Tuesday, 14 July 2020

Penanganan untuk Penderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)


Penanganan untuk Penderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Penanganan untuk penderita PTSD antara lain :
a.   Terapi Psikoanalisa
Untuk penangan Post-Traumatic Stress Disorder dan trauma dilakukan dengan hati-hati dan bertahap "mengekspos" diri  dengan pikiran, perasaan, dan situasi yang mengingatkan tentang trauma. Terapi juga melibatkan pikiran mengganggu mengidentifikasi tentang peristiwa-terutama traumatis pikiran-pikiran yang terdistorsi dan tidak rasional-dan menggantinya dengan gambaran yang seimbang

b.   Terapi kognitif-perilaku (CBT)
Tujuan pengobatan CBT adalah pengurangan gejala PTSD, pengembangan keterampilan yang positif, dan peningkatan dalam arti kesejahteraan individu. Hal ini berguna untuk memberikan kedua orang tua dan siswa dengan pendidikan dan informasi tentang PTSD dan efeknya pada semua tingkat.
c.   Terapi keluarga.
Terapi keluarga dapat membantu ppenderita PTSD mengerti apa yang sedang dialami. Hal ini juga dapat membantu setiap orang dalam keluarga berkomunikasi lebih baik dan bekerja melalui masalah-masalah hubungan yang disebabkan oleh gejala PTSD. Konselor dapat melakukan:
·      Wawancara orang tua untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Penggunaan empati, pembentukan hubungan, dan lingkungan yang aman di mana individu dapat mendiskusikan perasaan menyakitkan dan marah yang sangat penting untuk memperoleh informasi yang akurat. Perhatian khusus harus diberikan untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan tahapan perkembangan saat menilai individu,
·      Ketika mewawancarai orang tua, tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sehingga pemahaman tentang perspektif orang tua pada trauma dan hubungan dengan anak dapat ditentukan.

REFERENSI



Durand dan Barlow. 2007. Intisari Psikologi Abnormal (Essentials Of Abnormal Psychology). Yogyakarta: Pustaka Belajar
Erford, T. 2004. Professional School Counseling: a Handbook of Theories, Programs & Practices. Texas: CAPS Press.
Rusmana, Nandang, dkk. (2007), Konseling Pasca Trauma Melalui Terapi Permainan Kelompok : Laporan Penelitian Hibang Bersaing, Bandung : FIP UPI. Tidak diterbitkan.
Schiraldi, Glenn R. 2000. The Post Traumatic Stress Disorder, Sourcebook, Guide to Healing, Recovery, and Growth. Boston: Lowell House.

Monday, 13 July 2020

Etiologi / Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)


 Etiologi / Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
a.   Faktor-faktor resiko
Terdapat beberapa faktor resiko PTSD. Memiliki kejadian traumatis yang dialami, prediktor PTSD mencakup ancaman yang dirasakan terhadap nyawa, berjenis kelamin perempuan, pemisahan dari orang tua dimasa kecil, riwayat gangguan dalam keluarga, berbagai pengalaman traumatis sebelumnya dan gangguan yang dialami sebelumnya ( suatu gagguan anxietas atau depresi ).( Breslau dkk, 1997,1999).
Memiliki intelegensi tinggi tampaknya menjadi faktor protektif, mungkin karena hal itu diasosiasikan dengan keterampilan coping yang lebih baik ( macklin dkk,1998). Prevalensi PTSD juga meningkat sejalan dengan parahnya kejadian traumatik: sebagai contoh, semakin tinggi pengalaman dalam pertempuran, semakin besar resikonya. Diantara mereka yang memiliki riwayat gangguan dalam keluarga, bahkan sedikit pengalaman pertempuran menyebabkan tingkat kejadian PTSD yang tinggi ( Foy dkk, 1987 ).
Simtom-simtom disosiatif pada saat trauma juga meningkatkan kemungkinan terjadinya PTSD ( Ehlers dkk, 1998 ). Disosiasi dapat memiliki peran dalam menetapnya gangguan karena mencegah pasien menghadapi ingatan tentang trauma tersebut.
Menurut keane dan koleganya ( 2006 ) mengelompokan faktor resiko PTSD kedalam 3 kategori, yaitu:
·         Faktor yang sudah ada dan unik bagi setiap individu,
Faktor yang sudah ada, seperti kontribusi genetis, jenis kelamin seperti; para pria lebih berpeluang mengalami trauma ( seperti pertarungan ) sedangkan para wanita lebih berpeluang mengalami PTSD.
·         Faktor yang terkait dengan kejadian traumatis
Berasal dari penyebab terjadinya kejadian taumatis. Salah satu contohnya yaitu: pengalaman cedera tubuh. Dalam suatu penelitian, tentara yang terluka lebih berpeluang menggalami PTSD mereka yang terlibat dalam pertempuran yang sama, namun tidak terluka ( Koren dkk, 2005 ).

·         Kejadian-kejadian yang mengikuti pengalaman traumatis.
Faktor ketiga, yaitu berfokus pada  apa yang terjadi setelah mengalami trauma. 
b.   Faktor psikologis
Para teoris belajar berasumsi bahwa PTSD terjadi karena pengondisian klasik terhadap rasa takut ( Fairbank & Brown , 1987 ). Seorang wanita yang pernah diperkosa, contohnya, dapat merasa takut untuk berjalan di lingkungan tertentu ( CS ) karena diperkosa di sana (UCS). Berdasarkan rasa takut yang dikondisikan secara klasik tersebut, terjadi penghindaran yang secara negatif dikuatkan oleh berkurangnya rasa takut yang dihasilkan oleh ketidakberadaan dalam CS.
Suatu teori psikodinamika yang diajukan oleh Horowitz ( 1986, 1990 ) menyataka bahwa ingatan tentang kejadian traumatik muncul secara konstan dalam pikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga secara sadar mereka mensupresikanya atau merepresinya.
c.   Faktor biologis
Sejarah kecemasan keluarga menunjukan adanya kerentanan biologis menyeluruh untuk PTSD. True dan kawan-kawan (1993) melaporkan bahwa, dengan adanya paparan pertempuran yang sama banyaknya dan dengan memiliki kembaran yang mengalami PTSD, seorang pasangan kembar monozigot (identik) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengembangkan PTSD dibanding pasangan kembar dizigot. Ini menunjukan adanya pengaruh genetik tertentu dalam perkembangan PTSD.
d.   Faktor sosial dan kultural
Faktor sosial dan kultural berperan penting dalam pengem-bangan PTSD ( misalnya, Carroll Dkk, 1985 ). Hasil-hasil dari sejumlah studi dengan sangat konsisten menunjukan bila kita memiliki sekelompok orang yang kuat dan suportif, maka kemungkinan kita untuk mengembangkan PTSD setelah mengalami trauma akan jauh lebih kecil. Semakin luas dan mendalam jaringan dukungan sosial, semakin kecil peluang untuk mengembangkan PTSD.

Contoh peristiwa traumatis yang dapat menyebabkan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) meliputi:
§  Perang
§  Bencana alam
§  Mobil atau pesawat crash
§  Serangan teroris
§  Mendadak kematian orang yang dicintai
§  Perkosaan
§  Penculikan
§  Penyerangan
§  Seksual atau pelecehan fisik

2.   Dampak / Reaksi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
a.   Dampak Emosional
·         Kaget
·         Marah
·         Sedih
·         Mati rasa
·         Merasa dihantui
·         Bersalah
·         Duka yang mendalam
·         Terlalu perasa
·         Merasa tidak berdaya
·          ‘Tumpul’ dan tak lagi mampu merasa senang serta bahagia dengan aktifitas sehari-harinya
·         Disosiasi, berupa keberulangan dalam pikiran tentang bencana yang telah terjadi, merasa terpaku dan dikendalikan oleh kejadian-kejadian, atau keterpakuan pada bencana.
b.   Dampak fisik
·         Kelelahan fisik yang sangat
·         Sulit atau bahkan tidak bisa tidur
·         Gangguan tidur
·         Sangat mudah tersentuh perasaan dan ingatannya
·         Keluhan-keluhan yang mengarah pada gangguan syaraf
·         Sakit kepala
·         Reaksi-reaksi yang menggambarkan kegagalan sistem kekebalan tubuh
·         Selera makan terganggu
·         Libido meningkat atau justru menurun drastic
c.   Dampak kognitif
·         Sulit atau tak bisa lagi berkonsentrasi
·         Tidak mampu membuat keputusan-keputusan
·         Gangguan mengingat
·         Sulit mempercayai informasi-informasi
·         Kebingungan
·         Mudah teralihkan atau perhatian mudah terpecah
·         Menurunnya penilaian terhadap keadaan diri
·         Menurunnya penilaian terhadap kemampuan diri
·         Menyalahkan diri sendiri
·         Merasa mudah diganggu oleh pikiran ataupun ingatan  
·         Khawatir atau cemas
d.   Dampak Interpersonal
·         Membatasi dan menarik diri
·         Menghindar dari relasi-relasi sosial yang ada
·         Meningkatnya konflik dalam berhubungan dengan orang lain
·         Keterlibatan dan prestasi kerja menurun
·         Keterlibatan dan prestasi di sekolah menurun


REFERENSI



Durand dan Barlow. 2007. Intisari Psikologi Abnormal (Essentials Of Abnormal Psychology). Yogyakarta: Pustaka Belajar
Erford, T. 2004. Professional School Counseling: a Handbook of Theories, Programs & Practices. Texas: CAPS Press.
Rusmana, Nandang, dkk. (2007), Konseling Pasca Trauma Melalui Terapi Permainan Kelompok : Laporan Penelitian Hibang Bersaing, Bandung : FIP UPI. Tidak diterbitkan.



Schiraldi, Glenn R. 2000. The Post Traumatic Stress Disorder, Sourcebook, Guide to Healing, Recovery, and Growth. Boston: Lowell House.

Sunday, 12 July 2020

1 Konseling untuk Klien Kecanduan alcohol dan obat-obatan


Konseling untuk Klien Kecanduan alcohol dan obat-obatan
A.    NAPZA dan Kategorisasinya
NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung). Kata lain yang sering dipakai adalah Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahan-bahan berbahaya lainnya). Ada banyak istilah yang dipakai untuk menunjukkan penyalahgunaan zat-zat berbahaya. Namun istilah yang sering digunakan adalah istilah. Penggunaan NAPZA yang terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan atau psikologis serta kerusakan pada sistem syaraf dan organ-organ tubuh. NAPZA terdiri atas bahan-bahan yang bersifat alamiah (natural) maupun yang sintetik (buatan). Bahan alamiah berasal dari tumbuh-tumbuhan/tanaman, sedangkan yang buatan berasal dari bahan-bahan kimiawi.
1.      Narkotika
Narkotika adalah zat yang terbuat dari bahan alamiah maupun buatan (sintetik) yaitu candu/kokain atau turunannya dan padanannya yang mempunyai efek psikoaktif. Narkotika digunakan untuk keperluan medis, namun banyak yang menyalahgunakan untuk memperolehefek psikoaktif yang dihasilkannya. Menurut Undang-undang RI No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, bahwa narkotik adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan dalam 3 golongan sebagai berikut:
a.       Narkotika golongan I:
1)      Hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi.
2)      Mempunyai potensi sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: heroin, kokain dan ganja.
b.      Narkotika golongan II:
1)      Digunakan untuk terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan.
2)      Mempunyai potensi tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: morfin, petidin, turunan/garam dalam golongan tersebut.\
c.       Narkotika golongan III:
1)      Digunakan untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
2)      Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan ketergantungan
Contoh: kodein, garam-garam narkotika dalam golongan tersebut.
2.      Alkohol
Alkohol adalah zat aktif dalam berbagai minuman keras, mengandung etanol yang berfungsi menekan syaraf pusat.
3.      Psikotropika
Adalah zat (biasanya dalam bentuk tablet) yang mempengaruhi kesadaran karena sasaran obat tersebut adalah pusat-pusat tertentu di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Menurut UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropik meliputi: Extacy, shabu-shabu, LSD, obat penenang/tidur, obat anti depresi dan anti psikosis. Psikoaktiva adalah semua zat yang mempunyai komposisi kimiawi dan berpengaruh pada otak hingga dapat menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, pikiran, persepsi, kesadaran. Menurut Undang-undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, bahwa psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam 4 golongan sebagai berikut :

a.       Psikotropika golongan I:
1)      Hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi.
2)      Mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh: MDMA, extacy, LSD, dan ST.
b.      Psikotropika golongan II:
1)      Berkhasiat untuk pengobatan, karenanya sering digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan.
2)      Mempunyai potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh: amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakualon, metilfenidat (ritalin).
c.       Psikotropika golongan III :
1)      Berkhasiat untuk pengobatan, sehingga banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan.
2)      Mempunyai potensi sedang untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh: fenobarbital, flunitrazepam.
d.      Psikotropika golongan IV :
1)      Berkhasiat untuk pengobatan serta sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan.
2)      Mempunyai potensi ringan untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh: diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, khlordiazepoxide, nitrazepam (BK,DUM,
MG).
4.      Zat Adiktif
ZAT ADIKTIF lainnya yaitu zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan. Contohnya zat-zat solvent, termasuk inhalansia (aseton, thinner cat, lem). Zat-zat ini sangat berbahaya karena bisa mematikan sel-sel otak. Nikotin (tembakau) dan kafein (kopi) juga termasuk zat adiktif.
NAPZA dapat dikategorikan sebagai berikut:
  1. Berdasarkan Bahan
a.       Natural
Diambil dari tanaman, seperti: ganja, candu, kokaina, jamur, kaktus, tembakau, kopi, pinang, dan sirih.
b.      Sintetis
Dibuat dari bahan kimia farmasi atau dicampur dengan bahan alamiah, seperti: amphetamin, kodein, dan lem.
  1. Berdasarkan Efek Kerja
a.       Merangsang Sistem Syaraf Pusat, yaitu jenis NAPZA yang mampu memacu kerja jantung, memompa paru-paru dengan lebih giat dan mengaktifkan berbagai hormone transmitter di dalam otak sehingga menyebabkan rasa segar dan bersemangat.
b.      Menekan Sistem Syaraf Pusat
Yaitu jenis NAPZA yang mampu memperlambat jantung dan denyut nadi, memperlambat kerja paru-paru dan mengurangi transmitter pada otak sehingga menyebabkan rasa mengantuk atau rasa tenang
c.       Mengacaukan Sistem Syaraf Pusat (Halusinasi)
Yaitu jenis NAPZA yang mampu mempengaruhi kerja susunan saraf pusat, otak dan tulang belakang, sehingga mampu menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.
  1. Berdasarkan Cara Penggunaan
a.       Dimasukan dalam mulut/diminum (Oral)
b.      Disuntikan ke dalam tubuh (Injeksi)
c.       Diletakan di dalam luka (biasanya luka sayatan yang sengaja dibuat)
d.      Dihisap (sniffed)/dihirup (inhaled)
e.       Dimasukan melalui anus (Insersi anal)
  1. Berdasarkan Bentuk
a.       Cairan
b.      Pasta
c.       Pil/kapsul
d.      Kristal/blok
e.       Bubuk
f.       Gas
g.      Lapisan kertas (impregnated paper)
B.     Kecanduan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang.
Menurut DSM –IV-TR membedakan antara ketergantungan dan penyalahgunaan. Perbedaan ini tidak selalu digunakan dalam literatur penelitian. Istilah penyalahgunaan sering kali digunakan untuk merujuk kedua aspek konsumsi yang berlebihan dan berbahaya tersebut (Davison, dkk. 2006: 500). Penyalahgunaan dimaksud adalah penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Kadir (dalam Farida Harahap & Kartika Nur Fathiyah, 2005: 110) menjelaskan bahwa penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang merupakan suatu pola penyalahgunaan yang bersifat patologik, berlangsung dalam jangka waktu tertentu, dan menimbulkan disfungsi sosial dan okupasional.
1.      Macam-Macam Obat-Obatan Terlarang Yang Sering Digunakan
                         a.      Mariyuana
                        b.      Sedatif; salah satunya kelompok obat-obatan opiat yang mencakup opium, morfin, dan heroin.
                         c.      Stimulan yang mencakup amfetamin dan kokain.
                        d.      Halusinogen –LSD, meskalin, dan philosibin (Davison, 2006)
Sciarra (2004: 309) menyebutkan obat-obatan terlarang yang sering digunakan adalah Alkohol, Sigarete, Mariyuana, Inhalant, Ecstasy, Steroid, Kokain, Heroin.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jenis obat-obatan terlarang yang disalahgunakan adalah alkohol, mariyuana, morfin, kokain, heroin, amfetamin, inhalant, ecstasy, steroid, sigarete.
2.      Faktor-Faktor Penyebab Kecanduan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang.
Menurut Farida Harahap & Kartika Nur Fathiyah (2005: 111) kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang disebabkan oleh dua faktor yaitu:
a.       Lingkungan Sosial
1)      Motif ingin tahu: di masa remaja seseorang lazim mempunyai rasa ingin tahu, setelah itu ingin mencobanya, misalnya dengan menganal alkohol, atau bahan berbahaya lainnya.
2)      Adanya kesempatan. Orang tua sibuk dengan kegiatnnya masing-masing mungkin juga karena kurangnya rasa kasih sayang dari keluarga ataupun karena akibat dari broken home.
2)      Sarana dan prasarana. Orang tua berlebihan memberikan fasilitas dan uang yang berlebihan merupakan sebuah pemicu untuk menyalahgunakan uang tersebut untuk membeli alkohol dan obat-obatan terlarang dalam rangka memuaskan rasa ingin tahu mereka.
b.      Kepribadian
1)      Rendah diri. Perasaan rendah diri di dalam pergaulan di masyarakat ataupun di lingkungan sekolah, diatasi remaja dengan cara menyalahgunakan alkohol dan obat-oabat terlarang. Hal ini dilakukan untuk menutupi kekurangan mereka tersebut sehingga pada akhirnya remaja memperoleh apa yang diinginkan sseperti lebih aktif dan berani.
2)      Emosional dan mental. Pada masa-masa ini biasanya remaja ingin lepas dari segala aturan-aturan dari orang tua mereka. Lemahnya metal seseorang akan lebih mudah dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan negatif yang akhirnya menjurus ke arah penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Sedangkan menurut Sciarra (2004:318) ada tiga faktor penyebab penyalahgunaan zat kimia yaitu:
a.       Lingkungan rumah yang kacau.
b.      Pola asuh orang tua yang tidak efektif. 
c.       Kurang kasih sayang dan pengasuhan.  
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang adalah: (a). Faktor lingkungan sosial karena rasa ingin tahu untuk mencoba, orang tua yang terlalu sibuk, pola asuh orang tua yang tidak efektif, kurangnya kasih sayang terhadap anak dan lingkungan rumah yang kacau, (b) kepribadian yang disebabkan perasaan rendah diri, perasaan ingin lepas dari segala aturan orang tua, dan lemahnya mental.
3.      Akibat-Akibat Kecanduan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang.
Menurut Farida Harahap dan Kartika Nur Fathiyah (2005: ) ada beberapa akibat yang ditimbulkan dari kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang yaitu:
                         a.      Merusak susunan syaraf pusat atau merusak organ tubuh lainnya, seperti hati ginjal, serta penyakit dalam tubuh seperti bintik-bintik merah pada kulit seperti kudis. Hal ini berakibat melemahnya fisik, daya pikir dan merosotnya moral yang cenderung melakukan perbuatan penyimpangan sosial dalam masyarakat.
                        b.      Efek samping yang berlebihan menimbulkan rasa mual, muntah, sakit kepala, nafsu makan berkurang, denyut jantung berkurang, timbul khayalan yang menakutkan, dan kejang-kejang. Terhadap organ tubuh efek yang ditimbulkan dapat menimbulkan gangguan pada otak, jantung, ginjal, hati, kulit dan kemaluan, bahkan berakibat pada kematian.
                         c.      Secara psikologis menyebabkan depresi, apatis, mudah tersinggung dan perhatian terhadap lingkungan juga terganggu. Di samping itu menjadikan lebih berani dan agresif dan bula tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma, tindakan pidana dan kriminal.
Menurut Davision (2006: 569) penggunaan alkohol memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang yang bervariasi bagi manusia, mulai dari berkurangnya kemampuan menilai, terganggunya koordinasi motorik, keseimbangan, kemampuan bicara, dan penglihatan juga melemah. Kebiasaan minum alkohol dalam jangka waktu lama akan menimbulkan kerusakan biologis parah, terutama pada organ hati, serta kemunduran psikologis.
Sedangkan efek negatif dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah:
a.       Mariyuana; menyebabkan rusak paru-paru, dan sistem kardiovaskuler, kemampuan kognitif melemah, merusak perkembangan janin, dan merusak fungsi jantung.
b.      Sedatif; menimbulkan kecanduan yang melambatnya aktivitas tubuh.
c.       Stimulan; menimbulkan kecanduan untuk meningkatkan keterjagaan dan aktivitas motorik.
d.      Halusinogen-LSD; mempengaruhi atau memperluas kesadaran, mencerminkan hasrat manusia tidak hanya untuk lari dari kenyataan yang tidak menyenangkan, namun juga untuk menggali wilayah dalam diri.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang dalam jumlah wajar dapat dijadikan sebagai obat tetapi bila peggunaannya disalahgunakan menyebabkan efek negatif mulai dari mudah tersinggung, perhatian terhadap lingkungan yang terganggu, berkurangnya kemampuan menilai, terganggunya koordinasi motorik, keseimbangan, kemampuan bicara, dan penglihatan juga melemah. Efek negatif yang lebih parah menyebabkan kerusakan biologis parah, terutama pada organ hati, ginjal, jantung, paru-paru, rusaknya susunan syaraf pusat serta kemunduran psikologis.
C.    Konseling Untuk Konseli Kecanduan Alkohol Dan Obat-Obatan Terlarang.
Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang terus menjadi masalah besar bagi siswa sekolah. Dari permasalahan tersebut menunjukkan perlunya konselor sekolah untuk bisa membantu memberikan penanganan yang efektif terhadap penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang oleh  siswa. Salah satu cara yang bisa dilakukan konselor adalah memberikan konseling kognitif-perilaku. Erford (2004: 496) ada tiga tujuan utama konseling kognitif-perilaku yang diberikan konselor dalam membantu siswa yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang yaitu:
             a.      Konselor sekolah profesional membantu siswa memahami pikiran, perasaan, dan perilaku yang menimbulkan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, misalnya kecemasan, depresi, marah atau berdebat, berkelahi.
            b.      Konselor sekolah profesional memahami bagaimana penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang berkaitan dengan konsekuensi negatif, misalnya gagal kelas, perbedaan pendapat dengan teman sebaya.
             c.      Konselor sekolah profesional membantu siswa mengeksplorasi cara berpikir yang sehat dan bertindak yang mengurangi kemungkinan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang dikemudian hari.
Menurut Eford (2004) ada beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan konselor untuk memberikan konseling bagi siswa yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang. Langkah-lanngkah tersebut dilakukan dengan memahami Konsekuensi Penyalahgunaan Alkohol Dan Obat-Obatan Terlarang
  1. Mengakui Pemicu
a.       Konselor membantu siswa mengenali pemicu (misalnya pikiran, perasaan, perilaku, situasi) yang terjadi sebelum siswa menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
b.      Setelah pemicu diakui oleh siswa daftar pemicu dibuat. Siswa diminta membuat urutan peringkat pemicu  pada daftar mulai dari pemicu yang paling kuat dan pemicu yang paling sering ditemui. Peringkat pertama pemicu paling kuat bagi individu dari ”0” (Saya tidak akan menggunakan obat sama sekali). Untuk ”10” (Saya pasti akan menggunakan obat-obatan) dan peringkat frekuensi pemicu dari ”0” (”Aku tidak pernah mengalami pemicu ini”). Untuk ”10” (”Pemicu ini terjadi terus-menerus setiap jam”).
  1. Menentukan Dasar Pemicu.
Dengan menentukan dasar pemicu ini memungkinkan siswa dan konselor sekolah untuk melacak efektifitas tindakan. Jika tingkat pemicu dan frekuensi pemicu menurun, berarti ada kemajuan dan penanganan yang digunakan harus dilanjutkan. Namun jika tingkat pemicu dan frekuensi pemicu  meningkat, berarti perlu dilakukan perbaikan penanganan.
  1. Membuat daftar nonuse.
Selain daftar pemicu, konselor sekolah mungkin ingin membuat ”Daftar Nonuse”. Daftar nonuse ini ditekankan pada identifikasi pikiran, perasaan, perilaku, dan situasi yang terjadi ketika siswa tidak menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang. Tujuan dari pembuatan daftar nonuse ini adalah untuk membantu siswa mengidentifikasi berbagai cara yang positif menjalani hidup tanpa perlu menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Daftar ini memberikan ide kepada siswa tentang bagaimana mereka mengatasi pengalaman yang menyebabkan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang dengan menjelaskan bagaimana mereka berpikir, merasa, dan berperilaku ketika mereka tidak didorong oleh keinginan untuk menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
  1. Konsekuensi Positif
Konsekuensi positif yang dihasilkan dari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang oleh siswa sering diabaikan atau tidak tepat diminimalkan untuk membantu secara profesional. Ini adalah kesalahan penanganan yang signifikan dengan melemahnya efektifitas konseling. Alasan siswa menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang adalah persepsi teman sebaya, dukungan yang diberikan kepada siswa yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang, melarikan diri dari perasaan tertekan.
  1. Konsekuensi Negatif
Dengan meninjau konsekuensi negatif dari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang oleh siswa, akan sangat membantu sekali bertanya tentang  keadaan siswa yang membawa pada proses konseling dan kemudian dihubungkan dengan akademik, keluarga, teman sebaya, masalah psikologis, atau masalah hukum yang timbul dari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Dalam memberikan penanganan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang oleh siswa dengan intervensi kognitif-perilaku konselor harus benar-benar lebih memahami urutan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang yaitu dilihat dari pemicu, bukan pemicu, konsekuensi positif, dan konsekuensi negatif.
Langkah  lain menurut Erford (2004: 500) dalam membantu konseli yang  menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang adalah melalui 12-step support groups (12 langkah kelompok-kelompok pendukung). Salah satu kelompok pendukung adalah Alcoholics Anonymous, yang dilandasi filosofi 12-langkah yang menuntut siswa untuk berhenti minum. 12 langkah Alcoholics Anonymous menurut Davison (2006:547) tersebut adalah:
  1. Kami mengakui bahwa kami tidak mempunyai kekuasaan atas alkohol-bahwa hidup kami telah menjadi tidak terkendali.
  2. Menyakini bahwa suatu kekuatan yang lebih besar dari kami dapat mengembalikan kewarasan kami.
  3.  Memutuskan untuk menyerahkan kehendak dan hidup kami dalam penjagaan Tuhan sebagaimana kami memahami-Nya.
  4. Melakukan pencarian diri dan membuat catatan moral diri kami tanpa rasa takut.
  5. Mengakui pada Tuhan, pada diri kami, dan pada orang-orang lain kenyataan yang sebenarnya dari kesalahan-kesalahan kami.
  6. Sepenuhnya siap untuk membiarkan Tuhan menghapus semua karakter buruk tersebut.
  7. Dengan rendah hati meminta-Nya untuk menghilangkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki.
  8. Membuat daftar orang-orang yang telah kami lukai dan bersedia untuk memperbaiki kesalahan tersebut bagi mereka semua.
  9. Memperbaiki kesalahan secara langsung kepada orang-orang tersebut di mana pun bila mungkin, kecuali jika dengan melakukan hal tersebut justru akan melukai mereka atau orang lain.
  10. Terus membuat catatan pribadi dan, jika kami melakukan kesalahan, segera mengakuinya.
  11. Berupaya melalui doa dan meditasi untuk meningkatkan hubungan kami dengan Tuhan sebagaimana kami memahami-Nya, hanya berdoa untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya bagi kami dan kemampuan untuk menjalani kehendak-Nya tersebut.
  12. Setelah mengalami kebangkitan spiritual sebagai hasil dari langkah-langkah di atas, kami berusaha menyampaikan pesan ini kepada para alkoholik dan untuk menerapkan semua prinsip ini dalam semua aktivitas kami.
DAFTAR PUSTAKA

Davison, G., Neale, J.M. & Kring, A.M. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT raja Grafindo Persada.
Erford, T. 2004. Professional School Counseling: a Handbook of Theories, Program & Practice. Texas: CAPs Press.
Farida Harahap & Kartika Nur Fathiyah. 2005. Diktat Kuliah Psikololgi Abnormal Klinis. Yogayakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Sciarra. D.T. 2004. School Counseling Foundations and Contemporary Issues. Canada: Thomson