Friday, 19 June 2020

1 KONSEP UNTUK MEMAHAMI KLIEN


 KONSEP UNTUK MEMAHAMI KLIEN
1.      Konsep Tahap Kehidupan
Menurut (Kimmel 1974. Dalam Donald H. Blocher 1987) “Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan konsep tahap hidup adalah bahwa konsep tersebut bisa menjadi memaksa dan tidak berperasaan dalam mengkategorikan orang.
Konsep Tahap hidup membangun perkembangan kerangka kerja dalam memahami peranan sosial yang diharapkan, tugas perkembangan, dan transisi yang memicu diskontinuitas. Rumusan tahap hidup berawal dari teori perkembangan Freud tentang tahapan psikoseksual dalam masa kanak-kanak.
a.      Model Tahap Perkembangan Hidup
1)      Tahap pengorganisasian,
Tahap pengorganisasian sangat kompleks, oleh karena itu tahap ini dibagi kedalam beberapa sub-tahap.
Bayi / infancy (lahir- 3 tahun) pada saat dilahirkan setiap bayi membawa sejumalah potensi dalam diri mereka. Allport (1963) dalam Donald H. Blocher 1987  menyatakan bahwa bayi merupakan sebuah fenomena psikologis.
Erikson (1963) dalam Donald H. Blocher 1987 menjelaskan bahwa Tugas perkembangan dari bayi secara garis besar berhubungan dengan perkembangan kepercayaan dan afiliasi kepada bayi atau orang dewasa sekitar. perkembangan kepercayaan menjadi tugas utama yang paling krusial untuk bayi dapat melanjutkan ke tugas perkembangan selanjutnya. Sebagai contoh dari perkembangan kepercayaan dari bayi ialah ia mampu berpisah dengan ibunya dalam waktu yang lama dan semakin lama tanpa mengalami kecemasan.
Masa awal anak-anak (3-6 tahun) ketika seorang bayi tumbuh dan memasuki masa awal anak-anak maka lingkungan sosial disekitarnya berubah dengan cepat. Ketika anak tumbuh maka ia mendapat peran baru, saudara dan juga teman bermain adalah dua peran yang didapat seorang anak yang memasuki masa awal anak-anak. Dalam peran tersebut si anak diharapkan mampu berbagi, bekerjasama dan berkomunikasi.
Akhir masa kanak-kanak (6-12 tahun) Menurut Erikson (1963) dalam Donald H. Blocher 1987  kunci pada tahapan ini adalah konsep inisiatif dan industry. Dalam inisiatif dan industri memerlukan perencanaan dan organisasi tugas perkembangan. Inisiatif memerlukan kepercayaan diri dan kekuatan mental untuk melupakan kegagalan yang pernah terjadi dan membalas kegagalan tersebut dengan mengerahkan segenap akal-pikiran, kegembiraan dan penuh antusias.
Masa remaja awal (12-15 tahun) masa ini dikenal sebagai periode yang paling kritis dalam tahap perkembangan manusia.  Gelombang psikologis berubah dalam banyak hal dan bersamaan dengan ekspektasi atau tuntutan untuk menjadi dewasa yang kemudian menimbulkan ketidak seimbangan.
Dua perubahan penting dalam ekspektasi peran terjadi pada tahap masa remaja awal. Coleman (1962) dalam Donald H. Blocher 1987 menerangkan bahwa masa remaja awal merupakan periode dimana pengaruh keluarga dan sekolah mulai berkurang. Ketika ekspektasi dalam keluarga dan sekolah saling bertentangan maka memungkinkan terjadinya ‘bind situation’ yang akan memicu timbulnya kecemasan.
Menurut Erikson (1963) dalam Donald H. Blocher 1987 masalah dalam tugas perkembangan utama dari remaja awal adalah konflik  identitas dan kebingungan peran. Integritas dari peran baru, emosi yang labil, nilai-nilai baru yang muncul dan berbagai aspirasi adalah bagian dari ‘krisis identitas’.
2)      Tahap Eksplorasi.
Pada tahap ini individu bereksperimen dengan hubungan baru pertemanan, kenalan, pendidikan dan karier. Hal ini menuntut individu untuk belajar memberi dan menerima dalam berbagai situasi berdasarkan mutuality dan cooperation yakni hal-hal yang bersifat saling menguntungkan dan kerjasama.
Masa remaja akhir(15-23 tahun) peran sosial baru pada tahap ini sangat banyak sehingga seringkali menimbulkan kebingungan. Misal pekerja, pemimpin, bawahan, supervisor, dan rekan atau kolega. Pada tahap ini peran-peran baru ini akan mulai berkompetisi dan bertentangan satu sama lain sehingga akan membuat individu menghadapi masalah yang jauh lebih kompleks dalam mengatasi masalah dan membuat keputusan.
Kunci dari tugas perkembangan pada masa remaja akhir adalah perkembangan pendidikan dan kejuruan. Krisis identitas yang terjadi pada awal masa remaja berubah menjadi identitas sebagai pekerja. sebagaimana Super (1957) dalam Donald H. Blocher 1987, menyatakan bahwa proses perkembangan kejuruan melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan implementasi identitas seseorang didalam dunia kerja.
Dewasa awal (24-30 tahun) masa dewasa awal merupakan periode yang cukup krusial dalam perkembangan individu dimana kecakapan individu akan diuji. Dua peran sosial yang diuji dalam tahap ini adalah pernikahan dan keluarga.
Erikson (1963) dalam Donald H. Blocher 1987, berpendapat bahwa tugas utama dalam tahap ini adalah pencapaian intimacy dan commitment. Keintiman merupakan kapasitas dari bentuk konkret afiliasi kejujuran dari sebuah persatuan dimana persatuan tersebut kokoh meskipun memerlukan pengorbanan yang besar dari masing-masing individu. Sementara komitmen merupakan bagian utama dari keintiman. Komitmen merupakan kapasitas seseorang untuk mengatur waktu, energi dan kepercayaan diri. Kesuksesan diberbagai bidang memerlukan komitmen didalamnya. Tanpa sebuah komitmen kemungkinan untuk mengembangkan karier akan terbatas.
2.      Tahap Realisasi
Pada tahap realisasi seseorang seringkali memiliki kesempatan yang besar untuk menginterpretasikan peran utama mereka dan juga memodifikasi maupun menolak peran yang ada yang dirasa tidak sesuai dengan kebutuhan mereka dan nilai-nilai yang mereka yakini, hal ini disebut ‘role freedom’. Role freedom memberi kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri mereka yang mana tidak mereka pada tahapan sebelumnya.
Ketika seseorang mampu mencapai tahap role freedom mereka akan mampu menafsirkan dan menerima peran yang akan meningkatkan kepuasan personal dan kepercayadirian:
·         Leadership roles dimana seorang individu mempunyai kontribusi yang besar dalam sebuah project dan menerima pengakuan terutama dalam hal keanggotaan dari sebuah organisasi.
·         Helping roles dimana seorang individu berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan,  pertumbuhan dan perkembangan.
·         Creative roles dimana seorang individu mampu menciptakan kontribusi yang baru dan orisinil.
·         Accomplihsment roles dimana seorang individu mampu mencapai level berguna dan bermanfaat dalam lingkungan sosial.
Konseling bertujuan untuk membantu seseorang mencapai role freedom lebih dari psikoterapis yang bertujuan untuk merekonsiliasi status quo dari seorang individu. Tugas perkembangan utama pada tahap ini adalah kemampuan untuk memanfaatkan kekuatan dan sumber yang ada untuk mencapai tujuan  dan nilai hidup yang utama. Kemampuan ini disebut dengan generativity.
3.      Tahap Stabilisasi
Pada tahap ini seringkali terjadi ‘midlife crisis’ yakni periode dimana seseorang takut pada kematian dan cenderung menaksir kembali tujuan hidupnya (Jung, 1933) dalam Donald H. Blocher 1987. Akibatnya seseorang mungkin akan mengubah karier, pernikahan, hubungan kekeluargaan dan aspek-aspek lain dalam hidup mereka.
Levinson (1978) menegaskan beberapa tugas perkembangan yang mendasar pada periode midlife crisis:
·         Menengok kembali, menghargai dan pada akhirnya meninggalkan masa-masa dewasa awal.
·         Membuat keputusan besar mengenai hal apa saja yang akan dilakukan pada tahun-tahun yang akan datang.
·         Mengatasi issue-issue kritis dalam hidup.
Midlife transition merupakan masa untuk membangun kembali dan mengembangkan kembali asprasi dan potensi dalam diri. Perubahan karier, perceraian, masalah ketergantungan terhadap alcohol dan depresi merupakan beberapa faktor yang memicu muunculnya midlife transition. Seseorang yang gagal dalam menghadapi midlife transition mungkin akan mengalami stagnation atau keadaan stagnasi. Keadaan stagnasi membuat seseorang merasa tidak berguna, tidak diperlukan dan tidak dicintai. Pemecahan terhadap midlife crisis berdampak pada keberhasilan atau kejayaan dari ‘generativity’ dari tekanan stagnasi dan keputusasaan (Brim, 1976) dalam Donald H. Blocher 1987.
4.      Tahap Ujian
merupakan tahap akhir kehidupan, perkembangan optimal pada tahap ini adalah pencapaian ‘ego integrity’ yang diungkapkan oleh Erikson (1963) dalam Donald H. Blocher 1987. Integritas adalah kemampuan untuk menerima diri apa adanya dan menerima apa yang terjadi pada diri mereka. Integritas meliputi kedamaian dalam hati termasuk penerimaan diri terhadap kematian sebagai bagian dari tahapan hidup.
Pada tahap ini ketika seseorang terbuka, fleksibel dan mampu beradaptasi terhadap perubahan, kemungkinan ia akan mampu mengatasi stress yang mungkin terjadi.
b.      Konsep Gaya Hidup
Pada konteks saat ini, kita menggunakan konsep individual atau gaya hidup untuk menunjukan pola kognitif dan sikap seseorang dalam menghadapi stress, mencari kepuasan, dan memahami permasalahan yang ada dalam lingkungan.


1)      Gaya Meniru.
Beberapa gaya meniru yang spesifik yang mendefinisikan hubungan interaksi seseorang dengan lingkungan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
·         Meminimalisir dan Menjauhi hal atau situasi yang dapat memicu stress.
·         Impulsive – Intuitive menghadapi stress dengan spontanitas dan secepat mungkin tanpa harus membuat planning. Menghadapi sesuatu berdasarkan apa yang dirasa benar dan mengikuti intuisi dalam dri.
·         Rasional–Analisis pada gaya meniru ini, seorang memilih untuk menunda melakukan tindakan dalam situasi yang stressful hingga mereka mampu menganalisa keadaan tersebut dengan seksama dan terkadang membuat rencana yang mendetail.
·         Confrontive-Tenacious, menemukan akar permasalahan kemudian mengatasinya dengan strategi tertentu hingga hasil dari masalah tersebut jelas.
2)      Gaya Interpersonal
Sikap interpersonal kita pelajari dari keluarga semasa kanak-kanak, dimana pada waktu itu kita belum bisa menganalisa keefektifan dari apa yang kita pelajari. Karen Horney (1950) dalam Donald H. Blocher 1987. membagi gaya interpersonal kedalam tiga kategori:
·         Bergerak mendekat pada orang lain pada gaya interpersonal ini ketika seseorang mengalami stress ia cenderung bergerak mendekati orang lain untuk mendiskusikan masalah mereka, berbagi perasaan, rasa takut mereka dan mencari dukungan emosional dari orang lain.
·         Bergerak menjauh dari orang lain pada gaya interpersonal ini, seseorang menjauh dari orang lain ketika ia berada dalam situasi yang stressful. Gaya ini juga seringkali disebut dengan ‘strong silent type’
·         Bergerak berlawanan dari orang lain, pada gaya interpersonal ini seseorang mengatasi stress dengan cara berlawanan dengan orang lain dengan cara yang agresif dan menyakitkan. Gaya ini merupakan contoh dari fenomena ‘frustrasion-aggresion’ dimana seseorang yang merasa frustasi melampiaskan rasa frustasinya kepada orang disekitar dengan cara yang agresif.
3)      Gaya Kognitif
Penelitian dalam psikologi kognitif oleh Witkin (1978) dalam Donald H. Blocher 1987, menunjukan bahwa orang mempunyai cara yang berbeda dalam mengorganisasikan persepsi dan informasi dan gaya kognitif yang berbeda mempunyai implikasi yang penting bagi sikap seseorang secara umum. Dalam penelitian ini ada dua gaya kognitif yang berlainan, yakni;
·         Field dependent adalah mereka yang berada pada beberapa tingkatan kesulitan dalam memisahkan dan mendiskriminasikan bagian atau aspek dari stimulus. Orang yang berada pada area ini secara kognitif kurang fleksibel.
·         Field Independent adalah orang-orang yang pada suatu sisi dapat membedakan variabel-variabel dan fakta-fakta dalam situasi yang kompleks. Orang yang berada pada area ini cenderung memiliki respon yang lebih fleksibel, mereka lebih terbuka pada ide-ide, saran dan inovasi baru.
Gaya kognitif cenderung mempengaruhi cara orang menyelesaikan tugas, masalah dan mempelajari kesempatan. Dalam dunia konseling gaya kognitif seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang merespon saran, dan tugas yang diberikan serta mengeksplorasi pengalaman.
2.      Konsep Ruang Hidup
Konsep ruang hidup adalah keadaan psikologis yang meliputi lingkungan fisik dan persepsi individu terhadap suatu lingkungan. Ruang hidup tergambar dari peran dan cara seseorang dalam membangun sebuah hubungan. Ruang interpersonal seseorang diorganisir dan diterangkan dalam cara yang berbeda dan makna yang berbeda pula.
a.      Peran Sosial
Peran sosial kurang lebih didefinisikan sebagai partisipasi seseorang dalam interaksi sosial (Allport, 1963) dalam Donald H. Blocher 1987. Peran sosial memiliki lebih dari satu dimensi dimana hal tersebut bisa menentukan bagaimana seseorang menafsirkan sesuatu dan mulai mengorganisir ruang hidup mereka:
·         Role expectations, merupakan preskripsi kultur yang secara umum diwariskan dari kelompok sosial masyarakat.
·         Role conceptions, meliputi cara seseorang menampilkan peran sesuai dengan persepsi dan ekspektasi.
·         Role performance, meliputi cara seseorang bersikap dalam sebuah situasi.
b.      Stress
Secara sederhana stress bisa diartikan sebagai ancaman terhadap kepuasan akan kebutuhan dasar.  Stress tidak selalu berbahaya, dalam kenyataanya stress dalam ruang hidup seorang individu memicu munculnya sikap dan pembelajaran baru. Kita dapat menguji tiga aspek utama dari situasi stress dalam ruang hidup individu (Torrance, 1965) dalam Donald H. Blocher 1987 yaitu meliputi; intensitas, durasi, dan keadaan individu. Tiga faktor ini mempengaruhi bagaimana stress berdampak pada tiap individu dan bagaimana cara individu mengatasi dan memodifikasi tingkat stress.
·         Intensitas
faktor yang paling nyata dan paling cepat dalam memunculkan reaksi stress meliputi intensitas. Ketika mahluk hidup menghadapi stimulus yang memicu stress maka reaksi umumnya adalah jelas dan terang.
Orang yang mengalami stress berat, rasa sakit dan takut biasanya kehilangan kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Stress berat akan menjadi sesuatu yang bersifat merusak dan melemahkan seseorang apabila hal tersebut dialami pada saat yang tak terduga dan tidak mampu diatasi (Cohen & Ahearn, 1980) dalam Donald H. Blocher 1987.
·         Durasi
faktor lain yang memicu stress adalah durasi. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak.
Gejala-gejala yang timbul pada stress kronik hampir sama pada gejala yang timbul pada stress berat. Namun karena stress kronik relatif  ringan maka gejalanya muncul setelah periode waktu yang cukup lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sikap tempramen, tidak sensitif terhadap orang lain, masalah pencernaan dan suasana hati yang labil akan semakin memperpanjang stress kronik yang dialami oleh individu.
·         Keadaan Individu
keadaan kesehatan dari individu merupakan faktor penting dari reaksi stress. Kebiasaan makan, tidur dan olahraga adalah aspek-aspek penting dalam mengontrol stress. Kondisi fisik secara umum, usia, dan catatan kesehatan juga merupakan faktor yang  penting.
Dalam usaha memahami ruang hidup klien dan menemukan hal yang menjadi sumber stress klien, konselor perlu mendapat data tentang kesehatan umum klien dan data tentang latar belakang pembelajaran sebelumnya.
c.       Support
Support atau dukungan adalah variabel lain yang akan membantu kita memahami ruang hidup klien. Konsep support yang dimaksud disini adalah dukungan yang meliputi faktor-faktor material dan relational. Dalam menaksir ruang hidup klien atau orang yang berpotensi sebagai klien, tugas pertama seorang konselor adalah memastikan level dukungan materi yang ada.
Aspek kedua dari support adalah dukungan sosial atau emosional. Dukungan semacam ini hadir dari hasil hubungan yang bersifat positif dan merupakan bentuk kepedulian terhadap hubungan sesama dalam ruang hidup tiap individu.
Ketika seseorang tidak mendapatkan dukungan sosial maka ia akan merasakan pengasingan, rasa tidak aman, sakit hati, putus asa dan kesepian. Dalam hal ini seorang konselor seringkali mengawali konseling dengan memberikan sedikit support dalam ruang hidup klien dengan memberikan hubungan yang mendukung secara langsung.
Sumber : Donald H.Blocher ( 2007).The Professional Counselor. New York : Macmilan Publishing Company.Page 73-202)


0 comments:

Post a comment