Monday, 22 June 2020

3. TUJUAN DAN PRIORITAS SETTING PROFESIONAL


TUJUAN DAN PRIORITAS SETTING PROFESIONAL
Salah satu dari karakteristik utama dari pekerja professional adalah memiliki otonomi untuk mengatur tujuan mereka dan juga memiliki kemampuan dan integritas untuk mengevaluasi hasil dari praktek profesional mereka. untuk membenarkan dan menjaga kepercayaan terhadap hal tersebut seorang konselor profesional harus mampu mengandalkan diri mereka sendiri untuk pekerjaan, klien, sistem klien, dan masyarakat sekitar.
1.      Model-model Keefektifan Manusia
Ada banyak teoritikus yang telah membangun model dari perkembangan manusia dan keefektifan manusia yang membantu kita mengkonseptualisasikan petunjuk yang ada dan mengatur tujuan yang akan dicapai ketika kita bekerja klien. Paradigma kita selama ini adalah apa yang manusia ‘dewasa’ atau ‘sehat’ atau ‘bermanfaat’ hasilkan adalah pencerminan atau produk dari nilai-nilai kita? Hal ini berdasarkan persepsi apa yang baik, apa yang benar dan apa yang indah dalam kehidupan kita sebagai manusia, dalam masyarakat tempat kita tinggal, dalam dunia tempat kita hidup (Smith, 1961).
Jika kita mengetahui batasan-batasan yang melekat pada model-model berikut ini maka kita dapat menggunakannya sebagai pijakan awal yang berguna bagi karir kita untuk menentukan tujuan umum dan prioritas profesional
a.      Konsep Maslow “Aktualisasi Diri”
Secara literal aktualisasi diri berarti pemenuhan atau realisasi dari potensi diri, yakni bakat, kecerdasan, dan kapasitas. Gagasan tentang perkembangan sebagai pemenuhan potensi tertinggi seseorang merupakan sejalan dengan nilai-nilai yang dalam konseling professional. Berikut ini adalah lima belas daftar karakteristik aktualisasi diri oleh Maslow:
1.      Memiliki orientasi yang realistis
2.      Menerima diri sendiri dan orang lain
3.      Spontanitas
4.      Berfokus pada masalah
5.      Tidak mudah terpengaruh
6.      Memiliki otonomi dan mandiri
7.      Memberikan apresiasi pada orang lain dan hal atau benda
8.      Memiliki pengalaman yang mendalam
9.      Memiliki kepedulian dan rasa kasih saying terhadap umat manusia
10.  Memiliki hubungan interpersonal yang mendalam
11.  Menanamkan nilai demokratis serta bersikap demokratis
12.   Mampu menyudahi kekhawatiran etnis dengan keteguhan dan kepastian
13.  Memiliki rasa humor psikologis
14.  Kreatif, orisinil dan mampu berfikir dengan cara yang berbeda
15.  Penolakan terhadap ketidaksesuaian

b.      Allport “Kematangan Personal”
Berikut adalah karakteristik personal yang matang atau dewasa menurut Allport:
1.      Mampu mengembangkan diri, memiliki kapasitas untuk member dan peduli terhadap orang lain.
2.      Membina hubungan yang baik dengan orang lain, memiliki kapasitas untuk mengekspresikan cinta dan emosi secara intim kepada orang lain.
3.      Mampu mengontrol emosi, dan juga mampu menekan depresi dalam diri.
4.      Memiliki persepsi dan kognisi yang realistis, mampu memfokuskan energi yang ada hanya untuk melakukan hal penting saja.
5.      Mampu menerima diri sendiri, memiliki wawasan dan rasa humor, mampu memahami diri sendiri, dan memiliki kesadaran, serta mampu melihat seseorang dari perspektif yang luas.
6.      Memiliki filosofi kehidupan yang satu, memiliki cara pandang hidup yang menyatu dan terintegrasi.
c.       Roger “Orang yang Memerankan Fungsinya secara Optimal”
“Fully Functioning Person” atau orang yang memerankan fungsinya secara optimal didefiniskan sebagai apa yang sudah dilakukan oleh seseorang, bukan berkenaan dengan siapakah dirinya, atau bagaimanakah dirinya (Rogers, 1962). Rogers berpendapat bahwa orang yang memerankan fungsi optimal ialah mereka yang membuka lembar pengalaman baru dan mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Lebih jauh lagi Rogers berpendapat mengenai berfungsi secara optimal dengan mendiskripsikannya kedalam “proses yang bernilai pada seseorang yang matang”.
d.      Jahoda “Perilaku Normal”
Marie Jahoda (1958) mendeskripsikan secara singkat mengenai pengertian keadaan mental yang sehat atau ‘perilaku normal’. Ia mendeskripsikan bahwa seseorang yang bermental sehat atau berperilaku normal ialah orang-orang yang menguasai lingkungan sekitarnya, menunjukan kesatuan dan konsistensi, dan mampu mempersepsikan dirinya sendiri dan dunia secara realistis.
e.       Shoben “Personality yang Normal”
Shoben mengembangkan teori milik Jahoda, ia mengubahnya menjadi normal personality. Konsep dari ‘normal’ yakni memiliki sense yang sama mengenai apa yang menjadi keinginan dan ekspektasi dalam sebuah populasi sama halnya dengan kebanyakan individu di lingkungan tersebut. Shoben menyebutkan ada 4 karakteristik untuk menjadi ‘normal’:
1.      Memiliki kemauan untuk menerima konsekuensi dari sikap atau prilaku seseorang.
2.      Memiliki kapasitas untuk hubungan interpersonal.
3.      Memilki obligasi atau kewajiban terhadap masyarakat.
4.      Memiliki komitmen untuk hidup secara ideal dan standar.
Model- model yang sudah dijelaskan diatas pada dasarnya berusaha mengoptimalkan fungsi manusia yang didapat dari pengalaman pribadi, nilai-nilai yang ada serta prasangka dari tutor mereka.
2.      Model dari Pengalaman Empiris
a.      Barron “Sound Personality”
Baron (1954) melakukan sebuah studi untuk mengoptimallkan fungsi, ia memilih populasi yang berasal dari lulusan sebuah universitas dari beberapa fakultas. Konsep dari penelitian ini adalah untuk menetapkan kematangan dan keefektifan seorang individu dalam membina hubungan interpersonal.
Dari studi yang dilakukanya Baron mengklasifikasian karakteristik yang muncul dari dua kelompok yang ada:
1.      Keefektifan dalam mengorganisir kerja.
2.      Memiliki persepsi yang akurat.
3.      Integritas etika.
4.       Penyesuaian terhadap diri sendiri dan orang lain.

b.      Heats “Personalitas yang Sehat”
Menurut model Heat proses pertumbuhan yang sehat meliputi:
1.      Simbolisasi, kemampuan individu untuk merepresentasikan pengalaman kedalam kata, angka, gambar, musik dan sikap
2.      Alosentris, merupakan istilah yang digunakan untuk mereka yang sedang atau sudah berubah untuk meninggalkan egosentrisnya masing-masing.
3.      Integrasi, bertambahnya konsistensi dalam pertumbuhan seseorang antara gambaran diri-sendiri dengan persepsi orang lain dalam menilai individu tersebut.
4.      Stabilisasasi, orang yang sehat tumbuh menjadi seseorang yang stabil seiring dengan berjalanya waktu.
5.      Otonomi, seseorang yang tumbuh dengan sehat cenderung menjadi seorang yang semakin memiliki kepercayaan diri terhadap ekspektasi dan pengaruh eksternal.
Strupp & Hadley mengidentifikasi tiga perbedaan sumber munculnya konsep sehat dan berfungsi secara optimal datang, yakni; sumber pertama datang dari psikologis dan ilmuwan yang mempelajari tentang perilaku manusia, sumber yang kedua yaitu dari masyarakat itu sendiri, dan yang terakhir berasal dari ekspektasi peran sosial.
3.      Mengubah Tujuan Umun Menjadi Praktek Profesional
Dalam proses konseling, konselor membantu klien untuk memikirkan, mengklarifikasi dan mendeklamasikan kembali tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh klien, seorang konselor membantu klien melakukan mobilitas dan melakukan langkah maju kedepan guna mencapai tujuan yang sudah dirumuskan.
a.      Indikator Sukses
Indicator kesuksesan membantu klien mengikat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dalam kurun waktu, tempat, situasi, dan sikap yang spesifik. Menjadi semakin sensitif merupakan salah satu indikasi sukses.
b.      Penilaian kebutuhan
Dalam penilaian kebutuhan kita berusaha untuk mengidentifikasi kebutuhan apa yang diperlukan oleh klien atau sistem klien dalam sebuah sense yang spesifik dimana klien bersedia bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan cara yang praktis sekarang dan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu diperlukan identifikasi dan memilih prioritas dalam menentukan tujuan serta memilih indikator sukses yang sesuai
c.       Sikap Objektif
Karena objektifitas menaksir kemajuan, maka ia haruslah sesuatu yang bisa diamati. Berikut adalah tiga karakteristik utama dari sikap objektif;
·         Objektif dinyatakan kedalam suatu bentuk sikap yang bisa diamati.
·         Objektif menspesifikasi tempat atau situasi dimana sikap tersebut terjadi.
·         Objektif menspesifikasi kriteria-kriteria standar untuk mengidentifikasi kapan sikap
Ketika kita mampu membangun sikap objektif yang spesifik dengan klien maka kita dapat memonitor perkembangan, memberikan feedback, tentang prosedur konseling yang efektif dan memastikan bahwa klien mendapat simulasi dan kepuasan dari pencapaian mereka.
d.      Mengukur Pencapaian Tujuan
Konselor mampu mengukur tujuan pencapaian dengan klien memiliki alat-alat penting yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tempat praktik profesionalnya.
Dalam arti sebenarnya hubungan konselor klien telah menjadi "sistem terbuka" yang mampu mendapatkan umpan balik dan mengendalikan operasi sendiri. Salah satu cara yang dapat memantau dan mengukur pencapaian tujuan adalah metode disebut "pencapaian tujuan skala" (Kiresuk & Sherman, 1968). Dalam hal ini metode konselor dan klien menilai kebutuhan yang terakhir dengan cara yang dijelaskan sebelumnya.
Sumber : Donald H.Blocher ( 2007).The Professional Counselor. New York : Macmilan Publishing Company.Page 73-202)

0 comments:

Post a comment