Tuesday, 30 June 2020

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR


PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR

1.    Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pra-jabatan
a.    Alur pikir pengembangan kurikulum
1)    Kurikulum Program S-1 Bimbingan dan Konseling dikembangkan berdasarkan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.
2)    Proses
3)    belajar harus memfasilitasi:
4)    Perolehan pengetahuan dan pemahaman, perluasan dan penajaman pemahaman dan pembentukan penguasaan setiap kompetensi yang telah ditetapkan sebagai sasaran pembentukan.
a)    Pengalaman penerapan pengetahuan secara bermakna.
b)    Penguasaan keterampilan baik kognitif dan personal-sosial maupun psikomotorik.
c)    Penumbuhan sikap dan nilai yang bermuara pada pembentukan karakter.
5)    Pengembangan materi kurikuler dari setiap pengalaman belajar yang mencakup rincian kompetensi/ sub-kompetensi.
6)    Menggunakan kerangka pikir dua dimensi Sistem Kredit Semester sebagai berikut:
a)    Berdasarkan isinya dilakukan pemilahan menjadi pengalaman belajar yang bermuatan: teoritik, praktek dan penghanyatan lapangan.
b)    Berdasarkan keterawasannya menjadi kegiatan: terjadwal, terstruktur, dan mandiri, masing-masing dengan perbandingan alokasi waktu yang berbeda.
7)    Program Pendidikan Professional Konselor beban studi 144-160 SKS, yang lulusannya dianugerahi ijasah Sarjana Pendidikan (S-1), lalu menempuh Program Pengalaman Lapangan dengan beban studi antara 36-40 SKS.
b.    Rambu-rambu proses pembelajaran
Agar standar kompetensi professional Konselor yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan baik, maka proses pembelajaran yang diterapkan pada Program Pendidikan Profesional Konselor mengupayakan sebagai berikut:
1)     Penguasaan pengetahuan dan pemahaman dibentuk melalui proses perolehan dan pengintegrasikan pengetahuan, perluasan dan penajaman pengetahuan, dan penerapan pengetahuan yang diperoleh secara bermakna dengan menggunakan materi mata kuliah sebagai konteks dari ketiga jenis kegiatan belajar yang disebutkan.
2)     Penguasaan keterampilan dapat dipilahkan dalam dua kategori, yaitu keterampilan procedural dan keterampilan kontekstual.
a)    Penguasaan keterampilan procedural lazim dilakukan melalui latihan-latihan konteks. Contoh: melakukan latihan teknik-teknik dasar konseling.
b)    Penguasaan keterampilan kontekstual yang merujuk kepada dua jenis keterampilan yaitu: keterampilan yang berkaitan dengan kemampuan akademik dan berkaitan dengan kemampuan profesional.                                                                                               
3)     Pembentukan sikap dan nilai yang bermuara pada penumbuhan karakter.
4)     Pembentukan penguasaan kompetensi professional konselor diselenggarakan melalui Program Pendidikan Profesi Pendidik Konselor yang berupa Program Pengalaman Lapangan (PPL). PPL dilakukan secara bertahap dan sitematis di bawah bimbingan para dosen pembimbing dan konselor pamong anggota  ABKIN.


2.    Rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam Jabatan
Sertifikasi konselor adalah pengakuan terhadap seseorang yang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling setelah bersangkutan dinyatakan lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga kehpendidikan (LPTK) program studi bimbingan dan konseling yang terakreditasi.
Penyelenggaraan program Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan mengacu kepada Standar Kompetensi Profesional Konselor yang tercantum pada Naskah Akademik Depdiknas. 2008. ( Penataan Pendidikan Profesional dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal ). Dan dalam rambu-rambu penyelenggaraan sertifikasi konselor dalam jabatan tercakup ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
a.    Alur Pikir Pengembangan Kurikulum.
1)    Proses pembentukan penguasaan setiap kompetensi dijabarkan menjadi pengalaman belajar yang memungkinkan tercapainya penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan sebagai sasaran pembentukan.
2)    Pengalaman belajar tersebut harus memfasilitasi :
a)    Perolehan pengetahuan dan pemahaman, perluasan dan penajaman pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna, yang dilakukan melalui pengkajian dengan berbagai modus dalam berbagai konteks.
b)    Penguasaan keterampilan baik kognitif dan persoalan-sosial maupun psikomotorik, yang dilakukan melalui berbagai bentuk latihan disertai balikan.
c)    Penumbuhan sikap dan nilai yang bermuara pada pembentukan karakter.
3)    Pengembangan materi kurikuler dari setiap pengalaman belajar mencakup rincian kompetensi/sub kompetensi, bentuk kegiatan belajar yang harus diacarakan, materi pembelajaran, dan asesmen tagihan penguasaannya.
4)    Perkiraan jumlah waktu yang diperlukan untuk penguasaan setiap sub-kompetensi yaitu dengan menggunakan kerangka pikir dua dimensi Sistem Kredit Semester.
b.    Tujuan Program
1)    Meningkatkan profesionalitas konselor
2)    Melakukan asesmen awal untuk pemetaan klasifikasi latar pendidikan konselor di sekolah/madrasah.
3)    Meningkatkan proses dan mutu hasil bimbingan dan konseling.
4)    Menghasilkan Konselor yang tersertifikasi.
5)    Menyediakan program lanjutan dari hasil sertifikasi, berupa: Remidiasi dan latihan bagi konselor yang tidak lulus dan Pengayaan untuk konselor tersertifikasi.
c.    Persyaratan Peserta Sertifikasi
1)    Memiliki ijasah Sarjana Pendidikan dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
2)    Terdaftar sebagai anggota ABKIN.
3)    Masih bertugas dan menyatakan tetap memilih tugas sebagai konselor sekolah dengan menunjukkan surat tugas dari Kepala Sekolah.
4)    Diusulkan melalui Dinas Pendidikan setempat.
d.    Prosedur Penyelenggaraan Program
Program Sertifikasi dalam jabatan perlu dirancang secara kreatif dan bertanggung jawab, dengan alur pelenggarakan sebagai berikut:
1.    Asesmen Awal Kompenyetensi Akademik Bawaan
Para peserta sertifikasi konselor yang dirancang khusus ini adalah guru pembimbing atau guru bimbingan dan konseling memiliki latar belakang pendidikan bimbingan dan konseling dan non bimbingan dan konseling yang telah berpengalaman melaksanakan tugas dilapangan, oleh karena itu penyelenggaraan program dimulai dengan asesmen kompetensi bawaan yang sudah dikuasai oleh paara peserta baik yang merupakan hasil pendidikan formal sebelumnya maupun hasil pertumbuhan  sebagai dampak dari akumulasi pengalaman kerja.
Asesmen terhadap kompetensi akademik bawaan peserta Program Sertifikasi Konselor dalam jabatan dilakukan dengan menggunakan berbagai alternative prosedur asesmen berikut:
a)    Verivikasi ijasah S1 dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
b)    Survei awal : untuk memetakan penguasaan kompetensi bawaan peserta program dilakukan dengan menggunakan sarana ujian konvensional yang dikembangkan terpusat dan asesmen bukti-bukti penguasaan kompetensi dengan menggunakan Pendekatan penilaian hasil belajar melalui pengalaman (HBMP) dengan menggunkan portofolio yang berisi bukti-bukti yang relevan dengan kompetensi.
2.    Pengembangan Program Pelatihan Profesi
Program Pendidikan dan Pelatihan Profesi dalam jabatan dikembangkan denganalur pikir berikut :
a)    Proses pembentukan penguasaan setiap kompetensi dijabarkan menjadi pengalaman belajar yang memungkinkan tercapainya penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan sebagai sasaran pembentukan.
b)    Pengalaman belajar tersebut harus memfasilitasi :
c)    Perolehan pengetahuan dan pemahaman, perluasan dan penajaman pemahaman dan penerapan pengetahuan.
d)    Penguasaan keterampilan baik kognitif dan personal-sosial maupun psikomotorik.
e)    Penumbuhan sikap dan nilai yang bermuara pada pembentukan karakter.
f)     Pengembangan materi kurikuler dari setiap pengalaman belajar mencakup rincian kompetensi/sub kompetnsi, bentuk kegiatan belajar yang harus diacarakan, materi pembelajaran, dan asesmen tagihan penguasaan.
g)    Berdasarkan bentuk kegiatan belajar serta muatan subtansial dan tingkatan serta cakupan kompetensi yang telah ditetapkan sebagai sasaran pembentukan, dapat diperkirakan jumlah waktu yang diperlukan untuk penguasaan setiap sub-kompetensi, yaitu dengan menggunakan kerangka pikir dua dimensi yaitu:
1)    Berdasarkan isinya dilakukan pemilahan menjadi pengalaman belajar yang bermuatan Teoretik, Praktik, dan Penghayatan lapangan.
2)    Berdasarkan keterawasannya menjadi kegiatan Terjadwal, Tersruktur, dan Mandiri, masing-masing dengan perbandingan waktu yang berbeda.
h)    Berdasar substansi dari perangkat pengalaman belajar yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan pemilahan yang menghasilkan cikal-bakal mata pelatihan, masing-masing disertai dengan besaran waktu, sehingga merupakan langkah awal dalam penetapan mata pelatihan lengkap dengan taksiran bobot waktu, yang secara keseluruhan membangun kurikulum utuh Program Diklat Profesi Konselor dalam Jabatan.
3.    Penyelenggara Sertifikasi
Penyelenggara sertifikasi adalah lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional bekerja sama dengan ABKIN sebagai asosiasi profesi.
a) Tugas Lembaga PenyelenggaraLPTK
1.    Membentuk tim kerja sertifikasi konselor.
2.    Fasilitator pelaksanaan.
3.    Menyelenggarakan program peningkatan kualifikasi guru BK.
4.    Bersama ABKIN mengembangkan pedoman penilaian portofolio dan SOP.
b) ABKIN, Bersama LPTK mengembangkan persyaratan administrasi uji kompetensi untuk sertifikasi profesi, pedoman penilaian dan SOP.
1.    Mendorong anggota ABKIN untuk segera mengikuti sertifikasi konselor.
2.    Memfasilitasi konselor untuk menjadi anggota ABKIN.
3.    Pengawas pelaksanaan
c)    P4TK
1.    Bersama LPTK menyelenggarakan pembinaan dan peningkatan kompetensi.
2.    Bersama ABKIN menyelenggarakan pelatihan secara periodic bagi konselor.
d)    Dinas Pendidikan Nasional Propinsi/Kabupaten/Kota
1.    Mengusulkan calon peserta uji sertifikasi kepada LPTK setempat.
2.    Memfasilitasi pelaksanaan pembinaan dan peningkatan kompetensi bagi konselor.
3.    Memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan secara periodic bagi konselor.
4.    Memfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi sertifikasi bagi konselor.
5.    Menyediakan anggaran pembinaan untuk pelaksanaan peningkatan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi bagi konselor

4.    Perangkat penyelenggaraan pendidikan professional pendidik konselor.
a.    Tujuan pendidikan professional pendidik konselor
Tujuan penyelenggaraan pendidikan professional pendidik konselor adalah menghasilkan pendidik konselor professional yang menguasai kopetensi akademik yang bermuara pada penganugrahan ijazah (S-2) M.Pd dalam bimbingan dan konseling, yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan profesi pendidik konselor. Yang secara keseluruhan menghasilkan lulusan yang memiliki potensi sebagai pendidik konselor professional dan memperoleh ijazah profesi yang dinamakan sertifikan magister bimbingan dan konseling (M.Kons), yang mampu menyelenggarakan segenap tahap dan aspek pendidikan professional konselor.

b.    Standar kopentesi lulusan
1)    Kompetensi akademik pendidik konselor
a)    Mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani.
b)    Menguasai khasanah teori bimbingan dan konseling.
c)    Menyelenggarakan pembelajaran bimbingan dan konseling yang mendidik.
d)    Memelihara mutu kinerja program S-1 bimbingan dan konseling.
e)    Menyelia penyelenggaraan pendidikan profesi konselor berupa program pengalaman lapangan yang diikuti oleh lulusan program akademik S-1 bimbingan dan konseling.
f)     Memecahkan masalah bimbingan dan konseling di lapangan.
g)    Mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
2)    Kompetensi professional pendidik konselor.
Sesuai dengan misinya menumbuhkan emampuan professional, maka keriteria utama keberhasilan belajar dalam program pendidikan pprofesi pendidik konselor yang berupa program pengalaman lapangan baik yang diselenggarakan di kampus maupun di sekolah, adalah pertumbuhan kemampuan calon pendidik konselor yang bersangkutan dalam menggunakan rentetan panjang keputusan-keputusan kecil (minut if-than decisions atau tacit knowlidge) yang dibingkai kearifan dalam mengorkestrasikan optimasi pemanfaatan informasi balikan (feedback information) yang terekam sepanjang rentang proses pembelajaran bimbingan dan konseling. Sehingga mencerminkan lintasan dalam pertumbuhan penguasaan kiat professional pendidik konselor baik sebagai pendidik pada tahap pendidikan akademik maupun sebagai penyelia pada tahap latihan menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan dalam konteks pendidikan profesi konselor (kolb, 1984; lihat juga kembali, steinberg 2003; faiver, Eisengart, dan colona,2004).
5.    Alur piker pengembangan kurikulum.
Kurikulum program S-2 bimbingan dan konseling dikembangkan berdasarkan alur piker sebagai berikut:
a.    Agar benar-benar membuahkan dampak yang mendidik.
b.    Pengalaman belajar tersebut harus memfasilitasi.
1)    Perolehan pengetahuan dan pengalaman, perluasan dan penajaman pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna melalui pengkajian dengan berbagai modus alam berbagai konteks.
2)    Penguasaan keterampilan baik kognitif maupun personal-sosial maupun psikomotorik, diperoleh dari berbagai bentuk latihan yang disertai balikan (feedback).
3)    Penumbuhan sikap dan nilai yang berujung pada pembentukan karakter.
c.    Pengembangan materi kurikuler dari setiap pengalaman belajar, mencakup rincian kegiatan belajar serta muatan materinya dan asessmen tagihan penguasaannya.
d.    Untuk berbagai kegiatan belajar yang telah diidentifikasi, dilakukan taksiran waktu yang diperlukan untuk penyelenggaraannya, yang setelah dikumpulkan berdasarkan substansinya, dapat digunakan untuk menaksir besaran SKS yang dialokasikan.
6.    Lama dan beban studi pendidikan professional pendidik konselor.
Pendidikan profesi pendidik konselor ditempuh oleh mahasiswa yang telah lulus dari program S-2 bimbingan dan konseling. Program pendidikan profesi pendidik konselor ini ditempuh selama 1 (satu) semester dengan beban studi antara 12-18 SKS. Keberhasilan menyelasaikan dengan baik program pendidikan profesi pendidik konselor ini, bermuara pada penganugrahan gelar profesi magister bimbingan dan konseling.




7.    Proses pembelajaran
Pemeblajaran dalam program S-2 bimbingan dan konseling yang dilanjutkan dengan pendidikan profesi pendidik konselor berupa program pengalaman lapangan itu, perlu memperhatikan rambu-rambu berikut:
a.    Sesusai dengan kebutuhan belajar dari  pembelajaran dewasa, proses pembelajaran didasarkan atas asas-asas Experiential learning, yang terbangun secara siklikal sebagai daur yang terus berulang, yang dimulai dari pengalaman konkret dari pekerja dewasa yang bekerja.
b.    Pembelajaran digelar dengan memanfaatkan berbagai bentuk kegiatan belajar yang menumbuhkan:
1)    Kemampun memecahkan masalah baik secara informal maupun melalui penilitian dan pengembangan yang dilakukan secara individual maupun kelompok.
2)    Kemampuan reflektif yang bertolak dari pengamatan serta pemaknaan terhadap keseharian pegalaman maupn dari bentuk-bentuk telaah yang lebih sistematis mulai dari penelitian tindakan kelas sampai dengan penelitian formal.
3)    Kemampuan empati yang mengedepankan kemaslahatan peserta didik, yang bertumpu kepada kepedulian ekstarpersonal termasuk yang dilakukan dalam konteks keragaman budaya disamping kepedulian intra-personal dan inter-personal (steinbreg, 2003).
c.    Kemampuan menskenariokan pengalaman belajar yang mengoptimalisasikan pemanfaatan dampak langsung pembelajaran (instructional effect), dalam rangka pembentukan penguasaan hard skills secara bersamaan dengan penumbuhan penguasaan soft skills termasuk sikap dan nilai  yang mempribadi sebagai karakter yang kuat demi ketercapaian tujuan utuh pendidikan menuju kepada pembentukan masyarakat masa depan Indonesia yang dikehendaki.
d.    Mengembangkan kemampuan untuk memelihara mutu kinerja program S-1 bimbingan dan konseling yang diampu, melalui evaluasi diri untuk menemukenali akar permasalahan yang mengendala program S-1 bimbingan dan konseling diampu itu dari perwujudan efisiensi nternal dan efisiensi eksternal yang baik.
e.    Mengembangkan kemampuan untuk melakukan penyeliaan dan penilaian terhadap program pendidikan profesi konselor yang berupa program pengalaman lapangan.
f.     Membentuk kemampuan untuk melakukan pendamingan dan bimbingan termasuk yang menggunakan pendekatan supervise klinis.
8.    Evaluasi
Penguasaan kopetensi akademik bimbingan dan konseling sebagaimana digambarkan diatas ditagih melalui ujian tertulis baik yang berupa tes pilihan (multiple coice) yang sangat efektif untuk melakukan survai kemampuan terhadap kelompok peserta didik yang besar maupun meelalui tes esai serta contoh karya seperti persiapan mengajar atau rencangan penyelenggaraan bimbingan dan konseling untuk mengakses kemampuan dalam memecahkan masalah.
Penguasaan kemampuan professional termasuk penguasaan kemampuan professional pendidik konselor hanya dapat ditagih melalui pengamatan ahli yang dalam pelaksanaannya, juga lazim mempersyaratkan penggunaan sarana asessmen yang longgar untuk memberikan ruang gerak bagi diambilnya pertimbangan ahli secara langsung.
Dimasa yang akan datang, perlu dikembangkan sarana asesmen yang bersifat high-infrence misalnya yang menyerupai APKG yang dapat digunakan untuk memferivikasi penguasaan kopentensi professional pendidik konselor.
9.    Sarana dan prasarana
Selain dukungan tenaga dengan jenis keahlian seperti yang telah diuraikan, perlu tersedianya sarana dan prasana sebagai beikut:
a.    Ruang kelas yang memadai.
b.    Ruang demonstrasi-observasi merupakan ruang untuk berlatih menguasai keterampilan dasar wawancara dan latihan penyelenggaraan konseling, termasuk penguasaan tekhnik supervise klinis.
c.    Sekolah latihan adalah sekolah menengah yang berada didalam dan/diluar kampus, dengan jumlah yang memadai, satu sekolah menengah latihan maksimal untuk 10 mahasiswa.
d.    Perpustakaan yang memuat buku/ sumber-sumber yang berkaitan dengan sumber formal.

A. Peran Konselor Sekolah


A.  Peran Konselor Sekolah
     Konselor sekolah profesional adalah kunci sumber daya utama untuk siswa berjuang dengan gejala-gejala OCD. Menurut para ahli (Adam & Torchig 1998; Chansky, 2000) berikut ini adalah tindakan penting sementara yang dapat membantu meminimalkan dampak OCD pada siswa di sekolah ;
1.   Konselor sekolah profesional dapat mendidik personil sekolah tentang tanda-tanda OCD. Statistik menunjukkan bahwa ada beberapa anak mungkin berada disetiap sekolah dengan OCD. Mendidik guru, kepala sekolah, dan orang tua tentang tanda-tanda OCD akan meningkatkan kemungkinan bahwa siswa akan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan dan menghindari konsekuensi akademis, psikologis, dan dampak sosial dari OCD yang tidak diobati.
2.   Konselor sekolah profesional dapat berkonsultasi dengan orang tua, guru, psikolog sekolah dan di luar penyedia kesehatan mental untuk memastikan bahwa siswa didiagnosis dengan OCD menerima intervensi yang tepat di sekolah. Beberapa siswa dengan OCD ringan tidak akan memerlukan akomodasi dari sekolah. Bahkan, sekolah mungkin tidak menyadari diagnosis. Namun, siswa dengan moderat untuk OCD parah mungkin perlu konselor professional sekolah dan guru untuk membantu mengelola program yang dirancang untuk menunda atau mengurangi ritual kompulsif.
3.    Konselor sekolah profesional dapat menyediakan tempat di mana siswa dengan OCD mendapatkan penangguhan hukuman dari stres dan stres ritual keterlambatan kelas. Pengobatan OCD melibatkan membantu siswa mengembangkan rencana untuk menangguhkan partisipasi dalam ritual kompulsif. Tujuannya adalah belum tentu pengurangan dalam penghapusan ritual-ritual ini. Bagian dari rencana yang kemungkinan akan mencakup tempat yang aman di mana siswa dapat pergi untuk pulih dari stres berurusan dengan OCD.
4.   Konselor sekolah profesional dapat waspada untuk kedua perubahan positif dan negatif yang dihasilkan dari obat. Efek negatif dapat termasuk tetapi tidak terbatas pada, mulut kering, iritabilitas meningkat, sakit perut, mengantuk, insomnia, dan sakit kepala.
5.   Konselor sekolah profesional dapat membantu orang tua mencari sumber daya pendidikan, psikologis, medis dan mereka akan perlu untuk membantu anak-anak mereka mengelola OCD. Memahami bahwa OCD adalah gangguan neurobiologis dan bukan akibat dari pengasuhan anak yang buruk. Dapat menjadi sumber dukungan bagi orang tua.
6.   Konselor sekolah profesional dapat merekomendasikan bahwa siswa dengan OCD mendapatkan hak akoimodasi d sekolah. Siswa dengan OCD mungkin memenuhi syarat untuk layanan pendidikan khusus di bawah bagian 504 dari Undang-Undang Rehabilitasi tahun 1973 atau jika fungsi pendidikan adalah sangat terganggu, di bawah Individu Penyandang Cacat Undang-Undang Pendidikan.
7.   Konselor sekolah profesional dapat membantu menciptakan lingkungan kelas yang positif dengan teman sebaya. Dalam kasus yang lebih parah, mungkin akan membantu untuk mendidik teman sekelas siswa tentang OCD. Dalam kebanyakan kasus, bagaimanapun, kurikulum kelas yang lebih umum adalah dianjurkan. Chansky (2000) menyarankan unit pada masalah kesehatan yang mempengaruhi tubuh dari kepala sampai kaki. Kebanyakan siswa akan mengenal seseorang berjuang dengan kondisi menonaktifkan dan identifikasi ini dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk berempati dengan siswa berjuang dengan OCD di dalam kelas. Persetujuan dari mahasiswa dan orang tua harus selalu diamankan sebelum berbicara dengan teman sekelas tentang kondisi individu anak. 

Daftar pustaka

Efford, T.2004. Professional School Counseling: a Hanbook of Theories, Programs, and Pracices, Texas : CAPS Press.
Mark Durand, 2007. Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.