidak   dapat diobservasi, dapat mereka bentuk dengan cara mengobservasi sikap yang mereka tunjukan. Penilaian standar, khususnya perlengkapan laporan diri, telah  diartikan  dengan  mempelajari  sifat-sifat  tersebut.  Faktor-faktor secara statistical menggambarkan sifat-sifat yang diperkirakan.
a.       Latar Belakang Pendekatan Trait-and-Factor

Pada tahun 1920an Donald G. Patterson memulai usaha membawa kekerasan ilmiah tehadap pendekatan bimbingan kejuruan Frank Parsons. Parsons dijuluki sebagai bapak bimbingan kejuruan, yang mengajukan pengetahuan diri dan pengetahuan terhadap dunia kerja, dengan alasan pasti terhadap hubungna dua kelompok fakta tersebut (Parsons, 1909) hal, 5 yang menyediakan bantuan dalam perencanaan karir.
b.      Tujuan Konseling

Tujuan   konseling   trait-and-factor   adalah   konseli   dapat membuat  rencana  masa  depan  dan  keputusan  yang  berhubungan dengan gambaran terbaik dari, mengaaktualisasikan diri, dengan mempertimbangkan unsur pembuat keputusan sebagai sebuah objektivitas yang tetap kuat. Sebuah  objektitivitas, yaitu pemahaman peningkatan diri, yang bermanfaat tidak hanya memberikan kepuasan pribadi tetapi juga memberikan sumbangan sosial
c.       Karakteristik Konselor

Konselor dipandang sebagai seorang yang bijaksana, seorang guru, orang yang berpengalaman dalam hidup,   orang cukup dewasa untuk  memiliki  sebuah  aturan  nilai;  pengetahuan  tentang karir dan bagaimana membuat keputusan, secara efektif dalam penilaian sifat manusia dan tingkah laku. Karena tes standar adalah alat penting konseling, maka konselor mampu menggunakannya, khususnya dalam interpretasi mereka. Harapan selanjutnya adalah konselor menyebarkan informasi, membuat perkiraan dan lainnya . E.G Williamson sendiri adalah dekan dalam beberapa tahun di University of Minnesota. Mungkin strereotip seorang dekan dengan latihan psikologi menggambarkan beberapa konselor trait-and-factor.
d.      Proses konseling.

Konseling trait-and-factor adalah sebuah konseling langsung, yaitu aktivitas rasional. Berdasarkan informasi; tentang diri dan dunia kerja membuat keputusan karir lebih efektif. Tes biasanya bagian terpenting dalam sebuah proses. Williamson (1950) menggambarkan proses konseling memiliki enam tahap yang fleksibel: (1) analisis (2) unsur (3) diagnosa (4) ramalan (5) konseling dan (6) tindak lanjut. Untuk melengkapi tahap tersebut jelaslah bahwa konselor harus melakukan lebih banyak ketimbang mewawancara klien, banyak pekerjaan penting yang dapat dilakukan diantara sesi sesi tersebut.
e.       Evaluasi.

pendekatan dominan dalam sebuah bidang dimana anggotanya memiliki  ideologi  yang  berbeda,  kritik  konseling  traits-and-factor sering menghasilkan emosi yang berat. Seseorang yang telah menjadi seorang  konselor  sejak  tahun  1970an  tidak  ragu  mendengarkan referensi konseling ini yaitu tiga wawancara dan sekumpulan ungkapan. Wawancara pertama yaitu meneliti keputusan karir dan tes yang dibentuk; kedua,tes dan konsep pembentukan (menggunakan persentil, contohnya) yang dapat dijelaskan; wawancara ketiga yaitu mendiskusikajn pilihan karir yang potensial dengan sumber informasi karir. Tentunya E.G Willian mengatakan bahwa kompleksifitas ini, ada dalam publikasi terbesarnya melalui karir profesionalnya selama hampir 50 tahun. Namun sayangnya, banyak praktikan tidak mendengarkannya.
5.      Pendekatan Behavioral

Konseling karir behavioral  memiliki sebuah tujuan perkembangan pendekatan penghargaan secara alamiah untuk pemilihan karir, teori dan prakteknya. Pemanfaatan konsep belajar dari psikologi akademik, pemilihan karir dimaksud sebagai produk instrument belajar, yang dapat diajarkan di dalam maupun diluar hubungan konseling melalui aktivitas yang tersusun dengan baik.
Tingkah laku yang berhubungan dengan karir (seperti pencari informasi karir dan tingkah laku wawancara kerja) dimaksud sebagai hasil dari konsekuensi penguatan atau bukan penguatan sebuah tingkah laku personal di masa lalu. Penting untuk dicatat bahwa pilihan meletakkan teknologi modifikasi behavior dan penyusunan kembali kognitif di tangan klien. Pendekatan behavior menjadi sederhana karena konselor mengajarkan klien tentang kemampuan mengontrol diri (Mahoney & Thoresen, 1974; Thoresen & Mahoney, 1974).
Dalam usaha mengembangkan sebuah teori komprehensif terhadap pilihan karir, banyak variabel kognitif, sejalan dengan kemampuan performance dan kecenderungan emosional, ditandai dengan kemampuan pendekatan  tugas  (task-approach  skills)  (Krumboltz,  Mitchell  &  jones, 1978).   Hal ini meliputi kebiasaan bekerja, pengaturan mental, proses perseptual dan pemikiran, standar performance dan nilai, orientasi masalah dan respon emosional.
a.       Tujuan

Sebenarnya untuk membentuk ini , pendekatan behavior secara konstan membutuhkan tujuan konseling yang lebih spesifik dan dapat diteliti (Krumboltz & baker, 1973). Tekanan ini melambangkan ketelitian   pandangan   dalam   prakteknya,   juga   menyederhanakan evaluasi hasil.
Dalam konseling, sejumlah tujuan intermedis yang lebih spesifik  mungkin  berhubungan  dengan  meningkatkan  level kemampuan dalam area penting bagi pembuat keputusan karir. Hal ini termasuk nilai penjelasan, pengaturan tujuan, perkiraan peristiwa yang akan datang, penyebab memilih, pencari informasi, perkiraan, memandang kembali masa lalu, pengurangan dan pemilihan pilihan, perencanaan   dan   penyamaratakan   (Krumboltz   &   baker,   1973). Keadaan klien mendikte bidang yang ditekankan. Setiap kasus, klien memutuskan  tujuan  dari  konseling.  Jika  sistem  nilai  konselor  atau kompetensi di sebuah area khusus yang tidak memperbolehkan persetujuan   dengan   tujuan   klien,   kemudian   sebuah   penyerahan dimulai.
b.      Proses Konseling

Krumboltz dan baker (1973, hal 240) menggarisbawahi proses konseling sebagai berikut;
a.         Mendefinisikan masalah dan tujuan klien

b.        Persetujuan satu sama lain dalam mencapai tujuan konseling

c.         Membangkitkan solusi masalah pilihan

d.        Mengumpulkan informasi tentang pilihan tersebut

e.         Menguji konsekuensi pilihan

f.         Menyelesaiakanm tujuan, apilihan dan konsekuesinya

g.        Membuat  keputusan  atau  pilihan  sementara  sekumpulan  pilihan dalam perkembangan baru dan kesempatan baru
h.        Membangkitkan proses keputusan terhadap masalah baru

Konselor behavior karir menggunakan teknik penguatan  model kehidupan dan model catatan untuk membantu klien belajar tentang informasi   dan   manfaat   perkembangan   keputusan   karir.   Teknik simulasi, digambarkan dengan dengan job experience kit (Krumboltz, 1970), yang dikembangkan.    Konselor bahavioral memandang ketertarikan   tersebut   bukanlah   sifat   bawaan   lahir,   tetapi   dapat dipelajari karakteristiknya, dan bahan ajar yang dipadukan dengan pengalaman hidup.
Sebuah keuntungan penting terhadap pendekatan behavioral datang dari pemahaman yang mudah terhadap methodologi balik dan antara konseling dan  pengalaman bimbingan  yang terencana dalam kelompok dan kelas. pelajaran sistem ini dapat membantu konselor untuk  mengembangkan  program  pengembangan  pemahaman  karir. oleh karena itu konsistensi dan keseragaman praktek dapat dipakai.

B.     Unsur Pendekatan Komprehensif Crite
Crites (1974,1976,191) menerbikan artikel mayor lainnya dan   buku dimana dia menggambarkan sebuah unsur konseling karir, tergantung tidak hanya  pada pendekatan  tetapi  juga  pada usaha  awalnya.  Dia beranggapan bahwa tidak ada pendekatan konseling yang cukup dalam menyediakan bimbingan yang memadai bagi prakteknya. Meskipun, masing-masing sistem yang ditinjau ulang membuat kontribusi signifikan terhadap praktek konseling karir.  Oleh  karena  itu,  unsur  pendekatan  kepemimpinan  mungkin menyediakan basis terbaik terhadap teori dan prakteknya.
Dalam usaha sinstesis Crites (1976) menyusun taksonomi pendekatan konseling karir, membandingkan dan membalikkan mereka berdasarkan teoridan metode. Kontribusi teoritikal dibagi menjadi isu dan diagnosa, proses konseling, dan hasil yang diajukan. Dia merasa bahwa metode konseling karir dapat dimengerti lebih baik ketika dibagi menjadi teknik interview, metode interpretasi tes, dan informasi penggunaan pekerjaan. Pada masing-masing area ini, Crites menggambarkan bahwa sebuah unsur pendekatannya dan pendekatan lainnya. Dia menggambarkan dan meningkatkan apa yang ditawarkan oleh konseling trait-and-factor dan konseling perkembangan karir.
1.      Diagnosa.
Crites percaya bahwa diagnosa praktek menjawab apa dan mengapa masalah klien dalam membuat keputusan karir. Dalam membangkitkan diagnosa, tes dan informasi wawancara yang berguna. Dia merekomendasikan penggunaan Career Maturity Inventory (yang dikembangkan  oleh Crites) bagi  ketelitian dalam  menilai  sikap  pilihan karir dan kompetensinya. Hal ini menyediakan informasi penting yang dianggap sebagai kesiapan memilih keputusan dan gayanya.
2.      Proses.
Dalam survey proses konseling karir secara umum, Crites mengidentifikasikan tiga tahap yang diakui sebagai penyelesaian masalah. Pertama, tim konslor/klien yang mengumpulkan informasi latar belakang terhadap  masalah;  kedua,  tim  mengklarifikasi  dan  menyatakan masalahnya; akhirnya, hal ini didiskusikan dan dilaksanakan solusinya. Tahap tengahnya adalah tahap terpanjang.
3.      Hasil.
Crites menekan berulang-ulang bahwa diagnosa dalam konseling menentukan hasil. Bagi konseling yang bertujuan dari mulai sampai akhir, diagnosa dan hasil harus berhubungan. Oleh karena itu, perkembangan kebutuhan kedewasaan bagi keputusan karir sering menjadi sebuah hasil. Dengan menekankan pada diskusi hasil yaitu penyambung antara hasil yang berhubungan dengan karir dan kesesuaian seluruhnya.
4.      Interview.
Untuk  meningkatkan  hasrat  hasil,  Crites  merekomendasikan daftar  teknik   wawancara.   Dalam   permulaan   konseling,   ketika  latar belakang  masalah  telah  diteliti,  respon  konselor  reflektif  terlihat  juga. Crites melihat bahwa tahap tengah konseling sebagai periode dimana konselor  menginterpretasikan  dan  berhubungan  dengan  penggambaran pada tingkah laku dimasa silam. Sebagai resolusi masalah aktual dimulai pada tahap akhir konseling, aspek teknis konseling traits-and-factor dan konseling behavioral terlihat sesuai. Oleh karena itu, pandangan Crites terhadap teknik interview terlihat konsisten dengan strategi interview seumur hidup, mungkin  yang paling diatur oleh Cormier dan  Cormier (Cormier, & Cormier, 1991).
5.      Interpretasi Tes.
Crites mengaku bahwa interpretasi tes memiliki tradisi sepanjang konseling karir. Khususnya kepuasaan perkiraan karir. Meskipun, dia mendokumentasikan penurunan ketertarikan pada tes dan penggunaan mereka, masukan bahwa sebuah metode baru bagi interpretasi tetap  mempertahankan  kegunaan  tes  sebagai  sumber  penting  feedback tetapi mengurangi kebingungan dan kesalahan yang biasa terjadi di masa lalu.   
6.      Evaluasi.
Antara  Holland  dan  (1976)  dan  Roe  (Roe,  1976),  telah menuliskan kritik terhadap pendekatan Crites. Catatan lalu yaitu Crites memiliki diagnosa yang menekankan berlebihan, khususnya karena ketika aktivitas itu memiliki pendukung moderat yang baik dari peneliti dan praktikannya. Penggambaran Crites terhadap hubungan konseling dan parallel antara karir dan perkembangan sosial juga dikritisi oleh pewawancara khususnya Holland, yang menyatakan bahwa konseling individu adalah perawatan yang tidak ekonomis dibandingkan dengan program pembuat keputusan lainnya (seperti the Self-Directed Search).

RUJUKAN

Brown, and Lent. 2005. Career Development And Counseling: Putting Theory And Research To Work. Ebook.
Brown, S.D., Lent, R.W. ­2013. Career Development and Counseling: Putting Theory and Research to Work. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons Inc.
Crites, J.O (1969) Vocational Psychology The Study Of Vocational and Development. United States of America-New Tork: McGraw-Hill
Crites, J.O (1980) Caree Counseling : Models. Methodes, and Material. New Tork: McGraw-Hill Book Company



No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...