Saturday, 27 June 2020

Burnout dan Proses Bimbingan dan Konseling


 Burnout dan Proses Bimbingan dan Konseling
Burnout telah didefinisikan dalam berbagai cara karena konstruk diperkenalkan pada tahun 1974. Definisi pertama burnout, sebagai bagian dari fisik dan emosional di tempat kerja, diusulkan oleh Freudenberger (Lent, 2012:355). Burnout adalah “terkurasnya kondisi jasmania atau rohani seseorang, sehingga tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya” (Glading, 2012:43). Burnout sering juga disebut stes kerja, stes kerja ini tentunya akan mempengaruhi kinerja konselor. Karena stes kerja dapat mempengaruhi kondisi psikologisnya, konselor tidak dapat berfikir secara normal dan menanggapi masalah konseli dengan berbeda, bahkan konselor di tuntut untuk keluar dari profesi konseling. Pada jurnal yang dipaparkan oleh Jonathan Lent dan Robert C. Schwartz dengan judul “The impact of work setting, demographic caracteristics, and personality factors related to burnout among profesional counselors melihat beberapa pengaruh dari pengaturan kerja, karakteristik demografi dan faktor personal konselor yang mempengaruhi burnout. Pada seting kerja di klinik dilihat memiliki lebih banyak pengaruh pada stres kerja pada konselor. Namun kenyataanya bahwa konselor di Indonesia belum banyak yang masuk pada ranah rumah sakit atau klinik perawatan. Namun ada beberapa rumah sakit yang memperkerjakan konselor yang berlatar belakan pendidikan agama, atau konselor yang berasal dari sekolah berbasis agama. Namun jumlahnya tidak banyak dan di Indonesia konselor lebih sering dikenal di ranah pendidikan. tidak dipungkiri di dunia pendidikan pun ada konselor yang mengalami stres kerja. Diperkuat oleh pendapat Emerson dan Markos dalam Glading (2012:43) diperkirakan rata-rata 39% konselor sekolah dan komunitas pasti pernah mengalami masalah burnout dari tingkat menengah hingga ke tingkat tinggi sepanjang karirnya.
Penelitian ini juga menunjukan bahwa tingkat burnout pada perempuan jauh lebih tinggi daripada tingkat burnout pada laki-laki dalam taraf professional atau pengalaman kerja yang sama. Beberapa hal memang di ketahui bahwa Gulbertson (Santrock, 2002:126) mengatakan bahwa “perempuan lebih cenderung depresi daripada laki-laki.”  Namun kenyataannya di Indonesia lebih banyak konselor perempuan daripada konselor laki-laki di ranah pendidikan. Sebagai contoh di Jarakta yaitu “guru bimbingan dan konseling di SLTP se-Jakarta terdiri dari 54 guru bimbingan dan konseling perempuan dan 14 guru bimbingan dan konseling laki-laki” (Andangsari, 2010:52). Hasil dari penelitan Andangsari (2010:59) menggambarkan :
…mengenai anggapan bahwa guru BK perempuan dinilai lebih sesuai untuk menjadi konselor daripada guru BK laki-laki, ternyata anggapan tersebut dapat dipatahkan. Guru BK laki-laki justru memiliki kualitas empati yang tidak berbeda dengan guru BK perempuan. Malahan guru BK laki-laki, berdasarkan hasil asesmen DISC ini menunjukkan perilaku komunikasi yang lebih persuasif dalam mengarahkan siswanya ketimbang guru BK perempuan. Guru BK perempuan cenderung lebih dominan dalam berkomunikasi dengan para siswa. Bahkan, guru BK laki-laki dalam penelitian ini terlihat memiliki kualifikasi yang lebih sesuai dengan tuntutan kualifikasi seperti yang ditetapkan oleh pemerintah daripada guru BK perempuan. Keempat, guru BK perempuan dalam menjalin relasi dengan para siswanya memang lebih hangat dan mampu menjalin relasi lebih dekat dengan para siswa ketimbang guru BK laki-laki. Kelima, guru BK laki-laki berdasarkan hasil asesmen DISC lebih berorientasi pada data dalam melakukan konseling…
Penelitian Jean Baker Miller juga mamandang bahwa “ketika maneliti apa yang dilakuakn oleh perempuan dalam hidup mereka, sebagian besar berada dalam keterlibatan aktif dalam perkembangan orang lain. Perempuan seringkali berinteraksi dengan orang lain dengan cara membantu perkembangan emosional, intelektual, dan sosial orang lain” (Santrock, 2012:127). Karena hal-hal tersebutlah yang mempengarui persepsi masyarakat bahwa konselor (guru bimbingan dan konseling) lebih baik perempuan. Mereka beranggapan perempuan akan lebih telaten dan profesi guru tidak menuntut banyak beban fisik sehingga pendaftar di universitas lebih banyak mahasiswa perempuan dari pada laki-laki. Namun pernyataan konselor perempuan lebih banyak mengalami stres kerja dari pada laki-laki memang perlu pertimbangan lagi. Karena pertimbangan jumlah konselor, bisa jadi konselor perempuan dengan tidak memiliki stres kerja tertutup oleh banyaknya jumlah perempuan dengan stres kerja tinggi, karena perbandingan antara konselor perempuan dan laki-laki yang cukup berbeda jauh.
Beban kerja merupakan salah satu faktor kenapa terjadinya burnout pada konselor, namun di Indonesia masih ditemui konselor yang kurang memperhatikan beban kerja dan tanggung jawab konselor yang seutuhnya. Sehingga konselor di Indonesia masih banyak yang menggap bahwa pekerjaan yang tidak memiliki banyak tuntutan. Beberapa  masalah yang muncul dalam sekolah karena kinerja dari konselor, seperti dirangkum dalam Sugiyo (2011:4) berbagai kesalah pahaman dalam memaknai bimbingan dan konseling:
a.       Layanan bimbingan dan konseling hanya diberikan kepada siswa yang bermasalah saja.
b.      Bimbingan disamakan dengan nasihat
c.       Bimbingan dapat berjalan kalau ada tes
d.      Konselor dianggap sebagai polisi sekolah
e.       Pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
f.       Menganggap hasil kerja bimbingan dan konseling harus segera terlihat
g.      Menyamaratakan pemecahan bagi semua klien
h.      Menyamaratakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater
Sebenarnya masalah-masalah tersebut malah yang akan memicu munculnya stres kerja dari konselor. Masalah-masalah yang muncul akan memicu perasaan negatif, seperti kecemasan, kemarahan, atau depresi. Karena konselor merasa tidak bisa menangani masalah konseli dan tidak mendapat dukungan dari lingkungan. Penting sepertinya dukungan dari organisasi, khususnya sekolah terlebih organi profesi konselor sendiri. Hampir sama dengan masalah di Amerika yang memiliki beban kerja yang berat, di sisi lain konselor yang bekerja dengan pemuatan program yang rinci juga mengalami beban kerja yang tinggi. Seperti masalah dalam administrasi “evaluasi program bimbingan di salah satu SMA di DKI Jakarta menunjukakan bahwa sekolah tersebut   tidak membuat perencanaan program bimbingan secara baik.” masalah administrasi seperti evalusi masih tinggi di Indonesia karena pengadministrasian program bimbingan dan konseling dinilai terlalu banyak, jika dilihat dari beberapa profesi lain, seperti dokter yang mamiliki tingkat kerumitan administrasi yang lebih cepat. Sehingga seringkali guru lebih menyibukkan diri dengan administrasi namun layanan yang diberikan lemah. Ini salah satu pemicu stres kerja konselor di Indonesia. Ditambah dengan kurikulum yang selalu berubah mengikuti pergantian menteri menjadi tantangan tersendiri bagi konselor sekolah di Indonesia. Akan lebih baik jika kepala sekolah memberi dukungan yang baik antara anggaran dan administrasi pembuatan program akan sangat mendukung kinerja guru bimbingan dan konseling, namun kenyataannya masih banyak kepala sekolah yang memberikan tugas guru bimbingan dan konseling sebagai kesiswaan atau polisi sekolah.
Karena masalah-masalah yang disebutkan diatas, dalam lingkungan kerjanya konselor perlu dukungan dari segala pihak. Kerjasama tersebut perlu dimulai dengan meluruskan kesalah pahaman dalam bimbingan dan konseling. Karena dalam lapangan ditemukan oleh  Buchori (Badrujaman, 2011:4) bahwa “tenaga guru bk belum mendapatkan tempat yang layak di kebanyakan sekolah.” Lingkungan perlu memberi dukungan untuk mengurai stres kerja atau burnout pada konselor.
Masalah-masalah yang menjadi pemicu burnout tersebut perlu disikapi dengan baik, karena masalah tidak akan pernah berhenti mengikuti perkembangan menuju kondisi yang lebih baik. Penelitian ini (Lent, 2012:366) sudah menyertakan beberapa implikasi atau penanganan burnout pada konselor yang pastinya akan berguna bagi konselor dalam menangani burnout pada dirinya atau lingkungannya, yang di terjemahkan dan dirangkum sebagai berikut:
a.       Skovholt, Grier, dan Hanson menyarankan budaya kepemimpinan organisasi bersedia untuk mempromosikan pentingnya keseimbangan perawatan lainnya/perawatan diri kesehatan.” Di Indonesia dari pihak pemerintah dan bantuan dari ABKIN dapat memberikan beberapa jaminan sosial dan kesehatan untuk berkembangnya profesi konselor dan kenyamanan konselor itu sendiri. Sehingga profesi konselor tidak dipandang sebelah mata.
b.      Menerima dukungan dari rekan-rekan dan mentor dapat membantu normalisasi pengalaman terkait stress kerja. Jika konselor berusaha untuk menekan atau mengabaikan gejala kelelahan, ada kemungkinan bahwa gejala tambahan bisa terjadi. Meskipun pengalaman kerja ada yang memalukan, konselor dapat yakin bahwa pengalaman ini cukup umum untuk dapat diterima oleh rekan-rekan. Dukungan dari konselor ataupun guru yang lain merupakan hal yang penting. Karena konselor akan mudah bangkit dari keterpurukan dengan semangat yang diberikan oleh konselor atau guru lainnya. Namun perlu adanya komunikasi yang baik terlebih dahulu antara konselor dengan teman sejawatnya dengan menunjukan berbagai kinerja yang baik. Tidak sedikit konselor yang dianggap remeh di sekolah karena kinerjanya kurang maksimal.
c.       Skovholt menerangkan dengan menjadi lebih sadar diri, konseling profesional dapat membantu untuk mencegah stagnasi profesional dan kelelahan. Introspeksi memungkinkan konselor untuk menjadi lebih sadar diri, meningkatkan kematangan pribadi, dan meningkatkan efektivitas profesional. Sebagai contoh, kesadaran diri dari sifat IPIP-terkait, seperti kombinasi peningkatan neurotisisme dan kurang keramahan, dapat menyebabkan kerentanan konselor menjadi burnout. Item dari IPIP merujuk pada perilaku berikut, yang dapat penanda ciri-ciri kepribadian yang terkait dengan burnout dalam penelitian ini: "tidak suka untuk diri sendiri" "merasa down dalam kesedihan sering, dan "yang mudah panik".
d.      Skovholt menjelaskan hal ini penting bagi konselor untuk menyeimbangkan perawatan lain dan perawatan diri. Ini mungkin memerlukan bantuan profesional serta perawatan diri pribadi. Schwartz & Kaelber mengatakan bahwa menyeimbangkan empat dimensi pribadi kesehatan, fisik, spritual, emosional, dan sosial adalah hal penting. Hal ini dapat dilakukan dengan membina dan koneksi menantang dengan keluarga, teman, dan lain-lain. Banyak konselor menemukan bahwa konseling profesional meningkatkan fokus mereka pada kesehatan. Akhirnya, kegiatan restoratif, seperti olahraga, meditasi, berbagi perasaan dengan teman, menghabiskan waktu di kegiatan rekreasi, atau menggambar pada sumber daya spiritual, dapat strategi perawatan diri penting. Diharapkan mengambil tindakan pencegahan untuk meringankan stress berkontribusi terhadap kelelahan bisa mengakibatkan berkurangnya ketidakhadiran, kualitas yang lebih besar dari perawatan dengan klien, kurang rasa lelah, dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.
Glading (2012:43) juga memberi beberapa metode untuk menghindari burnout yaitu:
a.       Menjalin hubungan dengan individu yang sehat jasmani dan rohani
b.      Bekerja sama dengan sejawat dan organisasi yang memiliki komitmen dan misi yang jelas.
c.       Menggunakan toeri-teori onseling yang ada
d.      Melakukan latihan mengusir stres
e.       Mengubah hal-hal di lingkungan sekitar yang sekiranya dapat menimbulkan stres.
f.       Melakukan penilaiaan diri (mengidentifikasika hal apa saja yang dapat menimbukan stres dan apa yang membuat rileks)
g.      Secara berkala memeriksa dan mengklarifikasi peranan, tuntutan, keyakinan konseling (seperti bekerja lebih cerdas disbanding lebih lama)
h.      Mengikuti terapi personal
i.        Menyediakan waktu luang dan pribadi (misalnya, gaya hidup seimbang)
j.        Menjaga sikap dan mengambil jarak ketika bekerja dengan klien
k.      Mempertahankan sikap berpengharapan.
Cara-cara diatas dapat di gunakan di Indonesia walaupun di Amerika memiliki latar kerja yang lebih bermacam-macam namun faktor yang mempengaruhi burnout pada konselor di Amerika dan Indonesia masih sama, seperti, perempuan lebih banyak mengalami stres kerja dan perasaan negatif, seperti kecemasan, kemarahan, atau depresi, dan kelebihan beban kerja. Namun yang terpenting adalah bagaimana konselor mencegah munculnya stres kerja yang akan terjadi. Konselor juga dapat mempraktikan beberapa teknik menangani stres yang dimiliki/dikuasai untuk diterapkan pada dirinya.
2.      Daftar Pustaka
Andangsari, Esther Widhi. 2010. Perilaku Kerja Guru Bimbingan Konseling Laki-Laki dan Perempuan Tingkat SLTA di Jakarta. Jakarta: HUMANIORA (dalam bentuk jurnal) diakses melalui research-dashbord.binus.ac.id pada tanggal 13 Oktober 2015.
Badrujaman, Aip.2011. Teori dan Aplikasi Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta:PT Indeks
Glading, Samuel T.2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks.
Lent, Jonathan dan Robert C. Schwartz.2012. The impact of work setting, demographic caracteristics, and personality factors related to burnout among profesional counselors.Huntington: Amerecan Mental Health Counselors Association (Jurnal of Mental Health Counseling) dalam bentuk jurnal
Santrock, John W. 2002. Life Span Developmental Jilid 2 (edisi ke lima). Jakarta: Erlangga
Sugiyo.2011.Manajemen Bimbingan dan Konseling. Semarang: Widya Karya

0 comments:

Post a comment