Monday, 15 June 2020

5. ASSESING FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN


ASSESING FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN
Jika perilaku manusia merupakan hasil bentukan dari  lingkungan sekitar, maka sudah menjadi tugas bagi orang-orang yang mempelajari tentang perilaku manusia untuk mengembangkan alat-alat konseptual untuk mempelajari lingkungan tersebut. Untuk mempelajari tentang lingkungan tersebut, kita memerlukan beberapa teori tentang interaksi manusia dengan lingkungan. Teori-teori tersebut akan membantu kita mengkonseptualisasikan bagaimana orang merespon dan berinteraksi dengan lingkunganya.
1.      Teori Barker tentang Interaksi Manusia dengan Lingkunganya
Barker memformulasikan sebuah pendekatan yang berasumsi bahwa setting perilaku atau hal-hal yang terjadi secara alami dalam sebuah unit lingkungan akan membentuk perilaku manusia yang berada didalamnya.
a.      Karakteristik Seting Perilaku
Barker (1978) menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dasar yang harus dimiliki oleh setting perilaku atau unit ekologis untuk bisa membantu kita memahami interaksi manusia dengan lingkunganya. Setting perilaku yang terjadi secara alami tanpa campur tangan dari para eksperimenter memiliki  karakter sebagai berikut:
1.      Memiliki tempat dan waktu.
2.      Memiliki batasan-batasan
3.      Memiliki keberadaan secara fisik dan objektif
4.      Memiliki dua pasang komponen; (a)Perilaku dan (b)berhubungan dengan objek
5.      Seluruh unit yang ada melingkungi dan mengelilingi komponen-komponen masing-masing.
6.      Manusia beserta aktifitasnya berhubungan dengan objek fisik
7.      Pola-pola yang berada dalam batasan secara mudah bisa dibedakan dengan pola-pola yang berada diluar batasan
b.      Prinsip dari Kelakuan
Barker dan asosiasinya pada tahun (1978) mengembangkan prinsip “kelakuan optimal”. Pada dasarnya prinsip ini muncul seiring dengan studi intensif terhadap perilaku murid di sejumlah sekolah dengan ukuran murid yang berbeda-beda. Pada studi tersebut Barker dan koleganya menemukan bahwa kesempatan untuk berpartisipasi dalam seting perilaku yang diberikan ditentukan secara luas oleh aktifitas yang diperankan secara alami dalam sebuah setting tertentu.
1). Konsep dari Ekologi Sosial
Konsep ekologi sosial dikembangkan oleh Rudolf  Moos dan rekannya. Pada dasarnya konsep ini fokus pada hubungan antara variabel lingkungan dalam sebuah lingkungan. Ekologi sosial berhubungan dengan enam dimensi dasar, yakni;
·         Dimensi ekologis, meliputi kondisi geografis, meteorologis, dan fisik dari lingkungan
·         Dimensi pengorganisasian struktur  meliputi ukuran, perbandingan atau rasio staff, gaji, dll.
·         Karakteristik personal dari lingkungan pergaulan, meliputi jenis kelamin, umur, status ekonomi, kemampuan, group keanggotaan, dan faktor latar belakang.
·         Setting perilaku
·         Properti-properti yang berfungsi dalam lingkungan
·         Karakteristik psikologis dan perubahan organisasional, hal ini meliputi persepsi individu terhadap lingkunganya masing-masing.
Moos dan asosiasinya telah mengembangkan beberapa instrumen  yang spesifik untuk menaksir berbagai persepsi terhadap lingkungan. Ketiga instrumen ini memiliki dimensi yang luas dalam persepsi terhadap lingkungan: (1) hubungan, (2) orientasi pribadi dan orientasi tujuan, (3) perubahan sistem
2). Konsep Kecocokan Manusia terhadap Lingkungan
Pervin (1968) berasumsi bahwa semua individu akan menunjukan performa yang lebih baik, lebih memuaskan dan ketidakcocokan yang ada akan sedikit berkurang ketika ia berada dalam situasi yang sama dengan kebutuhan personal, aspirasi yang dibutuhkan oleh individu untuk tumbuh dan berkembang. Pervin mendefinisikan bahwa ada dua elemen dalam lingkungan yakni interpersonal dan non-interpersonal. Secara singkat teori Pervin menyatakan bahwa orang-orang dengan kepercayaan diri yang rendah merasa lebih puas terhadap support atau dukungan sosial dari lingkungannya, sementara orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi cenderung untuk mendapatkan pencapaian lebih ketika interaksi sosial dalam lingkunganya lebih menantang.
Asumsi yang kedua adalah model yang dibangun manusia kenungkinan memiliki kesamaan, hal ini kemungkinan diakibatkan oleh aktivitas manusia yang juga bisa dikelompok-kelompokan kedalam kategori yang sama. Kita bisa mengkarakteristikan lingkungan sebagaimana kita mengklasifikasikan manusia misal; realistis, investigative, astistik, sosial, giat, dan umum.
Asumsi yang ketiga berhubungan dengan model hubungan manusia dengan lingkunganya.  Previn berpendapat bahwa interaksi antara manusia dengan lingkunganya yang baik akan menghasilkan output yang bisa diprediksi dan bisa dipahami. Output ini meliputi pilihan kejuruan, ketekunan dan kepuasan.
3). Konsep Tekanan Lingkungan
Pendekatan lain yang digunakan untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia adalah konsep “tekanan” lingkungan. Konsep dari kebutuhan individu dan tekanan dalam lingkungan sudah di aplikasikan oleh Stern (1970) untuk mendeskripsikan dan mengkategorikan lingkungan. Henry Murray (1938) mengembangkan sebuah kerangka kerja yang berdasar pada sebuah proposisi. Murray mendeskripsikan seorang individu sebagai seperangkat kebutuhan personal, sedangkan tekanan lingkungan di deskripsikan sebagai tekanan-tekanan yang memiliki pengaruh terhadap individu yang berada dalam lingkungan tersebut.
Stern (1970) mengimlementasikan sistem Murray kedalam 30 jenis kebutuhan yang diukur dengan “index aktivitas”. Tekanan dalam lingkungan secara operasional didefinisikan kedalam empat instrument yang digunakan untuk mengevaluasi jenis-jenis lingkungan secara spesifik, meliputi: (1)indeks karakteristik perguruan tinggi, (2) indeks karakteristik sekolah menengah atas, (3) indeks karakteristik sekolah malam, (4) indeks suasana organisasi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Stern pada sejumlah perguruan tinggi dan universitas, ditemukan lima faktor utama yang secara jelas membedakan “budaya”  masing-masing institusi tersebut, yakni: (a) ekspresi diri, (b) intelektualitas, (c) protektif, (d) kejuruan, (e)hal-hal yang berhubungan dengan perguruan tinggi.
4). Pola Fungsional dari Penguatan
Dalam sebuah lingkungan yang kompleks, banyak penguatan ataupun hukuman yang memiliki fungsi yang berbeda-beda pada waktu tertentu. Penguatan bisa memiliki makna positif, atau netral bagi seseorang, namun penguatan tersebut bisa juga memiliki makna negatif atau bahkan merupakan sebuah hukuman bagi yang lain. Perbedaan respon terhadap penguatan diatas akan dianalisa dalam sebuah analisa fungsional terhadap lingkungan secara menyeluruh. Oleh karena itu penguatan dalam suatu lingkungan berbeda dengan yang lain. Penguatan tersebut bisa berupa uang, hadiah, makanan dan banyak pula penguatan yang berupa penguatan psikologis atau sosial berupa pujian, pengakuan special, dan perhatian.
5). Suasana Organisasional
Suasana merupakan suatu keadaan khusus atau perasaan khusus dari suatu group atau organisasi tertentu. Suasana organisasional meliputi faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlibatan, motivasi, dan moral dari anggota suatu group. Skala lingkungan perguruan tinggi dan universitas dikembangkan oleh Pace (1969), skala ini digunakan untuk mengukur perubahan yang terjadi dalam seting pendidikan yang lebih tinggi. Skala ini terdiri dari lima sub-skala, meliputi: (1) komunitas, dideskripsikan sebagai hubungan kehangatan, kepedulian dan keterikatan (2)kepedulian, didefinisikan sebagai kepedulian tentang pertumbuhan individu (3)sarjana, dideskripsikan sebagai kepedulian terhadap perkembangan intelektual (4)property, kepedulian terhadap kesopanan (5)kepraktisan, didefinisikan sebagai kepedulian terhadap status sosial, kesuksesan materi, dan aktifitas-aktifitas dalam suatu organisasi.
Insel dan Moos (1974) berpendapat bahwa dalam mengukur suasana organisasional pada umumnya mengevaluasi tiga dimensi dasar, yakni: (1) faktor hubungan, (2) faktor pertumbuhan pribadi, (3) faktor managemen organisasi. Ketiga dimensi atau faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap moralitas, motivasi, dan keterlibatan dari anggota suatu organisasi.
a.      Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada dasarnya merujuk pada bagaimana cara suatu organisasi menyediakan dua aspek dasar dalam aktifitas kemanusiaan-pembagian tugas dan distribusi kekuatan. Pembagian tugas merujuk tentang bagaimana tugas dibagi, serta tiap anggota mendapat tugas tersendiri. Ketika kita melakukan evaluasi terhadap struktur organisasi rasionalitas untuk spesifikasi tugas merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami, karena hal tersebut bisa jadi merupakan struktur department dari suatu organisasi dan hal tersebut mempengaruhi hubungan interpersonal dalam suatu seting.
Dalam sebuah organisasi besar menjaga kontrol dalam jumlah yang terbatas akan menciptakan lapisan hirarki dalam otoritas. Hirarki vertikal akan menciptakan banyak masalah dalam berkomunikasi, faktor jarak dalam hirarki vertical seringkali menimbulkan rasa ‘tidak percaya’, rusaknya kredibilitas terhadap otoritas seseorang dan rusaknya moral dalam suatu organisasi.
b.      Jaringan Komunikasi
Garis dan tingkatan dalam otoritas juga membantu kita dalam menentukan jaringan komunikasi yang alami dalam suatu organisasi. Salah satu faktor yang paling penting dalam memahami organisasi atau lingkungan sosial adalah bagaimana cara suatu informasi bergerak dalam sebuah sistem. Sikap kooperatif, kemampuan untuk membuat keputusan, dan moral anggota sangat tergantung pada arus komunikasi. Sementara itu, struktur organisasi menentukan bentuk formal dari suatu jaringan komunikasi, bentuk dari jaringan komunikasi inilah yang pada akhirnya membentuk perilaku dan perasaan seorang individu dalam suatu organisasi.
Katz dan Kahn (1978) menunjukan bahwa bentuk alamiah dari jaringan komunikasi dalam suatu lingkungan dapat dipelajari dan efek dari jaringan komunikasi tersebut terhadap anggota juga dapat diprediksi. Kita dapat mengidentifikasi beberapa bentuk jaringan komunikasi pada hal 192 (lihat gamabr 9-2). Dalam jaringan komunikasi yang berbentuk “lingkaran”, format dari pesan yang disampaikan bisa dikirim dari berbagai arah dan berbagai  stasiun dalam jaringan, anggota memiliki  kebebasan untuk mengirim dan menerima pesan sesuai dengan peran mereka dalam suatu situasi khusus.
Dalam pemusatan diperlukan campur tangan dari beberapa orang atau stasiun yang harus digunakan untuk mengirimkan atau menerima pesan kepada anggota lain. Pemusatan komunikasi juga mengukur kedekatan atau keterkucilan  seseorang terhadap semua anggota lain dalam suatu jaringan. Pemusatan dalam komunikasi juga mengukur kemampuan dari seseorang dalam informasi-informasi penting.
6). Mengukur Stress dalam Lingkunan
Salah satu alas an penting mengapa konselor pelu menilai faktor lingkungan sekitar adalah untuk memahami tingkat dan sumber dari stress yang berpengaruh terhadap klien dan sistem klien.
a.       Sumber Stress Fisik
Temuan dalam sebuah penelitian menunjukan bahwa efek dari stress  diakibatkan oleh faktor fisik dalam lingkungan semisal kepadatan, kegaduhan, dan polusi udara (Sigel, 1980).
Kepadatan, penelitian menunjukan bahwa keadaan lingkungan yang sangat padat akan menimbulkan stress tingkat tinggi, dan rendahnya fungsi kognitif dan menyebabkan perubahan psikologis.
Kegaduhan, tingkat kegaduhan yang berlebihan juga menjadi pemicu stress (Glass &Singer, 1972). Pada dasarnya kegaduhan juga mnimbulkan stimulus-stimulus yang menghasilkan dampak  emosi, kognitif, dan psikologis yang hampir sama dengan dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kepadatan. Kegaduhan yang berlebihan dan terjadi secara terus menerus seringkali menimbulkan berbagai gejala fisik semisal pusing, detak jantung yang semakin cepat, dan rasa nyeri pada dada.
Polusi, semakin bertambahnya jumlah populasi yang ada menimbulkan berbagai pencemaran kronsi yang terjadi pada udara, tanah, debu, makanan, dan pencemaran jenis lain. Beberapa penelitian menunjukan bahwa bau tidak enak yang seringkali diasosiasikan sebagai pencemaran terhadap udara dapat menjadi pemicu stress sama halnya dengan kegaduhan. Penyebab stress lainya adalah keadaan yang ekstrim, semisal keadaan panas dan dingin yang ekstrim, pencahayaan dan kelembapan juga mempunyai efek yang sama sebagaimana kegaduhan, dll.
b.      Sumber Stress Psikologis
Ada banyak sumber stress dalam lingkungan yang muncul dari stimulus keadaan, yakni; (1)kesenangan, (2)intensitas, (3)ambiguitas, (4) kompleksitas, (5) ketrlibatan.
Ketika seorang konselor mampu mengenali dan mengidentifikasi pola-pola penting dalam interaksi manusia dengan lingkunganya maka konselor tersebut akan terhindar dari intrafisik “menyalahkan orang lain”, dan hal tersebut akan membuka kemungkinan untuk melakukan intervensi terhadap masalah klien menjadi semakin besar. 
Sumber : Donald H.Blocher ( 2007).The Professional Counselor. New York : Macmilan Publishing Company.Page 73-202)

0 comments:

Post a comment