Sunday, 28 June 2020

BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN


KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN
Bimbingan dan konseling berasal dari Amerika Serikat berawal dari tahun 1980 oleh Frank Person dengan Bironya (Sutarno, tanpa tahun: 1). Saat ini bimbingan dan konseling sudah menyebar di seluruh dunia dengan berbagai pengembangan program. Tujuan dari bimbingan dan konseling tersebut yang membuat program bimbingan dan konseling selalu di kembangkan. Sejalan dengan Sugiyo (2011:15) menjelaskan bahwa “bimbingan dan konseling merupakan serangkaian kagiatan atau aktivitas yang di rancang oleh konselor untuk membantu klien dalam upaya mengembangkan dirinya seoptimal mungkin”. Klien dalam bimbingan dan konseling adalah manusia yang akan selalu berkembang dan mengikuti arus jaman. Saat ini di program bimbingan dan konseling Internasional berpacuan kepada ASCA National Model. Konsep dasar dari Asca National Model adalah:
a.    Ensures equitable access to a rigorous education for all students
b.    Identifies the khowledge and skills all students will acquire as a result of the K-12 comprehensive school counseling program
c.    Is delivered to all students in a systematic fashion
d.    Is based on data-driven decision making
e.    Is provided by a state-credentialed school counselor
ASCA (tanpa tahun) menjelaskan bahwa “Effective school counseling programs are a collaborative effort between the school counselor, parents and other educators to create an environment that promotes student achievement. Staff and school counselors value and respond to the diversity and individual differences in our societies and communities. Comprehensive school counseling programs ensure equitable access to opportunities and rigorous curriculum for all students to participate fully in the educational process” (program konseling sekolah yang efektif adalah upaya kolaborasi antara konselor sekolah, orang tua dan pendidik lainnya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung prestasi siswa. Menghargai staf dan konselor sekolah dan menanggapi keragaman dan perbedaan individu dalam masyarakat dan komunitas kita. Program konseling sekolah komprehensif memastikan akses yang adil terhadap peluang dan kurikulum yang ketat untuk semua siswa untuk berpartisipasi penuh dalam proses pendidikan).
Selain konselor sendiri dalam program konseling komprehensif ini melibatkan steak holder yang ada disekolah. Dari pembuatan program hingga evaluasi program. Di luar negeri dari “dekade akhir yaitu tahun 1990-an sampai dengan awal tahun 2000-an perkembangan bimbingan dan konseling di amerika mengintrodusir “comprehensive Developmental Guidance and Counseling oleh South Caroline Comprehensive Developmental Guidance and Counseling beserta dengan American School Counselor Association (ASCA)”. Sehingga perkembangan kurikulum bimbingan dan konseling di dunia masih sangat dipengaruhi oleh dua asosiasi tersebut.
Peran konselor dtuliskan dalam South Caroline Guidance and Counseling (2008:16) bahwa “They should expect a fully certified school counselor to functionina professional and accountable manner in six basic roles: program management, guidance, counseling, consultation and student advocacy, coordination, and assessment (collaboration and interpretation only)”. Peran dasar konselor agar dapat dikatakan professional dan accountable harus memenuhi enam syarat tersebut.
Komponen dalam program bimbingan dan konseling komprehensif juga digambarkan dalam bagan oleh South Carolina Guidance and Counseling (2008) dalam bagan berikut ini:
Sumber: South Carolina Guidance and Counseling (2008:13)
Bagan diatas menjelaskan elemen untuk bimbingan konseling komprehensif yang ada pada amerika dari area belajar siswa pengorganisasian program, proses dan waktu hingga resources. konsep dari bimbingan dan konseling di Indonesia  juga sudah memakai bimbingan dan konseling komprehensif yang tidak jauh berbeda dengan konsep ASCA ataupun South Carolina Guidance and Counseling, walaupun belum sepenuhnya sama.
Dilihat dari konsep dasar bimbingan dan konseling di Indonesia dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 pada lampiran IV BAB VIII dijelaskan bahwa “Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau  Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan  bimbingan dan konseling, mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling serta  melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi”. Konsep yang dimikian pastinya akan didukung dengan bantuan semua pihak dalam menjalankan proses bimbingan dan konseling. Pada dasarnya proses bimbingan dan konseling tidak akan bias berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari pihak-pihak terkait.

2.2 BIMBINGAN DAN KONSELING PERKEMBANGAN DI INDONESIA
Menurut Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Lampiran IV substansi bimbingan dan konseling disiapkan untuk memfasilitasi satuan pendidikan dalam mewujudkan proses pendidikan yang memperlihatkan dan menjawab ragam kemampuan, kubutuhan, dan minat sesuai dengan karakteristik peserta didik. Khusus untuk SMA/MA dan SMK/MAK bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk membantu satuan pendidikan dalam memfasilitasi peserta didik dalam memilih dan menetapkan program peminatan akademik bagi peserta didik SMA/MA dan peminatan vokasi bagi peserta didik SMK/MAK serta pemilihan mata pelajaran lintas peminatan khusus bagi peserta didik SMA/MA. Selain itu biimbingan dan konseling juga dimaksudkan untuk memfasilitasi guru bimbingan dan konseling (guru BK) atau konselor sekolah untuk menangani dan membantu peserta didik yang secara individual mengalami masalah psikologis atau psikososial, seperti sulit berkonsentrasi, rasa cemas, dan gajala perilaku menyimpang.
Penekanan dalam kurikumum yang tebaru menuntut buru bimbingan dan konseling untuk lebih ke peminatan dan mengarahkan siswa untuk menuju karir yang siswa inginkan. Komponen yang akan digunakan dalam pelayanan bimbingan konseling beragam. Komponen layanan bimbingan dan konseling pedoman bimbingan dan konseling mencakup komponen-komponen berikut ini (disari dari permendiknas 81A lampiran VI):
1.  Jenis Layanan meliputi, (a) Layanan Orientasi (b)  Layanan Informasi (c).  Layanan Penempatan dan Penyaluran (d) Layanan  Penguasaan Konten (e)  Layanan Konseling Perseorangan (f) Layanan  Bimbingan Kelompok (g). Layanan  Konseling Kelompok (h). Layanan Konsultasi (i) Layanan Mediasi.
2. Kegiatan Pendukung Layanan meliputi: aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan kepustakaan, alih  tangan  kasus.
3. Format  Layanan  meliputi: individual, kelompok, klasikal, lapangan, pendekatan  khusus/kolaboratif , dan jarak jauh.
Komponen yang beragam ini didukung dengan strategi layanan bimbingan dan konseling di sekolah antara lain:
1.  Program Layanan
Dari segi unit waktu  sepanjang  tahun  ajaran  pada  satuan pendidikan,  ada  lima  jenis  program  layanan yang disusun  dan diselenggarakan  dalam  pelayanan  bimbingan  dan  konseling,  yaitu sebagai berikut : program tahunan, program semesteran, program bulanan , program  mingguan, program harian. 
2.  Penyelenggaraan Layanan
Sebagai  pelaksana  pelayanan  bimbingan  dan  konseling, Guru Bimbingan  dan  Konseling  atau Konselor bertugas  dan berkewajiban  menyelenggarakan  layanan  yang  mengarah  pada  (1) pelayanan  dasar,  (2) pelayanan pengembangan,  (3) pelayanan peminatan studi,  (4)  pelayanan teraputik,  dan  (5) pelayanan diperluas.
3.  Waktu dan Posisi Pelaksanaan Layanan
a.  Semua kegiatan mingguan  (kegitan  layanan  dan/atau pendukung  bimbingan  dan  konseling)  diselenggarakan  di dalam  kelas (sewaktu  jam  pembelajaran  berlangsung) dan/atau  di  luar kelas (di luar jam pembelajaran)
b.  Program  pelayanan  bimbingan  dan  konseling  pada  masingmasing  satuan  pendidikan  dikelola  oleh  Guru Bimbingan  dan Konseling  atau  Konselor  dengan  memperhatikan keseimbangan   dan  kesi-nambungan  program  antarkelas  dan antarjenjang  kelas,  dan  mensinkronisasikan  program pelayanan  bimbingan  dan  konseling  dengan  kegiatan pembelajaran  mata  pelajaran  dan  kegiatan  ekstra  kurikuler dengan  mengefektifkan  dan  mengefisienkan  penggunaan fasilitas satuan pendidikan.
Pelaksana  utama  pelayanan  bimbingan  dan  konseling  adalah  Guru Bimbingan  dan  Konseling  atau  Konselor.  Penyelenggara  pelayanan bimbingan  dan  konseling  di SD/MI/SDLB  adalah Guru Kelas. Penyelenggara  pelayanan  bimbingan  dan  konseling di SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK adalah Guru Bimbingan dan Konseling.




DAFTAR PUSTAKA

American School Counselor association. Tanpa tahun. ASCA National Model A Framework For Scool Counseling Programs (Esecutive Summary).VA: ASCA Publikation dalam bentuk E Book.
Permendiknas No. 81A tahun 2013 tentang Implemtasi Kurikulum.
South Caroline Guidance and Counseling Writing Team.2008. The South Carolina Developmental Guidance and Counseling Program Model. South Carolina Colombia : South Carolina Departement Education dalam bentuk e book
Sugiyo.2011.Manejemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya.
Sutarno. tanpa tahun. Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Dalam bentuk bahan ajar.

0 comments:

Post a comment