Friday, 12 June 2020

Ideologi Pendidikan


Ideologi Pendidikan

Dalam buku yang berjudul “dasar teori dan praksis pendidikan” telah dijelaskan bahwa “Ideologi merupakan dasar pegangan yang sangat kuat terkait dengan ide, teori ataupun sistem yang diakui kebenarannya, diikuti serta diperjuangkan dan dilaksanakan secara praktik, dengan komitmen, dedikasi dan tanggung jawab yang setinggi-tingginya , kalau perlu dengan pengorbanan apapun juga”, sedangkan “kegiatan pendidikan, diyakini sebagai upaya yang unik, istimewa dan menentukan kualitas hidup manusia melalui pengembangan HMM (meliputi: unsur-unsur hakikat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya); sebagai kegiatan yang tidak boleh gagal dan terhindar dari kecelakaan-kecelakaan pendidikan, memerlukan dasar yang benar-benar kuatdemi pelaksanaannya yang berhasil”. (Prayitno, 2009:317)
Dengan demkian, kegiatan pendidikan yang intinya adalah proses pembelajaran memerluakan ideologi sebagai landasan yang kuat. Untuk menjamin kelancaran proses dan hasil pembelajaran. Pendidikan perlu dilengkapi dengan ideologi ini agar pelaksanaan pendidikan yang menjadi kewajibannya terlaksna dengan baik dan mampu dipertangung jawabkan.
Sehingga pendidikan juga tidak bisa lepas dari ideologi yang berkembang ditengah masyarakat. Ideologi ini turut mewarnai pendidikan sehingga pendidikan yang dilakukan ditengah masyarakat memiliki karakteristik tertentu yang identik dengan ideologi tertentu pula. Setidaknya ada tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu konservatif, liberal dan kapitalis. Perbedaan dari ketiga ideologi tersebut terkait dengan bagaimana pandangan manusia terkait dengan apa yang menimpanya. Hal ini akan berdampak pada metode dan cara pembelajaran yang diberikan oleh pendidikan dengan ideologi tertentu
1.      Ideologi Pendidikan Liberal
Idiologi pendidikan liberal bermuara pada konsep modernisasi di Barat. Salah satu faktor modernitas adalah pengakuan sepenuhnya terhadap kebebasan individu. Di samping kebebasan individu, modernisasi juga mengedepankan kebebasan kuasa akal manusia (rasionalis). Ideologi pendidikan liberal berkiblat pada aliran filsafat eksistensialis dan progresifisme.
Ideologi liberalisme ini berakar pada cita-cita individualisme Barat. Menurut cita-cita ini gambaran manusia ideal adalah manusia rasionalis liberal, yakni semua manusia mempunyai potensi sama dalam intelektual, baik tatanan alam ataupun sosial dapat ditangkap oleh akal, serta individu-individu di dunia atomistis dan atonom. Oleh karena itu, ideologi pendidikan liberal tidak bisa lepas dari dasar filosofnya yakni disebut aliran filsafat positivisme yang mana seperti pendewaan terhadap scientific method serta adanya pemisahan antara fakta dengan nilai menuju pemahaman obyektif. Adapun positivisme itu sendiri merupakan paradigma keilmuan yang berakar dari filsafat rasionalisme.
Dalam konteks potensi, akal manusialah yang dipandang paling urgen dalam ideologi pendidikan liberal. Manusia dipandang sebagai binatang yang rasional (animal rasional) merupakan kelainan tersendiri bagi ragam eksistensi yang ada. Manusia tidak bisa disamakan dengan eksistensi lainnya yang tidak berakal. Di samping pendewaan akal manusia, ideologi pendidikan liberal juga mengakui atas hak-hak individu manusia. Maksudnya, setiap manusia memiliki kebebasan memilih dan bertindak sesuai dengan hatinya, orang lain tidak punya hak atas tindakan dan pilihannya. Oleh karena itu ideologi pendidikan liberal bernuansa kebebasan manusia secara individual. Menurut Strate, manusia atau keadaan kebebasan untuk memembentuk dirinya dengan kemamauan dan tindakannya. Kehidupan manusia itu mungkin tidak mengandung arti bahkan tidak masuk akal, tetapi manusia dapat hidup seperti ini, maka manusia dapat menangani masalahnya sendiri dan mengandalkan pilihan dan tindakan supaya dapat hidup di dunia.
Ideologi pendidikan liberal juga mengalami beberapa anomali yang memerlukan penambahan-penambahan. Kebebasan manusia menurut paradigma ini bermuara pada prinsip individualisme sebagai konsekuensi dari arus modernisasi Barat yang cenderung kering dari kehidupan religiusitas. Dalam ideologi ini cenderung terjadi pendikotomian antara pendidikan Islam dan pendidikan umum, dikarenakan Agama tidak dijadikan suatu bagian dari ilmu pengetahuan.
Pendidikan di abad modern seperti sekarang ini merupakan pengewajantahan dari ideologi pendidikan liberal yang pada mulanya bermuara pada rasionalisme dan kebebasan individu, yaitu suatu kontruki filosfis tentang beragam konsep pendidikan yang lebih mengutamakan pada tiga aspek individualisme, rasionalisme, dan empirisme. Dengan tiga aspek tersebut secara otomatis seluruh nilai-nilai humanis di akui oleh publik dunia.
 Ideologi liberal tidak jauh berbeda dengan konservatif, yaitu sama-sama berpendirian bahwa pendidikan adalah politik, dan excellen haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum liberal beranggapan bahwa masalah masyarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan adalah struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender di masyarakat luas. Pendidikan justru dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik. Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan formal seperti sekolah, maupun pendidikan non-formal seperti berbagai macam pelatihan.
Kemudian liberlisme juga merupakan prinsip dasar neokolonialisme yang tidak hanya berlaku dalam domain ekonomi, melaikan sudah merambat ranah pendidikan. Pada mulanya liberalisme merupakan dasar ekonomi klasik yang dimotori oleh salah satu tokoh yaitu Adam Smith lewat karyanya Wealth of Nation (1776). Sistem ekonomi klasik tersebut mempunyai kaitannya dengan "kebebasan (proses) alami" yang dipahami oleh sementara tokoh-tokoh ekonomi sebagai ekonomi liberal klasik. Konsep kebijakan dari ekonomi (globalisasi) liberal ialah sistem ekonomi bergerak kearah menuju pasar bebas dan sistem ekonomi berpaham perdagangan bebas dalam era globalisasi yang bertujuan menghilangkan kebijakan ekonomi proteksionisme.
 Ideologi liberalisme berpijak pada tiga keyakinan: pertama, kebebasan individu (personal liberty); kedua, pemilikan pribadi (private property); ketiga, inisiatif individu serta usaha swasta (private interprise). Ketiga inilah yang juga merambah pada sektor pendidikan sehingga menjadikan pendidikan ditentukan oleh pasar. Dalam hal tersebut bisa dilihat dari Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Dalam peraturan tersebut menegaskan dimulainya pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, dan pendidikan non-formal dapat dimasuki oleh modal Asing dengan batasan kepemilikan maksimal 49 persen. Hal tersebut sudah sangat jelas mengindikasikan terjadinya komersialisasi pendidikan atau bisa dikatakan komoditas dagang.
Liberalisasi pendidikan tidak cukup sampai di situ, karena hal itu juga dapat dilihat dari RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan pada 17 desember 2008. Adapun penegasan dalam BHP dapat diamati pada Pasal 4 ayat 1;
Pengelolaan dana secara mandiri oleh badan hukum pendidikan didasarkan pada prinsip nirlaba, yaitu prinsip kegiatan yang tujuan utamanya tidak mencari laba, sehingga seluruh sisa hasil usaha dari kegiatan badan hukum pendidikan, harus ditanamkan kembali ke dalam badan hukum pendidikan untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan pendidikan.

Dalam pasal ini, jelas bahwa institusi pendidikan layaknya akan menjadi sebuah perusahaan, walaupun dihiasi dengan prinsip nirlaba, ketika institusi pendidikan dijadikan layaknya perusahaan, maka yang memiliki uang sajalah yang dapat mengakses pendidikan, dan yang tidak memiliki uang maka akan tersingkir.
2.      Ideologi- ideologi Pendidikan Konservatif
Semuanya, merentang dari ungkapan religious dari fundamentalisme pendidikan, kesudut terjauh yang paling kurang konservatif. Fundementalisme meliputi semua corak Konservatisme politik yang pada dasarnya anti-intelektual dalam arti bahwa mereka ingin meminimalkan pertimbangan-pertimbangan filosofis dan atau intelektual, serta cenderung untuk mendasarkan diri mereka pada penerimaan yang relative tanpa kritik terhadap kebenaran yang diwahyukan atau yang biasanya diabsahkan sebagai akal sehat.
Fundamentalisme dalam pendidikan, bagi seorang fundamentalisme, masyarakat kontemporer dihadapkan pada keruntuhan moral dalam waktu dekat, dan keharusan tertinggi yang musti dilakukan adalah merombak tolak ukur-tolak ukur keyakinan dan perilaku konvensional dengan cara kembali ke ciri-ciri kebaikan yang lebih tinggi di masa silam. Sejalan dengan itu, sasaran pendidikan adalah untuk memulihkan cara-cara yang lebih tua umurnya dan yang lebih baik, demi membangun kembali tatanan sosial yang ada. Dalam ideologi pendidikan ada dua corak dasar fundamentalisme pendidikan, yaitu:
a.       Fundamentalisme sekular
Fundamentalisme ini, tidak memiliki kepastian- kepastian religius. Dan mesti memakai istilah religius atau semu religius, namun ia cenderung untuk mendasarkan posisinya pada prakiraan- prakiraan yang kurang lebih bersifat intuitif.
b.      Fundamentalisme religius
Cici-ciri Umum Fundamentalisme Pendidikan dapat Dikarakterisasikan sebagai berikut :
1)      Pengetahuan merupakan alat untuk membangun masyarakat dalam mengejar pola kesempurnaan moral yang pernah ada dimasa silam.
2)      Manusia adalah agen moral, yang taat pada aturan- aturan moral yang lengkap dan menekankan pada nilai patriotism yang dirumuskan secara sempit.
3)      Menentang pengujian kritis terhadap pola-pola keyakinan dan perilaku yang mereka pilih.
4)      Pendidikan pertama- tama dipandang sebagai proses regenerasi moral.
5)      Sebuah orentasi ulanh yang bersifat korelatif terhadap pandangan modern yang terlalu menekankan masa kini dan masa depan.
6)      Menekankan pengenalan kembali, kebutuhan untuk kembali kepada kebaikan-kebaikan yang nyata atau yang dikhayalkan ada di era yang lalu.
7)      Berdasarkan pada sistem sosial dan/ atau keagamaan yang tertutup, yang menjadi ciri era sebelumnya.
8)      Berlandasan prakiraan- prakiraan yang tersirat yang tidak pernah diuji kebenaranya tentang hakikat kenyataan umumnya didasarkan pada akal sehat.
9)      Wewenang intelektual tertinggi berada di tangan komunitas orang- orang yang memiliki  iman sejati

3.      Ideologi Pendidikan Kapitalisme
Secara bahasa Kata kapitalisme berasal dari capital yang berarti modal, dengan yang dimaksud modal adalah alat produksi seperti misal tanah, dan uang. Dan kata isme berarti suatu paham atau ajaran. Jadi arti kapitalisme itu sendiri adalah suatu ajaran atau paham tentang modal atau segala sesuatu dihargai dan diukur dengan uang.
Dalam sejarahnya, seperti yang diungkap oleh Dudley Dillard, kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai system ekonomi yang mendominasi dunia barat sejak runtuhnya feodalisme. Sebagai dasar bagi setiap system, yang disebut “kapitalis” ialah hubungan-hubungan di antara pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat nonpribadi (tanah, tambang, instalasi industry, dan sebagainya yang secara keseluruhan disebut modal atau kapital) dengan para pekerja yang iarpun bebas namun tak punya modal, yang menjual jasa tenaga kerjanya kepada majikan. Di bawah kapitalisme, keputusan yang menyangkut produksi dibuat oleh kaum bisnis swasta dan diarahkan demi keuntungan pribadi. Para pekerja itu bebas dalam arti bahwa secara hukum mereka tidak dipaksa untuk bekerja kepada para pemilik alat produksi itu. Namun demikian, karena para pekerja itu tidak memiliki alat produksi yang diperlukan untuk bekerja sendiri, mereka dipaksa oleh kenisccayaan ekonomis untuk menawarkan jasa, dengan syarat tertentu kepada para majikan yang mengendalikan alat produksi. Hasil tawar-menawar yang menyangkut upah akan menentukan proporsi di mana produksi total masyarakat akan di bagi antara kelas pekerja dengan kelas wiraswasta kapitalis.
Ideologi kapitalisme adalah ideologi pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kapital dan permodalan. Nilai-nilai yang dikembangkan oleh ideologi ini adalah nilai persaingan tanpa batas, atau yang sering disebut dengan hukum rimba. Kompetisi adalah hal pokok dalam kehidupan. Tanpa adanya kompetisi, kehidupan tidak akan pernah ada. Karana hidup pada dasarnya adalah sebuah persaingan, maka muncullah stigma bahwa dalam masyarakat yang beridiologi kapitalisme, pihak yang terkuat, baik secara ekonomi, intelektual, politik, maupun militer adalah yang survive dan berkuasa. Individualisme dan personalisme adalah sebagian sikap yang melekat pada masyarakat kapitalis. Hak individu tidak dapat diganggu gugat walaupun oleh pemerintah yang sedang berkuasa sekalipun.

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...