Monday, 22 June 2020

2. MEMAHAMI SISTEM MANUSIA SEBAGAI KLIEN


MEMAHAMI SISTEM MANUSIA SEBAGAI KLIEN
1.      General System Theory
Salah satu keuntungan dari pendekatan system adalah membantu kita untuk memahami sifat dari man-machine sebagaimana interaksi orang ke orang. Pada masa komputerisasi seperti sekarang ini pendekatan sistem menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, pendekatan sistem menawarkan sebuah alat yang sangat kuat untuk memahami pengaruh mesin terhadap sikap dan pengalaman manusia.
a.      Cybernetics
Cybernetics adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana proses kognitif manusia yang mendapat stimulasi dari computer. Hal ini pertama kali ditemukan oleh Nobert Wiener (1948) yang memperkenalkan studi masalah control dan komunikasi antara manusia dengan pusat kontrol komputer.
Bidang cybernetics memberikan beberapa konsep penting yang berguna untuk mengoperasikan semua jenis sistem manusia yang kompleks; konsep tersebut adalah: control, entropy, dan feedback.
·         Control, focus pada berbagai prosedur dan alat-alat yang mengatur berbagai proses kerja dalam suatu system.
·         Entropy,  menunjukan kecenderungan berbagai system untuk stagnan atau ‘run down’. Dalam system manusia entropy seringkali diakibatkan oleh pengikisan keyakinan dan kepercayaan secara berangsur-angsur didalam sistem kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi.
·         Feedback,  hanya mungkin terjadi ketika komunikasi antar komponen berlangsung. Dalam analisa sistem kita mengenal bentuk hubungan yang mungkinkan komunikasi sebagai ‘feedback loops’.
b.      Sistem Terbuka dan Tertutup
Berdasarkan dasar pemahaman terhadap feedback loops kita dapat mengkonseptualisasikan dua jenis sistem; yakni sistem terbuka dan tertutup.
·         System tertutup, merupakan sistem mengasingkan individu dari lingkungan alami mereka. hal ini terjadi karena individu tersebut tidak melakukan pertukaran energi, barang atau perkara dan informasi dengan lingkungan luar. Individu tersebut mempunyai kapasitas kecil atau bahkan tidak berkapasitas untuk melakukan pembaharuan.
·         System terbuka  merupakan sistem yang secara terus-menerus melakukan pertukaran informasi, energi dan materi dengan lingkungan sekitar. Semua makhluk hidup merupakan bagian dari sistem terbuka, dimana ketika mereka dibatasi dari lingkungan luar maka mereka akan sakit dan mati.
Ketika suatu sistem masih terbuka maka ia dikarakteristikan sebagai performa self-regulation dan steady state. Sistem terbuka menjaga kemantapan output dan self-characteristic regulating karena mereka mampu memanfaatkan feedback untuk membangun kontrol. Dalam sistem manusia kemampuan jenis ini disebut pembaharuan diri atau ‘self-renewal’ (Gardner, 1962).
2.      Mengsistem analisa Manusia
Salah satu keuntungan dari  sistem analisa adalah memungkinkan kita fokus pada pengoperasian satu bagian dari aspek sistem yang berhubungan tanpa mengacuhkan atau takut terhadap komponen atau bagian-bagian didalamnya (Barrien, 1976)
Sistem analisa menekankan pada hubungan dan keterkaitan yang melekat dalam setiap fenomena yang membuat hubungan dan keterkaitan tersebut menjadi sebuah alat yang kuat untuk memahami sistem sosial dan perilaku orang-orang dalam sistem tersebut.
Sistem analisa menunjukan kepada kita bahwa perubahan bagian dalam sistem secara total dalam hal fungsi sistem membawa perubahan terhadap komponen-komponen lain yang berada dalam sebuah sistem. Kesadaran tentang kompleksitas dan  keterkaitan dalam fungsi sistem memiliki kemungkinan yang semakin besar terhadap campur tangan (Goulner, 1964).
Sistem berpikir menunjukan kepada kita bahwa kita tidak hanya berpikir sebagai anggota bagian dari personalitas individu melainkan sebuah bagian dari sistem yang berperan memainkan sebuah peranan dan menempati suatu posisi dalam sistem yang saling berhubungan dan terkoneksi.
Sistem berpikir bukanlah sesuatu yang sederhana karena hal tersebut menuntut level toleransi yang tinggi untuk kompleksitas dan ambiguitas. Sistem berpikir mendorong individu yang ada didalamnya berpindah kedalam level kognitif yang semakin berkembang dan kompleks.
3.      Kerangka Kerja Untuk Membantu Sistem Klien.
Kerangka kerja yang akan dibahas pada sub bab ini bisa menjadi pedoman yang baik untuk diikuti, bahkan dalam situasi konseling indivual. Sebagaimana sistem klien yang semakin beragam dan kompleks maka penggunaan prinsip-prinsip berikut menjadi semakin penting;
a.      Proses perubahan hendaknya dilakukan secara kolaboratif dalam konteks alami. Prinsip ini menyatakan bahwa perubahan pada sistem klien hendaknya dilakukan secara demokratis dan terbuka.
b.      Perubahan hendaknya dilakukan secara edukatif dan produktif untuk semua anggota sistem klien. Prinsip kedua dalam bekerja dengan sistem klien adalah proses dari rencana perubahan hendaknya mengkondisikan seluruh anggotanya menjadi produktif.
c.       Proses perubahan hendaknya formatif dan experimental dalam konteks lingkungan yang alamiah. Prinsip ketiga dari perubahan yang demokratis dalam sistem klien adalah bahwa proses hendaknya bersifat experimental atau coba-coba dalam berinovasi dan perubahan juga hendaknya merepresentasikan usaha untuk meningkatkan fungsi di dalam sistem klien dan mengembangkan segenap anggota dalam sistem.
d.      Perubahan hendaknya berfokus penyelesaian masalah, bukan berfokus pada kebutuhan personal individu yang bertujuan untuk meningkatkan prestise.  Prinsip dasar dalam bekerja dengan sistem klien adalah bahwa proses harus berorientasi pada tugas. Upaya peserta, termasuk profesional, harus relevan dengan tugas di tangan daripada peningkatan kekuatan pribadi dan status
Ketika seorang konselor mampu membangun hubungan yang baik serta membantu klien menyelesaikan masalah dengan berdasar pada ke empat prinsip di atas maka semua masalah klien yang berhubungan dengan masalah ras, etnik, dan praktisi yang beragam dan kompleks akan teratasi.
4.      Memahami Resistensi dari Sistem Klien
Resistensi untuk berubah adalah elemen homeostatic yang membantu seseorang menjaga stabbilitas, konsistensi, dan keseimbangan personalitas manusia (Watson, 1967). Semakin banyak pengalaman tidak stabil, menyakitkan, dan bergejolak yang dialami maka seorang individu akan semakin baik dalam mencoba untuk menghindari perubahan, bahkan yang terencana secara terperinci dan jelas.
Seorang konselor professional yang bekerja dengan keluarga maupun organisasi  hendaknya memiliki kemampuan untuk menghadapi hal tersebut dan menganggap resistensi sebagai proses yang tak terpisahkan dalam sebuah proses perubahan.
5.      Sekolah dan Komunitas sebagai Sistem Klien
Berhasil tidaknya seorang konselor profesional dalam bekerja dalam setting pendidikan misal sekolah, universitas atau komunitas dalam skala yang besar yang meliputi pelayanan kemanusiaan dapat dilihat dari caranya memahami konteks sosial dari klien mereka.
a.      Komunitas
Komunitas merupakan sistem manusia yang kompleks yang bergantung pada usaha-usaha yang bersifat kolektif dan kooperatif guna mencapai tujuan.  Komunitas memiliki sub sistem yang meliputi komunitas yang besar, memiliki bentuk yang berbeda-beda, dan mengembangkan norma dan ekspektasi yang berbeda-beda pula serta merefleksikan ukuran, komposisi, usia, kohesifitas, dan yang paling penting adalah dasar dan tujuan dari organisasi tersebut didirikan.
b.      Sekolah
Sekolah merupaka sistem pendidikan yang secara umum mempunyai karakteristik dan masalah yang unik.
Sekolah bisa diklasifikasikan kedalam organisasi pelayanan (Blau & Scott, 1962). Dalam hal ini siswa berperan sebagai public-in-contact dari sekolah, yakni populasi yang sekolah bangun untuk dilayani.
Siswa lebih dianggap sebagai input dalam sebuah system  input dimana sebuah sistem bekerja. Siswa juga dianggap sebagai input pasif, pasangan aktif atau keuntungan utama dari sebuah sistem operasi. Sementara guru dan para administrator yang lain di anggap sebagai peserta aktif dari sebuah sistem yang mana mereka memperbaiki perilaku anggota lain dalam sistem.
Dalam sistem manusia kita dapat mengidentifikasi dua pola secara garis besar, yakni: komunikasi instrumental yang berhubungan dengan area kognitif dimana bertujuan untuk mengubah perilaku yang sederhana,  misal tutup jendela, dll. Komunikasi  ekspresif  yakni komunikasi yang bertujuan untuk berbagi emosi dan sikap.
Sumber : Donald H.Blocher ( 2007).The Professional Counselor. New York : Macmilan Publishing Company.Page 73-202)

0 comments:

Post a comment