Saturday, 13 June 2020

Hakikat Manusia

Hakikat Manusia
Hakikat manusia merupakan inti dari kemanusiaan manusia. Dari awal penciptaannya, dalam kondisi keberadaannya diatas  bumi, sama dengan perjalanannya kembali ke sang maha pencipta.  Manusia memperoleh kehormatan dan kesempatan untuk mengaktualisasikan hakikat dirinya itu dalam keseluruhan proses kehidupannya di dunia dan di akhirat. Dengan berbekal hakikat yang selalu melekat pada dirinya, manusia mengembangkan hidupnya di atas bumi.  Dengan teraktualisasikan hakikat dirinya, manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu kehidupan yang mulia, bermartabat dan membahagiakan. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan kemanusiaan.

1.      Dimensi kemanusiaan
Dalam kerangka harkat dan martabat manusia secara menyeluruh, aktualisasi kehidupan manusia berdasarkan hakikatnya itu, tidaklah berlangsung dengan sendirinya dan pula tidak sekedar tampak seperti apa adanya.
Seorang individu yang sejak kelahirannya (dan dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia itu, untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang tidak lain adalah juga cakupan wilayah hak asasi manusia yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah:
a.       Dimensi kefitrahan
Kata kunci yang menjadi isi dimensi kefitrahan adalah kebenaran dan keluhuran. Kandungan dimensi kefitrahan ini dapat dibandingkan dengan makna teori tabularasa (jhon locker). Menyatakan bahwa individu ketika dilahrkan ibarat kertas putih, bersih dan belum tertulis apapun. Dengan kefitrahannya itu, individu memang pada dasarnya, sejak dilahirkan dalam keadaan bersih. Namun, kondisi belum tertuliskan apapun  sebagaimana dinyatakan dalam teori tabularasa  tidaklah menjadi ciri dimensi kefitrahan yang dimaksudkan itu. Didalam kefitrahan telah tertuliskan kaidah-kaidah kebenaran dan keluruhan yang justru menjadi cirri kandungan utama dimensi ini. Jadi dengan demikian dimensi kefitrahan tidak sama dengan tabularasa menurut jhon locke.
b.      Dimensi keindividualan
Kata kunci yang terkandung dalam dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Disini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potens, baik potensi fisik maupun mental psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Kenyataan keilmuan yang menampilkan isi dimensi keindividualan ini adalah apa yang sering digolongkan kedalam kaidah-kaidah perbedaan individu (individual difference) dan penampilan statistic berupa kurva (baik kurva normal ataupun kurva tidak normal).
c.       Dimensi kesosialan
Kata kunci dari dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahsa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalani komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Disamping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individual lain dalam berbagai bentuk.
d.      Dimensi kesusilaan
Kata kunci kandungan dimensi kessilaan adalah nilai dan moral. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi (misalnya dengan diberi label baik), seang (dengan label cukup), atau rendah (dengan label rendah). Rentang penilaian itu dapat dipersempit dapat pula diperlebar. Sedangkan ketentuan moral biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hokum ilmu dan kebiasaan.
e.       Dimensi keberagaman
Kata kunci kandungan dimensi keberagamaan adalah iman dan taqwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecendrungan dan kemampuan untuk mempercai adanya sang maha pencipta dan maha kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintahnya.

2.      Pancadaya.
Untuk memungkinkan perkembangan individu kearah yang dimaksud itu manusia dikaruniai oleh sang maha pencipta lima jenis bibit pengembangan yang dalam ini disebut pancadaya yaitu:
a.       Daya takwa.
Merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia (masing-masing individu) untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan tuhan yang maha esa.
b.      Daya cipta.
Bersangkut paut dengan kemampuan akal, pikiran, fungsi kecerdasan dan fungsi otak
c.       Daya rasa.
Mengacu kepada kekuatan yang mendorong individu atau emosi yang sering disebut sebagai unsur afektif. Hal-jal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk kedalam daya rasa.
d.      Daya karsa.
Merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu, secara dinamis bergerak dari satu posisi ke posisi lain, baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya, untuk berkembang, untuk berubah dan keluar dari kondisi status-quo.

e.       Daya karya
Mengarah pada yang dihasilkannya nyata yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri, orang lain atau lingkungan.
Pancaday yang merupakan potensi dasar kemanusiaan itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan.

B.     Hakekat manusia dalam berbagai pandangan.
1.      Pandangan filsafat tentang hakekat manusia
Dalam buku filsafat pendidikan (jalaludin dan Abdullah, 2013), Dalam hal ini menjelaskan, ada empat aliran yang akan dibahas. Yaitu:
a.       Aliran serba zat. Aliran ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Menurut Muhammad nursyam (1991). Mengatakan bahwa “Alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu, manusia adalah zat atau materi”.
b.      Aliran serba roh. Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ini ialah roh.  Sementara zat adalah maniifestasi dari roh. Menurut fiche, segala sesuatu yang ada (selain roh) dan hidup itu hanyalah perumpamaan, perubahan atau penjelmaan dari roh. Dasar pikiran aliran ini adalah bahwa roh itu lebih berharga, lebih tinggi nilainya dari pada materi.
c.       Aliran dualism. Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya  terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini masing-masing merupakan unsure asal, yang adanya tidak tergantung satu sama lain
d.      Aliran eksistensialisme. Aliran fisafat modern berpandangan bahwa hakikat manusia merupakan eksistensi dari manusia. Hakikat manusia adalah apa yang menguasai manusia secara menyeluruh.

2.      Pandangan ilmu pengetahuan tentang hakikat manusia.
Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.
Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu: Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus. Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus. Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis). Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.
Manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.
Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik.Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.
Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan. Kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas.Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Diantara karakteristik manusia adalah :
a.       Aspek Kreasi
b.      Aspek Ilmu
c.       Aspek Kehendak
d.      Pengarahan Akhlak

C.    Hakikat manusia dan pengembangannya.
Sasaran pendidikan adalah manusia. Penidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki cirri khas yang secara perinsipil berbeda dari hewan. Cirri khas manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu (integrated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia.
1.      Sifat hakikat manusia
Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Beberapa filosof seperti Socrates menamakan manusia itu zoon politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit). (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 3) yang selalu gelisah dan bermasalah.
Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan. Charles Darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera, tetapi ternyata gagal. Tidak ditemukannya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera melalui proses evolusi yang besifat gradual.
2.      Wujud sifat hakikat manusia
Dalam hal ini Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010 memaparkan wujud sifat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan yaitu:
a.       Kemampuan menyadari diri.
Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia menyadari bahwa dirinya memiliki ciri khas atau karakteristik diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan orang lain ataupun hewan disekitarnya. Bahkan bukan hanya bisa membedakan, namun juga bias membuat jarak (distansi) dengan lingkungan baik yang berupa pribadi maupun non pribadi (benda).

b.      Kemampuan bereksistensi
Karena manusia memiliki kemampuan bereksistensi maka pada manusia terdapat unsur kebebasan. Dengan kata lain, adanya manusia bukan “ber-ada” seperti hewan didalam kandang dan tumbuh-tumbuhan didalam kebun, melainkan “meng-ada” di muka bumi. (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 6).
Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan, peserta didik akan diajar agar belajar dari pengalaman, belajar mengantisipasi waktu keadaan dan peristiwa, belajar melihat prospek masa depan Serta mengembangkan daya imajinasi kretif sejak dari masa kanak-kanak.

c.       Kata hati (conscience of man)
Manusia memiliki pemahaman yang menyertai tentang apa yang akan, yang sedang, dan yang telah dibuatnya, bahkan mengerti juga akibatnya (baik atau buruk) bagi manusia sebagai manusia.
Dengan sebutan “pelita hati” atau “hati murni” menunjukkan bahwa kata hati itu adalah kemampuan pada diri manusia yang memberi penerapan tentang baik buruknya perbuatannya sebagai manusia. Dengan kata lain dapat disimpulkan juga bahwa kata hati itu adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik/benar dan yang buruk/salah bagi manusia sebagai manusia.

d.      Moral
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan, maka yang dimaksud dengan moral (yang sering juga disebut etika) adalah perbuatan itu sendiri. Seseorang dikatan bermoral tinggi karena ia menyatukn diri dengan nilai-nilai yang tinggi, serta segenap perbuatannya merupakan pergerakan dari nilai-nilai yang tinggi tersebut.

e.       Tanggung jawab.
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab, merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab. Wujud orang bertanggung jawab bermacam-macam, ada tanggung jawab pada diri sendiri, tanggung jawab kepada masyarakat, dan tanggung jawab kepada tuhan.
Disini tanpak betapa eratnya hubungan antara kata hati, moral dan tanggung jawab. Kata hati memberi pedoman, moral melakukan, dan tanggung jawab merupakan kesedian menerima konsekuensi dari perbuatan.

f.       Rasa kebebasan
Merdeka adalah rasa bebas, tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Dalam pernyataan ini ada dua hal yang kelihatannya saling bertentangan yaitu “rasa bebas” dan “sesuai dengan tuntutan kodrat manusia” yang berarti ada ikatan.
Orang yang hanya mungkin merasakan adanya kebebasan batin apabila ikatan-ikatan yang ada telah menyatu dengan dirinya, dan menjiwai segenap perbuatannya. Dengan kata lain, ikatan luar (yang membelenggu) telah berubah menjadi ikatan dalam (yang menggerakkan).

g.      Kewajiban dan hak
Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai menifestasi dari manusia sebagai makhluk sosial. Dalam realitas hidup sehari-sehari, umumnya hak diasosiasikan dengan sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dipandang sebagai suatu beban. Benarkah kewajiban dianggap beban oleh manusia? Ternyata bukan beban melainkan suatu keniscayaan. (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 10). Artinya selama seseorang menyebut dirinya manusia dan mau dipandang sebagai manusia, maka kewajiban itu menjadi keniscayaan baginya. Sebab jika mengelakkan maka ia berarti mengingkari kemanusiaannya (yaitu sebagai kenyataan makhluk social).

h.      Kemampuan menghayati kebahagiaan
Kebahagiaan itu dapat diusahakan peningkatannya. Ada dua hal yang dapat dikembangkan, yaitu: kemampuan berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalam kaitannya dengan takdir. Dengan demikian pendidikan mempunya peranan penting sebagai wahana untuk mencapai kebahagiaan, utamanya pendidikan keagamaan.
Pandangan Max Scheler tentang manusia “Manusia yang menghargai kebahagiaan adalah pribadi manusia yang menghayati segenap keadaan dan kemampuannya. Manusia menghayati  kebahagiaannya apabila jiwanya bersih dan stabil, jujur, bertanggung jawab, mempunyai pandangan hidup dan keyakinaan hidup yang kukuh dan bertekat untuk merealisasikan dengan cara yang realistis.” (Umar Tirtahardja dan S.L.La Sulo, 2010: 16).

Referensi
Jalaludin dan Abdullah, 2013. filsafat pendidikan (manusia, filsafat, dan pendidikan). Jakarta. Rajawali Pers


 Musthofa,Rembagy.2008. Pendidikan Transformatif .Yogyakarta.Teras

Prayitno, 2009.dasar teori dan praksis pendidikan. Jakarta. PT grasndo

Tirtahardja, Umar dan La Sulo,S.L, 2010. Pengantar pendidikan. Jakarta. PT. Rineka Cipta


No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...