Tuesday, 16 June 2020

Bekerjasama dalam Hubungan Konseling


Bekerjasama dalam Hubungan Konseling
1.    Keahlian Konselor dalam Tahap Pemahaman dan Tindakan
Setelah ikatan terjalin dengan baik antara konselor dan konseli, konselor harus membuat konseliu melihat kehidupannya secara berbeda dan berpikir, merasa, dan berperilaku dengan benar.
a.    Mengubah persepsi
Menurut Cavanigh (dalam Gladding, 2012: 182) manusia memiliki pemikiran bahwa persepsi dan interprestasi mereka sudah benar dan akurat. Ketika mereka mengkomunikasikan sudut pandang realitasnya kepada orang lain, hal ini biasanya diterima sebagai fakta. Hal semacam ini biasanya disebut dengan pembenaran fungsional, yang artinya memandang sesuatu hanya dengan satu sudut pandang masalahnya.
Menurut Okun & Kantrowitz (dalam Gladding, 2012, 182) konselor dapat membantu konseli mengubah cita-cita yang terdistorsi atau tidak realistis dengan menawarkan kesempatan untuk mengeksplorasi pikiran dan keinginan di dalam lingkungan yang aman, saling menerima, dan tidak menghakimi. Tujuan ditentukan ulang atau dengan menggunakan strategi kognitif, tingkah laku, atau tingkah laku-kognitif, seperti :
1)   Menentukan kembali masalahnya
2)   Mengubah tingkah laku pada situasi tertentu
3)   Melihat permasalahan dalam cara yang lebih dapat ditangani, serta bertindak dengan tepat.
Persepsi umumnya berubah melalui mengonsep ulang, suatu teknik yang menawarkan kepada konseli kemungkinan lain dan sudut pandang atau persepsi yang positif tentang situasi. Perubahan sudut pandang semacam itu memberikan konseli cara berbeda untuk memberikan tanggapan. Konselor yang efektif, secara konsisten mengkonsep ulang pengalaman kehidupan untuk diri sendiri dan konseli.
b.    Mengarahkan
Mengubah persepsi konseli membutuhkan tingkat keahlian persuasif yang tinggi dan beberapa arahan dari konselor. Masukan semacam ini disebut arahan.  Mengarahkan panjangnya bervariasi dan beberapa lebih tepat pada satu tahap konseling dibanding yang lain.
Welfel dan Patterson mendaftarkan sejumlah arahan yang dapat digunakan konselor untuk konselinya diantaranya sebagai berikut :
1)   Diam : ketika konselor tidak memberi tanggapan verbal sama sekali, biasanya konseli akan merasakan tekanan untuk melanjutkan kisahnya dan akan memilih bagaimana melanjutkan dengan masukan minimal dari konselonya.
2)   Penerimaan : konselor cukup menhargai pernyataan terdahulu dari konselinya dengan sebuah tanggapan berupa “ya” atau “uhuh”.
3)   Pernyataan ulang (parafrase)    : menyatakan ulang verbalisasi konseli, menggunakan kosa kata yang hampir sama
4)   Klarifikasi : konselor menyatakan maksud dari pernyataan konseli degan menggunakan kata-katanya sendiri, untuk mengklarifikasi maksud konseli.
5)   Persetujuan : konselor menegaskan kebenaran informasi atau mendorong konseli dalam memberikan determinasi pribadi.
6)   Arahan umum : konselor mengarahkan konseli untuk bicara lebih banyak mengenai sebjek tertentu.
7)   Interpetasi : konselor menggunakan prinsip psikodiagnosis untuk menyebutkan sumber stres konseli atau penjelasan untuk motivasi konseli dan perilakunya. Pernyataan konselor diberikan berupa hipotesis, dan konseli dihadapkan dengan cara baru untuk melihat dirinya sendiri.
8)   Penolakan : konselor berusaha membalik tingkah laku atau persepsi konseli dengan cara aktif menasihatkan pola tingkah laku yang berbeda atau menyarankan cara interprestasi kejadian hidup yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh konseli.
9)   Menenangkan : konselor menyatakan bahwa menurut penilaian, keprihatian konseli bukan hal yang asing dan bahwa orang-orang dengan permasalahan serupa telah sukses mengatasinya. Konseli akan merasa bahwa penenangan yang diberikan bersifat mendukung, namun juga dapat merasa bahwa permasalahan yang dia hadapi tidak dianggap serius oleh konselor.
10)     Memperkenalkan : konselor meninggalkan pernyataan terakhir konseli dan Informasi barumeminta konseli untuk mempertimbangkan materi baru.

Jenis arahan yang digunakan oleh konselor ditentukan sebagian oleh pendekatan teoritis yang dipakainya dan tahap konseling yang sedang berjalan, antara lain :
1)   Arahan minimalis
2)   Arahan maksimalis

c.    Menanggapi dengan multi fokus
Manusia mempunyai cara sendiri dalam memproses informasi melalui indra mereka. Konselor dapat meningkatkan keefektifannya dengan mengingat bahwa daya terima individu berbeda satu sama lain, dan bahwa gaya yang digunakan dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku.
Pentingnya memberikan tanggapan dalam bahasa konseli itu sendiri juga sangat bermanfaat. Konselor perlu membedakan antara cara bicara yang dominan, antara lain:
1)   Tanggapan afektif berfokus pada perasaan konseli
2)   Tanggapan perilaku berfokus pada tindakan
3)   Tanggapan kognitif berfokus pada pola pikir

d.   Empati yang akurat
Menurut Rogers (dalam Gladding, 2012: 187) ada dua faktor yang membuat empati dapat diberikan, antara lain :
1)   Menyadari bahwa “perasaan yang tak terbatas” sebenarnya tidak ada
2)   Mempunyai sekuritas personal sehingga “anda dapat membiarkan diri anda masuk ke dunia orang lain, dengan tetap mengetahui bahwa anda dapat kembali ke dunia anda sendiri”.


Empati memiliki dua tipe, antara lain :
1)   Empati primer, jika diberikan secara tepat, melibatkan pengkomuni-kasian pemahaman dasar tentang apa yang dirasakan oleh konseli dan pengalaman, serta tigkah laku yang melandasi perasaan tersebut. Hal ini membantu membangun hubungan konseling, mengumpulkan data, dan mengklarifikasi masalah.
2)   Empati tingkat lanjut, jika diberikan secara tepat, dapat mencerminkan tidak hanya apa yang dinyatakan secara gamblang oleh konseli, namun juga apa yang diimplikasikan atau disebutkan secara tidak lengkap.
Empati melibatkan tiga elemen, yaitu: perseptif, pengetahuan, dan asertif. Beberapa tingkatan tanggapan mencerminkan aspek empati konselor yang bervariasi. Skala yang dirumuskan Carkhuff, yang disebutkan pemahaman empati dalam proses antarpribadi, adalah tolok ukur untuk tingkatan tersebut. Masing-masing dari lima tingkatan tersebut mengurangi maupun menambah arti dan rasa dari pernyataan konseli, antara lain :
1)   Ekspresi verbal dan tingkah laku konselor tidak memperhatikan atau lepas dari ekspresi verbal dan tingkah laku konseli
2)   Meskipun konselor menanggapi ekspresi perasaan konselinya, dia melakukannya dengan cara yang cukup membuat konseli mengurangi pembicaraannya.
3)   Ekspresi konselor dalam menanggapi ekspresi konseli pada pokoknya memilki kemiripan
4)   Tanggapan konselor dapat memberi tambahan nyata terhadap ekspresi konseli dengan cara sedemikian rupa, sehingga mengekspresikan perasaan secar lebih mendalam dari apa yang dapat diekspresikan oleh konseli tersebut sebelumnya.
5)   Tanggapan onselor dapat memberikan tambahan yang signifikan terhadap perasaan dan arti dari ekspresi konseli dengan cara sedemikian rupa, sehingga mengekspresikan secara akurat tingkat perasaan lebih dari apa yang dapat diekspresikan konseli

e.    Pengungkapan diri (self disclosure)
Pengungkapan diri dapat diartikan sebagai teknik yang digunakan dengan sadar dan sengaja dimana klinisi berbagi informasi mengenai kehidupannya di luar hubungan konseling.
Pengungkapan diri dari pihak konseli diperlukan demi kesuksesan konseling. Namun, konselor tidak selalu harus mengungkapkan diri. Dalam hal pengungkapan diri, hubungan konselor-konseli harus dievalusi secara individu dan jika pengungkapan dilakukan, sebaiknya pengungkapan ini disesuaikan dengan kebutuhan konseli.

f.     Imediasi (Immediacy)
Imediasi berfokus pada kondisi sekarang dan hubungan terapeutik, baik dari prespektif perasaan konseli maupun konselor. Inti dari kegiatan imediasi melibatkan pemahaman dan komunikasi dari konselor dan konseli tentang apa yang terjadi diantaranya dalam hubungan bantuan ini, khususnya perasaan, impresi, dan ekspektasi. Pada dasarnya ada tiga macam imediasi, yaitu:
1)   Imediasi hubungan keseluruhan, “Bagaimana perkembangan kita?”
2)   Imediasi berfokus pada beberapa peristiwa khusus, “apa yang teerjadi dengan kita saat ini?”
3)   Pernyataan yang melibatkan diri sendiri (contohnya, tanggapan pribadi kepada seorang konseli yang kadang-kadang meyulitkan), “saya suka cara Anda mengendalikan hidup Anda pada situasi itu?”

Turock menyebutkan ada 3 ketakutan yang dimiliki konselor dalam menerapkan imediasi, antara lain:
1)   Konselor takut jika konseli salah menginterprestasikan pesan yang dikirim.
2)   Imediasi dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
3)   Imediasi dapat mempengaruhi keputusan konseli untuk mengakhiri sesi konseling, karena tidak dapat mengontrol atau memanipulasi hubungan yang telah terjalin.
Egan (dalam Gladding, 2012: 192) mengatakan bahwa imediasi sebaiknya digunakan pada situasi di bawah ini :
1)   Saat hubungan mengalami kebuntuan
2)   Ada ketegangan
3)   Rasa percaya dipertanyakan
4)   Ada kesengajaan sosial antara konseor dan konseli, seperti perbedaan pendapat
5)   Konseli terlalu tergantung pada konselor
6)   Konselor terlalu bergantung pada konseli
7)   Ada keterlibatan satu sama lain antara konselor dan konseli.

g.    Humor
Humor mencakup pemberian tanggapan yang tidak harmonis atau tidak diharapkan terhadap suatu pertanyaan atau situasi tertentu. Humor dalam konseling tidak boleh ditujukan untuk melecehkan seseorang. Humor seharusnya digunakan untuk menjembatani hubungan konseli dan konselor. Jika digunakan secara tepat, humor dapat menjadi sebuah alat klinis yang mempunyai banyak manfaat terpeutik.
Secara keseluruhan, humor memberi kontribusi untuk menciptakan daya pikir yang kreatif, membantu menjaga semuanya tetap dalam perspektif, dan membuat pengeksplorasian aspek kehidupan yang sulit, memalukan, atau tidak layak menjadi lebih mudah.
h.    Konfrontasi
Menurut Leod (2010: 386) konfrontasi adalah menguak diskrepensi atau kontradiksi tetapi tidak menghadirkan alasan untuk diskrepensi tersebut. Diskrepensi tersebut dapat terjadi antara kata dan perilaku, antara dua hal yang diucapkan oleh konseli, atau antara persepsi konseli dan konselor.
Konfrontasi bersifat mengundang. Jika digunakan sebaik mungkin, konfrontasi menantang konseli untuk mengamati, mengubah, atau mengontrol suatu aspek tingkah laku, yang sebelumnya tdak ada atau digunakan secara tidak tepat. Konfrontasi melibatkan pemberian umpan balik meta-komunikasi yang berbeda dengan apa yang diinginkan atu diharapkan oleh konseli.
Konfrontasi yang baik, bertanggung jawan, penuh kasih, dan tepat dapat menumbuhkan dan mendukung pengamatan yang jujur terhadap diri sendiri.

i.      Kontrak
Ada dua aspek dalam kontrak, antara lain :
1)   Kontrak berfokus pada proses
2)   Kontrak berfokus pada hasil
Keuntungan dari penggunaan kontrak dalam konseling adalah sebagai berikut :
1)   Memberikan catatan tertulis mengenai tujuan yang sesuai kesepakatan konseor dengan konseli akan dikejar, dan arah tindakan yang akan diambil
2)   Bentuk kontrak yang resmi dan ada batas waktunya dapat berfungsi sebagai motivator bagi konseli yang suka menunda pekerjaan
3)   Jika kontrak dipecah dalam beberapa bagian, konseli akan merasa lebih yakin bahwa permasalahan yang dihadapinya dapat dipecahkan
4)   Kontrak menempatkan tanggung jawab perubahan pada konsei dan oleh karena itu, mempunyai potensi untuk memberdayakan konseli dan membuatnya lebih responsif terhadap lingkungan dan lebih bertanggung jawab atas tingkah lakunya.
5)   Sistem kontrak, yang secara spesifik menggarisbawahi jumlah sesi yang akan diadakan memberikan jaminan bahwa konseli akan datang kembali untuk melakukan konseling secara berkala.

Ada beberapa pendekatan untuk membuat kontrak. Goodyear dan Bradley menawarkan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas secara maksimal, yaitu :
1)   Konselor harus menunjukkan kepada konseli, kalau tujuan konseling adalah kerja
2)   Kontrak konseling difokuskan kepada perubahan dalam perilaku konseli, daripada ketidakhadiran konseli.
3)   Dalam membuat kontrak, konselor harus menekankan untuk tidak memasukkan kata-kata yang mengelabuhi.
4)   Konselor harus waspada pada tujuan konseli yang diarahkan untuk membuat orang lain senang, misalnya harus, atau pasti.
5)   Menentukan secara konkrit apa yang ingin diperoleh konseli melalui konseling.
6)   Konselor harus menegaskan bahwa kontrak berfokus pada perubahan .


Cara lain yang lebih singkat untuk memikirkan apa yang harus tercantum di dalam kontrak adalah menggunakan akronim SAFE, dimana
S     : spesifikasi (tujuan treatment)
A    : awareness atau kesadaran (pengetahuan akan prosedur, tujuan, dan efek samping konseling)
F     : fairness  atau keadilan (hubungan harus seimbang dan baik konselor maupun konseli mempunyai cukup informasi untuk mulai bekerja)
E     : efficacy atau keefektifan (memastikan konseli diperdayakan dalam bidang yang dia pilih dan pengambilan keputusan)

Menurut Thomas dan Ezell, ada beberapa kelemahan dari sistem kontrak, antara lain :
1)   Konselor tidak bisa menahan konseli dengan kontrak.
2)   Beberapa permasalahan konseli tidak bisa dijamin pada sistem kontrak
3)   Cara kontraktual dalam menangani masalah yang berfokus pada perilaku eksternal
4)   Daya tarik awal dalam kontrak terbatas.

j.      Latihan
Latihan ada dua macam, yaitu :
1)   Latihan terbuka mengharuskan konseli melakukan verbalisasi atau melakukan apa yang akan dia lakukan
2)   Latihan tertutup adalah membayangkan atau mereflesikan tujuan yang diinginkan.
Latihan ini memiliki beberapa manfaat, antara lain :
1)   Membuat konseli tetap fokus pada tingkah laku yang relevan disela-sela sesi
2)   Membantu konseli melihat dengan jelas kemajuan apa yang telah dicapainya
3)   Memotivasi konseli untuk mengubah tingkah lakunya
4)   Membantu konseli mengevaluasi dan memodifikasi aktivitasnya
5)   Membuat konseli lebih bertanggung jawab
6)   Merayakan terobosan yang telah dicapai dalam konseling

2.    Transference dan Counter-transference
a.    Transference
Transference adalah proyeksi perasaan, sikap atau keinginan konseli yang lalu maupun sekaranga kepada konselor (Brammer, 1998). Transferencedapat digunakan dalam dua cara, yaitu: transferenceuntuk membantu konselor memahami konseli dengan baik, transferencesebagai cara untuk memecahkan masalah konseli.
 Ada lima pola perilaku transference sering muncul dalam konseling, antara lain : konseli menganggap konselor adalah sosok yang ideal, pelindung, pengayom, pembuat frustasi, atau orang yang tidak dikenal. Menurut Cavanagh transference bisa terjadi secara langsung atau tidak langsung. Transference langsung digambarkan dengan baik oleh konseli misalnya, konseli menganggap konselor sebagai ibunya. Transference tidak langsung ini sulit dikenali, biasanya terungkap Dalam tindakan dan pernyataan konseli yang tidak secara jelas berhubungan langsung dengan konselor.
Transference ada yang bersifat positif dan bersifat negatif. Transference positif ini dapat berupa kekaguman konseli kepada konselor. Transference negatif ini misalnya konseli menuduh konselor mengabaikan konseli atau berperilaku negatif pada konseli.

b.    Countertransference
Countertransferencemengacu pada reaksi atau tingkah laku konselor yang diproyeksikan kepada konseli. Reaksi countertransference bisa saja tidak masuk akal, menekankan antarpribadi, dan neurotik, muncul dari permasalahan konselor sendiri yang belum terselesaikan. Counter-transferenceini dapat menggangu hubungan konseling.
Kernberg (dalam Gladding, 2012: 201) menggunakan dua pendekatan utama untuk masalah konseptualisai countertransference, yaitu:
1)   Pendekatan klasik, dimana countertransference dipandang negarif dan dilihat sebagai reaksi tidak sadar yang dilakukan konselor baik langsung maupun tidak langsung.
2)   Pendekatan total, dimana countertransferencedipandang positif. Menurut pendekatan ini, countertransference adalah sebuah alat diagnosis untuk memahami aspek motivasi tidak sadar yang dimiliki konseli.
Blanck dan Blanck menambahkan satu pendekatan lagi, yaitu melihat countertransference sebagai hal yang positif dan negatif. Menurut Corey manifestasi countertransference mengambil beberapa bentuk yaitu :
1)   Merasakan suatu keinginan yang konstan untuk menyenangkan hati konseli
2)   Mengidentifikasi diri terhadap permasalahan konsei secara berlebihan sehingga kehilangan obyektifitas
3)   Mengembangkan perasaan romantis terhadap konseli
4)   Memberikan nasihat secara kompulsif
5)   Mempunyai keinginan untuk mengembangkan hubungan sosial dengan konseli.
Watkins menganggap countertransferencedapat diekspresikan dalam banyak cara, antara lain :over protektif, iba, penolakan, dan kasar.

3.    Hubungan yang Nyata
Hubungan nyata adalah hubungan yang berorientasi pada kenyataan, tepat sasaran, dan tidak menyimpang. Menurut Carter, jika keahlian untuk memberi bantuan digunakan secara baik, hubungan nyata akan tercipta. Konselor bersikap nyata dengan menunjukkan ketulusan, mencoba memfasilitasi ketulusan dalam diri konseli, dan mencoba memandang dan memahami konseli secara realistis.
Menurut Gelso dan Carter ada usulan spesifik tentang sifat hubungan sejati, salah satunya yaitu hubungan semakin meningkat dan mendalam selama proses konseling berlangsung, konselor dan konseli mempunyai ekspektasi dan aktualisasi yang berbeda mengenai seperti apa hubungan nyata itu.

Referensi

Gladding, T Samuel. 2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Jakarta:PT. Indeks
Leod, Mc John. 2012. Pengantar Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Media

No comments:

Post a comment

3 Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi

Konseling/penanganan Terhadap Siswa Yang Mengalami Depresi 1.    Intervensi Pastikan siswa memiliki nama dan nomor telepon orang untu...